Latest News

Monday, 30 July 2012

Sejarah Tari Legong di Bali

Tari Legong dalam khasanah budaya Bali termasuk ke dalam jenis tari klasik karena awal mula perkembangannya bermula dari istana kerajaan di Bali. Tarian ini dahulu hanya dapat dinikmati oleh keluarga bangsawan di lingkungan tempat tinggal mereka yaitu di dalam istana sebagai sebuah tari hiburan. Para penari yang telah didaulat menarikan tarian ini di hadapan seorang raja tentu akan merasakan suatu kesenangan yang luar biasa, karena tidak sembarang orang boleh masuk ke dalam istana.

Mengenai tentang awal mula diciptakannya tari Legong di Bali adalah melalui proses yang sangat panjang. Menurut Babad Dalem Sukawati, tari Legong tercipta berdasarkan mimpi I Dewa Agung Made Karna, Raja Sukawati yang bertahta tahun 1775-1825 M. Ketika beliau melakukan tapa di Pura Jogan Agung desa Ketewel ( wilayah Sukawati ), beliau bermimpi melihat bidadari sedang menari di surga. Mereka menari dengan menggunakan hiasan kepala yang terbuat dari emas.

Ketika beliau sadar dari semedinya, segeralah beliau menitahkan Bendesa Ketewel untuk membuat beberapa topeng yang wajahnya tampak dalam mimpi beliau ketika melakukan semedi di Pura Jogan Agung dan memerintahkan pula agar membuatkan tarian yang mirip dengan mimpinya. Akhirnya Bendesa Ketewel pun mampu menyelesaikan sembilan buah topeng sakral sesuai permintaan I Dewa Agung Made Karna. Pertunjukan tari Sang Hyang Legong pun dapat dipentaskan di Pura Jogan Agung oleh dua orang penari perempuan.

Tak lama setelah tari Sang Hyang Legong tercipta, sebuah grup pertunjukan tari Nandir dari Blahbatuh yang dipimpin I Gusti Ngurah Jelantik melakukan sebuah pementasan yang disaksikan Raja I Dewa Agung Manggis, Raja Gianyar kala itu. Beliau sangat tertarik dengan tarian yang memiliki gaya yang mirip dengan tari Sang Hyang Legong ini, seraya menitahkan dua orang seniman dari Sukawati untuk menata kembali dengan mempergunakan dua orang penari wanita sebagai penarinya. Sejak itulah tercipta tari Legong klasik yang kita saksikan sekarang ini.

Bila ditinjau dari akar katanya, Legong berasal dari kata � leg � yang berarti luwes atau elastis dan kata �gong� yang berarti gamelan. Kedua akar kata tersebut bila digabungkan akan berarti gerakan yang sangat diikat ( terutama aksentuasinya ) oleh gamelan yang mengiringinya (Dibia, 1999:37).

Sebagai sebuah tari klasik, tari Legong sangat mengedepankan unsur artistik yang tinggi, gerakan yang sangat dinamis, simetris dan teratur. Penarinya pun adalah orang-orang yang berasal dari luar istana yang merupakan penari pilihan oleh raja ketika itu. Maka, tidaklah mengherankan jika para penari merasakan kebanggaan yang luar biasa jika menarikan tari Legong di istana. Begitu pula sang pencipta tari. Akan menjadi suatu kehormatan besar apabila dipercaya untuk menciptakan suatu tarian oleh seorang pengusa jaman itu. Walaupun nama mereka tidak pernah disebutkan mencipta suatu tarian kepada khalayak ramai, mereka tidak mempersoalkan itu asalkan didaulat mencipta berdasarkan hati yang tulus dan penuh rasa persembahan kepada sang raja. Ini dapat dilihat dari hampir seluruh tari-tari klasik maupun tari tradisi lain yang berkembang di luar istana seperti tari Legong, Baris, Jauk dan Topeng.

Kini di jaman yang tidak lagi menganut paham feodalisme, keseian Legong telah mengalami perkembangan yang sangat pesat dari segi kuantitas maupun kualitas. Disebutkan bahwa tari Legong Keraton ( karena berkembang di istana ) keluar dari lingkungan istana pada awal abad ke-19. Para penari wanita yang dahulunya berlatih dan menari Legong di istana kini kembali ke desa masing-masing untuk mengajarkan jenis tarian ini kepada masyarakat. Sebagaimana diketahui, orang Bali adalah orang yang sangat kreatif sehingga gaya tari masing-masing pun sedikit berbeda sesuai dengan kemampuan membawakannya. Oleh karena itu, timbul style-style Palegongan yang tersebar di berbagai daerah seperti di desa Saba, Peliatan, Bedulu, Binoh, Kelandis dan beberapa tempat lainnya. Dari sekian daerah perkembangan tari Legong, hanya desa Saba dan Peliatan yang masih kuat mempertahankan ciri khasnya dan mampu melahirkan jenis-jenis tari Palegongan dengan berbagai nama.

