Latest News

Showing posts with label Komunitas Basis. Show all posts
Showing posts with label Komunitas Basis. Show all posts

Friday, 18 February 2011

Komunitas-Basis Yang Berdaya Bagi Indonesia Baru

Oleh J. Sunarka, SJ

A. MENDALAMI PEMAHAMAN KOMUNITAS BASIS

Komunitas, paguyuban, kelompok pepanthan, kumpulan, jemaat, umat, menunjuk pada beberapa pribadi orang, yang secara tetap bertemu, saling berhubungan atau berkomunikasi. Suatu Komunitas yang konstitutif bagi komunitas-komunitas lainnya, artinya: yang mau tak mau harus ada. Itulah komunitas-basis.

Komunitas-basis adalah komunitas yang paling bawah, yang menjadi penyangga bagi komunitas-komunitas yang lain. Komunitas yang lain adalah komunitas menengah. Dan masih ada lagi komunitas puncak. Masing-masing komunitas ini sifatnya majemuk. Maka:
� Komunitas-basis masih dapat dirinci lagi: ada komunitas-basis bawah, ada komunitas-basis menengah dan ada komunitas-basis atas.
� Demikian pula komunitas-basis-menengah masih dapat dirinci lagi menjadi komunitas-basis-menengah bawah, komunitas-basis-menengah menengah dan komunitas-basis-menengah atas.
� Begitu juga lalu ada komunitas-basis-atas yang juga dapat dibeda-bedakan sebagai komunitas-basis-atas yang bawah, yang menengah dan yang atas.

Yang paling menentukan adalah komunitas-basis bawah. Kalau tidak ada komunitas-basis bawah, maka komunitas menengah dan komunitas puncak roboh semua. Adanya pribadi-pribadi jelaslah tidak termasuk pada pengertian komunitas-basis. Kedekatan dan kekerapan hubungan pribadi-pribadi dihayati oleh suami dan isteri serta anak. Inilah keluarga. Sedangkan paguyuban yang disebut rukun tetangga, rukun warga dan kelurahan, kecamatan dst. adalah komunitas-basis yang sifatnya sudah merupakan olahan komunitas-basis. Demikian pula dalam kalangan umat katolik: apa yang disebut lingkungan, wilayah, stasi, paroki, sudah merupakan lingkup cakupan dari komunitas-basis paling bawah yaitu keluarga-keluarga. Perlu kita sadari, bahwa issue komunitas-basis pada umumnya, seperti diangankan oleh Komisi Teologi KWI, sudah berkonotasi pada komunitas-basis yang tidak lagi paling dasar.

Komunitas-basis yang digambarkan adalah stasi, lingkungan, dan ini sudah menyangkut komunitas-basis yang sebetulnya sudah tidak basis lagi. Ini sudah merupakan komunitas-basis cakupan. Maka unsur komunitas-basis cakupan adalah pribadi-pribadi yang berasal dari keluarga sebagai "komunitas basis paling basis" dan mau berkumpul. Komunitas-basis yang paling dasar dan yang purna waktu adalah keluarga. Sedangkan kelompok-kelompok gerakan keagamaan atau kemasyarakatan di luar keluarga adalah kelompok basis "penggal waktu". Komunitas-basis yang merangkul orang tanpa menilai dan menerima secara terbuka, sudah merupakan komunitas-basis cakupan. Dalam olah pikir Komisi Teologi KWI muncul pengertian wujud Komunitas-basis. Ada tiga macam Komunitas-basis, yakni: pertama, Komunitas-basis Gerejani (KBG); kedua, Komunitas-basis Antar Iman (KBAI); dan ketiga, Komunitas-basis Manusiawi (KBM). Ciri yang membuat sebutan-sebutan itu adalah warga dan kesamaan keyakinan mereka dalam persekutuan. Warga KBG dalam perkembangannya harus mengalami keterbukaan terjadap KBAI dan KBM. De-ngan demikian pendalaman iman dan penyatuannya dengan hidup sehari-hari makin hari makin berkembang ke sikap kebersamaan yang meluas.

