Latest News

Showing posts with label Mengenal Paroki. Show all posts
Showing posts with label Mengenal Paroki. Show all posts

Wednesday, 9 February 2011

Paroki Santo Mateus Depok II Tengah

Nama Pelindung : Santo Mateus
Alamat : Jl. Sadewa Raya No. 1, Depok II Tengah 16411
Telepon (021) 77822031 Fax. (021) 7701614
Romo Paroki: RD.Alfonsus Sutarno

Mengawali Sebuah Jemaat

Pada dasawarsa tujuhpuluhan, pemerintah mulai membangun banyak kompleks pemukiman-pemukiman baru di sekitar Jabodetabek. Perumnas memrakarsai pembangunan pemukiman di Klender, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi. Perumnas Depok II Timur dan Depok II Tengah dibangun setelah suksesnya pembangunan pemukiman di Depok Jaya. Perumnas Depok II Tengah mulai dihuni pada sekitar bulan April 1979, dengan penghuni mayoritas para Pegawai Negeri dan anggota ABRI.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya bulan Juli 1979, misa pertama di Depok Tengah dilakukan di rumah keluarga Bp. R. J. Suhardji (Jln. Rebab), dipimpin oleh Romo R. Koesnen OFM, pastor dari Paroki St. Paulus, Depok Lama. Sedangkan misa kedua dilakukan di rumah keluarga Bp. Sukoco (Jl. Beringin), dipimpin oleh Romo J. Suparman Pr, pastor dari Paroki Keluarga Kudus, Cibinong, yang juga pada saat itu menjabat sebagai Vikjen Keuskupan Bogor. Secara geografis, wilayah Depok Tengah berada di sebelah kanan Sungai Ciliwung (dari arah Bogor). Oleh karenanya, sesuai dengan peta pelayanan jemaat & paroki-paroki di Keuskupan Bogor, maka reksa pastoralnya berada di bawah tanggungjawab paroki Cibinong, meskipun letaknya lebih dekat dengan Depok Lama.

Pada tanggal 21 September 1979, beberapa orang tokoh umat berinisiatif untuk mengadakan pertemuan bersama wakil-wakil Umat Katolik penghuni Perumnas Depok II Tengah bersama Rm. Koesnen OFM (Depok Lama) dan Rm. Benedictus Sudjarwo Pr (Pastor Paroki Cibinong). Disepakati untuk membagi Wilayah Depok Tengah menjadi 4 Kelompok. Kelompok I, terdiri dari umat yang tinggal di daerah yang bernama jalan kerajaan dan tarian. Kelompok II, dengan nama alat musik. Kelompok III, dengan nama pohon, dan kelompok IV, dengan nama wayang. Sedangkan reksa pastoral dipercayakan kepada Rm. R. Koesnen OFM. Dua bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 29 November 1979, oleh Rm B. Sudjarwo Pr (Pastor Paroki Cibinong), Depok II Tengah ditetapkan statusnya sebagai Lingkungan St. Mateus, bagian dari Paroki Cibinong. Sebagai ketua lingkungan, ditunjuklah Bp. R.Y. Suhardji (1979-1980), kemudian Bp. St. Yos Sutardjo (1980-1981).

Menjadi Sebuah Gereja Mandiri

Perkembangan jumlah umat telah menuntut pendampingan pembinaan iman yang serius. Dalam suasana yang serba darurat, " gereja diaspora " ini berusaha terus untuk menjadi gereja yang mandiri. Pemukiman Depok II Tengah, sebagaimana pemukiman-pemukiman lain yang dibangun oleh Perum Perumnas, dihuni oleh warga yang berasal dari bermacam-macam latar belakang. Warga yang beragama Katolikpun mendapat fasilitas tanah untuk keperluan rumah ibadatnya, seluas 1000 meter persegi, di persilangan Jalan Sadewa dan Jalan Nakula. Pada tanggal 11 Januari 1980 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Gereja St. Mateus oleh Rm. J. Suparman Pr, Vikjen Keuskupan Bogor. Panitia Pembangunan diketuai oleh Bp. S. Parnoto. Dengan demikian, status Lingkungan St. Mateus kini ditingkatkan lagi menjadi Stasi St. Mateus, Depok II Tengah. Kelompok-kelompok umat yang telah ada, kini berubah menjadi Lingkungan I St. Petrus, Lingkungan II St. Paulus, Lingkungan III St. Ignatius, Lingkungan IV St. Yohanes, dan Lingkungan V St. Gregorius Agung (yang sebenarnya merupakan pemecahan dari Kelompok I).

Gedung gereja St. Mateus dibangun dengan swadaya umat Depok Tengah sendiri. Perlahan-lahan, bahkan seperti terseok-seok pada awalnya. Buah perjuangan berat ini menjadi nyata, ketika pada tanggal 29 September 1985, Mgr. Ignatius Harsono Pr, Uskup Bogor pada saat itu, memberkati dan meresmikan gedung gereja St. Mateus. Pelayanan pastoral umat masih dilakukan bergiliran oleh para pastor dari Depok Lama, Cibinong, dan Bogor. Baru setahun kemudian, tepatnya tahun 1986, Romo Markus Gunadi OFM dari Paroki Depok Lama, ditugaskan menangani reksa pastoral umat Depok Tengah.

Perkembangan Stasi St. Mateus tak mungkin hanya mengandalkan sebuah kompleks perumahan. Kawasan perumahan di sekitar Jabodetabek pada dasawarsa delapanpuluhan dan sembilanpuluhan, berkembang bak jamur di musim hujan. Pimpinan Keuskupan Bogor pada waktu itu melihat bahwa bertambahnya kompleks pemukiman baru telah menjadi peluang yang baik untuk mengembangkan Paroki dan Stasi-stasi di sekitar Depok dan Cibinong.

Umat katolik yang tinggal di pemukiman-pemukiman baru di luar Perumnas Depok II Tengah dihimpun dalam sebuah kelompok jemaat baru, yang kemudian pada tanggal 17 Juni 1988, diresmikan dengan nama Lingkungan VI St. Perawan Maria , meliputi kompleks pemukiman yang amat luas Griya Lembah Depok, Mutiara Depok, Pondok Sukmajaya, Depok Asri, Gema Pesona, Cilodong, Cikumpa, Swatama, Kebon Duren, Persahabatan, Pondok Rajek, Alam Indah, dan Puri Mulia. Pada tahun 1994, lingkungan yang amat luas dan besar ini dipecah menjadi dua lingkungan. Lahirlah Lingkungan VII St. Joseph . Sejak saat ini, Lingkungan St. Perawan Maria hanya meliputi perumahan Griya LembahDepok, Pondok Sukmajaya, dan Mutiara Depok.

Persiapan Menjadi Paroki

Pada pertengahan tahun 1989, Romo Diaz Viera SVD, Pastor Paroki Cibinong menyiapkan langkah untuk semakin memandirikan stasi-stasi kawasan utara. Rencana ini didukung oleh umat setempat maupun oleh Uskup Bogor. Romo J. Hardono Pr, ditugaskan untuk menyiapkan Stasi St. Mateus, sebagai Pastor Kapelan yang menetap/berdomisili di tengah-tengah umatnya langsung. Pendataan dan pendaftaran umat dilakukan dengan lebih baik. Pada tanggal 14 Februari 1993, Uskup Bogor memperkenankan Stasi ini memiliki BUKU BAPTIS sendiri. Itulah tanggal pencatatan pertama pembaptisan yang dilakukan di wilayah Stasi St. Mateus dalam buku sendiri. Sebelumnya, semua pembaptisan dicatat di Paroki Keluarga Kudus, Cibinong.

