Latest News

Friday, 22 March 2013

Tari Cokek Adalah Tarian Khas Tangerang

 INDONESIA KAYA BUDAYA
Tari cokek adalah tarian khas Tangerang, yang diwarnai budaya etnik China. Tarian ini diiringi orkes gambang kromong ala Betawi dengan penari mengenakan kebaya yang disebut cokek. Tarian Cokek mirip sintren dari Cirebon atau sejenis ronggeng di Jawa Tengah. Tarian ini kerap identik dengan keerotisan penari, yang dianggap tabu oleh sebagian masyarakat lantaran dalam peragaannya, pria dan wanita menari berpasangan dalam posisi berdempet-dempetan. Cokek sendiri merupakan tradisi lokal masyarakat Betawi dan China Benteng, yaitu kelompok etnis China yang nyaris dipinggirkan, dan kini banyak bermukim di Tangerang.

Menurut Ninuk Kleden Probonegoro, seorang peneliti dari LIPI, banyak versi tentang awal kelahiran seni rakyat ini. Versi pertama, cerita dimulai pada masa tuan-tuan tanah menguasai Betawi sekitar abad ke-19, khususnya di daerah yang saat ini dikenal dengan nama Kota atau Beos. Di sana banyak tinggal tuan tanah kaya. Setiap malam Minggu, mereka biasa mengadakan pesta.

Para tuan tanah ini biasanya juga banyak memiliki pembantu yang mahir bermain musik dan menari. Umumnya pesta para tuan tanah ini dimeriahkan oleh musik dari rombongan Gambang Kromong. Saat itulah para pembantu tuan tanah yang terdiri dari gadis-gadis muda itu, melayani tamu-tamu lelaki untuk menari. Mereka itulah yang kemudian disebut sebagai penari Cokek.

Versi kedua, Cokek berasal dari Teluk Naga di Tangerang. Menutut versi ini, pada saat itu, daerah Tanjung Kait dikuasai oleh tuan tanah bernama Tan Sio Kek. Seperti biasa tuan tanah kaya lainnya, Tan Sio Kek juga mempunyai sebuah kelompok musik.Pada suatu hari, datang tiga orang bercocing, yaitu rambut yang dikepang satu. Diduga berasal dari daratan China. Ketiga orang ini membawa tiga buah alat musik yaitu, Tehiyan, Su Khong dan Khong ahyan. Ternyata ketiga orang itu juga mahir bermain musik.

Ketika malam tiba, ketiga orang tersebut berkenan memainkan alat-alat musiknya. Tiga alat musik yang mereka bawa itu kemudian dimainkan bersama-sama alat musik kampung yang dimiliki oleh grup musik milik tuan tanah Tan Sio Kek. Dari perpaduan bunyi berbagai alat musik yang dimainkan oleh para pemusik tersebut, lahirlah musik Gambang Kromong.

Sedangkan para gadis yang menari dengan iringan irama musik itu, kemudian disebut sebagai Cokek, yang diartikan anak buah Tan Sio Kek. Seperti halnya Nie Hukong, Tan Sio Kek lebih dapat menikmati tarian dan nyanyian para cokek, yaitu para penyanyi cokek merangkap penari pribumi yang biasa diberi nama bunga-bunga harum di Tiongkok, seperti Bwee Hoa, Han Siauw, Hoa, Han Siauw dan lain-lain. Dalam perkembangannya, walau kelompok Gambang Kromong bila mendapat undangan pentas mendapatkan honor atau bayaran, namun para Cokek, atau penari perempuan itu, tidak dibayar, tetapi mencari bayaran sendiri dari para lelaki yang mengajak mereka menari atau ngibing.

Bawah Rambutnya tersisir rapih licin ke belakang. Ada pula yang dikepang kemudian disanggulkan yang bentuknya tidak begitu besar, dihias dengan tusuk konde bergoyang-goyang.

Tamu Terhormat
Sebagai pembukaan pada tari Cokek ialah wawayangan. Penari Cokek berjejer memanjang sambil melangkah maju mundur mengikuti irama gambang kromong. Rentangan tangannya setinggi bahu meningkah gerakan kaki. Setelah itu penari Cokek menari bersama dengan mengalungkan selendang pertama-tama kepada tamu yang dianggap paling terhormat. Bila yang diserahi selendang itu bersedia ikut menari maka mulailah mereka ngibing, menari berpasang-pasangan. Tiap pasang berhadapan pada jarak yang dekat tetapi tidak saling bersentuhan. Ada kalanya pula pasangan-pasangan itu saling membelakangi. Kalau tempatnya cukup leluasa biasa pula ada gerakan memutar dalam lingkaran yang cukup luas.

Pakaian penari cokek biasanya terdiri atas baju kurung dan celana panjang dari bahan semacam sutera berwarna. Ada yang berwarna merah menyala, hijau, ungu, kuning dan sebagainya, polos dan menyolok. Di ujung sebelah bawah celana biasa diberi hiasan dengan kain berwarna yang serasi. Selembar selendang panjang terikat pada pinggang dengan kedua ujungnya terurai ke bawah Rambutnya tersisir rapih licin kebelakang. Ada pula yang dikepang kemudian disanggulkan yang bentuknya tidak begitu besar, dihias dengan tusuk konde bergoyang-goyang.

Dinamis dan Erotis
SUARA tiga alat musik gesek asal daratan China, khongahyan, tehiyan, dan su khong, cukup menyayat menusuk gendang telinga. Namun tiga alat gesek khas China itu, seakan memberikan harmonisasi komposisi gambang kromong saat mengiringi tarian onde-onde hasil pengembangan tari Cokek.

Ketiga alat gesek akan terdengar semakin memekik manakala pukulan kendang dan kecrek dimainkan dalam tempo cepat. Distorsi yang dihasilkan justru semakin membuat ritme tarian empat penari Cokek, memperlihatkan goyangan pinggulnya mengikuti irama. Mereka seakan tidak mengenal lelah terus melenggang ditingkahi musik gambang kromong menciptakan irama penuh keriangan. Posisi tubuh penari yang terkadang tegak dan terkadang membungkuk, menampilkan kesan erotis. Demikian pula saat pinggul digoyang, hanya sesekali berputar selebihnya melenggang.