Tari-tari legong yang ada di Bali pada awalnya diiringi oleh gamelan yang disebut Gamelan Pelegongan. Perangkat gamelan ini terdiri dari dua pasang gender rambat, gangsa jongkok, sebuah gong, kemong, kempluk, klenang, sepasang kendang krumpungan, suling, rebab, jublag, jegog, gentorang. Sebagai tambahan, terdapat seorang juru tandak untuk mempertegas karakter maupun sebagai narrator cerita melalui tembang. Namun, seiring populernya gamelan gong kebyar di Bali, akhirnya tari-tari palegongan ini pun bisa diiringi oleh gamelan Gong Kebyar, karena tingkat fleksibilitasnya.

Sumber : http://www.isi-dps.ac.id/

Wednesday, 25 July 2012

Rumah Kerucut Kampung Adat Wae Rebo - Flores NTT

Wae rebo adalah sebuah kampung tradisional di dusun terpencil. Warga sekecamatan saja masih banyak yang belum mengenal kampung itu padahal pengunjung asing sudah banyak menghabiskan waktu liburannya di kampung terudik ini. Wae rebo boleh dibilang dusun internasional yang semakin banyak digemari oleh wisatawan asing.

Wae rebo terletak di desa satar lenda, kecamatan satarmese barat, kabupaten manggarai, propinsi nusa tenggara timur. Hawanya cukup dingin, berada di ketinggian 1100 m di atas permukaan air laut. Kampung wae rebo diapit oleh gunung, hutan lebat dan berada jauh dari kampung � kampung tetangga. Kampung wae rebo dikukuhkan oleh enklave sejak masa penjajahan belanda.


Pada awal mulanya Maro, secara turun � temurun nenek moyang orang Wae Rebo menuturkan bahwa, Maro adalah orang pertama yang tinggal dan menetap di Wae Rebo. Kampung Wae Rebo saat ini sudah memasuki generasi ke � 18. Satu generasi mencapai usia 60 tahun, sehingga usia kampung Wae Rebo saat ini � 108 tahun. Jumlah kepala keluarga hingga tahun 2009 mencapai 88 kepala keluarga atau 1. 200 jiwa.

Salah satu hal yang menarik dari Desa Wae Rebo adalah rumah adatnya yang berbentuk kerucut dan atapnya terbuat dari daun lontar. Rumah adat yang disebut mbaru niang ini sepintas mirip dengan honai yang ada di Papua. Namun, yang membedakan adalah bentuk atap rumah Wae Rebo lebih kerucut dengan atap yang memanjang sampai menyentuh tanah.


Mbaru Niang adalah rumah adat yang terdiri dari 5 tingkat dengan atapnya kerucutnya yang khas. Tingkat pertama rumah ini disebut lutur atau tenda. Lantai pertama ini digunakan sebagai tempat tinggal sang penghuni. Di tingkat kedua atau lobo adalah tempat menyimpan bahan makanan dan barang.

Naik satu lantai, di lantai tiga atau lentar adalah lantai yang digunakan untuk menyimpan benih tanaman untuk bercocok tanam. Sama seperti tingkat 1, 2 dan 3, tingkat juga memiliki namanya sendiri, yaitu lempa rae. Lempa rae adalah tempat untuk menyimpan stok cadangan makanan yang berguna saat hasil panen kurang berhasil. Nah, jika masuk di lantai paling akhir atau yang hekang kode, Anda bisa melihat aneka sesajian yang disimpan pemilik rumah untuk para leluhur.


proses pembangunan rumah ini adalah tanpa menggunakan paku, melainkan dengan konsep pasak dan pen, dan diikat dengan rotan sebagai penguat setiap tulang fondasinya. Menurut cerita dari masyarakat ini, banyak sekali arsitek Indonesia dan luar negeri yang datang dan menginap untuk mempelajari konsep rumah adat Wae Rebo ini.

Inti dari semua ini, saya melihat dan merasakan hebatnya arsitek dari jaman dahulu yang hanya tinggal 9 unit rumah serta terpelihara dengan baik hingga sekarang di kampung Wae Rebo.

Bahan makanan seperti beras harus diimpor dari kampung tetangga. Untuk mendapat pelayanan kesehatan dan kebutuhan pendidikan bagi anak � anak, harus keluar dari Wae Rebo. Untuk menjual hasil kebun harus berjalan kaki ke pasar sejauh 15 km. Warga tidak pernah berjalan lenggang. Keluar dan masuk Wae Rebo selalu ada beban di pundak � 15 kg, baik bagi pria maupun wanita.