Pastor yang menetap berikutnya adalah Rm. Agustinus Surianto Pr, yang bertugas di sini hanya sembilan bulan sepuluh hari (11 Sept 1993 - 21 Juni 1994). Pada pertengahan 1994 ia ditugaskan oleh Mgr. Leo Soekoto SJ, Administrator Apostolik Keuskupan Bogor pada waktu itu, untuk menjadi Ekonom Keuskupan Bogor dan Direktur Percetakan GMY di Bogor. Penggantinya adalah Rm. Anton Dwi Haryanto Pr., seorang imam muda yang baru saja ditahbiskan pada tanggal 11 Juni 1994. Pastor muda kelahiran Rangkasbitung yang ramah ini, mencoba menjalin relasi yang amat baik dengan masyarakat di sekitar gereja, dan mencoba menghadirkan gereja sebagai " pembawa damai " di tengah-tengah masyarakat di Depok Tengah.

Usaha menyiapkan Stasi St. Mateus menjadi sebuah Paroki tidaklah mudah. Dibutuhkan kesabaran yang ekstra besar. Bahkan, stasi ini didahului oleh Stasi St. Markus, Depok Timur, yang telah mendapat peningkatan status menjadi Paroki beberapa tahun lebih dulu. Memang agak ganjil kelihatannya. Pertama, karena kedua pusat Stasi terletak dalam satu kecamatan yang sama. Kedua, ketika Depok Timur menjadi Paroki, ia memotong Paroki Keluarga Kudus Cibinong menjadi dua bagian yang terpisah, dengan menyisakan Depok Tengah di ujung baratnya, yang berbatasan dengan Paroki St. Paulus Depok Lama.

Gembala yang mendapat tugas membidani proses metamorfosa Stasi Depok Tengah menjadi Paroki Depok Tengah adalah Rm. Thomas Saidi, yang bertugas di sini sejak 25 Januari 1998. Sedangkan pastor Paroki Cibinong pada saat itu adalah Rm. A. Adi Indiantono Pr. Pada Hari Raya Pentakosta, 11 Juni 2000, setelah melalui perjalanan menggereja yang sangat panjang, umat Stasi Depok Tengah mendapat hadiah besar, ketika Mgr. Michael Angkur OFM meningkatkan status Depok Tengah menjadi Paroki St. Mateus, Depok Tengah.

Kini, Paroki Depok Tengah digembalakan oleh Rm. Robertus Eeng Gunawan.

Jadwal Ekaristi :
Harian : Pukul 05.30WIB
Jumat I : Pukul 19.00 WIB
Sabtu : Pukul 18.00 WIB
Minggu : Pukul 07.30 WIB

Sumber : http://www.keuskupanbogor.org/paroki/depokIItengah.htm

Tuesday, 8 February 2011

Paroki Santo Paulus Depok

Nama Pelindung : Santo Paulus
Buku Paroki : Sejak Februari 1960
Sebelumnya di Katedral Bogor
Alamat : Jl. Melati Nomor 4, Depok Lama 16431
Telepon (021) 7520334 Fax. (021) 77204851
Romo Paroki : RP. Markus Gunadi, OFM

Pendahuluan
Ada yang mengatakan bahwa nama "Depok" adalah singkatan dari "De Eerste Protestants Onderdaan Kerk", yang artinya "Gereja Kristen Rakyat Pertama" atau "Gereja Warganegara Protestan Pertama". Menurut versi ini, nama Depok berkaitan dengan sejarah keberadaan Kristen di Depok. Ini semua tidak terlepas Dari tokohnya, yaitu Cornelis Chastelin (1657-1714). Beliau adalah seorang tuan tanah yang membeli banyak budak dari Bali, Sulawesi dan Timor untuk ditempatkan dipersawahannya. Ketika para budak tersebut menjadi kristen, mereka dibebaskan dan diberikan hadiah tanah di Depok (1714). Rupanya dengan menjadi kristen, kedudukan mereka disamakan dengan orang-orang Belanda. Para budak yang merdeka ini terbagi ke dalam 12 suku/keluarga yaitu: Jonathans, Leander, Bacas, Leon, Samuel, Jacob, Laurens, Joseph, Tholense, Isakh, Sudira dan Sadokh. Nama-nama tersebut sampai saat ini masih dipakai dalam keturunan-keterunan mereka, sedangkan nama Cornelis Chastelein dikenang dalam nama sebuah lembaga yaitu LCC (Lembaga Cornelis Chastelein)

Depok Menjadi Sebuah Paroki
Seiring dengan perjalanan waktu, di tengah dominasi orang protestan muncullah orang-orang Katolik di Depok. Diperkirakan pada tahun 1927 sudah ada beberapa keluarga katolik yang menetap di Depok, mereka mengikuti perayaan misa di Bogor atau di Jakarta. Sejalan dengan perkembangan jumlah umat maka pada akhir tahun 40-an pastor-pastor dari Bogor mulai menjalani misa umat di Depok. Misa dilakukan dari rumah ke rumah, yang lama kelamaan frekuensinya menjadi satu kali dalam seminggu.

Ketika pemerintah Belanda mengakui kedaulatan RI dan tanah-tanah partikulir diserahkan kepada pemerintah Indonesia, banyak orang Belanda yang kembali ke negerinya, termasuk penghuni Jl. Melati 4, Depok. Namun, berkat usaha yang gigih dari Mgr. Dr. N. Geise, OFM., maka tanah tersebut berhasil dibeli. Pada akhir tahun 50-an berdirilah gereja Santo Paulus Depok di jalan Melati Nomor 4 Depok . Pastor pertama yang menetap di Depok adalah Peter J.J Rossen. Beliau kembali ke negerinya dan digantikan oleh Pater Herkulanus Frankhuyzen. Sekembali dari cutinya (1964), Pater Frankhuyzen dipindah tugaskan ke seminari Cicurug, Sementara itu umat katolik Depok dilayani secara bergantian oleh Mgr. N. Geise, OFM, Pater R.J Koesnen OFM, Pater Anton Ban OFM dan pater muda yaitu Pater Micheal Angkur, OFM (saat ini adalah uskup Bogor).

Pada akhir tahun 60-an Pater Frankhuyzen kembali ke dan menetap di Depok. Pada bulan September 1973 ia merayakan 50 tahun hidup mebiara. Perayaan berlangsung di SD MardiYuana, yang hadir di Depok sejak 1 Agustus 1960 dan yang kehadiran dan perkembangannya tak dapat dilepaskan dari peran penting Pater Frankhuyzen OFM disamping Mgr. Geise OFM. Pater Yohanes Ma'mun Muktar OFM, yang baru kembali dari mengikuti "kursus kharismatik" di Australia, memberikan warna kharismatik dalam pelayanan pastoral pada umat di Depok pada tahun 1975. Anak seorang haji di Sukabumi ini meninggal dalam usia muda pada 10 Agustus 1976 (lahir 1 Juni 1941) di Bogor, setelah lebih kurang 10 hari berada dalam keadaan koma akibat kecelakaan lalulintas di Puncak Jawa Barat.

