Latest News

Showing posts with label Seni Tari Minangkabau. Show all posts
Showing posts with label Seni Tari Minangkabau. Show all posts

Monday, 20 August 2012

Tari Payung Minangkabau

Tari Payung merupakan tari tradisi Minangkabau yang saat ini telah banyak perubahan dan dikembangkan oleh seniman-seniman tari terutama di Sumatra Barat. Awalnya tari ini memiliki makna tentang kegembiraan muda-mudi (penciptaan) yang memperlihatkan bagaimana perhatian seorang laki-laki terhadap kekasihnya. Payung menjadi icon bahwa keduanya menuju satu tujuan yaitu membina rumah tangga yang baik.

Keberagaman Tari Payung tidak membunuh tari payung yang ada sebagai alat ungkap budaya Minangkabau. Keberagaman tersebut hanyalah tarian dari tari-tari yang sudah ada sebelumnya. Sikap ini penting diambil untuk kita agar tidak terjebak dengan penilaian bahwa varian tari yang satu menyalahi yang lainnya. Sejauh tari tersebut tidak melenceng dari akar tradisinya, maka kreasi menjadi alat kreativitas seniman dalam menyikapi budaya yang sedang berkembang.

Penelitian ini memakai teori perubahaan yang dikembangkan oleh Herbert Spencer. Teori perubahan akan dipakai untuk melihat perkembangan yang terjadi pada tari payung. Teori lain yang akan mendukung adalah teori akulturasi yang dikembangkan oleh Koentjaraningrat dan GM. Foster. Teori ini dipakai untuk melihat budaya apa saja yang mempengaruhi perkembangan tari payung dari dulu hingga sekarang. Jumlah penari dalam tari payung selau genap dan selalu berpasangan, bisa tiga atau empat pasang. Kalaupun ada gerakan lelaki berpindah pasangan, bukan berarti hatinya terbagi dua atau lebih, akan tetapi hanya wujud dari kreasi yang dimainkan.

Pada hakekatnya mereka hanya satu pasang, tetapi divisualkan dalam bentuk banyak. Hal ini bisa dlihat dari kostum yang dimainkan, dimana seluruh penari perempuan berpakaian sama, begitu dengan penari laki-laki yang semuanya juga sama. Payung yang dimainkan juga berbentuk sama. Tari Payung sejak mulanya telah mengalami perkembangan yang sangat berarti terutama oleh seniman-seniman muda Minangkabau.

Perubahan tersebut dipengaruhi oleh tingkat keilmuan yang sudah beragam. Pengaruh gaya dari mana saja masuk menyentuh wilayah seni, tidak terkecuali tari payung. Unsur tari Melayu merupakan unsur utama dalam mempengaruhi gerak tari payung. Begitu juga dengan pola gerak barat, sedikit banyak menyentuh wilayah ini.

Seniman pembaharu tari payung menjadikan fungsi seni tari itu bergeser dari ritual adat menjadi seni untuk profan yang perkembangannya sangat pesat. Fungsi seni ritual tidak mengalami perkembangan yang berarti, karena seni ritual didukung oleh pakem-pakem yang jelas dan sulit untuk diubah, bahkan tidak mungkin untuk diubah, karena dia berkaitan dengan persolan adat yang memiliki hukum-hukum yang jelas. Berkaitan dengan hal itu, seniman pembaharu tari payung memasuki gerak-gerak yang inovatif supaya bisa menyeimbangkan antara seni profan dengan seni ritual. Mereka hanya memasuki wilayah seni profan yang memiliki potensi untuk dikembangkan dan dijual untuk masyarakat luas.

Seniman pembaharu tari payung melakukan tindakan dalam membentuk gaya baru dalam tari payung agar keteraturan dan arah yang diinginkan dalam dunia kreativitas bisa terjaga dengan baik tanpa adanya konflik yang merusak sosial itu sendiri. Sistem sosial di Minangkabau memiliki sebuah tipe tertentu yang berbeda dengan sistem sosial yang lain.