Hasil kerajinan tangan warga, hasil kopi, vanili dan kulit kayu manis laris sebagai barang cendera mata yang dibawa pulang oleh wisatawan denga harga yang memuaskan. Hasil buah � buahan kebun warga pun tidak ketinggalan dibeli oleh sang tamu. Warga Wae Rebo sangat berterima kasih kepada pelaku wisata yang memasarkan Wae Rebo, baik di dalam maupun di luar negeri.

Sumber : http://archiholic99danoes.blogspot.com/

Monday, 23 July 2012

Sekilas Cerita Asal Usul Tari Kethek Ogleng

Kethek Ogleng merupakan salah satu bentuk kesenian rakyat yang masih berkembang dengan bentuk yang beragam di Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. Kisahnya menceritakan seekor kera jelmaan Raden Gunung Sari dalam cerita Panji dalam upaya mencari Dewi Sekartaji yang menghilang dari istana. Untuk mengelabuhi penduduk agar bebas keluar masuk desa dan hutan, maka Raden Gunung Sari menjelma jadi seekor kera putih yang lincah dan lucu.

Tari Kethek Ogleng ini dalam mengekspresikannya menggambarkan gerak-gerik sekelompok kera putih. Dalam tarian ini terlintas ungkapan kelincahan, kebersamaan, semangat, kelucuan dan atraktif.

Iringannya menggunakan instrumen gamelan jawa, alat perkusi tradisional dan penggaran olah vokal yang tetap menghadirkan rasa dan nuansa kerakyatan.

Sekilas Cerita asal usul Kethek Ogleng :
Kethek Ogleng adalah sebuah tari yang gerakannya menirukan tingkah laku kethek (kera). Tarian ini ditarikan oleh masyarakat Desa Tokawi Kecamatan Nawangan bertahun-tahun lamanya. Biasanya tarian ini dipentaskan pada waktu hajatan masyarakat setempat. Tarian Kethek Ogleng ini berasal dari sebuah cerita Kerajaan Jenggala dan Kediri.

Raja Jenggala mempunyai seorang putri bernama Dewi Sekartaji dan Kerajaan Kediri mempunyai seorang putra bernama Raden Panji Asmorobangun. Kedua insan ini saling mencintai dan bercita-cita ingin membangun kehidupan yang harmonis dalam sebuah keluarga. Hal ini membuat keduanya tidak dapat dipisahkan.

Namun, raja Jenggala, ayahanda Dewi Sekartaji, mempunyai keinginan untuk menikahkan Dewi Sekartaji dengan pria pilihannya. Ketika Dewi Sekartaji tahu akan dinikahkan dengan laki-laki pilihan ayahandanya-yang tentunya tidak dia cintai, dia diam-diam meninggalkan Kerajaan Jenggala tanpa sepengetahuan sang ayahanda dan seluruh orang di kerajaan. Malam hari, sang putri berangkat bersama beberapa dayang menuju ke arah barat.

Di Kerajaan Kediri, Panji Asmorobangun yang mendengar berita menghilangnya Dewi Sekartaji memutuskan untuk nekad mencari Dewi Sekartaji, sang kekasih. Di perjalanan, Panji Asmorobangun singgah di rumah seorang pendeta. Di sana Panji diberi wejangan agar pergi ke arah barat dan dia harus menyamar menjadi kera. Sedangkan di lain pihak, Dewi Sekartaji ternyata telah menyamar menjadi Endang Rara Tompe.

Setelah Endang Rara Tompe naik turun gunung, akhirnya rombongan Endang Rara Tompe, yang sebenarnya Dewi Sekartaji, beristirahat di suatu daerah dan memutuskan untuk menetap di sana. Ternyata kethek penjelmaan Panji Amorobangun juga tinggal tidak jauh dari pondok Endang Rara Tompe. Maka, bersahabatlah mereka berdua. Meski tinggal berdekatan dan bersahabat, Endang Rara Tompe belum mengetahui jika kethek yang menjadi sahabatnya adalah Panji Asmorobangun, sang kekasih, begitu juga dengan Panji Asmorobangun, dia tidak mengetahui jika Endang Rara Tompe adalah Dewi Sekartaji yang selama ini dia cari.

Setelah persahabatan antara Endang Rara Tompe dan kethek terjalin begitu kuatnya, mereka berdua membuka rahasia masing-masing. Endang Rara Tompe merubah bentuknya menjadi Dewi Sekartaji, begitu juga dengan kethek sahabat Endang Rara Tompe. Kethek tersebut merubah dirinya menjadi Raden Panji Asmorobangun. Perjumpaan antara Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmorobangun diliputi perasaan haru sekaligus bahagia. Akhirnya, Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmorobangun sepakat kembali ke kerajaan Jenggala untuk melangsungkan pernikahan.