Perkembangan Paroki Santo Paulus selanjutnya tidak terlepas dari kebijakan Pemerintah yang menjadikan Depok sebagai salah satu kawasan penyangga Ibukota. Dalam rangka itu, pada tahun 1976 dibangunlah Perumnas Depok I (Depok Jaya) dan Depok Utara, kemudian disusul dengan Perumnas Depok II dan Depok Timur. Seiring dengan itu, penghuni-penghuni baru membanjiri Depok termasuk umat Katolik. Untuk memenuhi kebutuhan umat katolik yang cukup besar jumlahnya di Depok I dan Depok Utara, maka pada tahun1977-1978 dibangunlah sebuah gereja sederhana di jalan Irian Jaya. Semua itu tidak terlepas dari jasa almarhum Bapak Dom Renetyo. Gereja sederhana itu "dipabtis" oleh Mgr. Ign Harsono, Pr. (saat itu sebagai Uskup Bogor) dengan nama HERKULANUS. Nama gereja tersebut diharapkan agar umat Katolik tidak melupakan jasa besar Pater Herkulanus Frankhuyzen dalam persemaian benih Injilnya di Depok.

Keberadaan Gererja Herkulanus diperkuat oleh perhatian Pater R.J. Koesnen, OFM. yang bertugas di Depok menggantikan almarhum Pater Frankhuyzen (meninggal 1978). Pater RJ. Koesnan, OFM. menaruh perhatian yang sangat besar terhadap dunia pendidikan, khususnya anak-anak. Ini terbukti dengan berdirinya TK dan SD Santa Theresia pada tanggal 18 Juli 1982, yang berlokasi tepat disamping Gereja St. Herkulanus. Sekolah tersebut dikelola oleh Yayasan Pendidikan Yohanes Paulus.

Adanya kampus Universitas Indonesia, Novisiat Transitus (diresmikan oleh Vicaris General OFM dari Roma, Pater Onorio Pontoglio OFM pada bulan September 1984) dan beberapa Real Estate di Depok menambah jumlah umat Katolik di Depok. Dua buah gereja yang telah ada (Gereja Santo Herkulanus dan Santo Paulus) tidak dapat menampung jumlah umat dalam misa mingguan. Timbul rencana untuk membangun sebuah gereja yang kapasitasnya melebihi Gereja Santo Paulus. Pada bulan Maret 1986, Pater RJ. Koensen, OFM dan Pater Guido Brod OFM meletakkan batu pertama untuk gedung pastoran, kemudian disusul dengan peletakan batu pertama untuk gedung gereja oleh Mgr. Ign Harsono, Pr. dan Bapak Drs. Erno (Sekretaris Kotif Depok). Berkat kerja keras dan dukungan dari umat serta bantuan para donator, maka gedung gereja dan pastoran selesai dibangun. Bangunan tersebut diberkati oleh Mgr. Ign. Harsono pada tanggal 3 Juli 1988. Lima tahun kemudian (1993) Gereja Herkulanus di Jalan Irian di renovasi dengan menghabiskan biaya yang cukup besar. Prinsip "Kalau ada Kemauan Pasti ada Jalan" sungguh dihayati dan dialami oleh umat Paroki St. Paulus Depok yang sebagian besar memiliki taraf ekonomi tingkat menengah kebawah.

Berkembang Ke Sekitar Depok
Disamping pelayanan pastoral terhadap umat yang terorganisasi dalam dua gereja tersebut (Gereja Santo Paulus dan Santo Herkulanus) sejak tahun 1982 para pastor dari paroki St. Paulus juga melayani misa dan pelayanan sakramental lainnya untuk umat di daerah Gunung Sindur, Parung, Bojongsari ARCO dan sekitarnya. Pelayanan ini dimulai dengan kehadiran Pater Guido Brod OFM di paroki St. Paulus Depok yang kemudian diperkuat oleh suster-suster ADSK (hadir di Depok sejak 1987-1989). Misa mingguan untuk umat yang terpencar ini dilayani secara bergantian berdasarkan kelompok: ARCO Bojongsari, Gunung Sindur dan Parung. Sejak tahun 1989, pelayanan misa mingguan dipusatkan pada satu tempat yaitu di rumah Bapak Wempy Suhendar (Bojongsari). Sejak saat itu kelompok ini menjadi stasi dari Paroki St. Paulus Depok dengan "nama baptis" Yohanes Pembaptis, Parung. Pemusatan pelayanan di rumah Bapak Wempy (alm) berlangsung sampai tahun 1992, sejak saat itu sampai sekarang pelayanan dipusatkan di Restoran Lebak Wangi milik Bapak Juhari. Umat stasi telah membeli tanah seluas 7000 meter di daerah Parung untuk pembangunan gedung gereja. Proses sertifikasi terus berlangsung walaupun agak tersendat-sendat. Walaupun kemampuan ekonomi terbatas, tetapi melihat semangat umat yang begitu besar, tampaknya keinginan untuk memiliki gereja sendiri dapat menjadi kenyataan; apalagi melihat jumlah umat dari tahun ke tahun selalu bertambah.

Penutup
Depok pada tahun 1714 hanya merupakan sebuah dusun sunyi, pada tahun 1924-1925 menjadi sebuah kecamatan, berubah menjadi kota administratif (kotif) pada tanggal 18 Maret 1982, dan kini siap menjadi kotamadya. Paroki Santo Paulus yang secara geografis pada awal 1960 hanya meliputi wilayah sekitar Depok Lama, saat ini telah meliputi UI, Citayam, Sasak Panjang, Parung, dan Gunung Sindur serta terbagi ke dalam 10 wilayah dan satu stasi.

Jumlah umat pada tahun 1927 hanya beberapa orang, saat ini mencapai 4.000 orang. Saat ini Paroki St. Paulus Depok dilayani oleh 2 orang pastor, dan untuk misa mingguan dibantu oleh imam dari Novisiat Transitus.

Jadwal Misa Kudus:
Jumat I : Pukul 19.00 WIB
Sabtu : Pukul 17.30 WIB
Minggu : Pukul 06.00 WIB; 08.00 WIB; 17.30 WIB

Kapel Susteran ADSK :
Jalan Margonda Raya No. 23 A
Depok
Telepon (021) 786-3277
Harian Pukul 05.30 WIB

Kapel Novisiat OFM :
Jalan Kamboja No. 14
Depok 16431
Telepon (021) 777-3467
Harian Pukul 06.40 WIB

Monday, 7 February 2011

Paroki Santo Herkulanus Depok I

Nama Pelindung : Santo Herkulanus
Alamat : Jl. Irian Jaya no. 1, Perumnas I, Depok Jaya
Telepon (021) 7773536, 7521729
Romo Paroki : RD. Yustinus Dwi Karyanto

