Latest News

Thursday, 25 April 2013

Tari Jaipong Tari dari Jawa Barat

Jaipongan adalah sebuah genre seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan.

Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran.

Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.

Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/Doger/Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu/Doger/Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.

Kemunculan tarian karya Gugum Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan.



Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Jaipongan

Thursday, 18 April 2013

Rumah Bolon, Rumah Adat Batak Yang Tak Tergantikan


Rumah Bolon adalah rumah tradisi adat batak. Rumah bolon ini disebut juga rumah besar. Dahulu, rumah Bolon terlihat seperti bangunan istana dan sekelilingnya terdapat kuburan keluarga kerajaan Purba. Rumah Bolon dahulu ditinggali oleh keluarga Raja Purba beserta keturunannya pada abad XV.

Ada 13 kerajaan yang bergantian menempati rumah Bolon, yaitu Tuan Ranjinman, Tuan Nagaraja, Tuan Batiran, Tuan Bakkaraja, Tuan Baringin, Tuan Bonabatu, Tuan Rajaulan, Tuan Atian, Tuan Hormabulan, Tuan Raondop, Tuan Rahalim, Tuan Karel Tanjung, dan Tuan Mogang.

Perancang rumah Bolon ini ialah arsitektur kuno Simalungun. Pembangunan pertama rumah Bolon ini menggunakan bahan kayu, bambu, ijuk, dan tali. Sebagian besar rumah bolon ini terbuat dari kayu baik dari tiang kerangka rumah dan pintu namun terkecuali bagian atapnya. Namun rumah Bolon ini tidak menggunakan paku, tetapi diikat kuat dengan tali. Tinggi rumah Bolon sekitar dua meter dibantu dengan anak tangga yang jumlahnya ganjil untuk memasuki rumah ini.

Pada bagian depan rumah Bolon, tepatnya di atas pintu terdapat gorga (lukisan yang biasanya berwarna merah, hitam, dan putih) dan biasanya terdapat lukisan hewan seperti cicak, ular ataupun kerbau.

Dua hewan yang menjadi dekorasi rumah Bolon memiliki makna yang dalam. Pada gorga yang dilukis gambar hewan cicak bermakna orang batak mampu bertahan hidup dimanapun, walaupun dia merantau ke tempat yang jauh sekalipun, karena orang batak memiliki rasa persaudaraan yang sangat kuat dan tidak terputus antara sesama sukunya.

Sedangkan gambar kerbau bermakna sebagai ucapan terima kasih atas bantuan kerbau telah membantu manusia dalam pekerjaan ladang masyarakat.

Pintu pun dibuat sangat kecil, kurang dari satu meter dan jumlahnya ada dua buah. Hal ini memiliki makna, yaitu sibaba ni aporit (menghormati yang memiliki rumah), karena orang yang ingin masuk k edalam rumah ini, harus menunduk.

Keindahan rumah Bolon masih terus berlanjut. Atap yang menjadi pelindung rumah memiliki ciri khas yang unik. Dua ujung lancip di depan dan di belakang. Namun ujung pada bagian belakang lebih panjang, agar keturunan dari yang memiliki rumah lebih sukses nantinya. Pada bagian bawah rumah, merupakan tempat yang digunakan oleh si pemilik rumah untuk memelihara hewan ternaknya. Dahulu, yang sering dipelihara adalah kerbau.

Budaya rumah Bolon ini sampai sekarang tidak ditinggalkan oleh masyarakatnya. Terlihat hingga sekarang, bangunan-bangunan baru yang berdiri masih menggunakan konsep rumah Bolon.

�Rumah bolon ini tidak boleh dijual,� tegas Simarmata, pemilik rumah Bolon.

Ngatimin (59), yang mendalami budaya Batak mengatakan, masyarakat yang tinggal di Parapat dan sekitarnya masih menggunakan dan menjaga keaslian rumah Bolon.

Sumber :
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=151545:rumah-bolon-rumah-adat-tak-tergantikan&catid=66:pariwisata&Itemid=50

Wednesday, 10 April 2013

Sistem Perkawinan Menurut Adat Manggarai

a. Cangkang
Perkawinan di luar suku atau perkawinan antar suku. Dalam bahasa adanya dikatakan laki pe�ang atau wai pe�ang (anak wanita yang kawin di luar suku). Orang yang laki pe�ang atau wai pe�ang membuka jalur hubungan baru dengan suku-suku lain. Dengan itu keluarga besar lebih lebar jangkauan hubungan woe nelu-nya. Dari praktek orang tua tempo dulu, orang yang laki pe�ang bukan sembarang orang. Biasanya dari kalangan keluarga yang mampu membayar belis atau paca. Karena paca itu sendiri bukan cuma soal uang atau hewan, tetapi terutama soal harga diri dan martabat dari kedua belah pihak, antara keluarga pria dan wanita.

b. Tungku
Perkawinan untuk mempertahankan hubungan woe nelu, hubungan anak rona dengan anak wina yang sudah terbentuk akibat perkawinan cangkang. Laki-laiki dan wanita yang kawin tungku disebut saja laki one dan wai leleng one.
Pemuda yang laki one dapat berarti pria yang kawin tungku, juga berarti perkawinan terjadi di dalam atau di sekitar kampung asalnya.
Demikian pula terhadap wanita yang wai leleng one. Berbicara tentang paca untuk orang yang laki one dan wai leleng one tergantung pada jenis tungku.

Menurut adat Manggarai ada beberapa jenis tungku :
- Tungku cu atau tungku dungka
Kawin antara anak laki-laki dari ibu kawin dengan anak perempuan dari saudara itu atau om.
- Tungku nereng nara
- Tungku anak de due
- Tungku canggot
- Tungku ulu atau tungku sa�i
- Tungku salang manga
- Tungku dondot

c. Cako
Perkawinan dalam suku sendiri. Biasanya anak laki-laki dari keturunan adik dan anak perempuan dari keturunan kakak. Disebut juga sebagai perkawinan cako cama tau. Perkawinan cako biasanya orang tua mulai mencobanya pada lapisan ketiga atau lapisan keempat dalam daftar silsilah keluarga. Mengapa dikatakan mencoba? Karena menurut adat Manggarai, tidak semua perkawinan cako direstui mori agu ngaran. Orang Manggarai percaya bahwa Tuhan-lah yang menentukan apakan perkawinan itu direstui atau tidak. Ada bukti bahwa perkawinan cako tidak direstui, bahwa kedua insan yang menikah itu mati pada usia muda sebelum memperoleh anak.
Perkawinan cako cama salang artinya perkawinan yang dilangsungkan dengan sesama anak wina. Dalam konteks ini belis tidak dituntut sesuai dengan kemampuan kita. Berlaku ungkapan tama beka salang agu beka weki.

Sumber :
http://chyntia-abbo.blogspot.com/2012/03/sistem-perkawinan-adat-manggarai.html