Sumber : http://bukahalaman.blogspot.com/

Friday, 20 July 2012

Mengenal Tari Bondan

Tari Bondan adalah tari yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. Tarian ini melambangkan seorang ibu yang menjaga anak-anaknya dengan hati-hati.
Tari Bondan terbagi atas 3, yaitu :
1. Bondan Cindogo
2. Bondan Mardisiwi
3. Bondan Pegunungan/Tani

Tari Bondan merupakan bagian dari tari klasik yang merupakan tari gembira. Tarian ini mengungkapkan rasa kasih sayang seorang ibu kepada putranya yang baru lahir. Pada tarian Bondan Cindogo terselip kisah sedih dimana satu-satunya anak yang ditimang-timang tersebut akhirnya meninggal dunia, sedangkan pada Bondan Mardisiwi tidak. Perlengkapan tari Bondan Mardisiwi sering tanpa menggunakan kendhi seperti pada Bondan Cindogo.

Kostum yang dipakai oleh penari Bondan Cindogo dan Mardisiwi adalah kain yang diwiron, jamang, dan baju kotang, dengan menggendong boneka dan memanggul payung di pundak. Pada jaman dulu dilengkapi dengan kendi, sedangkan sekarang kebanyakan tidak. Untuk Bondan Pegunungan penarinya memakai pakaian lazimnya seorang gadis desa yang dilengkapi dengan topi caping, menggendong tenggok dan membawa alat pertanian.

Musik yang dipakai untuk mengiringi tarian ini adalah gending.

Di tahun 1960an, Tari Bondan adalah tari unggulan atau tari wajib bagi perempuan-perempuan cantik untuk menunjukkan siapa jati dirinya. Hampir semua penari Tari Bondan adalah kembang kampung. Tari Bondan ini juga paling sulit ditarikan karena sambil menggendong boneka, si penari harus siap-siap naik di atas kendi yang berputar sambil memutar-mutarkan payung kertasnya. Penari Tari Bondan biasanya menampilkan Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi memakai kain Wiron, memakai Jamang, baju kutang, memakai sanggul, menggendong boneka, memanggul payung, dan membawa kendhi. Untuk gendhing iringannya Ayak-ayakan diteruskan Ladrang Ginonjing. Sedangkan Bondan Pegunungan, melukiskan tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang, sawah, tegal pertanian. Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi gendhing.

Ciri tarian :yaitu mengenakan pakaian seperti gadis desa, menggendong tenggok, memakai caping dan membawa alat pertanian. Bentuk tariannya pertama melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu dengan membelakangi penonton. Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo atau Mardisiwi.

Sedangkan Bondan Pegunungan, melukiskan tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang, sawah, tegal pertanian. Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi gendhing-gendhing lengkap.
Ciri pakaiannya :
- mengenakan pakaian seperti gadis desa, menggendong tenggok, memakai caping
dan membawa alat pertanian.
- Di bagian dalam sudah mengenakan pakaian seperti Bondan biasa, hanya tidak memakai jamang tetapi memakai sanggul/gelungan. Kecuali jika memakai jamang maka klat bahu, sumping, sampur, dll sebelum dipakai dimasukkan tenggok.

Bentuk tariannya ; pertama melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu dengan membelakangi penonton. Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo / Mardisiwi.

Sumber :
http://bukahalaman.blogspot.com/
http://wardhani-herawati.blogspot.com/

Thursday, 19 July 2012

Tari Gambyong: Seni Rakyat Menuju Istana

Tari Gambyong merupakan sejenis tarian pergaulan di masyarakat. Saat ini, Tari Gambyong menjadi suatu tarian yang disajikan untuk menyambut tamu atau mengawali suatu resepsi perkawinan. Ciri khas pertunjukkan Tari Gambyong, sebelum dimulai selalu dibuka dengan gendhing Pangkur. Tariannya terlihat indah dan elok apabila si penari mampu menyelaraskan gerak dengan irama kendang dan gending. Sebab, kendang itu biasa disebut otot tarian dan pemandu gendhing.

Konon Tari Gambyong tercipta berdasarkan nama seorang penari jalanan (tledhek) yang bernama si Gambyong yang hidup pada zaman Sinuhun Paku Buwono IV di Surakarta (1788-1820). Penari ini juga disebutkan dalam buku "Cariyos Lelampahanipun" karya Suwargi R.Ng. Ronggowarsito (1803-1873) yang mengungkapkan adanya penari ledhek yang bernama Gambyong yang memiliki kemahiran dalam menari dan kemerduan dalam suara sehingga menjadi pujaan kaum muda pada zaman itu. Sosok penari ini dikenal sebagai seorang yang cantik jelita dan memiliki tarian yang cukup indah. Tak heran, dia terkenal di seantero Surakarta dan terciptalah nama Tari Gambyong.