Tarian onde-onde tidak hanya memperlihatkan sisi erotis, tetapi juga dinamisasi gerak. Semisal di sela selancar serta matuk, juga diselingi gerakan nguk-nguk (loncat) yang dilakukan secara bersama-sama. Ada kalanya tarian ditingkahi gerakan tangan dan kepala, mengikuti entakan suara gendang dan kecrek saat tempo nada cepat. Namun gerakan sang penari dapat berubah tiba-tiba manakala te hi ang, su khong, dan khong a yan, mendominasi musik pengiring. Dalam gerakan, antara onde-onde yang belakangan. Dimasukkan dalam khasanah tarian Betawi dengan jaipongan yang juga masuk khasanah tarian Jawa Barat, merupakan bentuk tarian pengembangan dari tarian tradisional. Tarian onde-onde merupakan pengembangan tarian cokek, sedangkan jaipongan pengembangan dari ketuk tilu.

Cokek ini termasuk dalam genre tari rakyat, yaitu tari yang hidup dan berkembang di kalangan rakyat jelata. Genre tari ini terlahir dan dihidupkan oleh komunitas etnik. Secara fungsi untuk upacara dan hiburan, tariannya dapat dibilang sederhana. Dalam penyajiannya jarak antara penonton dan pemain begitu lentur, dengan kata lain tidak ada jarak estetis, serta seluruh penonton terlibat langsung dalam pertunjukkannya. Selain Cokek dari Tangerang, yang termasuk genre tari rakyat antara lain: sisingaan, doger kontrak dari Subang, ketuk tilu, benjang dari Bandung, ronggeng gunung, badud, ronggeng kaler dari Ciamis, ronggeng uyeg dari Sukabumi, angklung sered dari Tasikmalaya, angklung gubrag dari Bogor, angklung Baduy dari Kabupaten Lebak, topeng banjet dan bajidoran dari Karawang.

Sumber :
http://azimutyo.blogspot.com/2008/04/seni-dan-budaya-tangerang_02.html

Saturday, 16 March 2013

Mengenali Rumah Adat Bugis Makassar

Rumah adat Bugis Makassar tidak hanya unik karena bentuknya namun juga karena landasan filosofinya. Bangunan yang kini makin sulit ditemui itu setidaknya menggambarkan 3 hal yakni botting langi (dunia atas), ale kawa (dunia tengah) dan awa bola (dunia bawah).

Boting langi atau dunia atas menggambarkan bahwa kehidupan diatas alam sadar manusia terkait dengan kepercayaan yang tidak nampak. Seperti dalam pemahaman budaya Makassar bahwa di dunia atas tersebut bersemayam Dewi Padi. Karena pemahaman inilah maka banyak masyarakat Bugis yang menggunakan bagian atas rumah sebagai tempat penyimpanan padi dan hasil pertanian lainnya. Sedangkan ale kawa menunjukkan bahwa di kehidupan manusia selalu terkait dengan aktivitas keseharian. Nah, pada rumah tradisional Bugis Makassar ada tiga bagian rumah yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari seperti bagian depan yang digunakan untuk menerima kerabat, bagian tengah untuk ruang tidur dan ruang dalam untuk kamar tidur anak. Sementara itu, dunia bawah atau awa bola mengacu pada ruangan yang digunakan untuk mencari rejeki seperti tempat menyimpan alat-alat pertanian, tempat menenun, kandang binatang dan tempat bermain bagi anak-anak.

Menariknya, rumah tradisional Bugis Makassar dapat dibedakan berdasarkan status sosial si empunya. Rumah saoraja adalah rumah besar yang ditempati para keturunan raja atau kaum bangsawan. Sedangkan bola adalah rumah yang ditempati rakyat biasa. Sebenarnya baik saoraja maupun bola memiliki tipologi yang sama. Keduanya sama-sama memiliki berbentuk persegi panjang. Hanya saja, saoraja berukuran lebih luas. Atapnya yang berbentuk prisma � biasa disebut timpak laja � bertingkat-tingkat antara 3 hingga 5 sesuai dengan kedudukan penghuninya.

Selain unik secara filosofis dan bentuk, proses pendirian rumah juga sangat menarik. Si empunya harus meminta pertimbangan dari panrita bola untuk mencari tempat dan arah yang dianggap baik. Beberapa prinsip dalam pendirian rumah adalah sebaiknya menghadap matahari terbit, menghadap ke dataran tinggi dan menghadap ke salah satu arah mata angin. Waktu pendirian rumah juga tidak bisa sembarangan. Biasanya hari atau bulan baik ditentukan oleh mereka yang memilki kepandaian dalam hal tersebut. Sebelum rumah didirikan didahului dengan upacara ritual yang kemudian diteruskan dengan mendirikan bagian-bagian rumah secara berurutan. Tiang pusat utama rumah terlebih dahulu dikerjakan, kemudian baru tiang-tiang yang lain.


Sumber :
http://suara.asia/mengenali-rumah-adat-bugis-makassar/

Thursday, 14 March 2013

Tanggap Wacana Upacara Mitoni - Sesorah (pidato bahasa Jawa)

Berikut adalah contoh pidato / sambutan dalam bahasa Jawa untuk memulai upacara "Mitoni".

Ing ngisor iki tuladha teks pidato utawa tanggap wacana acara adat �Mitoni�. Coba gatekna bab isi lan urut-urutane tanggap wacana.

Mahardhikeng tyas ring kamardhikan

Nuwun
Dhumateng para sesepuh saha pinisepuh ingkang dahat kinurmatan,
Dhumateng pamangku gati ingkang kula urmati,
Dhumateng para tamu undangan ingkang minulya.

Langkung rumiyin sumangga kula lan penjenengan sedaya ngaturaken raos syukur dhumateng ngarsanipun Gusti Ingkang Murbeng Dumadi ingkang sampun maringi kasarasan sarta kalodhangan, saengga kita saged anjenengi acara ing wekdal menika inggih acara tingkepan utawi mitoni garwanipun bapak Zainul Ma�arif kanthi boten wonten alangan menapa-menapa. Mugi-mugi kemawon ing dalem kekempalan kita dinten samenika wonten manfaatipun. Amin.