Pendahuluan
Ada yang mengatakan bahwa nama "Depok" adalah singkatan dari "De Eerste Protestants Onderdaan Kerk", yang artinya "Gereja Kristen Rakyat Pertama" atau "Gereja Warganegara Protestan Pertama". Menurut versi ini, nama Depok berkaitan dengan sejarah keberadaan Kristen di Depok. Ini semua tidak terlepas Dari tokohnya, yaitu Cornelis Chastelin (1657-1714). Beliau adalah seorang tuan tanah yang membeli banyak budak dari Bali, Sulawesi dan Timor untuk ditempatkan dipersawahannya. Ketika para budak tersebut menjadi kristen, mereka dibebaskan dan diberikan hadiah tanah di Depok (1714). Rupanya dengan menjadi kristen, kedudukan mereka disamakan dengan orang-orang Belanda. Para budak yang merdeka ini terbagi ke dalam 12 suku/keluarga yaitu: Jonathans, Leander, Bacas, Leon, Samuel, Jacob, Laurens, Joseph, Tholense, Isakh, Sudira dan Sadokh. Nama-nama tersebut sampai saat ini masih dipakai dalam keturunan-keterunan mereka, sedangkan nama Cornelis Chastelein dikenang dalam nama sebuah lembaga yaitu LCC (Lembaga Cornelis Chastelein)

Depok Menjadi Sebuah Paroki
Seiring dengan perjalanan waktu, di tengah dominasi orang protestan muncullah orang-orang Katolik di Depok. Diperkirakan pada tahun 1927 sudah ada beberapa keluarga katolik yang menetap di Depok, mereka mengikuti perayaan misa di Bogor atau di Jakarta. Sejalan dengan perkembangan jumlah umat maka pada akhir tahun 40-an pastor-pastor dari Bogor mulai menjalani misa umat di Depok. Misa dilakukan dari rumah ke rumah, yang lama kelamaan frekuensinya menjadi satu kali dalam seminggu.

Ketika pemerintah Belanda mengakui kedaulatan RI dan tanah-tanah partikulir diserahkan kepada pemerintah Indonesia, banyak orang Belanda yang kembali ke negerinya, termasuk penghuni Jl. Melati 4, Depok. Namun, berkat usaha yang gigih dari Mgr. Dr. N. Geise, OFM., maka tanah tersebut berhasil dibeli. Pada akhir tahun 50-an berdirilah gereja Santo Paulus Depok di jalan Melati Nomor 4 Depok . Pastor pertama yang menetap di Depok adalah Peter J.J Rossen. Beliau kembali ke negerinya dan digantikan oleh Pater Herkulanus Frankhuyzen. Sekembali dari cutinya (1964), Pater Frankhuyzen dipindah tugaskan ke seminari Cicurug, Sementara itu umat katolik Depok dilayani secara bergantian oleh Mgr. N. Geise, OFM, Pater R.J Koesnen OFM, Pater Anton Ban OFM dan pater muda yaitu Pater Micheal Angkur, OFM (saat ini adalah uskup Bogor).

Pada akhir tahun 60-an Pater Frankhuyzen kembali ke dan menetap di Depok. Pada bulan September 1973 ia merayakan 50 tahun hidup mebiara. Perayaan berlangsung di SD MardiYuana, yang hadir di Depok sejak 1 Agustus 1960 dan yang kehadiran dan perkembangannya tak dapat dilepaskan dari peran penting Pater Frankhuyzen OFM disamping Mgr. Geise OFM. Pater Yohanes Ma'mun Muktar OFM, yang baru kembali dari mengikuti "kursus kharismatik" di Australia, memberikan warna kharismatik dalam pelayanan pastoral pada umat di Depok pada tahun 1975. Anak seorang haji di Sukabumi ini meninggal dalam usia muda pada 10 Agustus 1976 (lahir 1 Juni 1941) di Bogor, setelah lebih kurang 10 hari berada dalam keadaan koma akibat kecelakaan lalulintas di Puncak Jawa Barat.

Perkembangan Paroki Santo Paulus selanjutnya tidak terlepas dari kebijakan Pemerintah yang menjadikan Depok sebagai salah satu kawasan penyangga Ibukota. Dalam rangka itu, pada tahun 1976 dibangunlah Perumnas Depok I (Depok Jaya) dan Depok Utara, kemudian disusul dengan Perumnas Depok II dan Depok Timur. Seiring dengan itu, penghuni-penghuni baru membanjiri Depok termasuk umat Katolik. Untuk memenuhi kebutuhan umat katolik yang cukup besar jumlahnya di Depok I dan Depok Utara, maka pada tahun1977-1978 dibangunlah sebuah gereja sederhana di jalan Irian Jaya. Semua itu tidak terlepas dari jasa almarhum Bapak Dom Renetyo. Gereja sederhana itu "dipabtis" oleh Mgr. Ign Harsono, Pr. (saat itu sebagai Uskup Bogor) dengan nama HERKULANUS. Nama gereja tersebut diharapkan agar umat Katolik tidak melupakan jasa besar Pater Herkulanus Frankhuyzen dalam persemaian benih Injilnya di Depok.

Keberadaan Gererja Herkulanus diperkuat oleh perhatian Pater R.J. Koesnen, OFM. yang bertugas di Depok menggantikan almarhum Pater Frankhuyzen (meninggal 1978). Pater RJ. Koesnan, OFM. menaruh perhatian yang sangat besar terhadap dunia pendidikan, khususnya anak-anak. Ini terbukti dengan berdirinya TK dan SD Santa Theresia pada tanggal 18 Juli 1982, yang berlokasi tepat disamping Gereja St. Herkulanus. Sekolah tersebut dikelola oleh Yayasan Pendidikan Yohanes Paulus.

Adanya kampus Universitas Indonesia, Novisiat Transitus (diresmikan oleh Vicaris General OFM dari Roma, Pater Onorio Pontoglio OFM pada bulan September 1984) dan beberapa Real Estate di Depok menambah jumlah umat Katolik di Depok. Dua buah gereja yang telah ada (Gereja Santo Herkulanus dan Santo Paulus) tidak dapat menampung jumlah umat dalam misa mingguan. Timbul rencana untuk membangun sebuah gereja yang kapasitasnya melebihi Gereja Santo Paulus. Pada bulan Maret 1986, Pater RJ. Koensen, OFM dan Pater Guido Brod OFM meletakkan batu pertama untuk gedung pastoran, kemudian disusul dengan peletakan batu pertama untuk gedung gereja oleh Mgr. Ign Harsono, Pr. dan Bapak Drs. Erno (Sekretaris Kotif Depok). Berkat kerja keras dan dukungan dari umat serta bantuan para donator, maka gedung gereja dan pastoran selesai dibangun. Bangunan tersebut diberkati oleh Mgr. Ign. Harsono pada tanggal 3 Juli 1988. Lima tahun kemudian (1993) Gereja Herkulanus di Jalan Irian di renovasi dengan menghabiskan biaya yang cukup besar. Prinsip "Kalau ada Kemauan Pasti ada Jalan" sungguh dihayati dan dialami oleh umat Paroki St. Paulus Depok yang sebagian besar memiliki taraf ekonomi tingkat menengah kebawah.

