Latest News

Thursday, 27 December 2012

Rumah Adat Mamasa Hampir Punah

Kabupaten Mamasa ternyata menyimpan beragam keunikan, salah satunya adalah rumah adat atau rumah tradisional khas masyarakat Mamasa. Sayangnya rumah tradisional khas Mamasa yang memiliki kemiripan dengan rumah adat toraja saat ini semakin langka. Beberapa rumah adat kini hanya dapat dijumpai pedalaman kabupaten Mamasa.

Desa tawalian, kecamatan tawalian kabupaten Mamasa, merupakan salah satu daerah yang mayoritas penduduknya masih menjaga kelestarian rumah tradisional khas Mamasa. Beberapa rumah tradsional di wilayah ini tampak masih berdiri kokoh meski telah mengalami pemugaran.

Dalam masyarakat Mamasa, rumah tradisonal Mamasa terbagi atas empat jenis tingkatan sesuai dengan strata sosial masyarakat. Yang pertama adalah banua layuk atau rumah tinggi yang biasanya dimiliki oleh ketua adat, yang kedua adalah banua sura atau rumah ukir untuk para bangsawan, yang ketiga banua bolong atau rumah hitam untuk para kesatria, serta yang terakhir banua rapa yang biasanya dimiliki masyarakat biasa.

Sementara bagian dalam rumah tradisional Mamasa yang memiliki kemiripan dengan rumah toraja terdiri atas empat bagian yakni bagian depan atau Tado, bagian tengah disebut ba�ba, sementara kamar disebut tambing, sementara dapur disebut lombon.

Kondisi daerah di atas pegunungan dengan suhu sangat dingin, membuat struktur bangunan rumah adat Mamasa hampir tanpa jendela dengan pintu yang sangat kecil, dimaksudkan agar suhu dalam rumah tetap hangat.salah satu keunikan rumah Mamasa adalah tanduk kerbau yang dipajang di tiang depan rumah, semakin banyak tanduk kerbau yang melekat ditiang rumah maka semakin tinggi status sosial pemilik rumah.

Sayangnya rumah tradisional khas Mamasa kini sudah sulit dijumpai karena telah berganti dengan rumah moderen. Rumitnya pembuatan rumah Mamasa serta semakin mahalnya bahan baku membuat masyarakat Mamasa kini beralih dan lebih banyak membuat rumah modern

Sumber :
http://sumarorongs.blogspot.com/2012/02/rumah-adat-mamasa-hampir-punah.html

Friday, 21 December 2012

Serunya Menari Bersama Suku Dayak Kenyah, Kaltim

Penampilan Tarian Anyam Tali

Seru dan meriah, itulah yang Anda dapatkan bila berkunjung ke perkampungan Suku Dayak Kenyah, Kaltim. Anda dapat menyaksikan langsung ragam budayanya, menari bersama, dan berfoto menggunakan atribut suku sambil menikmati alunan musik khas Suku Dayak Kenyah.

Tarian menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan saat berkunjung ke suatu daerah. Mengikuti alunan musik khas daerah tersebut dan ikut menari bersama masyarakatnya menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan. Pengalaman menarik ini akan Anda dapatkan bila berkunjung ke Desa Budaya Pampang. Sebuah perkampungan Suku Dayak Kenyah yang berjarak sekitar 25 km dari Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Hari Minggu siang merupakan waktu yang paling tepat untuk berkunjung ke Desa Budaya Pampang. Dengan membeli tiket seharga Rp 15.000 Anda sudah dapat menyaksikan serangkaian pertunjukkan tari yang digelar di Lamin Kampung atau Rumah Adat Suku Dayak. Pertunjukan tari ini mulai dari pukul 14.00 WITA sampai selesai.
Menari Tarian Pampaga diantara bilah-bilah Kayu

Saat pertunjukan pun dimulai. Seorang MC dan beberapa pemain musik membuka pertunjukan. Selama berjalannya pertunjukan ada 6 tarian yang dipentaskan dari desa Budaya Pampang.