Para rawuh ingkang kula urmati.
Panjenengan sedaya kaaturan rawuh ing wekdal menika, inggih boten sanes amargi raos syukuripun bapak Zainul Ma�arif dhumateng ngarsanipun Gusti, amargi sadangu mangun bale wisma sampun ngajeng-ajeng momongan utawi putra ing dalem kulawarganipun.
Samenika pangajeng-ajeng menika sampun kalampah kanthi tetenger mbobotipun garwanipun ingkang sampun ngancik pitung sasi. Pramila saking menika Bapak Zainul Ma�arif sakulawarga nyuwun donga pangestunipun saking para rawuh, supados jabang bayi ingkang taksih wonten madaran menika pinaringan selamet, semanten ugi ibunipun. Lan mugi-mugi anggenipun lair dipunparingi gancar, lancar, sarta selamet kekalihipun.

Para rawuh ingkang kinurmatan,
Mugia kita sedaya dados tiyang ingkang estu-estu ngabekti dhumateng tiyang sepuh kalih. Semanten ugi, mugi-mugi Bapak Zainul Ma�arif sakulawarga benjang dipunparingi putra ingkang tansah ngabekti marang tiyang sepuhipun, migunani tumrap nusa, bangsa sarta agami. Amin. Cekap semanten saking kawula, minangka panutuping atur,

Nuwun

Sumber :
http://nguriurijawa.blogspot.com/2010/05/mitonisesorah-pidato-bhs-jawa.html

Tuesday, 12 March 2013

Rumah Tradisional Batak Toba

Perkampungan suku Batak Toba mengikuti pola berbanjar dua, yaitu suatu tata ruang lingkungan dengan komunitas yang utuh dan mantap. Desanya disebut lumban / huta yang dilengkapi 2 pintu gerbang (bahal) di sisi utara dan selatan huta. Sekeliling kampong dipagar batu setinggi 2.00 m, yang disebut parik.

Di setiap sudut dibuat menara untuk mengintai musuh. Menurut sejarahnya, antar sesama suku Batak sering sekali berperang. Itu sebabnya bentuk kampungnya menyerupai benteng, Huta masih dapat disaksikan di Kabupaten Tapanuli Utara di desa-desa Tomok, Ambarita, Silaen, dan Lumban Nabolon Parbagasan. Desa-desa tersebut merupakan daya tarik wisata budaya yang banyak dikunjungi wisatawan.

Makna dan Simbolisme
Pola penataan desa atau lumban / huta terdiri dari beberapa ruma dan sopo. Perletakan ruma dan sopo tersebut saling berhadapan dan mengacu pada poros utara selatan. Sopo merupakan lumbung, sebagi tempat penyimpanan makanan. Dalam hal ini, menunjukkan bahwa masyarakat Batak selalu menghargai kehidupan, karena padi merupakan sumber kehidupan bagi mereka.

Penafsiran
Pola penataan lumban yang terlindungi dengan pagar yang kokoh, dengan dua gerbang yang mengarah utara-selatan, menunjukkan bahwa masyarakat Batak, memiliki persaingan dalam kehidupan kesehariannya. Jika kita mengamati peta perkampungan.

Arsitektur Tradisional Batak Toba
Batak, maka dapat kita ketahui terdapat beragam suku Batak, dengan lokasi yang berdekatan. Oleh karena iu, pola penataan lumban berbentuk lebih menyerupai sebuah benteng dari pada sebuah desa.

Pada penataan bangunan yang sangat menghargai keberadaan sopo, yaitu selalu berhadapan dengan ruma. Hal ini menunjukkan pola kehidupan masyarakat Batak Toba yang didominasi oleh bertani, dengan padi sebagai sumber kehidupan yang sangat dihargainya. Di dalam lumban, terdapat beberapa rumah dan sopo yang tertata secara linear. Beberapa ruma tersebut menunjukkan bahwa ikatan keluarga yang dikenal dengan extended family dapat kita ketemukan dalam masyarakat Batak Toba.

Kajian Perangkaan
Ahli bangunan adat (arsitek tradisional) suku Batak disebut pande. Seperti rumah tradisional lain, rumah adat Batak merupakan mikro kosmos perlambang makro kosmos yang terbagi alas 3 bagian atau tritunggal banua, yakni banua tongga (bawah bumi) untuk kaki rumah, banua tonga (dunia) untuk badan rumah, banua ginjang (singa dilangit) untuk atap rumah.

Arsitektur Batak Toba terdiri atas ruma dan sopo (lumbung) yang saling berhadapan. Ruma dan sopo dipisahkan oleh pelataran luas yang berfungsi sebagai ruang bersama warga huta. Ada beberapa sebutan untuk rumah Batak, sesuai dengan kondisi rumahnya. Rumah adat dengan banyak hiasan (gorga), disebut Ruma Gorga Sarimunggu atau Jabu.

Batara Guru. Sedangkan rumah adat yang tidak berukir, disebut Jabu Ereng atau Jabu Batara Siang. Rumah berukuran besar, disebut Ruma Bolon. dan rumah yang berukuran kecil, disebut Jabu Parbale-balean. Selain itu, terdapat Ruma Parsantian, yaitu rumah adat yang menjadi hak anak bungsu.

Sumber :
http://clubbing.kapanlagi.com/threads/104667-Rumah-Tradisional-Batak-Toba

Friday, 8 March 2013

Seni Tari Honari Mosega dari Sulawesi Tenggara

Indonesia tak hanya dianugerahi dengan kekayaan alam yang indah, negeri ini juga di anugerahi dengan beragam kebudayaan yang unik dan menarik. Salah satu kebudayaan yang bisa Anda nikmati hingga sekarang adalah seni tari Honari Mosega.

Kesenian ini adalah tarian perang asli asal Liya, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara. Kesenian Tari Tradisonal ini merupakan kebanggaan masyarakat Liya yang mengisahkan tarian berani.

