Latest News

Showing posts with label Seni Tari Batak. Show all posts
Showing posts with label Seni Tari Batak. Show all posts

Sunday, 5 August 2012

Mengupas Sejarah dan Makna Tari Tor-Tor

"Tor-tor" berasal dari suara entakan kaki penarinya di atas papan rumah adat Batak. Penari bergerak dengan iringan Gondang.

Melimpahnya kebudayaan Indonesia terlihat dari beragamnya bentuk pertunjukan, tarian, alat musik, dan pakaian. Bukan hal mudah untuk menciptakannya karena harus mencurahkan akal budi dan daya upaya masyarakat suatu wilayah. Wajar jika kemudian terjadi perdebatan panjang saat Tari Tor-tor dan Gordang Sembilan (Gondang Sembilan) dari Mandailing, Sumatra Utara, dinyatakan akan menjadi hak cipta Malaysia.

Menurut Togarma Naibaho, pendiri Sanggar budaya Batak, Gorga, kata "Tor-tor" berasal dari suara entakan kaki penarinya di atas papan rumah adat Batak. Penari bergerak dengan iringan Gondang yang juga berirama mengentak. "Tujuan tarian ini dulu untuk upacara kematian, panen, penyembuhan, dan pesta muda-mudi. Dan tarian ini memiliki proses ritual yang harus dilalui," kata Togarma kepada National Geographic Indonesia, Selasa (19/6).

Pesan ritual itu, lanjut Togarma, ada tiga yang utama. Yakni takut dan taat pada Tuhan, sebelum tari dimulai harus ada musik persembahan pada Yang Maha Esa. Kemudian dilanjutkan pesan ritual untuk leluhur dan orang-orang masih hidup yang dihormati. Terakhir, pesan untuk khalayak ramai yang hadir dalam upacara. Barulah dilanjutkan ke tema apa dalam upacara itu.

"Makna tarian ini ada tiga, selain untuk ritual juga untuk penyemangat jiwa. Seperti makanan untuk jiwa. Makna terakhir sebagai sarana untuk menghibur," imbuh mantan pengajar Seni Rupa dan Desain di Universitas Trisakti, Jakarta itu.

Durasi Tari Tor-tor bervariasi, mulai dari tiga hingga sepuluh menit. Di tanah Batak, hal ini tergantung dari permintaan satu rombongan yang mau menyampaikan suatu hal ke rombongan lain. Dimintalah satu buah lagu pada pemusik. Jika maksud sudah tersampaikan, barulah tarian dihentikan.

Tarian ini akhirnya bertransformasi di Ibu Kota karena mulai ditampilkan di upacara perkawinan. Jika sudah sampai di upacara ini, bentuknya bukan lagi ritual melainkan hiburan. Karena menjadi tontonan dan tidak semua yang hadir ikut terlibat dalam tarian tersebut.

Memang belum ada buku yang mendeskripsikan rekam sejarah Tari Tor-tor dan Gondang Sembilan. Namun, ditambahkan oleh Guru Besar Tari Universitas Indonesia Edi Sedyawati, sudah ada pencatatan hasil perjalanan di zaman kolonial yang mendeskripsikan Tari Tor-tor.

Meski demikian, sama seperti kebudayaan di dunia ini, Tari Tor-tor juga mengalami pengaruh dari luar yaitu India. Bahkan jika ditelusuri lebih jauh pengaruhnya bisa tercatat hingga ke Babilonia.

Gondang Sembilan

Tari Tor-tor selalu ditampilkan dengan tabuhan Gondang Sembilan. Warga Mandailing biasanya menyebutnya Gordang Sembilan, sesuai dengan jumlah gendang yang ditabuh.

Jumlah gendang ini merupakan yang terbanyak di wilayah Suku Batak. Karena gendang di wilayah lainnya seperti Batak Pakpak hanya delapan buah, Batak Simalungun tujuh buah, Toba enam buah, dan di Batak Karo tingga tersisa dua buah gendang.