1. Komunitas-Basis Gerejani (KBG)
- 1. KBG adalah persekutuan yang relatif kecil, katakanlah di antara 15 sampai 20 keluarga yang mudah berkumpul secara berkala untuk mendengarkan Firman Allah, membahas berbagi masalah-masalah harian bersama dan mencari pemecahannya dalam ilham alkitabiah. Sebagai satuan kristiani, KBG terdiri dari anggota yang saling mengenal. Mereka tidak hanya mengenal nama semua anggota lain, tetapi juga riwayat hidup dan harapan masing-maing rekan.
- 2. KBG bukan suatu gerakan di dalam Gereja, tetapi adalah Gereja itu sendiri, yang sedang bergerak maju. KBG bukan untuk orang-orang tertentu (kaum bapa atau ibu, kaum profesional, atau malah hanya bagi orang yang rajin dan saleh saja), melainkan untuk semua orang, yang mau ambil bagian, entah dia anggota Gereja, entah dia berada dalam pinggiran Gereja, atau malah di luar Gereja sama sekalipun. KBG merupakan paguyuban terapan mendasar gerejani, merupakan satuan basis gerejani itu sendiri.
- 3. KBG memperjuangkan keadilan, membela kaum tertindas dan bermediasi di tengah kerusuhan yang direkayasa oleh kaum elite. Di dalam KBG iman dan kehidupan harian disa-tupadukan. KBG merayakan, memperdalam imannya, mendengarkan firman Tuhan yang mendorong dan menjernihkan, sambil mempertebal pilihan untuk hidup, bertindak dan bersikap sebagi saudara dan saudari semua orang. Visi alkitabiah bertumbuh melalui sharing pemahaman Kitab Suci, doa biblis, dan ibadat. Sifat KBG menghantar anggota-nya kepada sikap social dan sekaligus melampaui batas karya sosial.

2. Komunitas-Basis Antar Iman (KBAI)
- 1. KBAI adalah persekutuan yang relatif kecil antar orang-orang yang mempunyai berbagai keyakinan. Kekhususan masing-masing tradisi religius dalam komunitas dapat bertemu dan saling memperkaya dalam sesuatu, entah secara territorial, entah secara fungsional kategorial. Dalam KBAI penghayat iman yang berbeda-beda dapat bersama-sama mencari dan menemukan Yang Maha-Menghendaki-dan-Menetukan-hidup, serta mengikuti-Nya. Pada tingkat ini masing-masing mengalami wawan intrareligius atau religius inter-nal. Di antara satu sama lain ada proses saling pendalaman iman, yang membuahkan suatu proses transformatif kehidupan dari warga KBAI. Dalam keterbatasan masing-masing tradisi, penghayatan iman kristiani dan penghayatan iman lain itu akan saling mengisi saling memperkaya. Terjadilah proses synergi iman.
- 2. KBAI memperjuangkan kerukunan dan kesejahteraan hidup antar umat beriman. Keja-makan agama merupakan kekayaan yang dapat saling menolong, dan bukan untuk saling memusuhi, membenci, atau bahkan untuk saling membunuh dan membinasakan.

3. Komunitas-Basis Manusiawi (KBM)
- 1. KBM adalah persekutuan dan persaudaraan yang tidak terbatasi oleh iman dan agama tertentu, melainkan oleh pengalaman hidup bersama sebagai manusia, dengan kepedulian manusiawi bersama pula. Itulah komunitas kecil (umumnya terdiri dari orang-orang kecil juga) yang terlibat dalam tindakan-tindakan sosial.
- 2. KBM terbentuk untuk perjuangan mengurangi atau menghapus penderitaan, sehingga masyarakat dan lingkungan hidup menjadi lebih adil dan lestari.
- 3. Dalam KBM, masing-masing anggota membawa serta hidupnya yang sering tercecer, terpisah-pisah, malah mungkin kocar-kacir. Hidup kocar-kacir itu disatukan di dalam kehangatan persaudaraan. KBM merupakan medan, di mana usaha berbagai pengalaman dan berbagai rasa, dapat berkembang subur menuju transformasi kehidupan bersama.