Dahulu kala seni tari Honari Mosega di atraksikan sebelum dan sesudah perang. Tarian ini diadakan sebagai pengungkapan dan motivasi dari semangat prajurit Liya ketika akan berperang mengusir musuh dan kegembiraan mereka karena pulang dengan kemenangan keberhasilan menaklukan musuh.

Tari ini dimainkan oleh beberapa laki-laki, terdiri dari 1 penari inti disebut tompidhe dengan memegang tombak atau parang, dan dilengkapi dengan 1 atau 4 orang sebagai hulubalang yang disebut manu-manu moane dengan memegang tombak dan janur kuning sebagai penghalau bisa atau sihir. Kadang terdapat pula hulubalang wanita yang disebut manu-manu wowine serta 1 orang pemukul gendang atau tamburu.

Penari Tompidhe dan Manu-manu Moane dilengkapi dengan untaian gemerincing dan dalam gerakannya akan selalu menimbulkan bunyi. Terdapat gerakan meloncat dan maju lalu mundur secara beraturan sebagai gerakan silat Liya yang disebut Makanjara, yang dilakukan karena kegembiraan atas kemenangan mereka dalam berperang.

Tari Honari Mosega selama masa kesultanan buton sering ditampilkan pada acara-acara penyambutan tamu agung, maupun perangkatnya serta acara-acara adat yang berlaku hanya dalam lingkup keturunan para bangsawan Liya.

Sumber :
http://www.casavina.com/seni/seni-tari-honari-mosega-sulawesi-tenggara/

Thursday, 7 March 2013

Mengenal Tari Kabasaran (Cakalele) dari Minahasa

Menari dengan pakaian serba merah, mata melotot, wajah garang, diiringi tambur sambil membawa pedang dan tombak tajam, membuat tarian kabasaran amat berbeda dengan tarian lainnya di Indonesia yang umumnya mengumbar senyum dengan gerakan yang lemah gemulai.

Tarian ini merupakan tarian keprajuritan tradisional Minahasa, yang diangkat dari kata; Wasal, yang berarti ayam jantan yang dipotong jenggernya agar supaya sang ayam menjadi lebih garang dalam bertarung.

Tarian ini diiringi oleh suara tambur dan / atau gong kecil. Alat musik pukul seperti Gong, Tambur atau Kolintang disebut �Pa � Wasalen� dan para penarinya disebut Kawasalan, yang berarti menari dengan meniru gerakan dua ayam jantan yang sedang bertarung.

Kata Kawasalan ini kemudian berkembang menjadi Kabasaran yang merupakan gabungan dua kata �Kawasal ni Sarian� �Kawasal� berarti menemani dan mengikuti gerak tari, sedangkan �Sarian� adalah pemimpin perang yang memimpin tari keprajuritan tradisional Minahasa. Perkembangan bahasa melayu Manado kemudian mengubah huruf �W� menjadi �B� sehingga kata itu berubah menjadi Kabasaran, yang sebenarnya tidak memiliki keterkaitan apa-apa dengan kata �besar� dalam bahasa Indonesia, namun akhirnya menjadi tarian penjemput bagi para Pembesar-pembesar.

Pada jaman dahulu para penari Kabasaran, hanya menjadi penari pada upacara-upacara adat. Namun, dalam kehidupan sehari-harinya mereka adalah petani. Apabila Minahasa berada dalam keadaan perang, maka para penari kabasaran menjadi Waranei (prajurit perang). Bentuk dasar dari tarian ini adalah sembilan jurus pedang (santi) atau sembilan jurus tombak (wengkouw) dengan langkah kuda-kuda 4/4 yang terdiri dari dua langkah ke kiri, dan dua langkah ke kanan.

Tiap penari kabasaran memiliki satu senjata tajam yang merupakan warisan dari leluhurnya yang terdahulu, karena penari kabasaran adalah penari yang turun temurun. Tarian ini umumnya terdiri dari tiga babak (sebenarnya ada lebih dari tiga, hanya saja, sekarang ini sudah sangat jarang dilakukan).

Babak � babak tersebut terdiri dari :

1. Cakalele, yang berasal dari kata �saka� yang artinya berlaga, dan �lele� artinya berkejaran melompat � lompat. Babak ini dulunya ditarikan ketika para prajurit akan pergi berperang atau sekembalinya dari perang. Atau, babak ini menunjukkan keganasan berperang pada tamu agung, untuk memberikan rasa aman pada tamu agung yang datang berkunjung bahwa setan-pun takut mengganggu tamu agung dari pengawalan penari Kabasaran.

2. Babak kedua ini disebut Kumoyak, yang berasal dari kata �koyak� artinya, mengayunkan senjata tajam pedang atau tombak turun naik, maju mundur untuk menenteramkan diri dari rasa amarah ketika berperang. Kata �koyak� sendiri, bisa berarti membujuk roh dari pihak musuh atau lawan yang telah dibunuh dalam peperangan.

3. Lalaya�an. Pada bagian ini para penari menari bebas riang gembira melepaskan diri dari rasa berang seperti menari �Lionda� dengan tangan dipinggang dan tarian riang gembira lainnya. Keseluruhan tarian ini berdasarkan aba-aba atau komando pemimpin tari yang disebut �Tumu-tuzuk� (Tombulu) atau �Sarian� (Tonsea). Aba-aba diberikan dalam bahasa sub�etnik tombulu, Tonsea, Tondano, Totemboan, Ratahan, Tombatu dan Bantik. Pada tarian ini, seluruh penari harus berekspresi Garang tanpa boleh tersenyum, kecuali pada babak lalayaan, dimana para penari diperbolehkan mengumbar senyum riang.

Busana yang digunakan dalam tarian ini terbuat dari kain tenun Minahasa asli dan kain �Patola�, yaitu kain tenun merah dari Tombulu dan tidak terdapat di wilayah lainnya di Minahasa, seperti tertulis dalam buku Alfoersche Legenden yang di tulis oleh PN. Wilken tahun 1830, dimana kabasaran Minahasa telah memakai pakaian dasar celana dan kemeja merah, kemudian dililit ikatan kain tenun. Dalam hal ini tiap sub-etnis Minahasa punya cara khusus untuk mengikatkan kain tenun. Khusus Kabasaran dari Remboken dan Pareipei, mereka lebih menyukai busana perang dan bukannya busana upacara adat, yakni dengan memakai lumut-lumut pohon sebagai penyamaran berperang.