Menurut analisa Togarma, banyaknya jumlah gendang ini ada hubungannya dengan pengaruh Islam di Mandailing. Di mana besarnya gendang hampir sama dengan besar bedug yang ada di masjid. "Ada kesejajaran dengan agama Islam. Bunyi gendangnya pun mirip seperti bedug."

Gendang ini juga punya ciri khas lain yakni pelantun yang disebut Maronang onang. Si pelantun ini biasanya dari kaum lelaki yang bersenandung syair tentang sejarah seseorang, doa, dan berkat. "Senandungnya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunitas peminta acara," imbuh Togarma.

Sayangnya keindahan budaya Tari Tor-tor dan Gondang Sembilan ternoda dengan kurangnya penghargaan. Sulit mencari pihak yang mau membiayai pagelaran budaya ini, terutama di Ibu Kota. Hanya karena pejuang-pejuang seni Batak, Tari Toro-tor dan Gondang ini masih tumbuh dan terlihat keberadannya.

"Kebudayaan itu pengisi batin, bagian dari kehidupan. Karena hidup tidak cukup dengan makan saja, jiwa juga harus terisi seni," ujar Togarma.

Sumber : http://nationalgeographic.co.id/

Tuesday, 10 July 2012

`Gondang Naposo` Terang Bulan Muda-mudi Batak

Sejumlah pemudi menarikan tari Manortor pada gelar pertunjukan seni batak toba "Gondang Naposo" di Gelanggang Olahraga Velodrome, Jakarta, Sabtu (26/1). Selain sebagai ajang silaturahmi warga batak toba di Jakarta pertunjukan ini juga bertujuan untuk mengenalkan seni budaya batak toba pada generasi muda.

Pada masa lalu, adat Batak mengharuskan anak gadis menikah dengan pariban (sepupu kandung). Tiomina, gadis asal Tarutung dipaksa meninggalkan sang kekasih dan menikah dengan paribannya.

Pernikahan mereka tidak berjalan dengan baik. Tiomina pun akhirnya jatuh sakit. Tak lama kemudian, Tiomina menghembuskan napas terakhir, dan sang kekasih akhirnya bunuh diri.

Kisah tragis Tiomina dan sang kekasih itu dikemas dalam drama Siboru Napinaksa, sebagai bagian acara Gondang Naposo di Gelanggang Olahraga Rawamangun, Jakarta Sabtu (26/1) malam. Acara yang untuk pertama kali diadakan di Jakarta adalah hasil kerja sama Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Perkumpulan Komunitas Batak Toba se-Jabodetabek.

Acara ini dihadiri ribuan muda-mudi Batak Toba se-Jabodetabek. Ketua bidang Musik DKJ Erik Awuy mengatakan Gondang Naposo diselenggarakan untuk memperkenalkan budaya Batak Toba pada generasi muda Batak. "Acara ini diadakan agar semua komunitas dapat berkembang dan budaya Indonesia tetap lestari," kata Erik.

Menurut Ketua Panitia Gondang Naposo Cerman Simamora, pertunjukan musik tradisi Batak Toba itu sejak tahun 1980-an tidak pernah diselenggarakan, baik di Tanah Batak maupun di kota-kota tempat perantauan orang Batak. Hal ini, ujarnya, akibat modernisasi yang kuat mempengaruhi masyarakat Batak khususnya anak muda Batak.

"Saya prihatin karena banyak pemuda Batak perantauan tidak mengetahui kebudayaan Batak. Bahasa Batak pun mereka tidak bisa. Kami mengharapkan dengan acara ini masyarakat Batak yang tinggal di perantauan khususnya Jakarta mau mengetahui, mengenal dan berpartisipasi mengembangkan budaya Batak," kata pengajar sejarah tradisional di Batak Institut Kesenian Jakarta (IKJ) kepada SP.

