Latest News

Showing posts with label Ruwatan. Show all posts
Showing posts with label Ruwatan. Show all posts

Friday, 17 August 2012

Menyingkap Asal-mula dan Makna Tradisi Ruwatan

Sebagai tradisi, ruwatan sudah dikenal sejak zaman Hindhu dan Budha. Dari kata ruwat yang artinya luwar atau lepas, ruwatan berarti melepaskan segala bentuk malapetaka akibat perbuatan manusia atau keberadaan manusia yang tidak pada tempat atau kedudukannya, tataran ing ngaurip.

Khasanah kebudayaan Jawa menyebut keberadaan manusia yang tidak pada tempatnya dengan salah kedaden atau salah kejadian. Orang yang menyandang nasib salah kedaden disebut sukerta. Perihal sukerta atau salah kedaden dan asal mula ruwatan yang disebabkan oleh birahi Batara Guru terhadap istrinya, Dewi Uma, sudah sering diulas dalam banyak buku.

Berikut adalah ulasan pendeknya :

Weton Batara Kala mengenal beberapa versi. Dalam cerita lama, belum jelas tokoh Kala itu. Yang ada ialah tokoh-tokoh dengan kata Kala. Misalnya : Mahakala, Kalakeya, Kalantaka, Kalanjana. Dalam cerita pewayangan Jawa Baru pada umumnya menyebut Kala adalah anak Batara Guru, dan dianggap anak Durga. Pada umumnya dicerikan bahwa Kala lahir dari Kama Salah.

Cerita Batara Kala dalam Kitab Manikmaya ringkasannya sebagai berikut :

Batara Guru ingin mengelilingi dunia bersama istrinya. Mereka naik diatas punggung Lembu Andini, terbang diangkasa. Mereka telah selesai mengelilingi Pulau Jawa, lalu terbang di atas samudra. Kebetulan waktu matahari terbenam, waktu senjakala, sinar matahari merah menyinari air samudra, menimbulkan pandangan indah di lautan.Batara Guru memandang keindahan samudra, bimbang ragu hatinya, bangkit asmaranya, karena sejak Weton Wisnu, jauh dari rindu asmara. Sejak itulah baru bangkit keinginan untuk bersatu rasa dengan istrinya. Tetapi sayang Dewi Uma tidak menanggapinya, sebab rasa hati masih jauh untuk bersenggama. Namun Batara Guru berkeinginan keras, Dewi Uma dipegang, lalu dipangku & akan digaulinya. Dewi Uma menolak & berkata kasar.

Dikatakannya Batara guru terlalu kasar seperti raksasa, berbuat disembarang tempat, di atas punggung lembu. Dewi Uma mengharap agar Batara Guru lebih sabar, namun sumpah serapah Dewi Uma yang telah terucap bagaikan sumpah ampuh, sehingga seketika Batara Guru bertaring seperti raksasa. Karena tak kuasa menahan gairah & timbul amarahnya, Kama (benih) Batara guru terlanjur keluar dan tumpah di samudra, menggelegar suaranya. Air samudra berdebur hebat, membual-bual seperti diaduk-aduk. Segera mereka kembali ke Kahyangan. Air samudra masih hebat membual-bual, gegap gempita suaranya, menggemparkan para Dewa. Surga bagai diguncang, lalu disuruhnya para Dewa mencari penyebabnya. Setelah jelas, mereka kembali melapor, bahwa yang menimbulkan huru-hara berasal dari dasar laut. Mereka tidak dapat mendekat karena panas sinar seperti panas api. Batara Guru berkata bahwa yang tampak bersinar itu disebut Kama Salah. Dan menyuruhnya untuk membinasakannya. Namun apa daya, mereka semua yang diperintahkan.tak sanggup membunuhnya. Bahkan mereka lari kocar kacir..tunggang langgang dikarenakan kuatnya Kama Salah ini. Sampai akhir kata.Batara Guru memberi penjelasan kepada Kama Salah bahwa ia adalah putera dari Batara Guru. Kemudian ia diberi nama Batara Kala dan lalu disuruhnya bertempat tinggal di Nusakambangan untuk merajai makhluk jahat dan semua Jin di pulau Jawa.

Tetapi, apa korelasinya ruwatan yang bersumber dari kisah Batara Guru dan Batara Kala itu dengan ruwatan yang sering diadakan sekarang?