Pertanyaan Refleksif
Nah, pertanyaannya sekarang adalah:
o Di mana tempat Persekutuan Doa Karismatik, Marriage Encounter, Christian Life Community, Legio Mariae, Choice, Putri Maria, Persaudaraan Lanjut Usia, Muda Mudi Paroki, Pemuda Katolik, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia (PMKRI), Wanita Katolik Republik Inndonesia (WKRI), Kegiatan Karyawan Muda Katolik (KKMK)?
o Apa mereka itu dapat dikategorikan Komunitas-basis? Mengapa tidak? Mengapa termasuk?

Rasanya akan menjadi suatu pandangan yang naif untuk mengatakan, bahwa mereka itu semua bukan terkategorikan ke dalam yang disebut Komunitas-Basis. Padahal di situ ada persekutuan dan persaudaraan, ada petemuan yang teratur untuk mendengarakan Sabda Allah, ada pembahasan berbagai masalah hidup pribadi dan sosial keseharian, ada usaha mencari berdasarkan kejernihan alkitbiah pemecahan masalah-masalah sosial, dlsb. Itulah komunitas yang merupa-kan perwujudan Gereja. Apa lagi dalam situasi apapun komunitas itu tetap bertahan dan hidup. Mau apa lagi? Bagaimanapun juga mereka tetap adalah komunitas-basis. Entah komunitas-basis itu akan disebut apa: mungkin komunitas-basis kategorial?

B. KOMUNITAS BASIS YANG BERDAYA BAGI INDONESIA BARU

1. Apa arti "Yang berdaya"
Istilah "berdaya bagi atau mendayakan" dapat berarti sesuatu yang mempunyai daya, keku-atan, atau energi yang dapat mempengaruhi sesuatu yang lain. Dalam tema di atas dibayang-kan, bahwa Indonesia Baru (rakyat, kebersamaan, tata kebersamaan, pelaksana penata ke-bersamaan, pengawas dan penjaga tata kebersamaan) dapat diberi energi atau malahan: sedang memerlukan daya. Dan Komunitas Basis diangankan sebagai yang dapat, bahkan harus menjadi daya atau mendayakan Indonesia Baru itu. Maka "berdaya bagi" lalu berarti: tindakan partisipasif dalam informasi, animasi, motivasi sampai juga pada koordinasi.

2. Apa Bayangan Kita tentang Indonesia Baru?
Pengertian kita tentang Indonesia Baru masa ini sudah tidak jelas. Mana Indonesia Lama? Mana Indonesia Baru? Indonesia sekarang ini lama atau baru? Pengertian Indonesia sekarang ini secara ideologi sudah tidak lagi jelas, secara politis kacau dengan adanya tingkah para elite politik yang sungguh memuakkan, secara ekonomis memprihatinkan, secara sosial remuk berkeping-keping, secara tata-nilai-kehidupan rusak, secara keamanan rusuh dan menakutkan. Mgr. Ig. Suharyo, Sekjen KWI dan Uskup Agung Semarang, dalam pertemuannya dengan Presiden dan Ketua DPR mengungkapkan, bahwa situasi Indonesia sekarang ini berkondisi kekiamatan Indonesia. Yang namanya Indonesia akan hilang dari muka bumi. Dengan demikian Indonesia Baru berarti pembubaran Indonesia sekarang ini. Apakah setiap daerah menjadi negara merdeka sepenuhnya, atau setiap daerah menjadi negara mandiri yang berfederasi, atau Indonesia tetap menjadi negara kesatuan dengan jaminan otonomi daerah,walahualam.

