Latest News

Showing posts with label Seni Tari Bali. Show all posts
Showing posts with label Seni Tari Bali. Show all posts

Wednesday, 14 November 2012

Joged Dadua Bali

Joged Dadua.
Joged adalah adalah sebutan/ nama untuk merujuk pada tarian joged yang tedapat di Banjar Suda Kanginan seperti:

Joged Duwe
Tarian ini berkait langsung dengan ritual keagamaan, dominan pada ritual sakral upacara piodalan yang dilaksanakan di banjar Suda Kanginan, dan pura-pura yang memiliki paiketan/kaitan dengan Ida Bhatara/i yang malingga di Sudha Kanginan.

Joged Pingitan
Tarian joged ini tidak seperti joged lain pada umumnya yang dipentaskan secar profan untuk hiburan dan bisa di ibingi oleh khalayak umum. Joged jenis ini memang dipingit, dan hanya dipentaskan pada acara-acar ritual magis tertentu saja dan pengibingnyapun adalah para sutri yang telah memiliki ayahan untuk hal tersebut.

Joged Klasik
Joged klasik adalah sebutan yang diberkan oleh orang-orang �modern�, seperti kalangan seniman/akademisi, yang menurutnya bisa diklasifikasikan/ dikategorikan sebagai seni atau tarian klasik.

Riwayat Singkat

Menurut penuturan para tetua banjar Suda Kanginan, bahwa joged Duwe telah diketahui ada sejak tahun 1920-an, atau bahkan lebih sebelum tahun tersebut, dan mempunyai kaitan erat dengan keberadaan Gong Kebyar Puspa Nadi yang ada sekarang. Ketika itu, keberadaannya hanya baru beberapa tungguh gamelan saja (seperti gangsa 4 tungguh, reong, jublah dua tungguh, kemong, celuluk, dan gong), atau lebih dikenal dengan sebutan gong sibak, yang memang khusus diperuntukkan untuk mengiringi tarian joged tersebut.

Penari pertama sebagai penari joged tersebut pada saat dilatih di puri Kediri, konon penari tersebut berasal dari keluarga Nang Cekeg warga banjar Suda Kanginan dan selanjutnya penari tersebut terus membina generasi berikutnya. Sejak itu, keberadaan joged duwe tetap eksis, artinya bisa di upah yang selalu ditemani oleh pemangku. Kemudian, siring berjalannya waktu, joged tersebut kalinggihan dan menjadi joged pingitan, dengan pengertian joged ini tidak boleh ditarikan di tempat/wilayah sebel/cuntaka, dan hanya boleh ditarikan pada upacara dewa yadnya dan manusa yadnya. Kemudian sekitar tahun 1940-an dan ytahun 1950-an, gong pengiring tari joged tersebut dilengkapi dan menjadi satu kelengkapan gong.

Pada masa tahun 1970-an, joged ini pernah diminta pentas secara khusus oleh Ida Cokorda Lingsir Puri Tabanan untuk sengaja dipentaskan dihapan beliau sebagai pembuktian bahwa tari joged pingit ini masih tetap eksis dan tetap lestari. Pada saat tersebut, Ida Cokorda Lingsir menyarankan agar kesenian ini jangan samapi punah, dan agar tetap dipentaskan pada waktu kegiatan dewa yadnya dan manusa yadnya.

Hal ini juga dikuatkan secara niskala, yang meminta agar keberadaan joged ini jangan sampai tidak aktif.

Tentang tarian

Penari joged ini terdiri atas dua orang penari perempuan dari usia anak-anak sebalum haid/usia dewasa. Direkrut dari warga masyarakat Suda Kanginan yang memiliki persyaratan anatar lain; mau dan bisa belajar menari, mempunyai paras yang cukup, dengan batas usia menjadi penari adalah masa haid pertama/dewasa. Artinya, ketika para penari telah menadapatkan haid pertamanya, maka sang penari akan segera mepamit/undur diri dari kegiatan joged ini, dan kelompok joged akan segera mencarikan penggantinya untuk kemudian dilatih dan dipelaspas secara sekala dan niskala.

Penari joged duwe memakai kostum penari legong keraton lengkap dengan kipasnya, dengan struktur gamelan pengiring yang mengiringi tarian joged ini terdiri atas tiga palet/babak yaitu:

1. Palet pepeson-lelegongan: mirip dengan tarian awal legong kraton dengan fersi yang agak berbeda dengan durasi kurang lebih lima menit.
2. Palet pelayon: mirip dengan legong keraton dengan versi agak berbeda. Untuk koreografi tarian waktu sekarang agak berbeda dengan dahulu. Koreografi tarian untuk waktu sekarang lebih disederhanakan dengan pertimbangan; daya hafal penari, kebutuhan waktu agar lebih efisien, dll.
3. Palet ibing-ibingan: pengibing tarian ini berjumlah satu-dua pengibing yang telah ditentukan orang-orangnya dan biasanya dari kalangan sutri. Tarian akan berakhir bila penabuh telah mendapat isyarat berhenti dari para sutri.