Berkembang Ke Sekitar Depok
Disamping pelayanan pastoral terhadap umat yang terorganisasi dalam dua gereja tersebut (Gereja Santo Paulus dan Santo Herkulanus) sejak tahun 1982 para pastor dari paroki St. Paulus juga melayani misa dan pelayanan sakramental lainnya untuk umat di daerah Gunung Sindur, Parung, Bojongsari ARCO dan sekitarnya. Pelayanan ini dimulai dengan kehadiran Pater Guido Brod OFM di paroki St. Paulus Depok yang kemudian diperkuat oleh suster-suster ADSK (hadir di Depok sejak 1987-1989). Misa mingguan untuk umat yang terpencar ini dilayani secara bergantian berdasarkan kelompok: ARCO Bojongsari, Gunung Sindur dan Parung. Sejak tahun 1989, pelayanan misa mingguan dipusatkan pada satu tempat yaitu di rumah Bapak Wempy Suhendar (Bojongsari). Sejak saat itu kelompok ini menjadi stasi dari Paroki St. Paulus Depok dengan "nama baptis" Yohanes Pembaptis, Parung. Pemusatan pelayanan di rumah Bapak Wempy (alm) berlangsung sampai tahun 1992, sejak saat itu sampai sekarang pelayanan dipusatkan di Restoran Lebak Wangi milik Bapak Juhari. Umat stasi telah membeli tanah seluas 7000 meter di daerah Parung untuk pembangunan gedung gereja. Proses sertifikasi terus berlangsung walaupun agak tersendat-sendat. Walaupun kemampuan ekonomi terbatas, tetapi melihat semangat umat yang begitu besar, tampaknya keinginan untuk memiliki gereja sendiri dapat menjadi kenyataan; apalagi melihat jumlah umat dari tahun ke tahun selalu bertambah.

Deretan Para Gembala
Para pastor yang pernah dan masih berkarya sampai saat ini di Paroki St. Paulus Depok adalah Pater J.J Rossen OFM (1960), Pater Frankhuyzen OFM (pastor paroki, 1960-1964, 1969-1978), Mgr. Nicolaus Geise OFM, Pater Anton Baan OFM, Pater Michael Angkur OFM (saat ini menjadi Uskup Bogor), Pater Fransiskus Sutono OFM, Pater Yohanes Ma'mun Mokhtar OFM, Pater Bernardinus Saji OFM (kapelan, 1976-1979), Pater Aloysius Ombos OFM (kapelan, 1979-1982), Pater Koesnen OFM (pastor paroki kemudian kapelan, 1978-1993), Pater Guido Brod OFM (kapelan lalu pastor paroki, 1982-1990), Pater Leo Laba Ladjar OFM (1984-1989, saat ini menjadi uskup Jayapura), Pater Edy Kristiyanto OFM (1986-1987), Pater Markus Gunadi OFM (1985-1990), Pater Aegidus Ngarut OFM (pastor paroki, 1990-1996), Pater Thomas Diaz OFM (kapelan, 1990-1992), Pater Agus Suyatno, Pr. (kapelan, 1992-1994), Pater Jimmy Rampengan, Pr. (kapelan, 1994-awal 1998), Pater Konstan Bahang OFM (1994-1995), Pater Bartolomeus Gatot Wotoseputro Pr (kapelan, 1996 s.d. sekarang), Pater Vitalis Nonggur OFM (pastor paroki, 1996-2001), Pater Remedius Wijbrands, OFM (1991-2001) dan Pater Paskalis Bruno Syukur OFM (1996-2001)............, Pater Gabriel Gary Maing, OFM (2002-2006) RD. Albertus Simbol Gaib Pratolo (2006-2010), RD. Yustinus Dwi Karyanto (2010-sekarang)

Penutup

Depok pada tahun 1714 hanya merupakan sebuah dusun sunyi, pada tahun 1924-1925 menjadi sebuah kecamatan, berubah menjadi kota administratif (kotif) pada tanggal 18 Maret 1982, dan kini siap menjadi kotamadya. Paroki Santo Paulus yang secara geografis pada awal 1960 hanya meliputi wilayah sekitar Depok Lama, saat ini telah meliputi UI, Citayam, Sasak Panjang, Parung, dan Gunung Sindur serta terbagi ke dalam 10 wilayah dan satu stasi.

Jumlah umat pada tahun 1927 hanya beberapa orang, saat ini mencapai 4.000 orang. Saat ini Paroki St. Paulus Depok dilayani oleh 2 orang pastor, dan untuk misa mingguan dibantu oleh imam dari Novisiat Transitus.

Jadwal Misa Kudus:
Harian : Pukul 05.30 WIB
Jumat I : Pukul 19.00 WIB
Sabtu : Pukul 17.30 WIB
Minggu : Pukul 07.00 WIB

Saturday, 5 February 2011

Sejarah Gereja Paroki Santo Antonius Purbayan, Surakarta

Sebelum tahun 1859 Gereja Katholik Surakarta dilayani langsung dari Semarang. Orang Surakarta pertama yang dibaptis adalah Anna Catharina Weynschenk (14 Nopember 1812) dan Georgius Weynschenk (24 Nopember 1813) Pada hari itu ada 59 orang dibaptis. Kemudian pada tahun 1859 stasi Ambarawa didirikan, meliputi daerah Salatiga, Ambarawa, Surakarta, dan Madiun. Pada waktu itu stasi Ambarawa berada di bawah pimpinan Rm. Yohanes F. V . D. Haegen, dengan jumlah umat 1787 orang (1206 di antaranya adalah tentara).

Tanggal 29 Oktober 1905 Rm. Cornelis Stiphout SJ dari Pastoran Ambarawa, mendapat ijin mengadakan undian untuk mendirikan Gereja di kota Solo. Usaha ini berhasil. Dalam kondisi darurat, karena gereja belum selesai di bangun, Misa yang pertama kali diadakan di Pastoran pada tanggal 22 Desember 1907.

Akhirnya, pada Nopember 1916 Gereja St. Antonius Purbayan berdiri di Surakarta dengan surat pengangkatan tahun 1918, dan diberkati. Romo C. Stiphout SJ diangkat sebagai Pastor Paroki yang Pertama di Gereja St. Antonius semakin berkembang dan mulai mencoba menekuni badang pendidikan. Melalui pejuangan keras Pastor Strater dalam usaha untuk mendapatkan tempat dan perijinan dari pamong praja setempat saat itu, akhirnya berhasil pada tahun 1921 sekolah HIS berhasil didirikan. Pada waktu itu juga Bapak Soemadisastro diangkat menjadi Kepala Sekolah.

Sayang sekali Rm. C. Stiphout SJ tidak lama bertugas di Purbayan. Pada tahun itu juga (tepatnya 16 Pebruari 1921), Rm. Hermanus J. Jansen SJ. Dari Tomohon ditugaskan mengganti tugasnya sebagai Pastor Paroki Purbayan. Beberepa bulan kemudian (4 Juli 1921 ) Gereja membuka sekolah HIS Sosronegaran meskipun hanya dengan kelas tiga. Untuk memberi pelajaran agama dan budi pekerti, dua bulan sekali, Rm. H.E.V. Driessche dan Bapak Purwa datang ke Solo mengajar murid-murid HIS. Setahun berikutnya HIS pindah ke Purbayan memakai tempat calon rumah biara suster-suster Fransiskus. Ini berlangsung selama satu tahun. Sementara itu HIS mempersiapkan gedung sekolahnya yang baru, yang nantinya ditempati, dengan H. I. W. Wormer sebagai Kepala Sekolahnya.