Hakikat Ruwatan
Kosmologi jagat manusia Jawa memandang suka duka kehidupan sebagai cermin diri. Suka duka membuat manusia kemudian melihat dirinya sendiri. Menelusuri asal mula dirinya sendiri atau sangkan paraning dumadi. Pandangan ini menempatkan nilai ideal manusia bukan pada kesempurnaan, tetapi justru pada berbagai kemungkinan manusia yang tidak sempurna. Bisa terkena bencana dan selalu terbuka pada kemungkinan terjadinya salah kedaden atau salah kejadian.

Dengan pandangan itu, manusia Jawa lalu membutuhkan pelepasan, pembebasan yang dilakukan dalam koridor keyakinan leluhur, ruwatan. Pada titik ini ruwatan menjadi peringatan bagi manusia Jawa terhadap keadaan diri yang tidak sempurna. Dalam kisah Murwakala, bahkan Dewa juga harus diruwat. Artinya, Dewa pun tidak sempurna. Lantas, nilai apa yang bisa ditarik dari berbagai peristiwa kemanusiaan dan kedewaan yang tersirat dalam kosmologi jagat manusia Jawa dengan kesadaran akan perlunya ruwatan?

Andaikata Syiwa (Batara Guru) dapat menahan birahi, misalkan saja spermanya tidak memancar dan jatuh ke laut, umpama ia bukan pembesar para dewa dan dewi, serta jika saja Batara Kala tidak lahir dan tidak dituding sebagai biang keladi segala kerusakan insani, maka ruwatan tidak akan menjadi bahan pembicaraan berkepanjangan. Meskipun cerita Murwakala hanya berdasarkan pada tradisi lisan dan mitos masyarakat Jawa lama, kenyataannnya upacara ruwatan melalui pertunjukan wayang masih berlangsung sampai sekarang. Sebagai sebuah pertunjukan, wayang kulit purwa memiliki kekuatan sangat luar biasa, terutama daya pikatnya kepada penonton. Oleh sebab itulah, kedudukan dalang menjadi sangat kharismatik dan pakelirannya menjadi sangat sentral di kehidupan orang Jawa masa lampau. Pakeliran merupakan media yang paling solid serta efektif untuk dimanfaatkan berbagai kepentingan; dakwah agama, propoganda politik, pendidikan moral, penerangan, upacara, dan sebagainya.

Di masa lampau, upacara ruwatan dianggap sebagai wahana pembebasan para sukerta, yaitu anak-anak yang sejak lahir dianggap membawa kesialan tidak suci, penuh dosa serta orang-orang yang berbuat ceroboh. Anak sukerta dan/atau orang yang ceroboh itu dipercaya akan menjadi mangsa Batara Kala, oleh sebab itu perlu diruwat. Pantas dipertanyakan, kenapa anak-anak sukerta yang lahir di luar kemauannya itu oleh orang tuanya dianggap sebagai pembawa sial? Dengan tidak mengusik keberadaan mitos lama tentang arti pentingnya upacara ruwatan bagi insan yang digolongkan orang sukerta, makalah ini mencoba membahasnya atas dasar penalaran yang bersumber dari pengamatan terhadap pelaksanaan beberapa upacara ruwatan di berbagai tempat.

Berdasarkan ceritera pedalangan, Batara Guru berkelana berdua dengan isterinya, Dewi Uma, di atas gigir lembu Andini, lahirlah Batara Kala akibat pembuahan sperma Batara Guru yang tercebur ke laut, sebab tidak mampu menahan birahi terhadap kecantikan Uma, istrinya,. Saya menangkap adanya pendidikan moral yang tersirat (berkaitan dengan pendidikan seks) dalam cerita itu, yaitu: orang yang beradab tidak selayaknya melakukan sanggama di atas kendaraan, apalagi memiliki jabatan tertinggi dan sangat terhormat seperti Batara Guru. Artinya, jika sese-orang tidak mampu menahan birahi dan dimanjakan di sembarang tempat, akan melahirkan bocah yang selalu membuat durhaka kepada siapa saja, seperti Batara Kala.