Tarian pertama yang akan ditampilkan adalah Tari Nyelama Sakai. Sembilan orang penari belia membawakan tarian ini mejadi pembuka sekaligus ucapan selamat datang untuk para pengunjung. Kemudain acara� dilanjutkan dengan penampiloan Tari Kancet Lasan, dan Tari Enggang Terbang yang dibawakan bergantian.

Tari enggang Terbang sendiri menceritakan tentang perpindahan masyarakat Suku Dayak dari satu tempat ke tempat lain yang lebih baik. Tarian ini dilakukan oleh sekelompok gadis Suku Dayak yang mengenakan hiasan kepala berlambang Burung Enggang. Gerakan yang cantik dengan alunan musik khas Suku Dayak Kenyah mengalun dengan sangat indah.

Selanjutnya, Tari Anyam Tali pun turut melengkapi pertunjukan daerah ini. Tarian yang satu ini menggambarkan suku Dayak yang terdiri dari bermacam-macam sub suku. Namun, dengan adanya perbedaan ini mereka tetap saling bersahabat satu sama lain. Di atas simpul tali, terdapat patung burung Enggang yang disimbolkan sebagai seorang pemimpin.

Pada penampilan kelima, Tari Pampaga tampil memeriahkan suasana. Tarian ini melambangkan sebuah perangkap yang sengaja dibuat untuk mengusir hama. Ditarikan oleh 6 gadis muda, tarian ini dimainkan dengan menggunakan peralatan bambu.
Penampilan Tarian Leleng

Empat orang penari memainkan bilah-bilah bambu yang menimbulkan suara yang berirama, sedangkan sisanya menari di atas bambu-bambu tadi. Makin lama irama bambu terdengar makin cepat, membuat para penari juga harus mempercepat langkahnya saat menari di atas bambu-bambu itu agar kakinya tak terjepit.

Setelah penampilan para penari Pampaga, pembawa acara memberikan kesempatan bagi para tamu untuk ikut mencoba menari Pampaga bersama para penari. Tak sedikit pengunjung yang tertarik dan mencoba ikut menari tari Pampaga.

Rasa takut ketika harus melompati bilah-bilah bambu dengan irama yang kian lama kian cepat justru menjadi tantangan yang mengasyikkan. Banyaknya pengunjung yang ingin ikut mencoba Tari Pampaga membuat MC harus menutup sesi tari ini dan melanjutkan ke tarian selanjutnya.

Tari terakhir yang ditampilkan adalah Tari Leleng. Tari ini merupakan ucapan selamat berpisah yang ditarikan oleh para penari yang telah tampil. Para penari juga akan mengajak para pengunjung untuk ikut menari bersama.

Usai penampilan Tari Leleng para pengunjung bisa berfoto bersama dengan ibu-ibu bertelinga panjang ataupun dengan para tetua suku. Namun, untuk bisa berfoto bersama mereka Anda perlu membayar sekitar Rp 25.000 untuk 1 sampai 3 kali jepret.

Selain itu, Anda pun juga bisa berfoto dengan pakaian khas Suku Dayak Kenyah seperti yang dikenakan penari-penari tadi,lho. Cukup dengan membayar sewa Rp 25.000 per pakaian Anda sudah bisa bergaya ala Suku Dayak.

Selesai menikmati keindahan gerak tari khas Suku Dayak Kenyah, Anda bisa membeli oleh-oleh di sini. Beragam pernak pernik dari manik-manik maupun kayu dapat dibeli di Rumah Lamin maupun rumah-rumah penduduk.

Desa Budaya Pampang terbilang cukup mudah untuk dikunjungi. Perkampungan Suku Dayak Kenyah ini dapat ditempuh dari Samarinda dengan menggunakan kendaraan bermotor baik roda dua maupun empat melalui jalan poros Samarinda-Bontang. Desa Pampang sendiri terletak sekitar 5 km dari jalan poros.

Jadi, jika Anda ingin melihat kehidupan Suku Dayak Kenyah, tarian dan tato orang Dayak, Lamin, telinga panjang, ataupun membeli oleh-oleh khas Dayak dalam satu waktu. Tidak salah jika Anda berkunjung ke Desa Pampang.

