Latest News

Showing posts with label Tedhak Siten. Show all posts
Showing posts with label Tedhak Siten. Show all posts

Wednesday, 10 July 2013

Mengenal Upacara Tedhak Siten

Tedhak Siten atau Turun Tanah adalah suatu prosesi untuk menandakan anak saatnya mulai belajar berdiri dan berjalan, biasanya diadakan ketika anak telah berusia 7bulan ke-atas. Menurut hitungan Jawa, usia satu bulan bayi adalah 35 hari jadi perhitungannya 35 X 7 atau 245 hari dalam hal ini biasanya praktek acara Turun Tanah adalah dari anak usia 7 hingga 8 bulan. Jadi merupakan prosesi bersyukur kepada Tuhan sebab anak telah tumbuh dan berkembang hingga saatnya belajar berdiri dan berjalan.

Di usia ini biasanya anak secara perkembangan mulai belajar berdiri dan berjalan meskipun masih perlu dititah atau masih dituntun dan dibimbing kita orang dewasa, mulai diperkenalkan tanah sebagai tempat dia berpijak dihari kemudian.

Berikut ini adalah rangkaian acara Tedhak Siten serta hal-hal apa saja yang mendukung jalannya acara serta sedikit pengertian tentang makna dan arti dari prosesi serta kelengkapannya.

* Anak dituntun menginjak tanah kemudian kakinya dibasuh dengan air bersih artinya adalah telah waktunya anak untuk belajar berdiri dan berjalan serta mengenal tanah sebagai pijakan.

* Kemudian anak dituntun untuk menginjak �jadah� atau �tetel� sebanyak 7 warna yang artinya anak diharapkan mampu untuk mengatasi segala masalah dan kesulitannya, demikian urutan warnanya merah = berani; putih = suci; jingga = matahari, kekuatan; kuning = terang, jalan lurus; hijau = alam, lingkungan; biru = angkasa, ketenangan; ungu = kesempurnaan, utuh.

* Lalu anak dituntun menaiki tangga tebu �ireng� atau tebu �arjuna� yang terdiri dari 7 anak tangga kemudian dibopong oleh ayah setinggi-tingginya artinya diharapkan kesuksesan sang anak makin tinggi dan makin naik.

* Anak setelah itu dimasukan ke dalam kurungan ayam yang berarti anak diharapkan tidak meninggalkan agama - adat budaya - serta tata krama lingkungan ==> dalam kurungan telah diberikan macam2 isian yang akan dipilih oleh anak, karenanya barang2 yang disiapkan bermakna bagus dan baik seperti buku - pensil - emas - kapas - wayang - mainan dokter - mainan elektronik dsb.

* Kemudian anak dimandikan air bunga, mawar - melati - kanthil - kenanga yang artinya diharapkan sang anak membawa nama baek dan mengharumkan nama keluarga.

* Kemudian memotong tumpeng dan dibagikan, artinya anak agar mau berbagi dengan sesama, tumpeng terdiri dari nasi = dekat kepada sang pencipta; ayam = kemandirian; kacang panjang = umur panjang; kangkung = berkembang; kecambah = subur; kluwih = rejeki yang melimpah serta pala pendem = andap asor dan tidak sombong.

* Lalu menyebarkan uang logam recehan dan beras kuning untuk diperebutkan, artinya anak kelak suka menolong dan dermawan, ikhlas suka berbagi mau membantu orang lain.

* Selain tumpeng, dipersiapkan pula �bubur� atau �jenang merah-putih� yang artinya anak terdiri dari darah-daging dan tulang yang berasal dari kedua orang tua-nya serta jajanan pasar seperti lopis - cenil - ketan ireng - tape ketan - jagung blendung - tiwul - gatot dan semacamnya yang berarti dalam kehidupan pasti akan ada warna-warni serta bermacam kejadian dan peristiwa.

Sumber :
http://aqiqahcatering.com/tag/acara-tedhak-siten/

Wednesday, 15 August 2012

Asal Mula Tedhak Siten























Asal Mula Tedhak Siten

SEBAGAI pusatnya kebudayaan, berbagai ritual budaya sudah tentu sering diadakan oleh masyarakat Solo. Mulai dari pernikahan, kelahiran, hingga kematian tidak terlepas dari rangkaian upacara adat yang menjadi budaya Kota Solo. Seperti upacara adat yang ini, Tedhak Siten. Tedhak Siten adalah salah satu upacara adat budaya Jawa untuk anak yang berusia 8 sampai 9 bulan (pitung lapan), di daerah lain di Indonesia juga dikenal upacara adat turun tanah ini dengan istilah yang berbeda. Tedhak berarti turun dan siten berarti siti atau tanah.