Munculnya tokoh-tokoh dewa dalam pertunjukan wayang, termasuk dalam ruwatan, sering dianggap satu ungkapan kemusrikan, maka upacara ruwatan dengan menggunakan wayang oleh masyarakat Islam tertentu yang mengharamkan. Padahal Batara Guru dan dewa-dewa yang lain, oleh para dalang dalam jagat pakeliran, hanya dipandang sebagai tokoh-tokoh ceritera semata. Meskipun menggunakan nama-nama seperti yang dijadikan panutan agama Hindu, seperti: Syiwa, Brama, dan Wisnu tetapi karakternya jauh berbeda dengan image penganut agama Hindu. Justru para dewa, dalam pertunjukan wayang kulit di Jawa sekarang, kecuali Sang Hyang Wenang dan Dewa Ruci, sering dilecehkan oleh para dalang. Bahkan dalam silsilah wayang di Jawa, dewa-dewa merupakan anak keturunan Adam, kedudukannya tidak lebih tinggi dari tokoh-tokoh wayang yang lain. Dalam sejumlah lakon wayang, sering terjadi para dewa justru tidak dapat mengatasi masalah yang dihadapi, penyelesaiannya terpaksa harus dibantu ksatria pilihan.

Anak-anak tunggal (ontang-anting) digolongkan sukerta kemungkinan menjadi anak nakal sangat besar, sebab pada umumnya anak tunggal selalu dimanjakan oleh keluarganya. Meskipun diakibatkan oleh program KB (Keluarga Berencana), anak yang hanya berjumlah dua (kembar, dhampit, kembang sepasang, dan kedhana-kedhini) berpotensi menjadi nakal, sebab sering terjadi kedua orang tua (ayah dan ibu) berpihak kepada salah satu anak. Anak dalam jumlah tiga (sendang kapit pancuran, pancuran kapit sendang, banteng ngunda jawi, ngungggah-unggahi, tri purusa, serta tri wati) anak yang memiliki jenis berbeda dengan kedua saudaranya potensi untuk menjadi anak nakal sangat besar. Kemungkinan anak yang jenis kelaminnya berbeda dengan saudara-saudaranya (ngijeni) ini paling dimanjakan oleh keluarga.

Saya tidak mau membahas kira-kira apa yang menjadi penyebab keluarga yang memiliki 4 orang anak (srimpi atau sramba) dan 5 orang anak (pendawi atau pendawa) yang berjenis kelamin sama tergolong juga anak sukerta? Kemungkinan besar adalah anak-anak yang berkelamin sama dalam jumlah itu berpotensi mudah sekali cekcok, gampang membuat kelompok yang terpisah yang saling berpihak pada kelompoknya. Secara kebetulan dalam cerita wayang, nasib Pandawa (Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa) meskipun selalu rukun, tetapi nasibnya tidak pernah sepi dari masalah-masalah besar. Perang Baratayuda memang dimenangkan Pandawa, tetapi seluruh anaknya menjadi korban dan mereka tidak dapat menikmati kemenangannya.

Sumber : http://www.raja-pelet.com/

Tuesday, 14 August 2012

Hakikat Ruwatan

Kenapa orang Jawa menggelar acara ruwatan dan apa falsafah di balik upacara ruwatan yang bagi sebagian kalangan dianggap berbau klenik dan ditafsirkan negatif itu? Marilah kita bersama-sama menelusuri hakikat di balik tradisi ruwatan. Awalnya, kita perlu tahu siapa saja yang harus diruwat karena mengandung unsur negatif/kesalahan/bencana. Menurut kepustakaan �Pakem Ruwatan Murwa Kala� yang bersumber dari Serat Centhini (Sri Paku Buwana V) orang yang harus diruwat ada 60 jenis yaitu:

1. ONTANG-ANTING, yaitu anak tunggal laki-laki atau perempuan.
2. UGER-UGER LAWANG, yaitu dua orang anak yang kedua-duanya laki-laki dengan catatan tidak anak yang meninggal.
3. SENDHANG KAPIT PANCURAN, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu laki-laki sedang anak yang ke 2 perempuan.
4. PANCURAN KAPIT SENDHANG, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu perempuan sedang anak yang ke 2 laki-laki.
5. ANAK BUNGKUS, yaitu anak yang ketika lahirnya masih terbungkus oleh selaput pembungkus bayi (placenta).
6. ANAK KEMBAR, yaitu dua orang kembar putra atau kembar putri atau kembar �dampit� yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan (yang lahir pada saat bersamaan).
7. KEMBANG SEPASANG, yaitu sepasang bunga yaitu dua orang anak yang kedua-duanya perempuan.
8. KENDHANA-KENDHINI, yaitu dua orang anak sekandung terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.
9. SARAMBA, yaitu 4 orang anak yang semuanya laki-laki.
10. SRIMPI, yaitu 4 orang anak yang semuanya perempuan.