Gondang Naposo adalah pesta adat yang ditunggu-tunggu muda-mudi. Di momen ini, muda-mudi dari berbagai desa berkenalan. Mereka bernyanyi (marende), menari (manortor), berbalas pantun (umpama), bermain musik (gondang hasapi), bermain drama mini (opera) dan lain-lain. Bahkan dalam acara yang diadakan ketika terang bulan itu, tidak jarang mereka menemukan pasangan hidup.

Gondang Naposo biasanya dilakukan saat seorang pemuda atau pemudi akan melepas masa lajang, dan saat masyarakat kampung memperoleh hasil panen yang baik.

Cinta Tradisi
Diharapkan, Gondang Naposo menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap tradisi Batak dan kecintaan pada Bona Pasogit (kampung halaman). Ceman juga mengharapkan, para generasi muda dapat melihat nilai-nilai tradisi Batak dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti, menghormati orangtua dan mengenal silsilah sebutan keluarga Batak.

Pada pertunjukan itu, bukan hanya drama Siboru Napinaksa yang ditampilkan. Ada juga tiga opera yang dibawakan dengan tarian, yaitu opera perkawinan, opera terang bulan, opera panen. Ditampilkan pula tiga tari tradisional Batak, seperti Tari Cawan, Tari Panen dan Tor-Tor. Acara juga dimeriahkan, pertunjukan musik dan lagu tradisional Batak seperti Tulo-Tulo dan Seko-Seko yang dinyanyikan puluhan anak.

Musisi Batak Viki Sianipar yang berkolaborasi dengan anggota Elfa Singers, Lita Zen Siahaan boru Sihombing mengatakan, acara ini baik untuk memperkenalkan tradisi Batak pada generasi muda.

Sumber : www.suarapembaharuan.com

Wednesday, 20 June 2012

Mengenal Tradisi Margondang Dan Tari Tortor Suku Batak (1)

Tortor Dan Margondang
Tor-tor adalah tarian seremonial yang disajikan dengan musik gondang. Walaupun secara fisik tortor merupakan tarian, namun makna yang lebih dari gerakan-gerakannya menunjukkan tor-tor adalah sebuah media komunikasi, dimana melalui gerakan yang disajikan terjadi interaksi antara partisipan upacara. Tor-tor dan musik gondang ibarat koin yang tidak bisa dipisahkan.

Gambar 1 : Tari Tortor

Seni tari Batak pada zaman dahulu merupakan sarana utama pelaksanaan upacara ritual keagamaan. Juga menari dilakukan juga dalam acara gembira seperti sehabis panen, perkawinan, yang waktu itu masih bernapaskan mistik (kesurupan).
Acara pesta adat yang membunyikan gondang sabangunan (dengan perangkat musik yang lengkap), erat hubungannya dengan pemujaan para Dewa dan roh-roh nenek moyang (leluhur) pada zaman dahulu.

Tetapi itu dapat dilaksanakan dengan mengikuti tata cara dan persyaratan tertentu.umpamanya sebelum acara dilakukan terbuka terlebih dahulu tuan rumah (hasuhutan) melakukan acara khusus yang dinamakna Tua ni Gondang, sehingga berkat dari gondang sabangunan. Dalam pelaksanaan tarian tersebut salah seorang dari hasuhutan (yang mempunyai hajat akan memintak permintaan kepada penabuh gondang dengan kata-kata yang sopan dan santun sebagai berikut :
�Amang pardoal pargonci��.
1- �Alu-aluhon ma jolo tu omputa Debata Mulajadi Nabolon, na Jumadihon nasa adong, na jumadihon manisia dohot sude isi ni portibion.�
2- �Alu-aluhon ma muse tu sumangot ni omputa sijolo-jolo tubu, sumangot ni omputa paisada, omputa paidua, sahat tu papituhon.�
3- �Alu-aluhon ma jolo tu sahala ni angka amanta raja na liat nalolo.�

