Latest News

Showing posts with label Rumah Adat Mamasa. Show all posts
Showing posts with label Rumah Adat Mamasa. Show all posts

Thursday, 27 December 2012

Rumah Adat Mamasa Hampir Punah

Kabupaten Mamasa ternyata menyimpan beragam keunikan, salah satunya adalah rumah adat atau rumah tradisional khas masyarakat Mamasa. Sayangnya rumah tradisional khas Mamasa yang memiliki kemiripan dengan rumah adat toraja saat ini semakin langka. Beberapa rumah adat kini hanya dapat dijumpai pedalaman kabupaten Mamasa.

Desa tawalian, kecamatan tawalian kabupaten Mamasa, merupakan salah satu daerah yang mayoritas penduduknya masih menjaga kelestarian rumah tradisional khas Mamasa. Beberapa rumah tradsional di wilayah ini tampak masih berdiri kokoh meski telah mengalami pemugaran.

Dalam masyarakat Mamasa, rumah tradisonal Mamasa terbagi atas empat jenis tingkatan sesuai dengan strata sosial masyarakat. Yang pertama adalah banua layuk atau rumah tinggi yang biasanya dimiliki oleh ketua adat, yang kedua adalah banua sura atau rumah ukir untuk para bangsawan, yang ketiga banua bolong atau rumah hitam untuk para kesatria, serta yang terakhir banua rapa yang biasanya dimiliki masyarakat biasa.

Sementara bagian dalam rumah tradisional Mamasa yang memiliki kemiripan dengan rumah toraja terdiri atas empat bagian yakni bagian depan atau Tado, bagian tengah disebut ba�ba, sementara kamar disebut tambing, sementara dapur disebut lombon.

Kondisi daerah di atas pegunungan dengan suhu sangat dingin, membuat struktur bangunan rumah adat Mamasa hampir tanpa jendela dengan pintu yang sangat kecil, dimaksudkan agar suhu dalam rumah tetap hangat.salah satu keunikan rumah Mamasa adalah tanduk kerbau yang dipajang di tiang depan rumah, semakin banyak tanduk kerbau yang melekat ditiang rumah maka semakin tinggi status sosial pemilik rumah.

Sayangnya rumah tradisional khas Mamasa kini sudah sulit dijumpai karena telah berganti dengan rumah moderen. Rumitnya pembuatan rumah Mamasa serta semakin mahalnya bahan baku membuat masyarakat Mamasa kini beralih dan lebih banyak membuat rumah modern

Sumber :
http://sumarorongs.blogspot.com/2012/02/rumah-adat-mamasa-hampir-punah.html

Saturday, 11 August 2012

Banua Layuk, Rumah Adat Mamasa

Bentuk rumah tradisional di Mamasa saat ini adalah hasil perkembangan dari bentuk sebelumnya yang bermula dari banua pandoko dena, banua lentong appa, banua tamben dan banua tolo' (sanda ariri). Dari bentuk rumah yang keempat (banua tolo) akhirnya menjadi ciri khas rumah tradisional, khususnya banua layuk di Mamasa terikat oleh lokasi, arah, dan bahan bangunan, dan waktu mendirikan bangunan.

Banua Layuk, merupakan simbol kepemimpinan tertinggi dalam struktur masyarakat Kampung Ballapeu�. Namun saat ini sudah tidak lagi ditemukan/dibuat oleh masyarakatnya atau telah hancur. Tidak diketahui dengan pasti sejak kapan Banua Layuk eksis di Ballapeu.

Proses pembuatan banua layuk dari permulaan hingga bangunan siap untuk ditempati tidak terlepas dari kegiatan upacara ritual dengan mengorbankan ayam atau babi. Struktur banua layuk yang terdiri atas tiga bagian, yakni atap, badan, dan kolong (rumah panggung), selain karena pertimbangan fungsional sekaligus tersirat makna filosofi.

Secara fungsional bentuk rumah panggung adalah:
(a) menghindarkan gangguan dari binatang buas,
(b) lantai dapat menampung hawa panas di malam hari, sehingga cocok untuk daerah dingin,
(c) kolong dapat berfugngsi praktis.