Pada zaman Surakarta, instrumen pengiring tarian jalanan dilengkapi dengan bonang dan gong. Gamelan yang dipakai biasanya meliputi gender, penerus gender, kendang, kenong, kempul, dan gong. Semua instrumen itu dibawa ke mana-mana dengan cara dipikul.

Umum dikenal di kalangan penabuh instrumen Tari Gambyong, memainkan kendang bukanlah sesuatu yang mudah. Pengendang harus mampu jumbuh dengan keluwesan tarian serta mampu berpadu dengan irama gendhing. Maka tak heran, sering terjadi seorang penari Gambyong tidak bisa dipisahkan dengan pengendang yang selalu mengiringinya. Begitu juga sebaliknya, seorang pengendang yang telah tahu lagak-lagu si penari Gambyong akan mudah melakukan harmonisasi.

Gerak tari
Koreografi tari Gambyong sebagian besar berpusat pada penggunaan gerak kaki, tubuh, lengan dan kepala. Gerak kepala dan tangan yang halus dan terkendali merupakan spesifikasi dalam tari Gambyong. Arah pandangan mata yang bergerak mengikuti arah gerak tangan dengan memandang jari-jari tangan, menjadikan faktor dominan gerak-gerak tangan dalam ekspresi tari Gambyong. Gerak kaki pada saat sikap beridiri dan berjalan mempunyai korelasi yang harmonis.

Sebagai contoh, pada gerak srisig (berdiri dengan jinjit dan langkah-langkah kecil), nacah miring (kaki kiri bergerak ke samping, bergantian atau disusul kaki kanan diletakkan di depan kaki kiri, kengser (gerak kaki ke samping dengan cara bergeser/posisi telapak kaki tetap merapat ke lanati). Gerak kaki yang spsifik pada tari Gambyong adalah gerak embat atau entrag, yaitu posisi lutut yang membuka karena mendhak bergerak ke bawah dan ke atas.

Penggarapan pola lantai pada tari Gambyong dilakukan pada peralihan rangklaian gerak, yaitu pada saat transisi rangkaian gerak satu dengan rangkaian gerak berikutnya. Sedangkan perpindahan posisi penari biasanya dilakukan pada gerak penghubung, yaitu srisig, singket ukel karana, kengser, dan nacah miring. Selain itu dilakukan pada rangkaian gerak berjalan (sekaran mlaku) ataupun gerak di tempat (sekaran mandheg).



Sumber : http://bukahalaman.blogspot.com/

Friday, 13 July 2012

Tari Rantak Kudo dari Minangkabau

Asal-Usul Tari Rantak Kudo Minangkabau

Tarian ini dikenal sebagai "Tari Rentak Kudo" karena gerakannya yang menghentak-hentak seperti kuda. Tarian ini ditarikan di dalam perayaan yang dianggap sangat sakral oleh masyarakat Kerinci. Tingginya penghormatan terhadap perayaan seni dan budaya Kerinci ini pada zaman dahulu sangat kuat sehingga dipercaya bahwa dalam setiap pementasan seni budaya ini getaran dan hentakan tari Rantak Kudo bisa terasa hingga jarak yang sangat jauh dari lokasi pementasan. Tarian ini dipersembahkan untuk merayakan hasil panen pertanian di daerah Kerinci yang secara umum adalah beras (padi) dan dilangsungkan berhari-hari tanpa henti. Kadang bila dilanda musim kemarau yang panjang, masyarakat Kerinci juga akan mementaskan kesenian ini untuk berdoa kepada Yang Maha Kuasa (menurut kepercayaan mereka masing-masing).

Tujuan dari pementasan tari ini umumnya adalah untuk melestarikan pertanian dan kemakmuran masyarakat, untuk menunjukkan rasa syukur masyarakat Kerinci baik dalam musim subur maupun dalam musim kemarau untuk memohon berkah hujan.sakral oleh masyarakat Kerinci. Tingginya penghormatan terhadap perayaan seni dan budaya Kerinci ini pada zaman dahulu sangat kuat sehingga dipercaya bahwa dalam setiap pementasan seni budaya ini getaran dan hentakan tari Rantak Kudo bisa terasa hingga jarak yang sangat jauh dari lokasi pementasan. Tarian ini dipersembahkan untuk merayakan hasil panen pertanian di daerah Kerinci yang secara umum adalah beras (padi) dan dilangsungkan berhari-hari tanpa henti. Kadang bila dilanda musim kemarau yang panjang, masyarakat Kerinci juga akan mementaskan kesenian ini untuk berdoa kepada Yang Maha Kuasa (menurut kepercayaan mereka masing-masing). Tujuan dari pementasan tari ini umumnya adalah untuk melestarikan pertanian dan kemakmuran masyarakat, untuk menunjukkan rasa syukur masyarakat Kerinci baik dalam musim subur maupun dalam musim kemarau untuk memohon berkah hujan.