Setiap selesai satu permintaan selalu diselingi dengan pukulan gondang dengan ritme tertentu dalam beberapa saat. Setelah ketiga permintaan/ seruan tersebut dilaksanakan dengan baik maka barisan keluarga suhut yang telah siap manortor (menari) mengatur susunan tempat berdirinya untuk memulai menari. Kembali juru bicara dari hasuhutan memintak jenis gondang, satu persatu jenis lagu gondang, ( ada 7 jenis lagu Gondang) yang harus dilakukan Hasuhutan untuk memdapatkan (tua ni gondang). Para melakukan tarian dengan semangat dan sukacita.

Adapun jenis permintaan jenis lagu yang akan dibunyikan adalah seperti : permohonan kepada Dewa dan pada ro-roh leluhur agar keluarga suhut yang mengadakan acara diberi keselamatan kesejahteraan, kebahagiaan, dan rezeki yang berlimpah ruah, dan upacara adat yang akan dilaksanakan menjadi sumber berkat bagi suhut dan seluruh keluarga, serta para undangan.Sedangkan gondang terakhir yang dimohonkan adalah gondang hasahatan. Didalam Menari banyak pantangan yang tidak diperbolehkan, seperti tangan sipenari tidak boleh melewati batas setinggi bahu keatas, bila itu dilakukan berarti sipenari sudah siap menantang siapapun dalam bidang ilmu perdukunan, atau adu pencak silat, atau adu tenaga batin dan lain lain.

Gambar 2 :� Ulos � yang selalu dipakai saat Tortor

Tarian (tor-tor) Batak ada empat gerakan (urdot) yatu :
1- Pangurdot (yang termasuk pangurdot dari organ-organ tubuh ialah daun kaki, tumit sampai bahu.
2- Pangeal (yang termasuk pangeal dari organ tubuh adalah Pinggang, tulang punggung sampai daun bahu/ sasap).
3- Pandenggal (yang masuk pandenggal adalah tangan, daun tangan sampai jari-jari tangan).
4- Siangkupna ( yangtermasuk Siangkupna adalah leher,).
Didalam menari setiap penari harus memakai Ulos.

Didalam menari orang Batak mempergunakan alat musik / Gondang yaitu terdiri dari: Ogung sabangunan terdiri dari 4 ogung. Kalau kurang dari empat ogung maka dianggap tidak lengkap dan bukan Ogung sabangunan dan dianggap lebih lengkap lagi kalau ditambah dengan alat kelima yang dinakan Hesek. Kemudian Tagading terdiri dari 5 buah. Kemudian Sarune (sarunai harus memiliki 5 lobang diatas dan satu dibawah).
Peralatannya cukup sederhana namun kalau dimainkan oleh yang sudah berpengalaman sangat mampu menghipnotis pendengar.

Menari juga dapat menunjukkan sebagai pengejawantahan isi hati saat menghadapi keluarga atau orang tua yang meninggal, tariannya akan berkat-kata dalam bahasa seni tari tentang dan bagaimana hubungan batin sipenari dengan orang yang meninggal tersebut. Juga Menari dipergunakan oleh kalangan muda mudi menyampai hasrat hatinya dalam bentuka tarian, sering tarian ini dilakukan pada saat bulan Purnama.
Kesimpulannya bahwa tarian ini dipergunakan sebagai sarana penyampaian batin baik kepada Roh-roh leluhur dan maupun kepada orang yang dihormati (tamu-tamu) dan disampaikan dalam bentuk tarian menunjukkan rasa hormat.

2. Klasifikasi Margondang

Walaupun Tari Tortor dan Margondang selalu berkaitan dan takkan pernah pisah dalam suatu acara adat . Akan tetapi Margondang sendiri punya pengklasifikasian dari mulai di temukannya Margondang tersebut.