11. MANCALAPUTRA atau Pandawa, yaitu 5 orang anak yang semuanya laki-laki.
12. MANCALAPUTRI, yaitu 5 orang anak yang semuanya perempuan.
13. PIPILAN, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang anak perempuan dan 1 orang anak laki-laki.
14. PADANGAN, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan 1 orang anak perempuan.
15. JULUNG PUJUD, yaitu anak yang lahir saat matahari terbenam.
16. JULUNG WANGI, yaitu anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari.
17. JULUNG SUNGSANG, yaitu anak yang lahir tepat jam 12 siang.
18. TIBA UNGKER, yaitu anak yang lahir, kemudian meninggal.
19. JEMPINA, yaitu anak yang baru berumur 7 bulan dalam kandungan sudah lahir.
20. TIBA SAMPIR, yaitu anak yang lahir berkalung usus.

21. MARGANA, yaitu anak yang lahir dalam perjalanan.
22. WAHANA, yaitu anak yang lahir dihalaman atau pekarangan rumah.
23. SIWAH ATAU SALEWAH, yaitu anak yang dilahirkan dengan memiliki kulit dua macam warna, misalnya hitam dan putih.
24. BULE, yaitu anak yang dilahirkan berkulit dan berambut putih �bule�
25. Kresna, yaitu anak yang dilahirkan memiliki kulit hitam.
26. WALIKA, yaitu anak yang dilahirkan berwujud bajang atau kerdil.
27. WUNGKUK, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung bengkok.
28. DENGKAK, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung menonjol, seperti punggung onta.
29. WUJIL, yaitu anak yang lahir dengan badan cebol atau pendek.
30. LAWANG MENGA, yaitu anak yang dilahirkan bersamaan keluarnya �Candikala� yaitu ketika warna langit merah kekuning-kuningan.

31. MADE, yaitu anak yang lahir tanpa alas (tikar).
32. Orang yang ketika menanak nasi, merobohkan �Dandhang� (tempat menanak nasi).
33. Memecahkan �Pipisan� dan mematahkan �Gandik� (alat landasan dan batu penggiling untuk menghaluskan ramu-ramuan obat tradisional).
34. Orang yang bertempat tinggal di dalam rumah yang tak ada �tutup keyongnya�.
35. Orang tidur di atas kasur tanpa sprei (penutup kasur).
36. Orang yang membuat pepajangan atau dekorasi tanpa samir atau daun pisang.
37. Orang yang memiliki lumbung atau gudang tempat penyimpanan padi dan kopra tanpa diberi alas dan atap.
38. Orang yang menempatkan barang di suatu tempat (dandhang � misalnya) tanpa ada tutupnya.
39. Orang yang membuat kutu masih hidup.
40. Orang yang berdiri ditengah-tengah pintu.

41. Orang yang duduk didepan (ambang) pintu.
42. Orang yang selalu bertopang dagu.
43. Orang yang gemar membakar kulit bawang.
44. Orang yang mengadu suatu wadah/tempat (misalnya dandhang diadu dengan dandhang).
45. Orang yang senang membakar rambut.
46. Orang yang senang membakar tikar dengan bambu (galar).
47. Orang yang senang membakar kayu pohon �kelor�.
48. Orang yang senang membakar tulang.
49. Orang yang senang menyapu sampah tanpa dibuang atau dibakar sekaligus.
50. Orang yang suka membuang garam.

51. Orang yang senang membuang sampah lewat jendela.
52. Orang yang senang membuang sampah atau kotoran dibawah (dikolong) tempat tidur.
53. Orang yang tidur pada waktu matahari terbit.
54. Orang yang tidur pada waktu matahari terbenam (wayah surup).
55. Orang yang memanjat pohon disiang hari bolong atau jam 12 siang (wayah bedhug).
56. Orang yang tidur diwaktu siang hari bolong jam 12 siang.
57. Orang yang menanak nasi, kemuadian ditinggal pergi ketetangga.
58. Orang yang suka mengaku hak orang lain.
59. Orang yang suka meninggalkan beras di dalam �lesung� (tempat penumbuk nasi).
60. Orang yang lengah, sehingga merobohkan jemuran �wijen� (biji-bijian).