Fungsi tarian:

Fungsi tarian secara niskala; sebagai pelengkap upacara dewa yadnya, persembahan suci untuk para bhatara dan bhatari yang melingga di khayangan banjar Suda Kanginan.

Fungsi secara sekala; sebagai hiburan bagi masyarakat, sebagai penanda bahwa acara puncak persembahyangan akan segera dilaksanakan, serta sebagai media pelestarian budaya leluhur.

*Artikel ini dibuat berdasarkan sinopsis yang diterbitkan oleh banjar adat suda kanginan. Segala isi artikel ini telah di edit oleh penulis, tanpa mengurangi isi dan makna sebenarnya.

Alamat joged: Br. Suda kanginan, Desa Nyitdah, Kec. Kediri, Kab. Tabanan

Sumber :
http://tabanankab.go.id/artikel/budaya-dan-agama/138-joged-dadua
http://www.pesonapulaubali.com/sejarahbudaya/bali/81-jogeddaduabali.html

Tuesday, 9 October 2012

Joged Pingitan dari Generasi Ni Cenik

Tarian klasik Bali terus dipanggungkan, termasuk di Pesta Kesenian Bali. Foto Luh De Suriyani.

Ni Wayan Sekariani, cucu pertama sang maetro alm Ni Ketut Cenik bersimbah peluh setelah menarikan berbagai lakon dalam pagelaran kesenian rekonstruksi di arena Pesta Kesenian Bali (PKB), Denpasar, Senin (20/6) siang.

Bersama sejumlah penari lain, Ia memanggungkan sejumlah tari langka di arena terbuka yang sederhana. Tidak ada brosur atau informasi yang cukup dari panitia PKB untuk memperkenalkan tokoh dan lakon tarian-tarian klasik Bali ini pada penonton.

Sekariani membawakan tari Joged Pingitan, tari yang paling disukai alm Ni Ketut Cenik, legenda seniman perempuan Bali yang terus menari hingga meninggal pada usia 90 tahun pada April 2010 lalu. �Tarian klasik Bali ini harus terus dipanggungkan, ini warisan dari Ni Cenik,� ujar Sekariani. Ia sendiri mengaku tidak sekuat sang nenek, yang bisa menarikan berbagai lakon selama nonstop berjam-jam.

Sekariani merekonstruksi sejumlah tarian klasik ini bersama Yayasan Tri Pusaka Sakti. Sebuah lembaga konservasi dan dokumentasi seni yang dikelola keluarga Ni Cenik di Banjar Pekandelan, Batuan, Sukawati, Gianyar.

Joged Pingitan menceritakan tentang turunnya bidadari dari kahyangan ke bumi ini, dan zaman dulu hanya bisa dipentaskan di depan raja. Jenis joged ini dalam pementasannya diiringi dengan gamelan tingklik bambu yang berlaras Pelog, yang disebut Gamelan Joged Pingitan.

Disebut Joged Pingitan karena di dalam pementasan tarian ini ada bagian-bagian yang dilarang (dipingit) yaitu pengibing hanya bisa menari untuk dapat mengimbangi gerak tari yang ditimbulkan oleh penari joged dan tidak boleh menyentuh penarinya. Repertoir yang biasa dijadikan suatu lakon adalah kisah Prabu Lasem dan di beberapa tempat ada juga yang mengambil cerita Calonarang. Berdasarkan data-data yang ada, joged ini muncul di Bali sekitar tahun 1884.

Di pentas PKB, Sekariani dan penari lainnya merekonstruksi tari Bapang Gede, yang dinilai gerakan dasar khas pada sajian tari Joged Pingitan. Dibalut kisah Calonarang, para penari dan penabuh membawakan cirri khas Joged Pingitan dengan karakternya tarian Sisia, Matah Gede, Rarung, Maling Maguna, Rangda, dan tarian Barong.

�Seni rekonstruksi ini hanya bisa dinikmati masyarakat umum di PKB,� ujar I Made Djimat, pengelola yayasan, anak kedua Ni Cenik yang juga penari ini. Untungnya, menurut Djimat keluarga Ni Cenik membuat sanggar seni di Batuan yang kerap dikunjungi wisatawan. Ia sendiri bersyukur, sanggar seninya membuat generasi penari klasik warisan Ni Cenik ini tumbuh. Djimat mencontohkan kini sudah ada generasi keempat, cucunya yang sudah mempelajari tari-tarian ini sejak kecil.