Lalu umat katolik bersikap bagaimana? Apakah umat katolik dalam kondisi yang tidak jelas ini perlu menentukan sikapnya tentang Indonesia Baru secara konseptual? Perlukah mencapai pengertian secara visoner? Dan juga memikirkan misi serta strateginya? Mampukah kita? Massa umat katolik tidak banyak. Lalu dengan kekuatan apa komunitas-basis umat katolik akan bergerak? Bukankah hanya suatu utopi saja, bahwa umat katolik mau berkomunitas basis yang berdaya untuk Indonesia Baru? Bukan utopi, kalau umat katolik mengetahui kekuatannya, tahu kelemahan masyarakat dan tahu memainkan kekuatan itu secara tepat-guna dan tepat-sasaran. Bermain dengan "otot" massa bukanlah caranya. Bermain otak dan komunikasi canggih adalah cara yang sangat relevan.Entah Inonesia akan menjadi negara yang bagaimana, Umat Katolik haruslah semakin me-nyadari perutusannya, ialah menumbuh-kembangan nilai luhur martabat manusia dalam per-saudaraan, kedamaian, kesejahteraan. Itulah cita-cita dasar. Nilai-nilai ideologis Pancasila, yang mendapatkan reputasi baik secara global, tetap harus dipertahankan.

C. TANTANGAN DAN PELUANG SAAT INI

1. Secara politis
- Tantangan: Situasinya begitu kacau. Lembaga Negara (legislatif, eksekutif dan legislatif) tidak harmonis, cakar-cakaran. Masing-masing seakan-akan main sendiri-sendiri demi kekuasaan. Masyarakat yang menderita tidak mendapatkan perhatian. Orang memper-gunakan model menggerakkan massa, yang mempunyai berbagai pengaruh negatif dalam banyak hal: keamanan, ekonomi, kekerasan. Cita-cita "democracy" pemerintahan di tangan rakyat mewujud-nyata dalam "democrazy", yaitu "rakyat yang bertingkah edan-edanan". Kecenderungan pecahnya Negara Kesatuan bisa mewujud pada negara merdeka yang satu terpisah dari yang lain.
- Peluangnya: pemberdayaan umat basis yang sadar ketata-negaraan dan peka akan ketidak adilan, berani berjuang melawan korupsi, kolusi dan nepotisme lembaga ketatanegaraan daerah.

2. Secara ekonomis
- Tantangan: Jam kerja produktif menurun, karena jutaan orang dimanipulasi dengan demontrasi-demontrasi. Banyak perusahaan yang berandalkan barang-barang import menjadi tidak berdaya, karena merosotnya nilai rupiah. Faktor kerusuhan dan peram-pokan, yang terjadi di mana-mana, tidak memungkinkan penanam modal asing masuk ke Indonesia. Ketidak-percayaan lembaga internasional (IMF, ADB) terhadap kemampuan pemerintah Indonesia untuk menggulirkan dana-dana pengentasan masyarakat dari kemiskinan. Defisit APBN yang berjumlah sekitar Rp 83 trilyun. Kewajiban membayar hutang negara jatuh tempo 2001 sejumlah $ 2,5 milyard yang tidak tersangga oleh kemampuan bayar. Kurang tergarapnya ekonomi pedesaan, karena banyak remaja desa lari ke kota mencari pekerjaan, pada hal kota mengalami krisis di bidang usaha.
2. Peluang: pemberdayaan masyarakat ekonomi lemah dan ekonomi pedesaan untuk mampu mandiri dalam kebutuhan pokok.

3. Secara etis
- Tantangan: Hilangnya rasa kemanusiaan, dengan makin meluasnya kegiatan pembunuhan, pengrusakan, perampokan dan penodongan, pencurian, perkosaan. Menipisnya rasa persaudaraan. Melemahnya tanggung-jawab tugas pejabat pemerintah. Rusaknya kehidupan moral remaja, karena makin banyak remaja terkena narkoba dan seksmaniak.
- Peluangnya: pendidikan yang peka akan kebutuhan penyadaran, penanaman dan pengembangan nilai-nilai kemanusiaan. Penyadaran remaja akan bahaya-bahaya yang lahir dari kerusakan moral.