Mereka adalah jenis-jenis orang yang di dalam kisah perwayangan disarankan oleh Batara Guru agar dijadikan santapan atau makanan Batara Kala. Dalam Pustaka Raja Purwa karya Ranggawarsito bahkan disebutkan ada 136 macam Sukerta. Menurut kepercayaan Jawa, orang-orang yang tergolong di dalam kriteria tersebut dapat menghindarkan diri dari malapetaka (disimbolkan menjadi makanan Betara Kala) jika ia mengadakan acara ruwatan dengan menggelar wayang dengan lakon Murwakala, Baratayuda, Sudamala, atau Kunjarakarna. Selain Ruwatan Sukerta, terdapat juga �Ruwat Sengkala atau Sang Kala� yang artinya menjadi mangsa �kala� atau �waktu.�

Apalagi bila jalan kehidupan orang tersebut terbelenggu materi yang akhirnya nyrimpeti �laku�. Dia akan merasa penuh kesulitan karena tidak bisa sejalan harmonis dengan dengan alur hukum alam (ruang dan waktu). Kesalahan-kesalahan perbuatan atau tingkah laku dia sendiri atau orang lain (leluhur masa lalu) jelas memiliki akibat di masa sekarang. Saya menduga, para leluhur kita di Jawa telah �niteni� siapa saja orang-orang yang hidupnya diliputi dengan kesulitan =karena susah memenej dan mengkoordinasi dirinya sehingga muncul kesulitan atau bencana. Yaitu 60 jenis orang yang telah disebutkan di atas, sehingga upacara ruwatan adalah momentum untuk ngelingke (mengingatkan) mereka agar kembali ke jalan yang lurus.

Kenapa dalam ruwatan digelar wayang? Kok tidak ndangdutan, disko, tari tayub/ledhek atau kesenian yang lain? Wayang adalah pertunjukan yang sarat dengan tuntunan ajaran filsafat hidup. Berbeda dengan seni-seni lain yang mudah diapresiasi/ dinikmati dan murni hiburan/entertainment, penonton pergelaran wayang membutuhkan perenungan yang sangat mendalam karena di dalamnya bermuatan ajaran-ajaran hidup bijaksana. Wayang adalah perpaduan berbagai sebagai seni pertunjukan yang merangkum bermacam-macam unsur lambang simbolis, bahasa gerak, suara, warna dan rupa.

Di dalam unsur simbolis ini tercermin pengalaman religius atau perjalanan spiritual sebagaimana yang diperankan tokoh-tokoh wayang tersebut. Pertunjukan wayang idealnya diwariskan secara turun temurun agar menjadi tetenger eksistensi budaya Jawa. Wayang adalah sarana efektif penyampaian ajaran filsafat hidup yang menuntun bagaimana harus bertingkah laku secara bijaksana antar individu maupun individu di dalam masyarakat dan hubungan dengan Gusti. Individu juga diajarkan mengenali hakikat diri sejati dan perjalanan-perjalanan yang harus dilakoninya sebagai kewajiban hidup.

Benarkah mereka yang telah diruwat akan berbebas dari dosa dan kesalahan? Jawaban anak kecil barangkali ya. Namun saat kesadaran kita telah beranjak dewasa, maka tidak mungkin hanya dengan ucapara ruwatan bisa menebus kesalahan dan kesucian orang. Tentu saja, ajaran Jawa yang dianggap klenik semacam ini harus diluruskan sesuai dengan hakikatnya. Hakikat dari upacara (syariat) harus diteruskan untuk mengenali upasana dan upadinya. (hakikatnya sebagai pembelajaran agar terjadi penyadaran).

Selain itu, upacara adalah sebuah tindakan simbolis yang merupakan relasi penghubung antara komunikasi human kosmis dan komunikasi lahir batin dengan Gusti Kang Akaryo Jagad. Tindakan simbolis dalam upacara nerupakan bagian yang sangat penting dan tidak mungkin dibuang begitu saja, karena manusia harus bertindak dan berbuat yang melambangkan sebuah hubungan khusus dengan Tuhan.

Substansi lakon Murwakala pada tradisi ruwatan adalah pembebasan. Pembebasan manusia dari �mangsa� Batara Kala (kala=waktu). Tokoh Batara Kala adalah anak Batara Guru yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikannya atas diri Dewi Uma, yang kemudian spermanya jatuh ketengah laut dan menjelma menjadi raksasa: �Kama salah kendang gumulung�. Ketika Batara Kala menghadap sang ayah Batara Guru untuk meminta makan, oleh Batara Guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau sukerta.

Dalam ruwatan, selain digelar wayang kulit dengan lakon Murwakala diperlukan sesajen beraneka makanan yang merupakan simbol yang harus ditafsirkan. Sarana sesajen ini juga sebagai cara pembelajaran. Berbeda dengan menggunakan buku-buku, penyampaian ajaran hidup yang memakai cara �sesajen� ini pasti mudah diingat dalam waktu lama dan antar generasi.