Tanggal 4 Juli 1922 SD Kanisius mulai dibuka oleh Rm. Houvenaars ke Weltevreden SJ. Diantaranya SDK Jayengan, SDK Semanggi, SDK Sorogenen, dan SDK Bromantakan. Oleh kaeana pada masa itu belum ada orang Jawa yang berkarya sebagai misionaris, timbul rasa was-was di hati para rama akankah diterima pelajaran agama katholik yang masih asing dan baru itu. Diluar dugaan, ternyata murid yang masuk mencapai 300 anak. Beberapa waktu kemudian tanah yang terletak di dekat Pastoran dapat dibeli, sehingga timbul harapan akan dibangunnya gedung sekolah yang baru dan lebih baik. Tanggal 15 Januari 1923 Rm. Cornelis Lucas SJ dari Muntilan, pindah ke Surakarta. Jadwal tugasnya: lima hari di Solo dan dua hari di Klaten. Mulai saat ini setiap hari Minggu pasti ada Misa. Tahun 1924 - 1929 Rm. Houvenaars S J diangkat menjadi Pastor Paroki Purbayan. Tidak lama sesudahnya, sekolah rakyat dengan bahasa pengantar Jawa untuk pertama kalinya dibuka (SDK Kebalen). Menyusul kemudian sekolah rakyat yang kedua pun di buka (1924). bulan kemudian Rm. J. Brendsen SJ dari Muntilan menjadi Misionaris di Surakarta, sedangkan Rm. Lucas Tanggal 19 Agustus 1924 Rm. Jansen SJ dipindahkan dan tiga SJ pindah ke Muntilan menjadi misonaris di sana.

Tahun 1925 Suster-suster Fransiskus datang di kota Solo dan tahun menjadi SD Marsudirini. Bersamaan dengan kedatangan suster-suster tersebut, Rm. berikutnya membuka sekolah untuk anak-anak perempuan yang sekarang dikenal Karel De Hoog SJ yang datang dari Belanda dan ditugaskan di Yogyakarta, yaitu di Ignatius College, sempat tinggal sementara waktu di Purbayan. Sebagai penggantinya, Rm. Henricus J. M Koch SJ dari Yogyakarta di pindah ke Surakarta. Tanggal 26 Juni 1926 Bruder-bruder FIC mengambilalih sekolah HIS yang didirikan tahun 1921/1922 (SD Pangudi luhur). Bruder-bruder tersebut diantaranya adalah Br. Seardus, Br. Laurentius, Br. Yustus, dan Br. Leboinus.

Tanggal 19 April 1922 Rm. Arnoldus Van Velsen SJ misionaris dari Muntilan dipindahkan ke Solo. Menyusul dibukanya SDK Pucangsawit dan SDK Sorogenen. Tanggal 20 April 1926 Sekolah St. Melani dibuka dengan 20 murid dan mas pendidikan tiga tahun, dibawah pimpinan Ibu Th. Hardjasubrata. Setelah sekolah ini dapat berjalan dengan lancer, kumpulan Melani mencoba membuka Sekolah Dasar lengkap dengan masa studinya enam tahun di Serengan. Didalam masa tugasnya sebagai pastor Paroki, Rm. Hauvernaas SJ membeli tanah di Pucangsawit untuk tempat pekuburan Katholik.Disamping itu, beliau juga mendirikan Maeria Congregatie untuk bapak � bapak guru Jawa. Tahun 1928 mulai banyak sekolah-sekolah didirikan, diantaranya sekolah ELS, HIS Bruderan, HIS Susteran dan sekolah Rakyat, seluruhnya berjumlah sembilan sekolah. Sayang Rm.A. V. Velsen SJ harus pindah ke Magelang (5 Januari 1928) dan sebagai gantinya Rm. Cornelius Versteeg SJ (dari Buitenzorg ) ditugaskan di Solo.

Tanggal 2 Juni 1929 Rm Jacobus Schots sehabis cuti dari Belanda, di tugaskan ke Solo. Beliau mendirikan gereja di Baturetno, Wonogiri. Seminggu kemudian, Rm. Hauvernaas SJ pindah ke Semarang dan Rm. H. J. M. Koch SJ diangkat menjadi Pastor Paroki Purbayan. Pada awal bulan Juli 1929 lahirlah sekolah Yayasan Triyasa di Surakarta, yang didirikan oleh tiga perkumpulan, yaitu Wanita Katolik, Katolik Wandawa, dan PPKD. Sekitar tahun 1930 Rm. B Hagdorn SJ mengangkat Bapak A. Mujikuwat Sastrawinata menjadi koster gereja yang pertama. Pada waktu itu, Rm. Koch SJ mendatangkan patung-patung dari Belanda serta dua lonceng yang diberi nama St. Maria dan St. Ignatius. Benda-benda tersebut sampai saat ini masih ada di Gereja St.Antonius Purbayan. Menyusul kemudian tanggal 14 Januari 1930 Rm. J. Sevink SJ dari Betawi pindah ke Solo.

Tanggal 14 Agustus 1931 Rm. B. Hagdorn SJ menggantikan jabatan Rm. Koch SJ yang telah berakhir masa tugasnya sebagai Pastor Paroki di Purbayan.Rm. Hagdorn ini rajin membina dan memberi semangat pemuda-pemudi untuk menjadi Pastor, Bruder,atau Suster. Usaha beliau tidaklah sia-sia, karena ada beberapa orang yang kemudian menjadi pastor.Sejak saat ini, misa kudus pada hari Minggu menjadi tiga kali.Misa I (05.30) dengan bahasa Belanda,Misa II dengan bahasa Jawa dan Misa III dengan bahasa Belanda. Pertambahan umat setiap tahunnya mencapai sekitar 100 orang.

Tahun 1935 Rm. Hagdorn SJ digantikan oleh Rm. C. Ruijgrok SJ. Oleh karena alasan kesehatan ( sakit asma ), Rm. Ruijgrok hanya tiga tahun menjadi pastor Paroki. Selama itu beliau dibantu oleh beberapa orang pastor, diantaranya yaitu Rm. A. Elfrink MSF, dan Rm.Van Tiel MSF, Rm. J. Schots SJ, dan Rm. Chr. Hendriks MSF. Untuk santapan rama masakan dipesan dari hotel Yuliana di sebelah kanan gereja yang sekrarang menjadi gedung C. P. M. Surakarta.