4. Segi religiositas
- tantangan: Maraknya nilai-nilai ketuhanan yang dihayati dalam penghayatan agama yang berwawasan sektarian, primordial, komunalisme sempit. Agama dipakai untuk alat-alat perebutan kekuasaan dan harta. Akibatnya: umat begitu mudah dikorbankan dengan slogan perang suci. Penghayatan agama dikembangkan pada fanatisme dengan akibat: rasa membenci dan mau membinasakan orang yang bukan dari kelompknya. Agama menjadi sumber permusuhan. Adanya acara-acara liturgis sebagai pelarian dan legitimasi kebejatan moral. Juga penghayatan agama yang kyaiisme, ulamaisme, imamisme, uskupisme, yang membuat umat merasa, bahwa segala-galanya tergantung pada kyai, ulama, imam dan uskup.
- Peluangnya: penanaman dan pengembangan kedalaman hidup religius universal yang berdaya mempersatukan umat dalam persaudaraan sejati dan melahirkan kedamaian dan keadilan. Penanaman dan pengembangan hidup iman umat yang berani mengambil kepu-tusan sesuai dengan panggilannya masing-masing sebagai awam dan sebagai rohaniwan.

5. Adanya budaya bias "Gender" secara politis, ekonomi, pendidikan, dan sosio-budaya
- Tantangan: Ketercekaman budaya paternalisme. Muatan kerja perempuan lebih berat dari laki-laki. Diskriminasi terhadap perempuan dalam jabatan-jabatan tertentu. Gaji pekerja perempuan lebih rendah daripada laki-laki.
- Peluangnya ialah penyadaran dan pengembangan hak-hak perempuan yang dalam kebersamannya dengan laki-laki sebagai gambaran Allah.

6. Lingkungan yang tidak bersahabat lagi dengan manusia
- Tantangan: Bencana banjir, tanah longsor, angin topan, gelombang laut mengamuk, ba-nyak hama tanam-tanaman, tanah gundul, pupuk kimia non-organik yang merusak kesuburan tanah.
- Peluangnya menanamkan kesadaran akan keserasian antara manusia dengan alam sekitar.

D. KOMUNITAS-BASIS SEBAGAI STRATEGI

Pengertian strategi ialah: suatu langkah yang dipandang paling tepat-guna dan kena-sasaran. Indonesia Baru yang dicita-citakan adalah Indonesia dalam bentuk negara demokrasi, dalam arti rakyat mengambil bagian dalam keputusan ketatanegaraan yang adil dan sejahtera.

1. Negara Demokrasi.
Bentuk negara demokrasi hanya dimungkinan, apabila warga-negara menyadari perannya dan mampu melaksanakan peran itu. Komunitas-basis merupakan wahana strategis untuk menggulirkan peran itu. Terjadinya anarki "democrazy = rakyat edan-edanan ", antara lain disebabkan karena rakyat belum siap dan belum mampu hidup dalam demokrasi. Terlalu diandaikan, bahwa kalau rakyat diberi kebebasan, lantas demokrasi bisa berjalan dengan baik. Bangsa Indonesia ini sejak mengalami kemerdekaan belum pernah mengalami demokrasi yang sehat. Yang pernah terjadi adalah "demokrasi feudalisme" pada jaman kepemimpinan Soekarno dan kemudian "demokrasi diktator militerisme" dalam kepemimpinan Soeharto. Jangan dilupakan, bahwa bentuk negara demokrasi memerlukan disiplin mental tertentu dari rakyatnya. Kenyataan sekarang adalah: rakyat yang belum biasa mengalami demokrasi secara sehat, seolah-olah sekarang ini langsung dilepas begitu saja Apa yang terjadi? Yaitu: "Democrazy, edan-edanan, hukum rimba". Cara hidup bebas dan tertib-hukum rasanya belum pernah menjadi mekanisme hidup bangsa. Padahal menanamkan mental disiplin tidak bisa terjadi begitu saja secara instant, "seketika". Kalau mau secara instant, diperlukan cara represif.
Komunitas-basis begitu strategis menjadi wahana pelatihan orang untuk bisa berpikir secara bebas, mengungkapkan pendapat, memutuskan bersama dan berdisiplin melaksanakan keputusan bersama. Itulah cara komunitas-basis berdaya bagi Indonesia baru yang demokratis. Juga diperlukan komunitas-basis yang bergerak sebagai pemantau kiprah instansi kenegaraan, misalnya dengan "pantauan parlemen, pantauan kepemerintahan, pantauan penegak keadilan".