Sumber : http://travel.detik.com/read/2012/03/26/210601/1877048/1025/3/serunya-menari-bersama-suku-dayak-kenyah-kaltim

Monday, 17 December 2012

Pesona dan Cerita di Balik Rumah Adat Suku Dayak

Lamin bertingkat, rumah adat Suku Dayak di Kampung Mancong

Kini, tak banyak lagi Suku Dayak di pesisir Kalimantan yang menempati rumah adat Lamin. Namun, tak hilang ditelan waktu rumah panjang khas Suku Dayak ini menjadi perhatian wisatawan. Yuk, singgah di rumah Lamin Mancong!

Lamin merupakan rumah panjang dari kayu, buatan khas suku Dayak. Namun, kini tak banyak lagi masyarakat Dayak yang tinggal di rumah tersebut. Walaupun begitu, keberadaan rumah adat yang satu ini tetap menarik kedatangan wisatawan.

Pemandangan perkampungan dari lantai atas rumah Lamin

Lamin Mancong, sebuah objek wisata yang tentunya sayang untuk Anda lewatkan jika berkunjung ke Kalimantan Timur. Rumah Lamin Mancong ini merupakan sebuah rumah panjang terbuat dari kayu khas suku Dayak Benuaq. Traveler bisa bertandang ke rumah ini di Kampung Mancong, Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat, Kaltim.

Usia bangunan yang sudah senja ini sudah pernah mengalami pemugaran oleh EHIF (Equatorial Heritage International Foundation). Di depan rumah adat seluas 1.005 meter persegi ini terdapat beberapa patung-patung dengan ukuran khas suku Dayak. Ada yang berupa patung laki-laki dengan anjing, perempuan, maupun bentuk lainnya yang terlihat semi abstrak.

Lamin Adat Kampung Mancong

Konon menurut kepercayaan suku Dayak, patung-patung kayu ini menandakan jumlah kerbau yang telah disembelih dalam acara Kuangkai. Kuangkai itu merupakan ritual penghargaan kepada arwah leluhur yang dianggap berjasa sepanjang hidupnya oleh anggota keluarga. Dengan kata lain, satu patung menandakan satu ekor kerbau yang mereka sembelih. Untuk membuktikan kebenaran tersebut, tengkorak kerbau juga masih dapat Anda lihat di dalam rumah Lamin Mancong.

Lorong lamin yang terbuat dari kayu

Menurut penuturan beberapa warga, dulu banyak turis asing datang ke Mancong untuk berkunjung ke Rumah Lamin. Kebanyakan dari mereka di antaranya dari Belanda ataupun Amerika. Ya, letaknya yang berdekatan dengan Tanjung Isuy dan Danau Jempang membuat rumah Lamin ini menjadi salah satu tujuan kunjungan wisatawan. Tak jarang, upacara penyambutan berupa tari-tarian adat digelar oleh masyarakat setempat, sesuai dengan permintaan wisatawan.

Patung kayu yang tampak dari lorong Lamin

Bangunan Lamin Mancong saat ini, tak lagi sepenuhnya mengikuti prinsip bangunan Lamin Dayak. Hal ini tampak dari bentuk bangunannya yang bertingkat, sementara rumah panjang Dayak tidak ada yang bertingkat. Seluruh bangunan rumah Lamin Mancong terbuat dari kayu, ada yang bilang dari kayu Ulin. Akan tetapi, ada juga yang menyebutkan jika kayu yang digunakan rumah Lamin saat ini tidak murni terbuat dari kayu Ulin.

Saat ini, rumah Lamin hanya digunakan saat ada acara adat ataupun sebagai destinasi wisata. Tidak ada lagi warga yang mendiami Rumah Lamin.

Hijaunya pemandangan terhampar saat Anda sampai di bagian atas Lamin. Pemandangan lain yang tak kalah menarik adalah jalan setapak dari kayu ulin yang akan Anda lewati, mulai dari jalan masuk kampung hingga sampai di rumah Lamin.