Sedang makna filosofi dibalik struktur banua layuk yang terdiri tiga bagian adalah simbol dari makroskosmos yang terdiri atas tiga lapisan yakni dunia atas, tengah, dan bawah. Banua layuk sebagai rumah adat sarat dengan makna simbolik sebagai cerminan dari nilai-nilai budaya yang dianut oleh masayarakatnya. Simbol-simbol tersebut ditemukan pada struktur, ukiran, dan unsur-unsur lainnya yang terdapat pada banua layuk.

Terdapat beberapa persamaan di samping perbedaan antara banua layuk di Mamasa dengan tongkonan di Tana Toraja. Adanya persamaan dari keduanya karena mempunyai akar budaya yang sama, dan adanya perbedaan disebabkan oleh kondisi lingkungan dan sosial budaya yang berbeda dari kedua rumah adat tersebut.

Sumber : http://www.mamasacommunity.com/

Saturday, 21 January 2012

Rumah Adat Mamasa

Rumah adat Mamasa memiliki kemiripan dengan rumah adat Toraja mengapa bisa ya? menurut sejarahnya kedua etnik tersebut berasal dalam satu rumpun berikut beberapa rumah adat yang ada di Mamasa Sulbar.

1. Banua Layuk
Berasal dari kata �Banua� berarti rumah; kata �Layuk� berarti tinggi, maka �Banua Layuk� artinya �Rumah Tinggi�, yang sangat berukuran besar dan tinggi, biasanya pemilik rumah tersebut merupakan pemimpin dalam masyarakat atau bangsawan.

2. Banua Sura
Kata �Sura� berarti �Ukir� jadi �Banua Sura� berarti �Rumah Ukir�, besar dan tingginya tidak seperti banua layuk. Penghuni daripada rumah merupakan pemimpin dalam masyarakat dan bangsawan.

3. Banua Bolong
Kata �Bolong� berarti �Hitam�. Rumah ini dihuni oleh orang kaya dan pemberani dalam masyarakat.

4. Banua Rapa
Rumah Mamasa dengan warna asli (tidak diukir dan tidak dihitamkan), dihuni oleh masyaraakt biasa.

5. Banua Longkarrin
Rumah Mamasa yang bagian tiang paling bawah bersentuhan dengan tanah dialas dengan kayu (longkarrin), dihuni juga oleh masyarakat biasa.

Rumah adat Mamasa bernama Banua Layuk yang berlokasi di Rantebuda, Buntukasisi. Orobua, dan Tawalian kesemuanya dalam wilayah Kecamatan Mamasa. Rumah adat Mamasa merupakan simbol eksistensi suku toraja mamasa saat ini, yang semakin lama semakin terkikis oleh arus perubahan jaman. Pada dasarnya rumah adat Mamasa hampir mirip dengan rumah adat Toraja, perbedaannya yaitu rumah adat mamasa memiliki atap kayu yang berat dengan bentuk yang tidak terlalu melengkung sementara rumah adat Toraja memiliki atap kayu dengan bentuk seperti huruf �U�. Dan selain itu, masyarakat Mamasa tidak memiliki terlalu banyak upacara adat sebagaimana di Toraja.

Secara struktur Banua Layuk yang terdiri atas tiga bagian, yakni atap, badan, dan kolong (rumah panggung), Secara fungsional bentuk rumah panggung dapat digunakan untuk menghindari gangguan binatang buas, lantai dapat menampung hawa panas di malam hari, sehingga cocok untuk daerah dingin, dan kolong dapat berfungsi praktis.

Banua layuk sebagai rumah adat sarat dengan makna simbolik sebagai cerminan dari nilai-nilai budaya yang dianut oleh masayarakatnya. Simbol-simbol tersebut ditemukan pada struktur, ukiran, dan unsur-unsur lainnya yang terdapat pada banua layuk.

Sumger : http://mamasa-online.blogspot.com