Untuk mengajak warga di desanya melestarikan seni klasik, menurut Djimat tak mudah. Misalnya di sanggar seni Tri Pusaka Sakti, para murid tak dipungut bayaran. �Kalau konservasi berhasil, kami bisa pentas kalau permintaan, dan para penari juga bisa mendapat penghasilan,� katanya soal industry tari yang harus terus didukung. Pementasan rutin menurutnya cara konservasi seni yang hidup. Djimat berharap bantuan dari pemerintah tak putus.

Sejak 1971, Yayasan Tri Pusaka Sakti ini masih setia mementaskan tarian sacral dan klasik seperti Gambuh, Calonarang, Wayang Wong, dan lainnya. Jenis tari yang dianggap basic dari tari dan drama tradisional Bali. Karena itulah Batuan, masih dikenal sebagai pusatnya seniman tari klasik.

Kepala Dinas Kebudayaan Bali IB Sedhawa, yang mengkoordinir PKB mengatakan seni tradisi yang ditampilkan lebih banyak yang bersifat pengembangan. Karena itu, sanggar seni klasik memanggungkan tradi tradisi yang direkonstruksi.

Sejumlah agenda pemanggungan kesenian rekonstruksi lain di PKB minggu ini adalah Tari Topeng Banjar Sidan, Badung, lalu ada Arja anak-anak dari Sanggar Sakuntala, Karangasem, dan lainnya.

PKB tahun ini bertajuk �Desa Kala Patra: Adaptasi dalam Multikultur� menmapilkan enam materi pokok, yakni pawai, pergelaran, lomba, sarasehan, pameran dan dokumentasi. Pertunjukan seni rakyat ini digagas tahun 1979, oleh Almarhum Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, mantan Gubernur Bali.

Hingga 2015, PKB sudah menyiapkan sejumlah tema yakni Parasparos (Kebersamaan), Taksu (Membangkitkan Kreativitas dan Jati Diri ), Krtamase (Keajegan Rasa menuju Ketertiban Semesta), dan Jagadhita (Mengokohkan Kesejahteraan Masyarakat)

Sumber : http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2011/06/29/joged-pingitan-dari-generasi-ni-cenik.html

Monday, 30 July 2012

Sejarah Tari Legong di Bali

Tari Legong dalam khasanah budaya Bali termasuk ke dalam jenis tari klasik karena awal mula perkembangannya bermula dari istana kerajaan di Bali. Tarian ini dahulu hanya dapat dinikmati oleh keluarga bangsawan di lingkungan tempat tinggal mereka yaitu di dalam istana sebagai sebuah tari hiburan. Para penari yang telah didaulat menarikan tarian ini di hadapan seorang raja tentu akan merasakan suatu kesenangan yang luar biasa, karena tidak sembarang orang boleh masuk ke dalam istana.

Mengenai tentang awal mula diciptakannya tari Legong di Bali adalah melalui proses yang sangat panjang. Menurut Babad Dalem Sukawati, tari Legong tercipta berdasarkan mimpi I Dewa Agung Made Karna, Raja Sukawati yang bertahta tahun 1775-1825 M. Ketika beliau melakukan tapa di Pura Jogan Agung desa Ketewel ( wilayah Sukawati ), beliau bermimpi melihat bidadari sedang menari di surga. Mereka menari dengan menggunakan hiasan kepala yang terbuat dari emas.

Ketika beliau sadar dari semedinya, segeralah beliau menitahkan Bendesa Ketewel untuk membuat beberapa topeng yang wajahnya tampak dalam mimpi beliau ketika melakukan semedi di Pura Jogan Agung dan memerintahkan pula agar membuatkan tarian yang mirip dengan mimpinya. Akhirnya Bendesa Ketewel pun mampu menyelesaikan sembilan buah topeng sakral sesuai permintaan I Dewa Agung Made Karna. Pertunjukan tari Sang Hyang Legong pun dapat dipentaskan di Pura Jogan Agung oleh dua orang penari perempuan.

Tak lama setelah tari Sang Hyang Legong tercipta, sebuah grup pertunjukan tari Nandir dari Blahbatuh yang dipimpin I Gusti Ngurah Jelantik melakukan sebuah pementasan yang disaksikan Raja I Dewa Agung Manggis, Raja Gianyar kala itu. Beliau sangat tertarik dengan tarian yang memiliki gaya yang mirip dengan tari Sang Hyang Legong ini, seraya menitahkan dua orang seniman dari Sukawati untuk menata kembali dengan mempergunakan dua orang penari wanita sebagai penarinya. Sejak itulah tercipta tari Legong klasik yang kita saksikan sekarang ini.