Secara umum dikalangan masyarakat Batak Toba, ensambel gondang hasapi dan gondang sabaguan selalu disertakan dalam setiap upacara, baik upacara adat maupun upacara religi.Upacara yang menyertakan gondang dalam pelaksanaannya di sebut dengan margondang (memainkan gondang ). Sedangkan nama dari upacara dimana gondang tersebut dimainkan di dentik dengan nama margondang tersebut, misalnya margondang adat, margondang saur matua dan sebagainya. Hal tersebut diatas merupakan suatu persepsi yang utuh tentang peranan gondang yang sangat esensial dalam upacara adat maupun religi. Pada dasar kegiatan margondang pada masyarakat batak dapat dikalisifikasikan menurut zamannya , yaitu margondang pada masa purba dan margondang pada masa sekarang.

A.Margondang Pada Masa Purba

Yang dimaksud dengan Masa purba adalah masa dimana sebelum masuknya pengaruh agama Kristen ketanah batak, dimana pada saat itu masih menganut aliran kepercayaan yang bersifat polytheisme.Pada masa purba penggunaan gondang dalam konteks hiburan maupun pertunjukan belum didapati masyarakat .Keseluruhan kegiatan di tujukan untuk upacara adat maupun upacara religi yang bersifat sakral.

Oleh karena itu upacara margondang pada masa purba dapat dibagi dalam 2 bagian, yaitu :
1. Margondang adat, yaitu suatu upacara yang menyertakan gondang, merupakan akualisasi dari aturan-aturan yang dibiasakan dalam hubungan manusia dan manusia (hubungan horizontal), misalnya : gondang anak tubu (upacara anak yang baru lahir), gondang manape goar (upacara pemberian nama/ gelar boru kepada seseorang), gondang pagolihan anak (mengawinkan anak), gondang mangompoi huta (peresmian perkampungan baru), gondang saur matua (upacara kematian orang yang sudah beranak cucu) dan sebagainya.

Gambar 3 : Gondang Sembilan, alat yang dipakai saat Margondang


2. Margondang religi, yaitu upacara yang menyertakan gondang, merupakan akualisasi dari suatu kepercayaan tau keyakinan yang dianut dalam hubungan manusia dengan tuhan-nya atau yang disembahnya (hubungan vertikal), misalnya : gondang saem (upacara untuk meminta rejeki), gondang mamele, (upacara pemberian sesajen kepada roh), gordang papurpur sapata (upacara pembersihan tubuh/ buang sial) dan sebagainya.

Walaupun upacara margondang masa purba dibagi ke dalam dua bagian, namun hubungan dengan adat dan religi dalam suatu upacara selalu kelihatan dengan jelas. Hal tersebut dapat dilihat dari tata cara yang dilakukan pada setiap upacara adat yang selalu menyertakan unsur religi dan juga sebaiknya pada setiap upacara religi yang selalu menyertakan unsur adat. Unsur religi yang terdapat dalam upacara adat dapat dilihat dari beberapa aspek yang mendukung upacara tersebut, misalnya : penyertaan gondang, dimana dalam setiap pelaksanaan gondang selalu diawali dengan membuat tua ni gondang ( memainkan inti dari gondang), yaitu semacam upacara semacam meminta izin kepada mulajadi nabolon dan juga kepada dewa-dewa yang dianggap sebagai pemilik gondang tersebut. Sedangkan unsur adat yang terdapat dalam upacara religi dapat dilihat dari unsur dalihan na tolu yang selalu disertakan dalam pada setiap upacara. Menurut Manik, bahwa pada mulanya agama dan adat etnik Batak Toba mempunyai hubungan yang erat, sehingga tiap upacara adat sedikit banyaknya bersifat keagamaan dan tiap upacara agama sedikit banyaknya diatur oleh adat (1977: 69).