Sangat disayangkan bahwa sejak tahun 1950-an, kain tenun asli mulai menghilang sehingga kabasaran Minahasa akhirnya memakai kain tenun Kalimantan dan kain Timor karena bentuk, warna dan motifnya mirip kain tenun Minahasa seperti : Kokerah, Tinonton, Pasolongan, Bentenen. Topi Kabasaran asli terbuat dari kain ikat kepala yag diberi hiasan bulu ayam jantan, bulu burung Taong dan burung Cendrawasih. Ada juga hiasan tangkai bunga kano-kano atau tiwoho. Hiasan ornamen lainnya yang digunakan adalah �lei-lei� atau kalung-kalung leher, �wongkur� penutup betis kaki, �rerenge�en� atau giring-giring lonceng (bel yang terbuat dari kuningan).

Pada jaman penjajahan Belanda tempo dulu , ada peraturan daerah mengenai Kabasaran yang termuat dalam Staatsblad Nomor 104 B, tahun 1859 yang menetapkan bahwa
1. Upacara kematian para pemimpin negeri (Hukum Basar, Hukum Kadua, Hukum Tua) dan tokoh masyarakat, mendapat pengawalan Kabasaran. Juga pada perkawinan keluarga pemimpin negeri.
2. Pesta adat, upacara adat penjemputan tamu agung pejabat tinggi Belanda Residen, kontrolir oleh Kabasaran.
3. Kabasaran bertugas sebagai �Opas� (Polisi desa).
4. Seorang Kabasaran berdinas menjaga pos jaga untuk keamanan wilayah setahun 24 hari.

Kabasaran yang telah ditetapkan sebagai polisi desa dalam Staatsblad tersebut diatas, akhirnya dengan terpaksa oleh pihak belanda harus ditiadakan pada tahun 1901 karena saat itu ada 28 orang tawanan yang melarikan diri dari penjara Manado. Untuk menangkap kembali seluruh tawanan yang melarikan diri tersebut, pihak Belanda memerintahkan polisi desa, dalam hal ini Kabasaran, untuk menangkap para tawanan tersebut. Namun malang nasibnya para tawanan tersebut, karena mereka tidak ditangkap hidup-hidup melainkan semuanya tewas dicincang oleh Kabasaran. Para Kabasaran pada saat itu berada dalam organisasi desa dipimpin Hukum Tua. Tiap negeri atau kampung memiliki sepuluh orang Kabasaran salah satunya adalah pemimpin dari regu tersebut yang disebut �Pa�impulu�an ne Kabasaran�. Dengan status sebagai pegawai desa, mereka mendapat tunjangan berupa beras, gula putih, dan kain.

Sungguh mengerikan para Kabasaran pada waktu itu, karena meski hanya digaji dengan beras, gula putih, dan kain, mereka sanggup membantai 28 orang yang seluruhnya tewas dengan luka-luka yang mengerikan.

Sumber :
http://www.theminahasa.net/social/stories/kabasaranid.html

Tuesday, 5 March 2013

Mengenal Sejarah Tari Cokek Dari Tangerang Banten

 Infotangsel.co.id
Salah satu tradisi tarian tradisional dari daerah Tangerang yang cukup terkenal di provinsi Banten yakni Tari Cokek. Cokek adalah sebuah tarian tradisional dari daerah Tangerang yang dimainkan kali pertama sekitar abad ke-19. Ketika itu, tarian ini diperkenalkan oleh Tan Sio Kek, seorang tuan tanah Tionghoa di Tangerang yang sedang merayakan pesta. Dalam perayaan pesta itu, Tan Sio Kek mengundang beberapa orang ternama yang tinggal di Tangerang. Tan Sio Kek mengundang juga tiga orang musisi yang berasal dari daratan Cina. Ketika itu, para musisi Cina hadir sambil membawa beberapa buah alat musik dari negara asalnya.

Salah satu alat musik yang mereka bawa yakni Rebab Dua Dawai. Atas permintaan Tan Sio Kek, musisi itu kemudian memainkan alat musik yang mereka bawa dari daratan Cina. Pada saat yang bersamaan, grup musik milik Tan Sio Kek juga memainkan beberapa alat musik tradisional dari daerah Tangerang, seperti seruling, gong serta kendang.



Lantunan nada dari perpaduan alat musik daratan Cina dan Tangerang itu kemudian dikenal dengan nama musik Gambang Kromong. Untuk meramaikan suasana pesta, Tan Sio Kek menghadirkan tiga orang wanita. Sesuai permintaan Tan Sio Kek, mereka menari mengikuti alunan musik yang dimainkan para musisi. Para tamu yang menghadiri pesta menyebut ketiga penari itu Cokek. Konon, Cokek merupakan sebutan bagi anak buah Tan Sio Kek. Sejak saat itulah, masyarakat Tangerang di provinsi Banten mulai mengenal nama tari Cokek.

Jika awalnya, tari Cokek hanya dimainkan oleh tiga orang penari wanita. Kini, pertunjukan Cokek seringkali dimainkan oleh 5 hingga 7 orang penari wanita dan beberapa orang lelaki sebagai pemain musik. Setiap kali pertunjukan, penampilan penari Cokek disesuaikan dengan ciri khas wanita Banten yakni mengenakan kebaya dan kain panjang sebagai bawahan. Biasanya, warna kebaya yang dikenakan para penari Cokek relatif berkilau ketika terkena sinar lampu, seperti hijau, merah, kuning, serta ungu. Yang tak pernah ketinggalan dari penari Cokek yakni sehelai selendang.