Sumber : http://serbaharis.blogspot.com/

Friday, 13 July 2012

Tari Rantak Kudo dari Minangkabau

Asal-Usul Tari Rantak Kudo Minangkabau

Tarian ini dikenal sebagai "Tari Rentak Kudo" karena gerakannya yang menghentak-hentak seperti kuda. Tarian ini ditarikan di dalam perayaan yang dianggap sangat sakral oleh masyarakat Kerinci. Tingginya penghormatan terhadap perayaan seni dan budaya Kerinci ini pada zaman dahulu sangat kuat sehingga dipercaya bahwa dalam setiap pementasan seni budaya ini getaran dan hentakan tari Rantak Kudo bisa terasa hingga jarak yang sangat jauh dari lokasi pementasan. Tarian ini dipersembahkan untuk merayakan hasil panen pertanian di daerah Kerinci yang secara umum adalah beras (padi) dan dilangsungkan berhari-hari tanpa henti. Kadang bila dilanda musim kemarau yang panjang, masyarakat Kerinci juga akan mementaskan kesenian ini untuk berdoa kepada Yang Maha Kuasa (menurut kepercayaan mereka masing-masing).

Tujuan dari pementasan tari ini umumnya adalah untuk melestarikan pertanian dan kemakmuran masyarakat, untuk menunjukkan rasa syukur masyarakat Kerinci baik dalam musim subur maupun dalam musim kemarau untuk memohon berkah hujan.sakral oleh masyarakat Kerinci. Tingginya penghormatan terhadap perayaan seni dan budaya Kerinci ini pada zaman dahulu sangat kuat sehingga dipercaya bahwa dalam setiap pementasan seni budaya ini getaran dan hentakan tari Rantak Kudo bisa terasa hingga jarak yang sangat jauh dari lokasi pementasan. Tarian ini dipersembahkan untuk merayakan hasil panen pertanian di daerah Kerinci yang secara umum adalah beras (padi) dan dilangsungkan berhari-hari tanpa henti. Kadang bila dilanda musim kemarau yang panjang, masyarakat Kerinci juga akan mementaskan kesenian ini untuk berdoa kepada Yang Maha Kuasa (menurut kepercayaan mereka masing-masing). Tujuan dari pementasan tari ini umumnya adalah untuk melestarikan pertanian dan kemakmuran masyarakat, untuk menunjukkan rasa syukur masyarakat Kerinci baik dalam musim subur maupun dalam musim kemarau untuk memohon berkah hujan.

Walaupun telah ada banyak tulisan yang menuliskan tentang asal-usul Tari Rantak Kudo, belum ditemukan sumber yang benar-benar menjelaskan asal-usul seni budaya ini di Kerinci. Hal ini diperkirakan karena sejarah Tari Rantak Kudo ini diperkirakan telah ada sejak lama sekali di daerah Kabupaten Kerinci. Menurut seniman-seniman senior (tua), kesenian ini telah dipelajari dan di laksanakan jauh sebelum mereka lahir namun asal-usulnya menjadi kabur seiring perjalanan waktu dan kurangnya perhatian dari sejarawan setempat.

Keberadaan seni tari Kerinci ini terus di jaga secara turun-temurun oleh seniman budaya Kerinci lokal dari generasi ke generasi, walaupun kerberadaannya sangat sedikit pada saat ini dan mulai pudar. Seni budaya ini sangat identik sekali dengan bahasa dan gaya bahasa masyarakat kerinci daerah Tanjung dalam menembangkanya nyayian (pengasuh) untuk mengiri kesenian dan tarian. Daerah Tanjung berada di hilir menyusuri sepanjang pinggiran sungai yang mengalir menuju Danau Kerinci. Hal ini terlihat dari lirik dan pantun serta bahasa Kerinci Hilir yang digunakan dalam mendendangkan lagu yang mengiringi gerakan tarian (pengasuh).

Tari Rantak Kudo dimainkan dengan diiringi alat musik gendang dan di iringi oleh nyayian yang berisi pantun-pantun, hal ini berbeda dengan Tari Rantak dari Minangkabau yang hanya diiringi instrumen musik. Para penari terdiri dari pria dan wanita yang menari dengan gerakan yang khas, yaitu kombinasi dari gerakan silat "langkah tigo" ("Langkah Tiga") dan tari. Biasanya tarian ini juga dipentaskan dengan pembakaran kemenyan tradisional upacara ritual yang membuat penari semakin khidmat dalam geraknya, bahkan kadang-kadang ada di antara penari yang mengalami kesurupan.