Bila ditinjau dari akar katanya, Legong berasal dari kata � leg � yang berarti luwes atau elastis dan kata �gong� yang berarti gamelan. Kedua akar kata tersebut bila digabungkan akan berarti gerakan yang sangat diikat ( terutama aksentuasinya ) oleh gamelan yang mengiringinya (Dibia, 1999:37).

Sebagai sebuah tari klasik, tari Legong sangat mengedepankan unsur artistik yang tinggi, gerakan yang sangat dinamis, simetris dan teratur. Penarinya pun adalah orang-orang yang berasal dari luar istana yang merupakan penari pilihan oleh raja ketika itu. Maka, tidaklah mengherankan jika para penari merasakan kebanggaan yang luar biasa jika menarikan tari Legong di istana. Begitu pula sang pencipta tari. Akan menjadi suatu kehormatan besar apabila dipercaya untuk menciptakan suatu tarian oleh seorang pengusa jaman itu. Walaupun nama mereka tidak pernah disebutkan mencipta suatu tarian kepada khalayak ramai, mereka tidak mempersoalkan itu asalkan didaulat mencipta berdasarkan hati yang tulus dan penuh rasa persembahan kepada sang raja. Ini dapat dilihat dari hampir seluruh tari-tari klasik maupun tari tradisi lain yang berkembang di luar istana seperti tari Legong, Baris, Jauk dan Topeng.

Kini di jaman yang tidak lagi menganut paham feodalisme, keseian Legong telah mengalami perkembangan yang sangat pesat dari segi kuantitas maupun kualitas. Disebutkan bahwa tari Legong Keraton ( karena berkembang di istana ) keluar dari lingkungan istana pada awal abad ke-19. Para penari wanita yang dahulunya berlatih dan menari Legong di istana kini kembali ke desa masing-masing untuk mengajarkan jenis tarian ini kepada masyarakat. Sebagaimana diketahui, orang Bali adalah orang yang sangat kreatif sehingga gaya tari masing-masing pun sedikit berbeda sesuai dengan kemampuan membawakannya. Oleh karena itu, timbul style-style Palegongan yang tersebar di berbagai daerah seperti di desa Saba, Peliatan, Bedulu, Binoh, Kelandis dan beberapa tempat lainnya. Dari sekian daerah perkembangan tari Legong, hanya desa Saba dan Peliatan yang masih kuat mempertahankan ciri khasnya dan mampu melahirkan jenis-jenis tari Palegongan dengan berbagai nama.

Tari-tari legong yang ada di Bali pada awalnya diiringi oleh gamelan yang disebut Gamelan Pelegongan. Perangkat gamelan ini terdiri dari dua pasang gender rambat, gangsa jongkok, sebuah gong, kemong, kempluk, klenang, sepasang kendang krumpungan, suling, rebab, jublag, jegog, gentorang. Sebagai tambahan, terdapat seorang juru tandak untuk mempertegas karakter maupun sebagai narrator cerita melalui tembang. Namun, seiring populernya gamelan gong kebyar di Bali, akhirnya tari-tari palegongan ini pun bisa diiringi oleh gamelan Gong Kebyar, karena tingkat fleksibilitasnya.

Sumber : http://www.isi-dps.ac.id/

Friday, 8 June 2012

Sejarah / asal usul Tari Pendet

Pulau Bali adalah salah satu tempat wisata andalan Indonesia yang terkenal ke seluruh penjuru dunia karena keindahan alam dan budayanya. Hampir setiap hari ada rombongan Turis lokal/ domestik maupun asing yang berbondong-bondong datang ke Pulau Dewasa untuk berwisata, jumlah wisatawan akan meningkat di saat musim liburan. Salah satu prosesi penyambutan tamu yang sering dipentaskan adalah Tari Pendet.

Tari Pendet diciptakan oleh I Wayan Rindi (1967), maestro tari dari Bali yang dikenal luas sebagai penggubah tari pendet sakral yang bisa di pentaskan di pura setiap upacara keagamaan. Pada awal penciptaan, tarian ini merupakan tari pemujaan yang banyak dipentaskan di Pura, tempat ibadah umat Hindu di Bali, Indonesia. Gerak Tari ini simbol penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Tetapi, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Tari Pendet menjadi �tarian ucapan selamat datang�, meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius.

Diyakini bahwa Tari Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, dewasa maupun gadis. Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.