Untuk berkunjung ke Lamin Mancong, Anda dapat melewati jalur darat atau sungai. Untuk menempuh jalur darat memerlukan waktu sekitar 5 jam dari Samarinda, Kaltim. Jika ingin merasakan suasana yang lebih seru dan menyatu dengan alam, Anda bisa coba dengan menyusuri Sungai Mahakam dari Samarinda ataupun Loajana dengan menumpang taksi air.

Setiba di Muara Muntai, Anda dapat melanjutkan perjalanan menggunakan ketinting ke Tanjung Isuy dengan melewati Danau Jempang. Untuk sampai di Kampung Mancong Anda memerlukan waktu 15-20 menit dari Tanjung Isuy menggunakan jalur darat.

Sumber : http://travel.detik.com/read/2012/07/04/211135/1957913/1025/5/pesona-dan-cerita-di-balik-rumah-adat-suku-dayak#topart

Wednesday, 12 December 2012

Tari Malulo dari Sulawesi Tenggara

Tarian Malulo atau Lulo (dari Bahasa Tolaki: Molulo), merupakan salah satu jenis kesenian tari tradisional dari daerah Sulawesi Tenggara, Indonesia. Di Kendari (Sulawesi Tenggara � Indonesia) terdapat beberapa suku. Suku Tolaki sebagai salah satu suku yang berada di daerah ini memiliki beberapa tarian tradisional , salah satu tarian tradisional yang masih sering dilaksanakan hingga saat ini adalah tarian persahabatan yang disebut tarian Lulo.

Pada zaman dulu, tarian ini dilakukan pada upacara-upacara adat seperti : pernikahan, pesta panen raya dan upacara pelantikan raja, yang diiringi oleh alat musik pukul yaitu gong. Tarian ini dilakukan oleh pria, wanita, remaja, dan anak-anak yang saling berpegangan tangan, menari mengikuti irama gong sambil membentuk sebuah lingkaran. Gong yang digunakan biasanya terdiri dari 2 macam yang berbeda ukuran dan jenis suara. Saat sekarang utamanaya di daerah perkotaan, gong sebagai alat musik pengiring tarian lulo telah digantikan dengan alat musik modern yaitu �Electone�.

== Filosofi tarian ==

Adapun filosofi tarian �lulo� adalah persahabatan, yang biasa ditujukan kepada muda-mudi suku Tolaki sebagai ajang perkenalan, mencari jodoh, dan mempererat tali persaudaraan. Tarian ini dilakukan dengan posisi saling bergandengan tangan dan membentuk sebuah [[lingkaran]]. Peserta tarian ini tidak dibatasi oleh usia maupun golongan, siapa saja boleh turut serta dalam tarian lulo, kaya miskin, tua, muda boleh bahkan jika anda bukan suku Tolaki atau dari negara lain bisa bergabung dalam tarian ini, yang penting adalah bisa mengikuti gerakan tarian ini. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah posisi [[tangan]] saat bergandengan tangan, untuk pria posisi telapak tangan di bawah menopang tangan wanita. Posisi tangan ini merupakan simbolisasi dari kedudukan, peran, [[etika]] pria dan wanita dalam kehidupan.

Yang terpenting dari semua itu adalah arti dari tarian Lulo sendiri, yang mencerminkan bahwa masyarakat Tolaki adalah masyarakat yang cinta damai dan mengutamakan persahabatan dan persatuan dalam menjalani kehidupannya. Seperti filosofi masyarakat Tolaki yang diungkapkan dalam bentuk pepatah "samaturu, medulu ronga mepokoaso", yang berarti masyarakat Tolaki dalam menjalani perannya masing-masing selalu bersatu, bekerja sama, saling tolong�menolong dan bantu-membantu.

Sumber : http://gepa-gepa.blogspot.com/2011/04/tari-malulo-sulawesi-tenggara.html

Thursday, 6 December 2012

Rumah Tradisional Kerinci Tahan Gempa

Peneliti Kebudayaan Kerinci, Iskandar Zakaria, mengatakan, rumah tradisional Kerinci, Umoh Laheik atau Umoh Panja yang konstruksinya sangat sederhana, terbukti tahan gempa.