Di daerah Tangerang, tari Cokek biasanya dimainkan sebagai pertunjukan hiburan saat warga Cina Benteng menyelenggarakan pesta pernikahan. Warga Cina Benteng merupakan warga Tionghoa keturunan yang tinggal di daerah Tangerang. Seringkali, tarian ini juga dimainkan sebagai tari penyambutan bagi tamu kehormatan yang berkunjung ke Tangerang. Lantunan musik Gambang Kromong dan gerakan penari yang terlihat gemah gemulai menjadi ciri khas dari pertunjukan tari Cokek. Di tengah pertunjukan, penari Cokek biasanya turun ke barisan penonton untuk memilih siapa yang akan diajak untuk menari bersama. Setiap kali tari Cokek dimainkan, tidak semua penari dapat menari bersama penari Cokek.

Jika pertunjukan Cokek diselenggarakan untuk acara pernikahan, penari Cokek biasanya mengajak pengantin lelaki atau beberapa orang tamu undangan untuk menari bersama. Ketika diselenggarakan untuk menyambut tamu kehormatan, pejabat setempat dan tamu kehormatan itulah yang mendapat kesempatan pertama menari bersama penari Cokek.

Tanda ajakan dari penari yakni sehelai selendang yang dikalungkan ke leher para tamu. Masyarakat Tangerang beranggapan, jika sehelai selendang dari penari Cokek telah dikalungkan, pantang bagi tamu itu ataupun siapa saja untuk menolak. Penolakan itu diyakini dapat mencemarkan nama baik mereka sendiri. Biasanya, para tamu itulah yang nantinya menari bersama para penari Cokek hingga pertunjukan tari Cokek usai.

Sumber :
http://id.voi.co.id/fitur/voi-pesona-indonesia/2802-mengenal-sejarah-tari-cokek-dari-tangerang-banten.html

Monday, 4 March 2013

Deskripsi Tari Radap Rahayu

Sinopsis Tari Radap Rahayu

Asal muasal Tari Radap Rahayu adalah ketika Kapal Perabu Yaksa yang ditumpangi Patih Lambung Mangkurat yang pulang lawatan dari Kerajaan Majapahit, ketika sampai di Muara Mantuil dan akan memasuki Sungai Barito, kapal Perabu Yaksa kandas di tengah jalan. Perahu menjadi oleng dan nyaris terbalik. Melihat ini, Patih Lambung Mangkurat lalu memuja �Bantam� yakni meminta pertolongan pada Yang Maha kuasa agar kapal dapat diselamatkan. Tak lama dari angkasa turunlah tujuh bidadari ke atas kapal kemudian mengadakan upacara beradap-radap. Akhirnya kapal tersebut kembali normal dan tujuh bidadari tersebut kembali ke Kayangan. Kapal melanjutkan pulang ke Kerajaan Dwipa.

Dari cerita ini lahirlah Tari �Radap Rahayu� (anonim). Tarian ini sangat terkenal di Kerajaan Banjar karena dipentaskan setiap acara penobatan raja serta pembesar-pembesar kerajaan dan juga sebagai tarian penyambut tamu kehormatan yang datang ke Banua Banjar, upacara perkawinan, dan upacara memalas banua sebagai tapung tawar untuk keselamatan. Tarian ini termasuk jenis tari klasik Banjar dan bersifat sakral.

Dalam tarian ini diperlihatkan para bidadari dari kayangan turun ke bumi untuk memberikan doa restu serta keselamatan. Gerak ini diperlihatkan pada gerakan awal serta akhir tari dengan gerak �terbang layang�. Syair lagu Tari Radap Rahayu diselingi dengan sebuah nyanyian yang isi syairnya mengundang makhluk-makhluk halus (bidadari) ketika ragam gerak �Tapung Tawar�, untuk turun ke bumi.

Jumlah penari Radap Rahayu selalu menunjukkan bilangan ganjil, yaitu : 1,3,5,7 dan seterusnya. Tata Busana telah baku yaitu baju layang. Hiasan rambut mengggunakan untaian kembang bogam. Selendang berperan untuk melukiskan seorang bidadari, disertai cupu sebagai tempat beras kuning dan bunga rampai untuk doa restu dibawa para penari di tangan kiri.

Seiring lenyapnya Kerajaan Dwipa, lenyap juga Tari Radap Rahayu. Tarian tersebut kembali digubah oleh seniman Kerajaan Banjar bernama Pangeran Hidayatullah. Namun kembali terlupakan ketika berkecamuknya perang Banjar mengusir penjajah Belanda. Pada tahun 1955 oleh seorang Budayawan bernama Kiayi Amir Hasan Bondan membangkitkan kembali melalui Kelompok Tari yang didirikannya bernama PERPEKINDO (Perintis Peradaban dan Kebudayaan Indonesia) yang berkedudukan di Banjarmasin. Sampai saat ini PERPEKINDO masih aktif mengembangkan dan melestarikan Tari Radap Rahayu.

RAGAM GERAK TARI RADAP RAHAYU

1. Tarbang Layang
* Gerak kaki jinjit keduanya, lutut ditekuk sedikit, berjalan cepat dengan langkah kecil-kecil, turun naik pada hitungan 2,4,6,8
* Tangan kiri memegang cupu setinggi antara dada dan perut.
* Gerak tangan dilimbaikan di atas cupu dan kesamping kanan badan berulang-ulang selaras dengan turun naik gerak kaki.
* Gerak terbang layang ini berputar 2 kali putaran.
* Duduk perlahan-lahan dengan kedua lutut menempel lantai, ujung jari kaki diekstensi, tumit menyangga pantat. Dilakukan 4 hitungan.
* Letakkan cupu di lantai dengn 4 hitungan.


2. Limbai Kibas
* Dari posisi duduk langsung masuk Limbai Kibas sambil berdiri. perlahan.
* Limbai Kibas Kanan : Kedua tangan diayun ke atas kesamping badan dimulai sisi kanan badan.
* Tangan kanan ayun tinggi lurus ke atas, tangan kiri setengah badan, dilakukan 4 hitungan, hitungan ke 4 pergelangan tangan dipatahkan tapak tangan menghadap ke atas, turun perlahan dengan 4 hitungan, dengan diikuti kedua tangan turun, kaki membentuk posisi jumanang bentuk huruf T kanan.
* Limbai Kibas Kiri : Sebaliknya dari Limbai Kibas Kanan. Kaki membentuk posisi jumanang bentuk huruf T kiri.
* Limbai Kibas ini dilakukan 4 kali


3. Dandang Mangapak
* Kedua kaki jinjit menyangga tubuh, kedua tangan kanan dan kiri diangkat dikepakkan di atas kepala dengan hitungan 4, badan serong ke kanan.
* Kedua tangan turun silang di depan badan sedikit ke bawah, posisi kaki bergerak pindah ke arah serong kiri dengan 4 hitungan.
* Lakukan gerakan sebaliknya.
* Dilakukan sebanyak 4 kali. Tiap 2 kali dtutup dengan golak bahu seiiring gerakan ayunan tangan ke depan telapak tangan ke depan. Penutup kedua dengan volume kecil sambil turun ke posisi duduk.