Di Indonesia saat ini, tarian ini biasanya dipentaskan dalam acara-acara adat dan acara resepsi pernikahan adat Kerinci. Salah satu lirik lagu di dalam pantun yang bersahut-sahutan adalah : "Tigeo dili, empoak tanoh rawoa. Tigeo mudik, empoak tanoh rawoa" (Bahasa Indonesia: "Tiga di Hilir, Empat dengan Tanah Rawang. Tiga di Mudik, Empat dengan Tanah Rawang"). Lirik tersebut menceritakan sebuah kisah pada zaman nenek moyang suku Kerinci dahulu kala, di kala pemerintahan para Depati (Adipati), Tanah Hamparan Rawang merupakan pusat pemerintahan, pusat kota dan kebudayaan di kala itu, yaitu dalam lingkup Depati 8 helai kain yang berpusat di Hiang (Depati Atur Bumi) dimana Tanah Hamparan Rawang merupakan tempat duduk bersama (pertemuan penting dalam adat Kerinci).

Sumber : http://www.lokerseni.web.id/

Tuesday, 12 June 2012

Ma ancak sebagai Dasar tari Minangkabau

Ma ancak atau mancak adalah istilah yang digunakan dalam sasaran Pencak silat atau perguruan Pencak silat di Minangkabau masa lalu. Mancak ini biasanya dibawakan oleh para murid-murid Silat dengan tujuan untuk memperindah gerakan silat dan melatih kelenturan tubuh, selain daripda itu juga berperan sebagai refleksi menghafal jurus-demi jurus. Dengan seringnya murid-murid mamancak (menari) dengan sendirinya gerakan silat dan hafalan jurus mereka akan semakin lancar. Dan karena kegiatan ini semakin dibiasakan oleh pesilat tersebut, maka lama kelamaan kegiatan ini menjadi sebuah permainan di dalam sasaran atau perguruan Pencak Silat tersebut. Sehingga Mamancak atau tari Silat ini menjadi sebuah budaya dalam kehidupan sosial masyarakat Minangkabau.

Bermula dari sinilah tari Minangkabau berasal, karena pada awalnya yang menjadi kreator tari dan penarinya adalah tokoh-tokoh perguruan Pencak silat, dan secara adat-istiadat Minangkabau masa lalu perempuan tidak dibenarkan untuk berlatih silat apalagi menari, karena kegiatan tersebut dianggap seperti mempertontonkan diri. Perempuan di Minagkabau masa lalu adalah sebagai pemilik rumah gadang dan rekan tempat berdiskusi mengenai keturunan dan harta pusaka oleh saudara laki-laki, dan bila mana dia berlaku secara bebas dalam pergaulan berarti perempuan tersebut disebut perempuan jalang, dan merupakan sebuah malau bagi keluarga. Oleh karena itu yang mamancak hanya laki-laki.

Sebab itu, para pendekar masa lalu dia selain sebagai tokoh silat juga sebagai tokoh adat dan budaya atau seniman tari. Karena itu kesan atau gaya tari Minangkbau berkesan seperti jurus-jurus Pencak silat, padahal tari Minangkabau bukanlah jurus silat atau berasal dari Pencak silat. Dan dalam tulisan ini saya nyatakan dengan tegas bahwa tari Minangkabau bukanlah berasal dari Pencak silat. akan tetapi para penciptanya waktu dulu adalah para pesilat, secara tidak langsung pengalaman vocabulary gerak mereka berkisar dari sekitar gerak pencak silat, oleh karena itu kesan yang tampak dalam gerak tari mereka adalah nuansa kewaspadaan, ketegasan dan kekuatan serta berupa bentuk-bentuk gerak se4rang dan belaan. namun berbicara tari Minangkabau bukanlah berasal dari Pencak silat, karena tidak satupun gerak tari tersebut berasal dari pecahan gerak Silat.

Dalam proses penciptaan tari seorang koreografer tergantung pada wawasan bocabulary gerak yang dia miliki, kalau mereka mengalami pengalaman di daerah Jawa walaupun mereka orang Minangkabau secara tidak langsung mereka akan mampu memodifikasi gerak tari Minang dengan gerak Jawa atau meminangkan gerak Jawa, batas pengalaman pendekar sebagai seniman tari masa itu hanya berada diseputaran wilayah pencak silat Minang sja, secara otomatis tentu rangsangan kinetetis mereka hanya itu, dan akhirnya gerakan tarian mereka seperti kepencak-pencak silatan.