Upacara ini mewujudkan rasa syukur karena pada usia ini si anak akan mulai mengenal alam di sekitarnya dan mulai belajar berjalan. Tujuan lain dari upacara ini adalah untuk mengenalkan sang buah hati kepada ibu pertiwi. "Karena dalam pepatah Jawa mengatakan "Ibu Pertiwi Bopo Angkoso" yang berarti bumi sebagai ibu dan langit sebagai bapak," ujar Mufti Raharjo Kepala Seksi Pelayanan Informasi Wisata Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Pemerintah Kota Solo.

Dalam upacara adat ini ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh si anak, di mana tiap tahap atau proses tersebut memiliki nilai-nilai budaya yang cukup tinggi.

Prosesinya memerlukan uba rampe (perlengkapan) yang beraneka ragam, dan dalam setiap uba rampe yang dipergunakan juga memiliki makna yang cukup dalam. Uba rampe yang diperlukan dalam upacara Tedhak Siten ini yaitu juadah (jadah) warna warni (7 warna: putih, merah, hijau, kuning, biru, cokelat, merah muda/ungu), tangga yang terbuat dari tebu ireng (tebu arjuna), kurungan (biasanya berbentuk seperti kurungan ayam) yang diisi dengan barang/benda (misalnya: alat tulis, mainan dalam berbagai bentuk dan jenis) sebagai lambang/tAnda untuk masa depan anak, banyu gege (air yang disimpan dalam tempayan/bokor selama satu malam & pagi harinya dihangatkan dengan sinar matahari), ayam panggang, pisang raja (melambangkan harapan agar si anak di masa depan bisa hidup sejahtera dan mulia, lawe wenang, dan udhikudhik (yang terdiri berbagai jenis biji-bijian, uang logam dan beras kuning).

Perlengkapan tambahan adalah jajan pasar, berbagai jenis jenang-jenangan, tumpeng lengkap dengan gudangan dan nasi. Untuk prosesinya sendiri ada beberapa tahap. Tahap pertama, si anak dibimbing orang tuanya untuk berjalan di atas juadah. Tahap kedua, kembali anak dibimbing menaiki tangga yang terbuat dari tebu ireng (dengan maksud agar si anak dalam hidupnya selalu lurus dalam jalan yang benar seperti tebu ireng, dan hidupnya makin terus meningkat menjadi lebih baik sesuai dengan apa yang dicita-citakan), uning, tumpeng robyong, dan tumpeng gundhul.

Tahap ketiga, anak diajak masuk ke dalam kurungan (kurungan di sini bermaksud untuk menjaga konsentrasi si anak) dan memilih benda yang telah disiapkan sebelumnya, dan benda yang dipilih tersebut menggambarkan apa yang akan dipilih oleh si anak di masa depannya, sebagai contoh jika si anak memilih mainan berbentuk alat kedokteran, maka di masa depan si anak akan menjadi dokter.

Sumber : http://www.koranjitu.com/

Monday, 5 March 2012

Tedhak Siten, ketika anak kali pertama menginjak tanah

Inilah salah satu tradisi masyarakat Jawa yang mulai digerus zaman. Tedhak Siten sendiri berasal dari kata Tedhak yang berarti menapakkan kaki atau langkah, dan Siten yang berasal dari kata siti berarti tanah. Maka, Tedhak Siten adalah turun (ke) tanah atau mudhun lemah. Lengkapnya, tradisi ini diperuntukkan bagi bayi berusia 7 lapan atau 7 x 35 hari (245 hari). Jumlah selapan adalah 35 hari menurut perhitungan Jawa berdasarkan hari pasaran, yaitu Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage. Pada usia 245 hari, si anak mulai menapakkan kakinya pertama kali di tanah, untuk belajar duduk dan belajar berjalan. Ritual ini menggambarkan kesiapan seorang anak (bayi) untuk menghadapi kehidupannya.

Biasanya, kesempatan bahagia ini harus diselenggarakan pada pagi hari, di bagian depan dari pekarangan rumah. Kecuali orang tua dan keluarga, beberapa orang tua juga hadir untuk memberikan berkat kepada anak. Yang diperlukan sajen / korban tidak boleh dilupakan. Semuanya ini melambangkan permintaan dan berdoa kepada Allah Maha Kuasa untuk menerima berkat dan perlindungan, untuk menerima berkat dari nenek moyang, untuk memberantas kejahatan dari perbuatan buruk manusia dan semangat. Upacara ritual Tedhak Siten dapat juga dilaksanakan dalam rangka dan keselamatan.