Tanggal 10 September 1938 Rm. C. Verhaar SJ mulai menjabat sebagai pastor Paroki dan membentuk Dewan Gereja (Dewan Paroki), yang terdiri dari ketua Rm. Verhaar SJ, sekertaris Rm. Schots, dan anggota Mr. W.C. Haye. Saat inilah gereja mulai diramakan dengan berbagai aktifitas keanggotaan, diantaranya:
a. Koor dengan nama St. Cecillia. Koor ini di pimpin oleh Rm. Verhaar SJ, didirigen oleh A.V Balen, organis oleh Bruder Euginius. Khusus untuk koor Jawa dipimpin oleh Rd.C.Hardjosoebroto dan organis R. Fr. Atmapranata.
b. Pendidikan. Banyak didirikan sekolah-sekolah, antara lain Yayasan Bruderan yang di pimpin oleh Br. Yustus.Kepala Sekolah HIS dipegang oleh Br. Fabianus. Room Katolik MULO dipimpin oleh Br.Yustus dibantu oleh Br. Seraphion, Br.Gerontius, Br. Richarius, Br. Pancratio, Rd. C. Hardjasoebrata, dll. RK. Schakeschool di bawah pimpinan Br. Marcelianus. NSC oleh Br.Albertus. Yayasan sustr-suster Fransiskanes dengan ketua moderator M. Corona. Ada kelas persiapan yaitu Voorklas HIS. R.K. Vakschool (sekolah kejuruan) dengan kepala sekolah Z. Agatha. Eur Frobelschool dipimpin Zr.Louisine. Volkschool oleh Z. Pauline. St.Stanislaus ELS dengan kepala sekolah F. Brand. St. Theresiaschool ELS dipimpin oleh A.Balen St.Melaniawerkvoor Java mempunyai beberapa sekolah murid perempuan.
c. Kerasulan Doa, dipimpin oleh Rm.Verhaar SJ
d. Kongregatie Maria: - Untuk pria Jawa dipimpin oleh R.p.Th.Poesposoeparto SJ
- Untuk wanita Jawa dipimpin oleh R,P.J. Schots SJ
- Untuk muda � mudi dipimpin R. P. Veraar SJ
- Untuk pemudi Jawa dipimpin R.P.Poesposoeparto SJ
e. Kelompok organis mudika dan Persatuan Pemudi Katolik yang dibimbing oleh Rama Verhaar SJ
f. Himpunan Pramuka Katolik.
g. Perkumpulan Karikatif dengan ketuanya Mevr. Van Balen, moderator Rm Verhaar,dan sekertaris Mevr. C. Siem Adriaanse.
h. Karya Melania dengan ketua Mevr. F. Coenders

Dan yang lebih penting, perayaan Misa mengalami beberapa perubahan. Kegiatan keagamaan untuk Misa Kudus diadakan pukul 08.30. Misa Agung pukul 17.30 dan setiap Jumat pertama diadakan Misa Kudus pukul 05.30, pukul 06.45 dan pukul 07.30. Selain itu, pada setiap Minggu sore diadakan Lof (puji-pujian / astuti). Oleh karena sedemikian banyaknya kegiatan yang dilakukan gereja St.Antonius Purbayan, umatpun semakin lama semakin bertambah banyak. Sampai-sampai Gereja Purbayan tidak mampu memuat seluruh umat. Maka diadakan rencana untuk membangun gereja baru. Setiap Minggu Umat Paroki Purbayan mengadakan kolekte khusus untuk sumbangan pembangunan gereja baru dan mengadakan kegiatan pengumpulan dana. Bahkan Belanda juga memberikan bantuan berupa lonceng, kaki lilin, kelinting, alat-alat perlengkapan Misa dan Tabernakel. Selain itu, juga didatangkan rama-rama MSF yang untuk sementara waktu tinggal dengan rama-rama SJ di Pastoran Purbayan. Mereka itu diantaranya Rama Chr. Hendriks MSF. Sedangkan yang mendapat tugas mengurus persiapan dan pelaksanaan pembangunan gereja adalah Rama Elfrink MSF.

Peletakan batu pertama dilakukan tanggal 16 September 1938 dan diberkati oleh Rama Verhaar SJ dengan didampingi oleh Rama Th. Poesposoeparto SJ dan Rama Chr. Hendriks MSF. Dalam upacara tersebut dilakukan penandatanganan prasasti berturut-turut oleh Gubernur, Rama Verhaar dan Rama Hendriks. Kemudian prasasti dimasukkan ke dalam tabung timah bersama dengan tiga keping mata uang logam bernilai � sen, 1 sen, dan 1 picis (10 sen), yang melambangkan umat yang tergolong miskin, cukup dan kaya. Tabung ditutup dan dimasukkan ke dalam pondamen, diplester oleh Rama Verhaar, diperciki air suci lalu ditindih dengan batu gandengan bertulis alpha dan omega. Terakhir, seluruh pondamen diperciki air suci. Pembangunan Gereja Purbayan ini diikuti dengan pembangunan gereja Puswasari. Gereja St. Petrus Purwasari berdiri pada bulan Mei 1940. Dua tahun kemudian, Gereja St. Petrus diresmikan (29 Juni 1942) dan berdiri sendiri terpisah dari Paroki Purbayan. Dengan selesainya pembangunan Gereja St. Petrus, selesai pula masa tugas Rama Verhaar. Untuk selanjutnya tugas-tugas beliau digantikan oleh Rama Th. Poesposoeparto SJ selaku Pastor Paroki Purbayan.

Tahun 1942 Jepang masuk ke Indonesia dan keadaan umat mulai kacau. Setiap malam selalu terdengar tembakan senapan mesiu dan mortar sampai pagi. Akhirnya Belanda mengaku kalah dan menyerahkan kekuasaannya kepada Jepang. Gereja St. Petrus yang belum lama berdiri didatangi perampok-perampok, sehingga apa saja yang ada diangkut habis. Akan tetapi, berkat Tuhan dan keuletan bapak Koster yang menggunakan taktik menahan mereka, Gereja Purbayan selamat. Setelah ada perampokan tersebut, dikeluarkan instruksi bahwa para pastor akan diinternir dan gereja-gereja akan ditutup. Tetapi Gereja St. Petrus tetap terbuka, karena seluruh isi bahkan pintu-pintunya telah hilang dibawa perampok. Tiga tahun kemudian Jepang menyerah kepada Sekutu dan meninggalkan Indonesia. Suasana kota Solo pun berubah menjadi cerah. Banyak pastor tamu datang membantu paroki Surakarta, diantaranya Rama A.P Purwadiharja Pr. dan Rama L. Daroewendo SJ. Tahun 1949 Slamet Riyadi dipermandikan dengan nama Ignatius (24 Desember); beliau dikenal sebagai pahlawan nasional.

Tahun 1950 rama Poesposoeparto digantikan oleh Rama C. Martawerdaya SJ. Dan yang bertugas sebagai Pastor Pembantu adalah Romo A.P Purwadiharja Pr., Rama A. Tjakrawardaya Pr. dan Rama H. Wakkers SJ. Jumlah baptisan pada masa ini 606 orang. Ini adalah jumlah yang paling tinggi untuk dasawarsa lima-puluhan. Tahun 1955 Rama J. Darmoyuwono Pr. datang dan tinggal di Paroki Purbayan. Beliaulah yang nantinya mendirkan gereja Purbawardayan sekaligus memberkatinya (1961). Kelak di kemudian hari Rm. Darmoyuwono dipilih menjadi uskup Agung Semarang dan kemudian diangkat menjadi Kardinal.

Tahun 1958 Rm. H.Wakkers SJ diangkat menjadi Pastor Paroki Purbayan.
Pada waktu itu pelajaran agama berjalan dengan baik, bahkan ada kursus guru agama.Misa pada hari Minggu tidak hanya tiga kali melinkan sudah lima kali, setiap pagi dan sore. Pastor Pembantu antara lain Rm. S. Tan Kiong Hwat Pr, Rm. A. Tjakrawardaya Pr, dan Rm. A. Timotheus menciptakan wayang Katholik yang di sebut wayang wahyu. Karena mulai bulan Juli 1971 Rm. Wakkers SJ bertugas mengunjungi Sragen dan Kedung Banteng, maka kedudukannya digantikan oleh Rm. C. Prawirasuprapta SJ. Sebagai kenang � kenangan, Rm Prawirasuprapta membangun beberapa kamar pengakuan dosa dan ruang pelajaran agama.