2. Indonesia Baru dengan tatanan ekonomi yang adil dan sejahtera.
Masalah dasar yang dihadapi sekarang ialah "sistim kapitalisme liberal", bahwa sebagian besar kekayaan negara dikuasai oleh hanya sekelompok kecil bangsa ini. Ada sentralisasi kelola kekayaan dan pendapatan negara. Sekelompok kecil mempermainkan, memojokkan dan menekan sebagian besar bangsa ini.
Pertanyaannya: bagaimana menyempitkan kesenjangan ekonomis dan mendayakan kelompok lemah mayoritas, untuk mendapatkan kesempatan kerja dan bagian hasil yang layak untuk menyangga keperluan hidup mereka: makanan/minuman, pakaian, rumah, kesehatan, kendaraan, keamanan dan pendidikan. Pembinaan kelompok-kelompok basis mengarah pada kesadaran situasi nyata. Mereka mendapatkan pelatihan untuk membaca situasi ekonomi setempat dengan penguasaan ketrampilan cara analisa sosial dan membuat jaringan-jaringan perjuangan keadilan. Bukan hanya itu. Dalam kelompok-kelompok basis perlu dilatihkan ketrampilan-ketrampilan usaha ekonomis. Karena ketrampilan sosial dan semangat perjuangan tanpa didampingi ketrampilan usaha ekonomis, membuat rakyat menjadi perampok. Dalam komunitas-basis juga para pengusaha besar sepantasnya selalu memelihara kesadaran untuk melibatkan rakyat lemah sebagai peserta usaha. Dengan keterlibatan komunitas-basis seperti itu masalah ekonomis secara personal dan struktural mendapatkan perhatian dan pengolahan dalam kiprah komunitas-basis. Gencarnya pelaksanaan undang-undang otonomi daerah sangat mendukung peran Komunitas-basis mewujudkan Indonesia Baru dalam tatanan ekonomi yang adil dan sejahtera.

3. Masalah etika, moral, tata nilai yang kita rasakan sekarang kacau, rusak.
Nampaknya masalah dasar adalah cekaman paham materialisme. Sementara rakyat keba-nyakan berada dalam situasi kekurangan, ada segelintir orang terbanjiri cara-cara hidup modern dan menggiurkan. Segi negatif arah pembangunan yang lebih menekankan ekonomi, yang berkaitan dengan memiliki barang dan uang. Dan kalau orang sudah terperangkap dalam barang, uang dan kenikmatan, apa saja di luar itu akan menjadi relatif. Kebendaan dan kenikmatan menjadi puncak kehidupan. Maka apapun untuk memenuhi kebutuhan itu dapat dilakukan, entah dengan membakar, merampok, menodong, membunuh. Rasa kemanusiaan hilang. Kalau yang menjadi ukuran nilai hidup adalah benda dan nikmat, manusiapun hanya dirasakan sebagai barang. Selanjutnya, juga tidak mustahil bahwa menipisnya kehidupan moral itu akibat sistim pemerintahan militerisme selama sekitar 32 tahun. Di sini orang menjadi "barang" yang geraknya mengikuti komando. Hidupnya adalah berperang. Semboyannya adalah "atau saya mati, atau engkau mati".