Tedhak Siten juga sebagai bentuk pengharapan orang tua terhadap buah hatinya agar si anak kelak siap dan sukses menampaki kehidupan yang penuh dengan rintangan dan hambatan dengan bimbingan orang tuanya. Ritual ini sekaligus sebagai wujud penghormatan terhadap siti (bumi) yang memberi banyak hal dalam kehidupan manusia.

Pada zaman dulu, masih banyak masyarakat Jawa yang melakukan ritual ini untuk anaknya. Sejumlah perlengkapan untuk ritual ini adalah Jadah (tetel) tujuh warna, jadah merupakan makanan yang terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan parutan kelapa muda dengan ditambahi garam agar rasanya gurih, warna jadah 7 rupa itu yaitu warna merah, putih, hitam, kuning, biru, jingga dan ungu. Makna yang terkandung dalam jadah ini merupakan simbol kehidupan yang akan dilalui oleh si anak, mulai dia menapakkan kakinya pertama kali di bumi ini sampai dia dewasa, sedangkan warna-warna tersebut merupakan gambaran dalam kehidupan si anak akan menghapai banyak pilihan dan rintangan yang harus dilaluinya. jadah 7 warna disusun mulai dari warna yang gelap ke terang, hal ini menggambarkan bahwa masalah yang dihadapi si anak mulai dari yang berat sampai yang ringan, maksudnya seberat apapun masalahnya pasti ada titik terangnya yang disitu terdapat penyelesaiannya.

Tumpeng dengan perlengkapannya, tumpeng merupakan nasi yang dibentuk seperti kerucut yang disajikan dengan urap sayur (hidangan yang terbuat dari sayur kacang panjang, kangkung dan kecampah yang diberi bumbu kelapa yang telah dikukus atau disangrai) dan ingkung ayam. Tumpeng melambangkan permohan orang tua kepada sang Maha Pencipta aga si anak kelak menjadi anak yang berguna, sayur kacang panjang bermakna simbol umur agar si anak berumur panjang, sayur kangkung bermakna dimanapun si anak hidup dia mampu tumbuh dan berkembang, sayur kecambah merupakan simbol kesuburan dan ayam mengartikan kelak si anak dapat hidup mandiri.

Kurungan ayam yang dihiasi janur dan kertas warna-warni, kurungan ayam ini isinya bukan ayam tapi anak manusia. kurungan ayam yang dihiasi mempunyai makna di dunia nyata si anak akan di hadapkan dengan berbagai macam pilihan pekerjaan.

Tangga yang terbuat dari tebu jenis arjuna, menyiratkan harapan agar si anak mampu berjuang layaknya Arjuna yang terkenal dengan tanggung jawabnya dan sifat perjuangannya. Dalam adat Jawa tebu kependekan dari antebing kalbu yang bermakna agar si anak dalam menjalani kehidupan ini dengan tekad yang kuat dan hati yang mantap.

Prosesi �Tedhak Siten� di awali dengan membimbing anak menapaki jadah 7 warna yang telah disusun berdasarkan warna gelap ke terang. Kemudian si anak diarahkan untuk menaiki tangga yang terbuat dari tebu arjuna, selanjutnya si anak di masukkan ke dalam kurungan ayam yang telah dihiasi dan di dalamnya terdapat cincin, alat tulis, kapas dan lain sebagainya, mungkin tergantung dengan perkembangan zaman. Kalau zaman sekarang ini bisa di masukkan barang-barang IT (HP,notenbook,PDA atau lainnya). Kemudian si anak di suruh mengambil salah satu dari barang tersebut, barang yang dipilih si anak merupakan gambaran dari kegemaran dan juga pekerjaan yang diminatinya kelak setelah dewasa.

Prosesi selanjutnya yaitu sebar beras kuning yang telah dicampur dengan uang logam untuk diperebutkan. Prosesi ini menggambarkan agar si anak kelak menjadi anak yang dermawan dalam lingkungannya. Prosesi terakhir yaitu si anak dimandikan dengan bunga setaman lalu mengenakan mengenakan baju yang baru. Tujuannya yaitu agar si anak tetap sehat, membawa nama harum bagi keluarga, punya kehidupan yang layak, makmur dan berguna bagi lingkungannya.