Sumber : http://indrayuda.blogspot.com/

Sunday, 20 May 2012

Mengenal Kesenian Tari Piring

Kita tahu bahwa di Negara kita ini mempunyai banyak sekali macam ragam kebudayaan, yang dimana hamper dari setiap propinsi dan suku yang ada di Negara ini mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri, baik itu dari kesenian budayanya ataupun pakaian dan juga aturan adat dalam suku-suku yang ada di Negara ini. Salah satu kebudayaan yang dimiliki oleh Negara ini adalah tari piring, yang dimana tari piring ini merupakan suatu kesenian budaya yang berasal dari daerah minangkabau atau daerah sumatera barat. Tari piring ini merupakan suatu kesenian yang berupa tarian-tarian, dimana tari piring ini bertujuan untuk memuja atau kepada para pemimpin.

Pada awalnya kegunaan tari piring di daerah minangkabau, belum seperti kegunaan pada saat ini, yang dimana pada awalnya kegunaan tari piring ini digunakan oleh minangkabau pada saat musim panen tiba, yang dimana tari piring ini digunakan oleh masayarakat Minangkabau pada saat itu bertujuan untuk memberikan ucapan syukur kepada dewi padi, yang dimana telah memberi hasil panen yang melimpah kepada masyrakat minangkabau. Selain itu, pada zaman itu juga, tari piring ini digerakan atau dipentaskan oleh para pemuda-pemudi masyrakat minangkabau.

Namun, seiring dengan masuknya dan terbentuknya kerajaan-kerajaan yang terjadi pada daerah Minangkabau, seiring itu pula kegunaan dan tujuan dari tari piring ini pun berubah. Dimana pada zaman kerajaan di Minangkabau, tari piring ini digunakan oleh masyarakat Minangkabau sebagai alat untuk memberikan rasa penghormatan kepada para anggota kerajaan, terutama kepada raja yang memimpin pada saat itu. Tetapi, tari piring pada zaman ini juga digunakan pada saat tamu-tamu agung kerajaan datang.

Setelah majunya dan juga telah bersatunya segala masyarakat-masyarakat yang ada di Negara ini dan terutama di daerah Minangkabau atau di zaman yang telah modern ini, tari piring ini masih juga dipergunakan oleh masyrakat Minangkabau, namun tujuan dari kegunaan tari piring ini juga pun ikut berubah walaupun fungsinya tetap sama pada zaman dulu. Dimana pada saat ini masyarakat Minangkabau mempergunakan atau mempestakan Tari Piring pada saat adanya suatu pesta pernikahan atau perkawinan yang terjadi di daerah Minangkabau ( masyarakat-masyarakat keturunan minangkabau). Yang dimana pada saat ini fungsi dari Tari Piring ini tetap sama dengan fungsi dari Tari Piring sebelumnya, namun bedanya pada zaman dulu Tari Piring ini berfungsi untuk memberikan rasa pujian terhadap para raja, namun pada saat ini yang dianggap raja dalam kegunaan Tari Piring ini adalah kedua mempelai yang sedang menikah. Selain dipentaskan pada saat suatu acara pernikahan, Tari Piring pada saat ini juga dipentaskan pada saat ada suatu tamu agung yang datang ke daerah Sumatera Barat.

Biasanya pementasaan Tari Piring ini dipentaskan oleh jumlah orang yang tak tertentu, tetapi yang menjadi syarat utama dalam melaksanakan Tari Piring adalah jumlah orang yang mementaskan Tari Piring ini harus berjumlah ganjil, namun pada zaman dulu Tari Piring ini dipentaskan oleh 1 orang saja. Dimana dalam pelaksanaan Tari Piring, para penari memegang tingkatan-tingkatan piring yang telah disusun dan sambil melakukan gerakan tari, dimana semakin tinggi tingkatan piring semakin baik pula. Ketika alunan musik yang mengikuti semakin cepat, piring yang dipegang oleh penari akan dilempar keatas dan pecahan piring tersebut akan diinjak-injak oleh penari dan penari pun tetap menari sampai musik yang mengikuti berhenti.

Dapat disimpulkan bahwa dalam Tari Piring memiliki nilai-nilai trasedental, yang dimana nilai-nilai trasendental ini terdapat dalam tata cara pelaksanaan Tari Piring. Dimana piring-piring yang dipegang oleh para penari ini disusun keatas,dimana menunjukan bahwa piring diatas bertujuan untuk kearah tuhan(trasendental) dan juga terlihat dalam fungsi dan tujuan tari piring ini merupakan mengucapakan rasa bersyukur dan terima kasih kepada yang ada diatas, terhadap apa yang telah diberikan kepada masyarakat Minangkabau.

Sumber : http://sosbud.kompasiana.com/