Komunitas-basis mempunyai peluang untuk menggarap nilai-nilai perikemanusiaan. Dalam pertemuan yang sering, apa lagi dengan acara mengenal keagungan Hati Yesus yang Maha-kudus, orang akan terbina mendalami dan merasukkan rahasia perasaan kemanusiaan; rasa menderita, kecewa, tertindas, tersingkir, terhina, senang penuh harapan, bangga, percaya diri, kejujuran, dihargai dan menghargai, setia-kawan, sependeritaan, bela-rasa, saling menolong, sayang, cinta-kasih, pengampunan, kerendahan hati. Dalam suasana gerak Komuni-tas-basis, nilai kemanusiaan itu diharapkan dapat berkembang. Dengan demikian jiwa ma-sing-masing anggota Komunitas-basis akan terangkat oleh kurnia Roh Kudus. Manusia adalah ciptaan rohani. Sebagai ciptaan rohani manusia diberi kurnia mampu membedakan roh. Ada roh jahat dan roh baik. Bagaimana orang dilatih untuk terampil pembedaan roh secara intelektual, secara rasa perasaan dan secara nurani.

4. Pengambangan religiusitas.
Ramainya perayaan liturgis keagamaan dan upacara-upacara liturgis adat serta kenegaraan ternyata tidak begitu berpengaruh pada dalamnya religiositas bangsa Indonesia. Tidak jarang semuanya itu untuk menjadi cara legitimasi tingkah-laku atau menutupi kejahatan hidup seseorang. Hidup sekular menyeret dan mendangkalkan kedalaman hidup manusia: politisasi upacara keagamaan, liturgi-liturgi untuk mencari uang. Kehidupan religiusitas yang sebetul-nya berwawasan universal "inklusif" dan mempersatukan cenderung menjadi "penghayatan agama" yang sektarian eksklusif. Orang atau kelompok merasa diri sebagai wakil Allah dan dengan sikap tanpa merasa bersalah mencap orang atau kelompok lain "kafir", maka mereka harus dimusnahkan.
Indonesia Baru memerlukan Komunitas-basis yang prihatin pada terwujudnya Kerajaan Allah. Komunitas-basis ini diharapkan mendarah-dagingkan kehadiran Allah dalam diri setiap anggota Komunitas-basis. Di samping itu, juga perlunya penanaman pengalaman kehadiran kuasa Allah pada kelompok secara kolektif. Kuasa Allah yang hadir dalam kebersamaan. Dengan demikian perlu adanya bekal gerakan lebih luas untuk menghayati dan mem-perjuangkan kesadaran masyrakat luas akan kehadiran Allah dalam setiap orang di dunia ini. Kesadaran ini hendaknya menjadi dasar gerak kerasulan mewujudkan persaudaraan sejati antar umat beriman dan umat lainnya.

E. KATA AKHIR

Pemberdayaan Komunitas-basis merupakan arah strategis kehidupan menggereja dan membangsa serta menegara umat katolik Indonesia dalam memasuki jaman bangsa Indonesia berolah kehidupan bersama yang adil dan sejahtera. Pola hidup berkomunitas basis sekarang ini masih dalam situasi "trial and error" untuk sampai pada pola hidup bersama yang paling baik. Umat Katolik harus berani menempuh proses "trial and error" tersebut dengan setiap kali bersedia memawasnya lagi dalam terang Roh. Karena pola hidup berkomunitas basis meru-pakan salah satu pola, maka kita perlu menyadari bahwa pada suatu saat kita dituntut untuk berpola yang lain sesuai dengan tuntutan jaman.
Purwokerto, 13 Mei 2001

Dikutip dari : http://www.bukumisa.co.cc/public_html/uskup/Mgr.%20Sunarka/komunitas-basis.html