Dalam acara �tedhak siten� sesaji yang biasa digunakan antara lain kembang boreh, bubur baro-baro, macam-maca bumbu dapur dan kinangan (bahan menginang). Bubur baro-baro adalah bubur yang terbuat dari bekatul, sesaji ini ditujukan untuk kakek nini among (plasenta/ari-ari). Sedangkan kembang boreh, macam-macam bumbu dapur dan kinangan, sesaji ini ditujukan untuk nenek moyang.

Selain sesaji juga ada pelengkap pedukung yaitu bubur merah, bubur putih bubur merah putih (sengkolo) yang melambangkan darah (=bubur merah) dan air mani (=bubur putih), kemudian ada juga jajanan pasar (jongkong, centil, grontol jagung, lopis, gatot dan tiwul) yang melambangkan dalam berkehidupan kita akan banyak berinteraksi dengan banyak orang dengan berbagai macam karakter sehingga si anak dapat mudah bersosialisasi dengan masyarakatnya. kamudian juga terdapat aneka pala pandem (aneka umbi-umbian) yang mempunyai makna agar si anak mempunyai sifat adap asor atau tidak sombong.

Setelah semua perlengkapan siap, maka ritual ini pun dimulai. Si anak dimandikan dengan air kembang setaman. Setelah memakai pakaian baru, sang anak dibimbing ibunya menginjak jadah (semacam nasi ketan tumbuk) 7 warna. Untuk selanjutnya sang anak dibimbing menaiki tangga yang dibuat dari tebu wulung berwarna ungu. Sang anak kemudian dimasukkan kedalam kurungan ayam berhias janur kuning dan hiasan lainnya. Dalam kurungan tersebut terdapat beberapa benda yang harus dipilih sang anak. Acara tersebut merupakan tradisi Jawa yang disebut Tedak Siten, peringatan di mana seorang anak mulai dilatih berjalan dengan menapakkan kedua kakinya di bumi.

Posisi beberapa bintang mempunyai pengaruh terhadap kelahiran seorang bayi. Perhitungan tahun matahari dibuat berdasarkan lamanya waktu bumi beredar mengelilingi matahari dengan masa 1 tahun. Tahun berdasar pengaruh matahari tersebut dirinci dalam bulan, minggu dan hari, dimana harinya berjumlah tujuh. Perhitungan kalender berdasar bulan dihitung berdasarkan lamanya waktu bulan mengelingi bumi yaitu 1 bulan. Satu tahun dalam kalender bulan ada 12 bulan dan tiap bulan dirinci menjadi pasar, pekan dan hari dimana 1 pasar ada 5 hari. Peringatan yang mendasarkan kombinasi posisi matahari dan bulan akan berulang setiap 7 x 5 hari.

Leluhur kita telah mengetahui bahwa posisi matahari dan bulan mempunyai pengaruh terhadap bumi. Seorang anak yang lahir pada weton, kelahiran tertentu mempunyai potensi tertentu. Dan weton, hari kelahiran yang berulang setiap 35 hari tersebut perlu dihormati. Bagi orang dewasa pada hari weton tersebut dibiasakan mengendalikan diri dengan cara puasa yang disebut puasa apit weton, yang dimulai sehari sebelum dan berakhir sehari sesudah weton. Puasa pada bulan purnama juga dilakukan karena pengaruh bulan purnama terhadap bumi dan diri manusia cukup besar. Demikian pula pada waktu gerhana, formasi matahari dan bulan akan mempunyai pengaruh khusus terhadap bumi dan manusia.

Sekedar catatan, pada tahun 1855, karena penanggalan bulan dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani yang bercocok tanam, maka kalender berdasarkan rasi bintang yang berpengaruh pada musim tanam yang disebut sebagai Pranata Mangsa, dikodifikasikan oleh Mangkunegara IV dan digunakan secara resmi. Contohnya adalah rasi bintang Waluku (Orion) sebagai tanda musim tanam. Sebenarnya Pranata Mangsa ini adalah pembagian bulan yang asli Jawa dan sudah digunakan pada jaman pra-Sultan Agung. Oleh Sri Paduka Mangkunagara IV tanggalnya disesuaikan dengan penanggalan tarikh Kalender Gregorian yang merupakan kalender matahari.