Tahun 1963 Rm. Prawirasuprapta diganti oleh Rm. J. Mulder SJ sebagai Pastor Paroki Purbayan. Dalam menjalankan tugasnya, beliau dibantu oleh Rm. G. Chetelat SJ, Rm. F. Leber SJ, dan Rm. Oosthout SJ. Sebagai kenangan, Rm. Mulder membangun pagar gereja,pagar gedung paroki,Pastoran serta menambah beberapa kursi dan bangku gereja. Bersamaan dengan ini meletus pulalah pertempuran G30S/PKI. Namun demikian, setiap malam Pastoran dijaga pemuda-pemuda Katholik yang digerakkan oleh Bapak Sudarsono.Tanggal 16 Maret 1966 terjadi banjir besar sungai Bengawan Solo. Akibatnya Pastoran, gereja, susteran dan rumah-rumah masyarakat sekitar kemasukan air cukup tinggi. Kemudian pada pada tanggal 12 Juni 1967 Gereja St. Antonius dari Padua Purbayan merayakan Pesta Emas. Jumlah baptisan pada tahun ini mencapai 976 orang. Tahun 1967-1969 Rm. Mulder cuti ke Belanda dan sebagai pengganti sementara adalah Rm. Purwahutama, SJ.

Pengganti Rm. Mulder adalah Rm.H. Haripranata SJ ( 1970 � 1976 ) yang asli kelahiran Solo. Pada masa kanak-kanaknya, beliau pernah menjadi misdinar gereja Puebayan.Sedangkan Pastor pembantu di antaranya Rm.E. Wiegers SJ, Rm. A. Sontoboedojo SJ. Selama Rm. Haripranata menjadi Pastor Paroki, kegiatan ekumene maju pesat. Tiap awal tahun diadakan pertemuan antara pastor, suster,dan bruder dengan para pendeta dan istri. Beliau juga turut berperan serta dalam pemugaran gereja. Pada tanggal 8 Oktober 1975 Rm. Haripranata diangkat sebagai Administrator Apostolik di Keuskupan Weetabula, Sumba.

Tahun 1975 Paroki Dirjodipuran yang dirintis sejak 1969 telah berdiri, menjadi Gereja St. Inigo.Tahun 1976 Pastor Kepala Paroki Purbayan dijabat oleh Rm. Th. Prayitna SJ, dibantu oleh Rm.J. Groenewoud SJ, Rm. B. Mardiatmadja SJ, Rm. A.Weibel SJ, Rm. Wigers SJ. Beliau memperkenalkan ME ( Marriage Encounter ) bagi pasangan suami-istri Katholik. Pada tahun ini pula dimulainya lomba koor Cecillia Cup I.
Pada tahun 1977 lahirlah CLC (Christian Life Community) yang didirikan dengan nama Santa Maria dan Serba Kasih ( 1979 ). Nama ini akhirnya diganti menjadi CLC St. Ignatius.

Tahun 1980 Rm. J. Madyasusanta SJ diangkat menjadi pastor paroki Purbaran dan sebagai pastor pembantu Rm.C. Prawirasuprapto SJ; Rm. J. Reijnders SJ dan Rm. L. Smit SJ. Mulai 10 Januari 1980 Persekutuan Doa Pembaharuan Karismatik Katolik muncul dan berkembang hingga sekaran. Organisasi-organisasi Katolik pun berkembang dengan baik; seperti WK (Wanita Katolik ), demikian pula mudikanya aktif dalam kegiatan gereja. Misa wilayah diadakan sekali dalam dua bulan. Jumlah diakon Paroki ada 38 orang yang aktif dalam tugas misa, Ibadat Prapaska, Ibadat bulan Paroki, Ibadat Natal, Retret Wilayah dan ibadat-ibadat lainnya. Tiap bulan Mei dan Oktober ada ibadat Rosario di gereja yang dipimpin secara bergantian oleh wilayah-wilayah, juga sekali seminggu umat berdoa rosario di wilayah setempat. Pada bulan Juni (sekitar 13 Juni s/d September) gereja merayakan Bulan Paroki dengan berbagai perlombaan dan ibadat wilayah yang kemudian ditutup dengan bazaar. Pelayanan liturgy di gereja lebih dilayani oleh wilayah-wilayah secara aktif. Dan untuk menggiatkan kelompok koor, maka Cecillia Cup dilombakan setiap tahun. Pada tahun ini pulalah Rm. Madyasusanta membentuk panitia pembangunan gereja yang di ketuai oleh Bapak R. G. Sukadio.

Agustus 1983 dilaksanakan pembaharuan pengecatan gereja, juga pembaharuan buku-buku nyanyian gereja (Madah cinta, Natalia, Memoriam dan pecan Suci). Diadakan penataran-penataran untuk prodiakon dan pamong wilayah (1980) untuk mudika ke Salam ( 1981) untuk para pemuka jemaat di Syantikara Yogyakarta (1983) yang dilanjutkan di Purbayan ( Maret 1984). Pada masa ini umat yang menghadiri Misa Minggu semakin meluap, hingga banyak umat yang tidak mendapatkan tempat duduk. Oleh karena itulah pembangunan perluasan semakin dirasa perlu segera dilaksanakan.

Belum selesai melaksanakan pugar gereja, Rm Madyasusanta harus segera menjalankan tugasnya di Sanata Dharma Yogyakarta. Maka Rm. L. Smit SJ yang lantas mengambil alih tugas-tugas beliau sekaligus menjabat sebagai Pastur Kepala Paroki Purbayan, sedangkan Pastor pembantu nya adalah Rm.J. Rijnders SJ Rm. G. Sabdautama SJ, dan Rm.A. Hari Hardjanta SJ. Oleh Rm. Smit panitia dan rencana pemugaran gereja di perbarui (1986). Puji Tuhan, semua rencana dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Akhirnya 7 April 1988 Gereja St. Antonius yang telah selesai dipugar, diberkati. Dan untuk pertama kalinya, Gererja St.Antonius dipakai sebagai tempat pentahbisan imam-imam Yesuit (21 Juli 1988) dihadiri oleh pimpinan tertinggi Serikat Yesus, Pater Jendral, yaitu Peter Hans Kolvenbach SJ. Tanggal 31 Juni 1991 Paroki St. Antonius Purbayan genap berusia 75 tahun. Untuk merayakan hari bahagia ini berbagai kegiatan diselenggarakan, mulai dari tanggal 13 Juni hingga 10 Nopember 1991. Kini. Di bawah room Y.B. Mardikartono SJ selaku Pastor Kepala, bersama dengan romo J. Abdipranata SJ, Rm. M. Hadisiwoyo SJ, Rm. M. Sriyanta SJ selaku pastor pembantu, didukung oleh seluruh aparat gereja seta seluruh umat, masa depan dan kesuksesan Gereja Purbayan akan terus.

Sumber : http://historiadomus.multiply.com/journal/item/6