Walaupun telah ada banyak tulisan yang menuliskan tentang asal-usul Tari Rantak Kudo, belum ditemukan sumber yang benar-benar menjelaskan asal-usul seni budaya ini di Kerinci. Hal ini diperkirakan karena sejarah Tari Rantak Kudo ini diperkirakan telah ada sejak lama sekali di daerah Kabupaten Kerinci. Menurut seniman-seniman senior (tua), kesenian ini telah dipelajari dan di laksanakan jauh sebelum mereka lahir namun asal-usulnya menjadi kabur seiring perjalanan waktu dan kurangnya perhatian dari sejarawan setempat.

Keberadaan seni tari Kerinci ini terus di jaga secara turun-temurun oleh seniman budaya Kerinci lokal dari generasi ke generasi, walaupun kerberadaannya sangat sedikit pada saat ini dan mulai pudar. Seni budaya ini sangat identik sekali dengan bahasa dan gaya bahasa masyarakat kerinci daerah Tanjung dalam menembangkanya nyayian (pengasuh) untuk mengiri kesenian dan tarian. Daerah Tanjung berada di hilir menyusuri sepanjang pinggiran sungai yang mengalir menuju Danau Kerinci. Hal ini terlihat dari lirik dan pantun serta bahasa Kerinci Hilir yang digunakan dalam mendendangkan lagu yang mengiringi gerakan tarian (pengasuh).

Tari Rantak Kudo dimainkan dengan diiringi alat musik gendang dan di iringi oleh nyayian yang berisi pantun-pantun, hal ini berbeda dengan Tari Rantak dari Minangkabau yang hanya diiringi instrumen musik. Para penari terdiri dari pria dan wanita yang menari dengan gerakan yang khas, yaitu kombinasi dari gerakan silat "langkah tigo" ("Langkah Tiga") dan tari. Biasanya tarian ini juga dipentaskan dengan pembakaran kemenyan tradisional upacara ritual yang membuat penari semakin khidmat dalam geraknya, bahkan kadang-kadang ada di antara penari yang mengalami kesurupan.

Di Indonesia saat ini, tarian ini biasanya dipentaskan dalam acara-acara adat dan acara resepsi pernikahan adat Kerinci. Salah satu lirik lagu di dalam pantun yang bersahut-sahutan adalah : "Tigeo dili, empoak tanoh rawoa. Tigeo mudik, empoak tanoh rawoa" (Bahasa Indonesia: "Tiga di Hilir, Empat dengan Tanah Rawang. Tiga di Mudik, Empat dengan Tanah Rawang"). Lirik tersebut menceritakan sebuah kisah pada zaman nenek moyang suku Kerinci dahulu kala, di kala pemerintahan para Depati (Adipati), Tanah Hamparan Rawang merupakan pusat pemerintahan, pusat kota dan kebudayaan di kala itu, yaitu dalam lingkup Depati 8 helai kain yang berpusat di Hiang (Depati Atur Bumi) dimana Tanah Hamparan Rawang merupakan tempat duduk bersama (pertemuan penting dalam adat Kerinci).

Sumber : http://www.lokerseni.web.id/

Tuesday, 10 July 2012

`Gondang Naposo` Terang Bulan Muda-mudi Batak

Sejumlah pemudi menarikan tari Manortor pada gelar pertunjukan seni batak toba "Gondang Naposo" di Gelanggang Olahraga Velodrome, Jakarta, Sabtu (26/1). Selain sebagai ajang silaturahmi warga batak toba di Jakarta pertunjukan ini juga bertujuan untuk mengenalkan seni budaya batak toba pada generasi muda.

Pada masa lalu, adat Batak mengharuskan anak gadis menikah dengan pariban (sepupu kandung). Tiomina, gadis asal Tarutung dipaksa meninggalkan sang kekasih dan menikah dengan paribannya.

Pernikahan mereka tidak berjalan dengan baik. Tiomina pun akhirnya jatuh sakit. Tak lama kemudian, Tiomina menghembuskan napas terakhir, dan sang kekasih akhirnya bunuh diri.

Kisah tragis Tiomina dan sang kekasih itu dikemas dalam drama Siboru Napinaksa, sebagai bagian acara Gondang Naposo di Gelanggang Olahraga Rawamangun, Jakarta Sabtu (26/1) malam. Acara yang untuk pertama kali diadakan di Jakarta adalah hasil kerja sama Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Perkumpulan Komunitas Batak Toba se-Jabodetabek.

Acara ini dihadiri ribuan muda-mudi Batak Toba se-Jabodetabek. Ketua bidang Musik DKJ Erik Awuy mengatakan Gondang Naposo diselenggarakan untuk memperkenalkan budaya Batak Toba pada generasi muda Batak. "Acara ini diadakan agar semua komunitas dapat berkembang dan budaya Indonesia tetap lestari," kata Erik.