4. Mendoa (Sesembahan)
* Turun perlahan dengan posisi duduk lutut dan tumit depan menyangga tubuh. Badan naik turun dengan posisi sembah di bawah dagu (hit 2 X 4 )


5. Mambunga
* Perlahan-lahan tangan dibuka, tangan kiri terbuka di atas cupu dan tangan kanan turun naik mengikuti irama lagu. Badan sedikit condong ke depan.
* Setiap akhir lagu kedua tangan diputar di atas cupu seraya dikepakkan kesamping belakang kanan kiri (kedua sisi badan)
* Dilakukan satu lagu.


6. Alang Manari
* Kedua kaki jinjit bergerak ke samping kanan � kiri.
* Kedua tapak tangan di depan badan, tapak tanga menghadap ke luar dengan posisi miring ke kanan � kiri sesuai dengan arah berjalan ke samping kanan � kiri secara bergantian setiap 4 hit. Kemudian kepakkan dan putar bergantianke kanan lalu ke kiri.
Dilakukan selama irama seperti terbang layang.


7. Lontang Penuh
* Basik kaki jumanang ( T ) kanan.
* Tangan kiri di atas paha kiri, tangan kanan lurus serong ke depan kiri turun naik diikuti ayunan telapak tangan dengan 2 hit, ayun tangan kanan limbai turun ke samping badan kanan bawah pinggul 2 hit.
* Ganti kaki basik jumanang kiri, lakukan lontang penuh pada sisi kebalikannya.


8. Lontang Setengah
* Basik kaki jumanang ( T ) kanan.
* Tangan kiri di atas paha kiri, tangan lurus ke depan ( hit.1), serong ke kiri ( hit 2),ke depan (3), ke kanan ( hit 4 ), ke depan ( hi5 ), Hit 6,7,8 ayunan tangan kanan limbai turun ke samping badan kanan bawah pinggul.
* Ganti kaki basik jumanang kiri, lakukan lontang setengah pada sisi kebalikannya.


9. Gagoreh Sembadra
* Kaki kiri dorong ke depan, putar tangan kanan lurus ke depan atas dan tangan kiri melintang di bawah siku tangan kanan (hit.1,2)
* Kaki kanan dorong ke depan, lakukan gerakan ini kebalikan dari Gagoreh Sembadra kanan. Gerakan ini cukup satu kali kanan dan satu kali kiri.


10. Gagoreh Srikandi
* Basik kaki jumanang ( T ) kanan, pergelangan tangan kanan dan kiri diputar ke atas. Tangan kanan sebatas daun telinga kanan dan tangan kiri melintang di bawah siku tangan kanan ( hit 2 ) Posisi badn dan kepala agak dicondongkan kekanan saat melakukan gerakan ini.
* Basik kaki jumanang ( T ) kiri, lakukan gerakan ini kebalikan dari Gagoreh Sembadra kanan. Gerakan ini cukup satu kali kanan dan satu kali kiri.

11. Mantang
* Jumanang kanan ( T ) melebar ke samping.
* Tangan kanan diputar ke atas sebatas daun telinga kanan dan tangan kiri putar lurus ke bawah sebatas pinggul kiri mengikuti kaki yang membuka.
* Lakukan gerakan sebaliknya dengan memutar badan ke depan kanan.
* Gerak Mantang ini dilakukan 2 kali samping kanan � kiri, jalan ke depan dengan tumpuan tumit depan untuk memutar badan ke kanan atau ke kiri bergantian dilakukan 4 kali. Berbalik jalan ke arah belakang 4 kali, kemudian berbalik kembali ke arah depan 2 kali dan ke samping kiri � kanan.


12. Tarbang Layang, seperti gerakan ( 1 )

13. Mendoa ( sesembahan ), seperti gerakan ( 4 )

14. Membunga, seperti gerakan ( 5 )
* Gerakan terakhir hit, 7 putar tangan masing-masing ke dua sisi badan dan hit. 8 ambil cupu dengan tangan kiri dan ujung selendang di tangan kanan pindahkan ke lengan kiri.
* Kemudian berdiri untuk melakukan gerak Tapung Tawar.

15. Tapung Tawar
* Berjalan ke arah 4 penjuru mata angin ( Paksina, Masyrik, Daksina, Magrib ) setiap lagu diawali dari jalan ke depan.
* Dimulai melangkah kaki kanan hit 1 diikuti tangan kanan limbai di atas cupu, hit 2 melangkahkan kaki kiri diikuti limbai ke samping belakang badan.
* Melangkah kaki kanan hit 3 diikuti tangan kanan limbai di atas cupu, hit 4 melangkahkan kaki kiri diikuti limbai ke samping belakang badan, hit 5 limbai ke depan di atas cupu (posisi kaki kanan masih di belakang) hit 6,7 gerak pergelangan tangan ke kanan � kiri, hit. 8 ambil beras kuning langsung ditabur ke atas.
* Berikutnya diulang gerakan ini sampai empat penjuru.


16. Puja Bantam ( Sasar Selendang )
*. Duduk seperti ragam mendoa, ambil kedua ujung selendang.
* Badan diangkat, kedua tangan angkat lurus ke depan dan putar pergelangan tangan.
* Tarik tangan kanan ke samping belakang kanan dengan diikuti pandangan mata dan badan condongkan ke belakang.
* Bergantian untuk gerak tangan kiri, lakukan kebalikan derak seperti pada point ( 3 ).
* Sasar Selendang dilakukan 3 kali ( kanan,kiri,kanan), langsung berdiri mengikuti irama lagu untuk melakukan gerak Angin Tutus.