Gerakan Tari Pendet

Tari putri ini memiliki pola gerak yang lebih dinamis daripada Tari Rejang yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan. Biasanya ditampilkan setelah Tari Rejang di halaman pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan, dan perlengkapan sesajen lainnya.

Kontroversi Tari Pendet

Tari Pendet pernah menjadi sorotan dan heboh saat tampil di program televisi Enigmatic Malaysia Discovery Channel.

Tindakan Malaysia yang mengklaim tari pendet sebagai bagian dari budayanya amat disesalkan keluarga Wayan Rindi. Pada masa hidupnya, Wayan Rindi memang tak berfikir untuk mendaftarkan temuannya agar tak ditiru negara lain. Selain belum ada lembaga hak cipta, tari Bali selama ini tidak pernah di patenkan karena kandungan nilai spiritualnya yang luas dan tidak bisa dimonopoli sebagai ciptaan manusia atau bangsa tertentu.

Namun pemerintah Malaysia menyatakan kalau mereka tidak bertanggung jawab atas iklan tersebut karena dibuat oleh Discovery Channel Singapura hingga akhirnya Discovery TV melayangkan surat permohonan maaf kepada kedua negara, dan menyatakan bahwa jaringan televisi itu bertanggung jawab penuh atas penayangan iklan program tersebut.

Meskipun demikian, insiden penayangan pendet dalam program televisi mengenai Malaysia ini sempat memicu sentimen Anti-Malaysia di Indonesia.

Itulah penjelasan mengenai seni tari pendet dari bali, sejarah, dan gerakan tari pendet. Semoga dapat menambah pengetahuan kamu mengenai seni tari di Indonesia.

Sumber : http://ridwanaz.com/

Thursday, 24 May 2012

Mengenal Tari Barong dan Tari Kecak

Bukan hanya keindahan alamnya saja yang menarik dari Bali, namun keagungan tradisi masyarakatnya juga banyak menarik bahkan banyak dikaji oleh orang-orang diluar Bali. Sebagaimana diketahui Bali memang kaya akan berbagai kesenian tradisional, pakaian adat, bahasa, dan tradisi keagamaan yang mewarnai realitas kehidupan masyarakat Bali. Ialah Tari Barong dan Tari Kecak yang menjadi salah satu tarian tradisional khas Bali yang sudah terkenal kemana-mana.

Apa menariknya dari kedua tarian ini? Kedua tarian ini bisa dikata sebagai ikon kesenian tradisional Bali yang diangkat ke level nasional bahkan internasional. Seringkali kedua tarian ini dijadikan sebagai media promosi efektif paket-paket wisata di Bali oleh berbagai agen dan biro perjalanan wisata. Bahkan hampir seluruh agen maupun biro perjalanan wisata ke Bali selalu mengajak tamunya untuk menyaksikan Tari Barong dan Tari Kecak ini.

Pada umumnya, kedua tarian ini diadakan oleh sebuah kelompok (Sakeha) seni tari tradisional yang ada di setia-setiap desa di Bali. Seperti di Desa Batubulan misalnya, terdapat beberapa Sakeha yang memiliki jenis tarian yang sama dengan Sekeha lainnya. Perbedaan diantara kelompok-kelompok itu ada pada bentuk pelayanan dan tempat pertunjukkannya saja. Pada setiap pertunjukkan di Batubulan, biasanya tarian pertama yang digelar adalah Tarian Barong yang digabung dengan Tari Keris sehingga keduanya dikenal dengan Tari Barong dan Tari Keris.

Tari Barong
Tari Barong mengambarkan pertarungan yang sengit antara kebaikan melawan kejahatan. Barong vs Rangda ialah dua eksponen yang saling kontradiktif satu dengan yang lainnya. Barong dilambangkan dengan kebaikan, dan lawannya Rangda ialah manifestasi dari kejahatan. Tari Barong biasanya diperankan oleh dua penari yang memakai topeng mirip harimau sama halnya dengan kebudayaan Barongsai dalam kebudayaan China. Sedangkan Rangda berupa topeng yang berwajah menyeramkan dengan dua gigi taring runcing di mulutnya.

Tari Kecak
Tari Kecak pertama kali diciptakan pada tahun 1930 yang dimainkan oleh laki-laki. Tari ini biasanya diperankan oleh banyak pemain laki-laki yang posisinya duduk berbaris membentuk sebuah lingkaran dengan diiringi oleh irama tertentu yang menyeruakan �cak� secara berulang-ulang, sambil mengangkat kedua tangannya. Tari Kecak ini menggambarkan kisah Ramayana di mana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana.

Selamat Menikmati!

Sumber : http://bali.panduanwisata.com/