Menurut Ketua Panitia Gondang Naposo Cerman Simamora, pertunjukan musik tradisi Batak Toba itu sejak tahun 1980-an tidak pernah diselenggarakan, baik di Tanah Batak maupun di kota-kota tempat perantauan orang Batak. Hal ini, ujarnya, akibat modernisasi yang kuat mempengaruhi masyarakat Batak khususnya anak muda Batak.

"Saya prihatin karena banyak pemuda Batak perantauan tidak mengetahui kebudayaan Batak. Bahasa Batak pun mereka tidak bisa. Kami mengharapkan dengan acara ini masyarakat Batak yang tinggal di perantauan khususnya Jakarta mau mengetahui, mengenal dan berpartisipasi mengembangkan budaya Batak," kata pengajar sejarah tradisional di Batak Institut Kesenian Jakarta (IKJ) kepada SP.

Gondang Naposo adalah pesta adat yang ditunggu-tunggu muda-mudi. Di momen ini, muda-mudi dari berbagai desa berkenalan. Mereka bernyanyi (marende), menari (manortor), berbalas pantun (umpama), bermain musik (gondang hasapi), bermain drama mini (opera) dan lain-lain. Bahkan dalam acara yang diadakan ketika terang bulan itu, tidak jarang mereka menemukan pasangan hidup.

Gondang Naposo biasanya dilakukan saat seorang pemuda atau pemudi akan melepas masa lajang, dan saat masyarakat kampung memperoleh hasil panen yang baik.

Cinta Tradisi
Diharapkan, Gondang Naposo menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap tradisi Batak dan kecintaan pada Bona Pasogit (kampung halaman). Ceman juga mengharapkan, para generasi muda dapat melihat nilai-nilai tradisi Batak dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti, menghormati orangtua dan mengenal silsilah sebutan keluarga Batak.

Pada pertunjukan itu, bukan hanya drama Siboru Napinaksa yang ditampilkan. Ada juga tiga opera yang dibawakan dengan tarian, yaitu opera perkawinan, opera terang bulan, opera panen. Ditampilkan pula tiga tari tradisional Batak, seperti Tari Cawan, Tari Panen dan Tor-Tor. Acara juga dimeriahkan, pertunjukan musik dan lagu tradisional Batak seperti Tulo-Tulo dan Seko-Seko yang dinyanyikan puluhan anak.

Musisi Batak Viki Sianipar yang berkolaborasi dengan anggota Elfa Singers, Lita Zen Siahaan boru Sihombing mengatakan, acara ini baik untuk memperkenalkan tradisi Batak pada generasi muda.

Sumber : www.suarapembaharuan.com

Saturday, 7 July 2012

Adat Pernikahan Aceh Bagian Kedua

Upacara Doa

Dalam adat pernikahan aceh Pembacaan doa atau pengajian dan khataman AlQuran dilakukan oleh calon mempelai wanita dalam adat pernikahan aceh, yang bertujuan agar pernikahan dapat dilangsungan dengan baik dan memohon berkat agar dikemudian hari kehidupan rumah tangga dapat berjalan sesuai dengan kehendak Allah.

Acara siraman (seumano pucok)

Pada acara siraman adat pernikahan Aceh ini, Calon Dara Baro (CDB) akan dikelilingi oleh beberapa orang ibu yang mengelilingi sambil menari dan membacakan syair. Maksud dari ritual ini adalah memberikan nasihat kepada CBD agar dapat menjadi seorang istri yang baik dan membantu suami membina rumah tangga bersama. Pada acara ini CDB akan dipangku oleh nye�wanya atau saudara perempuan. Siraman dilakukan oleh beberapa anggota keluarga yang telah dituakan.

Upacara Akad Nikah

Sebelum menjemput CDB, mempelai pria atau disebut dengan calon linto baro (CLB) akan meminta ijin kepada orangtua untuk meminta doa restu. Kemudian CLB beserta rombongan akan pergi menjemput CDB dengan membawa seperangkat mas kawin yang telah diminta CDB sebelumnya dan seperangkat alat solat.

Dalam adat pernikahan Aceh, sementara CLB melaksanakan ijab Kabul, CDB hanya diperbolehkan menunggu dikamarnya. Kedatangan CLB akan disambut oleh orangtua dan kerabat dekat dari calon mempelai wanita. Setelah ijab kabul selesai dilaksanakan, keluarga CLB akan menyerahkan jeunamee yaitu mas kawin yang telah diminta sebelumnya. Setelah itu dilakukan acara menjamu besan dan acara suap-suapan antara mempelai wanita dan pria yang sering disebut seleunbu linto/dara baro.. Maksud dari upacara ini adalah agar kedua calon mempelai dapat saling mengisi dan bekerja sama dalam membina rumah tangga dengan baik.