Walaupun hubungan dari kedua adat dan religi selalu kelihatan jelas dalam pelaksanaan suatu upacara, perbedaaan dari kedua upacara tersebut dapat dilihat dari tujuan utama suatu upacara dilaksanakan. Apabila suatu upacara dilaksanakan untuk hubungan manusia yang disembahnya, maka upacara tersebut di klasifikasikan kedalam upacara religi. Apabila suatu upacara dilakukan untuk hubungan manusia dengan manusia, maka upacara tersebut dapat di klasifikasikan ke dalam upacara adat.



Sumber : http://indoparsada.blog.com/

Monday, 18 June 2012

Mengenal Tari Tor Tor Lebih Dekat

Tari tor-tor adalah tarian khas suku Batak, Sumatera Utara. Tepatnya Mandailing. Gerakan tarian ini seirama dengan iringan musik (magondangi) yang dimainkan menggunakan alat-alat musik tradisional seperti gondang, suling, terompet batak, dan lain-lain.

Tari tor-tor dulunya digunakan dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh. Roh tersebut dipanggil dan "masuk" ke patung-patung batu (merupakan simbol leluhur). Patung-patung tersebut tersebut kemudian bergerak seperti menari, tetapi dengan gerakan yang kaku. Gerakan tersebut berupa gerakan kaki (jinjit-jinjit) dan gerakan tangan.

Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar yang mana lebih dahulu dibersihkan tempat dan lokasi pesta sebelum pesta dimulai agar jauh dari mara bahaya dengan menggunakan jeruk purut. Tor-tor menjadi perangkat budaya dalam setiap kegiatan adat orang batak.

Tarian tor-tor juga dipakai pada pesta pernikahan, bagi suku mandailing tarin tor-tor merupakan tarian yang sangat dijaga sampai sekarang. Banyak orang yang mengenal tarian tor-tor karena tarian tor-tor selalu digunakan oleh beberapa sanggar tari untuk menjadi salah satu tarian yang di kembangkan dan di jaga.

Setiap orang mandailing pasti bisa menari tarian tor-tor, karena tarian ini selalu dipakai dalam berbagai acara di sumatera utara. Tarian ini juga sangat disukai oleh orang yang bukan suku batak. Tarian di Indonesia mempunyai ciri khas masing-masing daerah yang menjadi suatu tarian yang di banggakan.

Tarian tor-tor juga tidak hanya suku mandailing yang menari tor-tor, melainkan suku selai mandailing juga dapat menari tarian tor-tor dengan baik.

Tarian ini sangat terkenal sehingga selalu dipakai pada acara-acara. Pakaian yang digunakan pada tarian tor-tor adalah pakaian ciri khas batak dengan memakai ulos.

Pakaian yang dikenakan saat menari tarian tor-tor sangat lah bagus karena pakaian pada tarian tor-tor mempunyai ciri khas tersendiri. Maka tarian inilah yang harus kita junjung tinggi dan di lestarikan sampai kapan pun.

Ragam Tor-tor

Jenis tarian tor-tor banyak ragamnya, yakni:

Tor tor Pangurason (tari pembersihan).
Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar. Sebelum pesta dimulai, tempat dan lokasi pesta terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan jeruk purut agar jauh dari mara bahaya.

Tor tor Sipitu Cawan (Tari tujuh cawan).
Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja. Tari ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi di sebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung (Pisau tujuh sarung).

Tor tor Tunggal Panaluan
Biasanya digelar apabila suatu desa dilanda musibah. Tunggal panaluan ditarikan oleh para dukun untuk mendapat petunjuk solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Sebab tongkat tunggal panaluan adalah perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Benua atas, Benua tengah, dan Benua bawah.

Tor-Tor pada jaman sekarang untuk orang Batak tidak lagi hanya diasumsikan dengan dunia roh, tetapi menjadi sebuah seni karena Tor-Tor menjadi perangkat budaya dalam setiap kegiatan adat orang Batak.

Sumber : http://www.apakabardunia.com/