Kembali ke Tedhak Siten, manusia mempunyai beberapa tahap perkembangan diri. Pertama, tahap bayi yang sangat tergantung terhadap ibu dan orang lain, bisanya hanya meminta. Tahap kedua adalah anak muda yang mandiri, bisa melakukan sendiri. Tahap ketiga adalah seorang yang dewasa, yang sudah sadar walau mandiri tetapi tidak egoistis dan menyadari bahwa seseorang mempunyai saling ketergantungan dengan orang lain, tidak bisa hidup sendiri. Awal dari tahap kedua dimulai, ketika seorang anak mulai belajar berjalan, sehingga apabila menginginkan sesuatu seorang anak sudah dapat mengambil sendiri tanpa minta pertolongan orang lain. Pada waktu berjalan, kedua kaki sang anak menapak langsung dengan bumi, tidak lagi dalam gendhongan seorang ibu. Kita hidup-mati berada di bumi, makan minum, rumah, kendaraan semua berasal dari bumi, maka kita perlu menghormati bumi.

Bayi lahir dengan naluri awal, naluri dasar, untuk makan. Apa saja yang dipegangnya akan dimasukkan mulut. Berlainan dengan kesadaran seorang anak manusia yang terus berkembang, kesadaran hewan tidak berkembang, yang ada dibenaknya hanya makan. Babi yang diberikan makanan basi dan permata, jelas memilih makanan yang basi. Wajarlah seorang Gusti Yesus bersabda, Jangan berikan permata kepada babi-babi! Pada waktu seorang anak berusia 7�35 hari, 245 hari, kira-kira 8 bulan, insting-naluri bawaan genetiknya masih ada, tetapi dalam perkembangan diri selanjutnya, insting bawaan akan terdorong ke dalam bawah sadar, tertutup oleh kegiatan-kegiatan baru. Pada saat anak berusia sekitar 8 bulan tersebut, potensi anak dapat diketahui. Di Tibet pada saat usia anak yang lebih tua, kepada beberapa anak yang diperkirakan menjadi reinkarnasi dari seorang Dalai Lama, akan diberikan beberapa benda yang merupakan milik Dalai Lama yang telah meninggal sebelumnya. Mereka yang dapat memilih dengan tepat, berdasar naluri, instingnya yang terbawa dari kehidupan lalu akan dipilih sebagai Dalai Lama yang baru. Konon, Tiga Orang Suci dari Timur datang ke Timur Tengah setelah melihat posisi rasi bintang dan untuk memverifikasi apakah yang anak yang lahir betul seorang Masiha dengan cara yang hampir sama. Bagi yang percaya, seseorang yang mati dan masih punya keterikatan dengan keduniawian, jiwanya masih akan meneruskan evolusi yang belum diselesaikan dalam kehidupannya. Dia akan lahir lagi mendapatkan orang tua, lingkungan yang menunjang evolusi jiwanya. Pemilihan beberapa benda dalam Tedak Siten seperti buku tulis, dompet, perhiasan, gunting, kitab sastra, ataupun alat bela diri, selaras dengan pengetahuan itu. Potensi anak akan nampak dengan jelas, sehingga orang tua paham bagaimana meningkatkan potensi anak sebaik-baiknya.

Pada dasarnya kita hidup di dunia, terkurung, terbelenggu oleh dunia. Dalam Tedhak Siten, dapat dilihat anak yang sebenarnya tidak senang dimasukkan ke dalam kurungan dan menangis minta pertolongan pada ibunya. Manusia yang sadar pun ingin kembali kepada Bunda Ilahi. Bagi penganut spiritual, baik harta, tahta ataupun ilmu pengetahuan adalah modal awal untuk membebaskan diri dari belenggu dunia. Seorang Guru datang untuk membebaskan diri manusia dari kurungan. Tetapi yang diharapkan manusia adalah Guru yang memberikan pengetahuan untuk hidup sukses dalam kurungan. Diri yang lepas dari kurungan dunia tidak berarti melarikan diri dari dunia, hanya tidak terikat dengan dunia. Hidup semata-mata hanya berupa persembahan, ibadah. Sepi dari Pamrih, keinginan dunia dan Rame ing Gawe, tetap berkarya sepanjang hidupnya.
Tentu saja ada makna dalam mandi kembang setaman dan menginjak jadah 7 warna, demikian pula dengan upacara yang dilakukan di alam terbuka dan lain sebagainya. Terima kasih para leluhur.

Sumber : http://kabarsoloraya.com/2009/07/17/tedak-siten-ketika-anak-kali-pertama-menginjak-tanah/