17. Angin Tutus
* Gerak basik kaki seperti terbang layang. Tangan kanan direntangkan lurus ke atas dan tangan kiri lurus ke samping bawah dengan gerak memutar ke kanan lalu balas ke kiri dan seterunya.
* Duduk kembali kemudian ambil cupu dan berdiri kembali


18. Tarbang Layang ( Penutup )


Sumber :
http://sastrawandaerahkalsel.blogspot.com/2011/06/16.html

Friday, 1 March 2013

Prosesi Pernikahan Adat Palembang

Bagi calon pengantin, urusan memilih konsep prosesi pernikahan bukan perkara sederhana. Apalagi jika keluarga punya andil besar dalam pernikahan. Baik dari segi dana maupun tradisi yang harus diwariskan kepada anak.

Anda yang berdarah Sumatera memiliki konsep pernikahan melayu sarat tradisi dan makna. Palembang punya ciri khas tersendiri yang tak kalah uniknya. Ritual pernikahan tradisi kesultanan masih kuat menempel dalam keluarga Palembang.

Zainal Arifin, penerus tradisi Songket Palembang, keturunan dari Sultan Mahmud Badaruddin, mengaku masih mempertahankan prosesi pernikahan khas Palembang di bawah arahannya. Pemilik brand ZainalSongket ini memberikan jasa perencana pernikahan (wedding organizer) khas Palembang. Pilihannya bisa adat tradisi utuh termasuk busana pengantin, atau modifikasi dengan memberikan pilihan gaun pengantin yang lebih modern.

"Tata cara pernikahan pada umumnya masih menggunakan adat tradisi secara utuh," papar Zainal kepada Kompas Female.

Zainal mengakui, prosesi sesuai adat-istiadat keluarga besar kesultanan Palembang membutuhkan minimal tiga hari, bahkan hingga dua minggu untuk pelaksanaannya.

"Faktor waktu juga yang membuat banyak orang mempertimbangkan kembali untuk mengikuti prosesi sesuai adat-istiadat. Namun tak sedikit juga yang masih mempertahankan tradisi dan menyesuaikan dengan kebutuhan, misalkan jika pelaksanaan pernikahannya di gedung," Zainal menjelaskan.

Zainal lebih menyarankan agar prosesi lengkap pernikahan adat Palembang dilakukan di rumah, karena pertimbangan waktu tersebut. Pembagian waktu garis besarnya adalah untuk prosesi lamaran (biasanya dilakukan tiga bulan sebelumnya), akad nikah, munggah, dan resepsi.


Suasana dan makna religi sangat kental dalam prosesi pernikahan Palembang. Hampir di setiap tahapan mengandung pengharapan dan doa. Prosesi hingga barang hantaran juga punya makna mendalam, terkait dengan kehidupan rumah tangga, etika, serta kewajiban dan hak suami-istri.

Nilai budaya yang diyakini bisa membawa biduk rumah tangga bahagia, tergambar dalam setiap gerak dan tahapan prosesi. Calon pengantin perempuan pun harus belajar tari, untuk persembahan kepada pasangannya sebagai tahap akhir prosesi.

Tarian merupakan bentuk pelepasan masa lajang dari sang pengantin perempuan. Tandanya, si perempuan perlu mengkomunikasikan kepada pasangannya jika ingin beraktivitas di luar ranah domestik.

Tahapan pernikahan adat Palembang secara berurutan dan terkait terdiri atas:
Madik (melihat).
Utusan dari pihak keluarga pria berkenalan dengan pihak keluarga wanita untuk mengetahui asal-usul dan silsilah keluarga.

Menyenggung.
Utusan pihak pria secara resmi membawa hantaran yang disebut tenong atau sangkek.

Ngebet (diikat).
Keluarga pihak pria berkunjung dengan membawa tenong tiga buah pertanda nemuke kato, atau kedua pihak telah sepakat dan perempuan sudah diikat.

Berasan (bermusyawarah).
Musyawarah untuk menentukan apa yang diminta pihak wanita, dan yang diberikan pihak lelaki. Selain itu menentukan adat yang akan dilaksanakan (dari lima pilihan adat). Tahapan ini sarat dengan pantun.

Mutuske Kato.
Pertemuan kedua keluarga untuk membuat keputusan terkait dengan ritual dan prosesi pernikahan, termasuk hari pernikahan.

Nganterke Belanjo.
Mirip serah-serahan dalam tradisi Jawa, dilakukan sebulan sebelum munggah.

Ritual menjelang akad nikah.
Ritual yang dilakukan calon pengantin wanita untuk kesehatan, kecantikan, dan lambang magis yang dipengaruhi kepercayaan tradisi.

Akad nikah.
Dilakukan di rumah calon pengantin pria, jika dilakukan di rumah calon pengantin wanita dikatakan "Kawin Numpang".

Munggah.
Puncak acara perkawinan adat Palembang. Melibatkan kedua belah pihak dan juga tamu undangan. Prosesi dimeriahkan dengan tabuhan rebana mengiringi pengantin pria, silat, adu pantun, dan sejumlah prosesi lainnya yang sarat makna seperti buka tirai (tanda pertemuan pertama lelaki dengan wanitanya), dan diakhiri dengan persembahan tari dari pengantin wanita.

Jika diperhatikan, baik dari segi bahasa maupun prosesinya, ritual kesultanan Palembang memiliki kemiripan dengan keraton Jawa. Budaya tradisi memang tak jauh dari akar sejarah. Kerajaan Sriwijaya menjadi target sasaran Majapahit menguasai nusantara. Akhirnya, budaya Jawa (Majapahit) mempengaruhi Sriwijaya.

Paduan budaya inilah yang membuat prosesi pernikahan khas Palembang menjadi unik dan menarik, ditambah lagi pengaruh Cina, Arab, dan juga Hindu yang memperkaya adat istiadat dan busananya.

Sumber :
http://female.kompas.com/read/2010/02/02/19150389/prosesi.pernikahan.adat.palembang#