Upacara Peusijeuk

Upacara ini adalah upacara memberi restu yang dilakukan oleh beberapa orang yang telah dituakan sekurang-kurangnya 5 orang yang akan melakukan upacara ini dengan cara memerciki air yang keluar dari beberapa daun dan akar tumbuhan seperti daun seunikeuk, akar naleung sambo, maneekmano, onseukee pulut, ongaca. Minimal 3 jenis daun atau akar yang dipakai untuk memerciki kedua mempelai.

Sekarang upacara adat pernikahan Aceh seperti yang telah di ulas diatas sudah jarang atau dianggap oleh sebagian orang tidak perlu dilakukan lagi, karena dikawatirkan meniru kebudayaan Hindu. Tetapi bagi sebagian masyarakat terutama ureungchik (sesepuh), upacara atau ritual perkawinan diatas masih harus dilaksanakan. Dilaksanakan atau tidaknya ritual ada pernikahan Aceh, semua dikembalikan lagi kepada kedua belah pihak keluarga baik keluarga pihak wanita dan pria.

Sumber : http://semarangwedding.com/

Monday, 2 July 2012

Adat Pernikahan Aceh Bagian Pertama

Adat pernikahan Aceh merupakah salah satu prosesi pernikahan yang ada di Indonesia. Adapun ketentuan-ketentuan dalam upacara adat pernikahan aceh ini. Melalui kesempatan ini, saya akan berbagi dengan anda mengenai adat pernikahan aceh.

Di Adat Pernikahan Aceh, proses melamar seorang gadis akan dilakukan oleh seorang yang dianggap bijak oleh pihak keluarga lelaki, biasa disebut Theulangke. Theulangke akan menyelidiki status gadis tersebut, jika memang masih single, theulangke akan mencoba untuk melamar gadis tersebut.

Pada acara lamaran adat pernikahan aceh yang telah ditentukan harinya, biasanya dari pihak lelaki akan datang bersama dengan orang yang dituakan ke rumah gadis dengan membawa berbagai macam syarat seperti pineung reuk, gambe, gapu, cengkih, pisang raha, dan pakaian adat aceh. Setelah proses lamaran selesai, selanjutnya pihak wanita akan meminta waktu untuk membicarakan hal lamaran ini kepada anak gadisnya. Apakah akan diterima atau tidak lamaran pihak lelaki akan tergantung dari musyawarah keluarga pihak wanita.

Selanjutnya bila lamaran dari pihak lelaki di terima, maka akan ada beberapa prosesi yang harus dilakukan sebelum menuju acara pernikahan.

Pertunangan (Jakba Tanda)

Dalam proses ini pihak pria akan datang kembali untuk melakukan peukeong yaitu membicarakan berapa besar uang yang diminta pihak wanita (jeunamee) dan berapa banyak tamu yang akan di undang. Biasanya acara ini akan dilanjutkan dengan proses tunangan (Jakba Tanda). Dalam acara ini pihak pria akan mengantarkan berbagai macam makanan khas Aceh, buleukat kuneeng dengan tumphou, serta berbagai macam buah-buahan, dan juga tanda emas sesuai kemampuan pria.

Jika ikatan pertunangan ini putus ditengah jalan disebabkan oleh pihak pria, maka tanda emas akan dianggap hilang, tetapi apabila putusnya pertunangan ini diakibatkan dari pihak wanita, maka pihak wanita harus dikembalikan sebesar dua kali lipat

Persiapan Menjelang Perkawinan

Dalam adat pernikahan Aceh, menjelang acara perkawinan, masyarakan setempat akan mulai bergotong royong membantu mempersiapkan alat-alat apa saja yang akan digunakan di acara perkawinan. Dari pihak wanita ada beberapa ritual yang harus dijalankan dengan tujuan pernikahan akan berlangsung dengan baik. Ada beberapa proses ritual yang biasa di lakukan, antara lain sebagai berikut

Tradisi Potong Gigi - Gohgigu

Tradisi ini bertujuan agar gigi sang calon pengantin terlihat kuat. Untuk itu akan digunakan tempurung batok kelapa yang dibakar sampai mengeluarkan cariran hitam, lalu cairan hitam yang keluar dari batok tersebut ditempelkan pada bagian gigi.

Upacara kruet andam

Dalam adat pernikahan Aceh, kruet andam adalah ritual perawatan tubuh yang biasa ditujukan untuk kebersihan kulit. Biasanya ritual dilakukan dengan cara mengerit anak rambut atau bulu-bulu halus yang tumbuh agar tampak lebih bersih. Setelah kruet andam dilakukan, dilanjutkan dengan pemakaian daun pacar (bohgaca). Daun pacar digunakan untuk menghiasi kedua tangan calon mempelai.

Sumber : http://semarangwedding.com/