Menurut Ki Soedarsono sesajen dalam ruwatan adalah:

1. Tuwuhan, yang terdiri dari pisang raja setudun, yang sudah matang dan baik, yang ditebang dengan batangnya disertai cengkir gading (kelapa muda), pohon tebu dengan daunnya, daun beringin, daun elo, daun dadap serep, daun apa-apa, daun alang-alang, daun meja, daun kara, dan daun kluwih yang semuanya itu diikat berdiri pada tiang pintu depan sekaligus juga berfungsi sebagai hiasan/pajangan dan permohonan.

2. Dua kembang mayang yang telah dihias diletakkan dibelakang kelir (layar) kanan kiri, bunga setaman dalam bokor di tempat di muka dalang, yang akan digunakan untuk memandikan Batara Kala, orang yang diruwat dan lain-lainnya.

3. Api (batu arang) di dalam anglo, kipas beserta kemenyan (ratus wangi) yang akan dipergunakan Ki Dalang selama pertunjukan. Kain mori putih kurang lebih panjangnya 3 meter, direntangkan dibawah debog (batang pisang) panggungan dari muka layar (kelir) sampai di belakang layar dan ditaburi bunga mawar dimuka kelir sebagai alas duduk Ki Dalang, sedangkan di belakang layar sebagai tempat duduk orang yang diruwat dengan memakai selimut kain mori putih.

4. Gawangan kelir bagian atas (kayu bambu yang merentang diatas layar) dihias dengan kain batik yang baru 5 (lima) buah, diantaranya kain sindur, kain bango tulak dan dilengkapi dengan padi segedeng (4 ikat pada sebelah menyebelah).

5. Nasi golong dengan perlengkapannya, goreng-gorengan, pindang kluwih, pecel ayam, sayur menir, dsb. Nasi wuduk dilengkapi dengan ikan lembaran, lalaban, mentimun, cabe besar merah dan hijau brambang, dan kedele hitam. Nasi kuning dengan perlengkapan telur ayam yang didadar tiga biji. Srundeng asmaradana.

6. Jenang (bubur) yaitu: jenang merah, putih, jenang kaleh, jenang baro-baro (aneka bubur).

7. Jajan pasar (buah-buahan yang bermacam-macam) seperti : pisang raja, jambu, salak, sirih yang diberi uang, gula jawa, kelapa, makanan kecil berupa blingo yang diberi warna merah, kemenyan bunga, air yang ditempatkan pada cupu, jarum dan benang hitam-putih, kaca kecil, kendi yang berisi air, empluk (periuk yang berisi kacang hijau, kedele, kluwak, kemiri, ikan asin, telur ayam dan uang satu sen).

8. Benang lawe, minyak kelapa dipergunakan untuk lampu blencong, sebab walaupun siang tetap memakai lampu blencong. Yang berupa hewan seperti burung dara satu pasang ayam jawa sepasang, bebek sepasang.

Berupa sesajen antara lain:

1. Rujak ditempatkan pada bumbung, rujak edan (rujak dari pisang klutuk ang dicampur dengan air tanpa garam), bambu gading lima ros. Kesemuanya itu diletakan ditampah yang berisi nasi tumpeng, dengan lauk pauknya seperti kuluban panggang telur ayam yang direbus, sambel gepeng, ikan sungai/laut dimasak anpa garam dan ditempatkan di belakang layar tepat pada muka Kyai Dalang.

2. Sajen buangan yang �ditunjukkan� kepada dahyang (makhluk halus penghuni suatu tempat) yang berupa takir besar atau kroso yang berisi nasi tumpeng kecil dengan lauk-pauk, jajan pasar (berupa buah-buahan mentah serta uang satu sen). Sajen itu diletakkan di tempat dahyang.

3. Sumur atau sendang diambil airnya dan dimasuki kelapa. Kamar mandi yang untuk mandi orang yang diruwat diletakkan kelapa utuh. Selesai upacara ruwat bambu gading yang berjumlah lima ros ditanam pada kempat ujung rumah disertai empluk (tempayan kecil) yang berisi kacang hijau, kedelai hitam, ikan asin, kluwak, kemiri, telur ayam dan uang dan berdoa mohon tercapai apa yang diharapkan.

Sumber : http://wongalus.wordpress.com/