"Tidak hanya unik berfilosofi tinggi, Umoh Laheik sesungguhnya telah menjadi cerminan betapa telah tingginya penguasaan teknologi arsitektur para nenek moyang suku Kerinci di masa lalu," kata Iskandar Zakaria, di Kerinci, Senin (23/5). "Terbukti, rumah-rumah rakyat tersebut lebih tahan gempa dibanding rumah modern beton," katanya.

Pasalnya, sebagai daerah berada di atas lempengan gempa tektonik sesar Asia dan Australia, Kerinci adalah daerah dataran tinggi yang menjadi langganan gempa.

Gempa bumi yang sering mengguncang daerah tersebut teramat jarang bisa menggoyahkan, apalagi sampai merubuhkan rumah-rumah panjang saling berderet dan berdempet satu sama lainnya yang menjadi rumah-rumah rakyat itu.

"Meskipun konstruksinya masih sangat sederhana tidak menggunakan paku selain hanya pasak dan diikat tambang ijuk, justeru membuat rumah-rumah rakyat itu kuat dan terbukti bisa berlaku fleksibel mengikuti goyangan atau guncangan tanah ketika gempa terjadi," terang Iskandar.

Menurut dia, itulah nilai-nilai kearifan masa lalu yang telah diwariskan nenek moyang orang Kerinci, seharusnya dijaga dan dilestarikan serta diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat masa kini yang modern dan latah mengadopsi segala produk budaya luar.

"Telah cukup terbukti tingginya nilai kearifan budaya lokal Kerinci dari rumah tradisional itu, para nenek moyang sudah sangat menyadari kondisi Kerinci sebagai daerah gempa maka mereka membangun rumah Umoh Laheik atau Umoh Panja," papar Iskandar.

Setiap kali gempa besar mengguncang bumi Kerinci seperti terjadi pada 1995 dan 2009, Umoh Laheik cenderung jadi rumah yang sering ditemukan lebih banyak selamat dibandingkan rumh-rumah beton, katanya rumah masa kini itu.

Rumah-rumah itu paling parah hanya ditemukan bergeser sedikit dari pondasinya, atau melonggar pasaknya, lalu dengan bergotong royong mengungkitnya mengembalikan ke posisi pondasinya yang terbuat dari tumpukan batu kali itu, lalu pasak yang longgar kembali dibenamkan dengan palu, rumah sudah kembali ke bentuk dan posisi semula.

Menurut Iskandar, Umoh Laheik atau Umoh Panja adalah rumah-rumah rakyat, ditempati oleh keluarga-keluarga. Jadi keberadaan dan fungsinya bukan sebagai rumah adat seperti halnya `Rumah Gadang` di Sumbar.

Umoh Laheik, katanya, dibangun saling sambung menyambung satu dengan lainnya hingga menyerupai gerbong kereta yang sangat panjang, sepanjang larik atau lorong desa di bangun di sisi kiri dan kanan sepanjang jalan.

Karena itu, tak jarang panjangnya sampai belasan bahkan puluhan meter. Modelnya pun akan mengikuti kondisi kontur tanah, akan terus tersambung meskipun harus melintasi tanjakan dan penurunan, dan bahkan akan melintasi bukit berundak, hanya akan terhenti ketika menumbur tebing atau sungai, sehingga rumah itu dari kejauhan terlihat seperti badan naga yang melintas bumi layaknya tembok besar China.

Konstruksinya tanpa menggunakan pondasi permanen, hanya tumpukan batu alam tempat tiang ditenggerkan, juga tanpa menggunakan paku dan hanya mengandalkan pasak dan ikatan tambang ijuk, atapnya pada masa awalnya bukan seng atau genteng seperti rumah-rumah masa kini.

Melainkan hanyalah jalinan ijuk, dindingnya dulunya adalah Pelupuh (bambu yang disamak) atau Kelukup (sejenis kulit kayu hutan), dan lantainya papan yang di`tarah` dengan beliung, sehingganya material-material dari alam itu tidak sampai memberatkan rumah.

Dengan kondisi itu, tambahnya, rumah akan tetap tahan meskipun diguncang gempa, karena tidak ada bagian yang terpatri mati dan kaku seperti beton adonan semen. Deretan rumah panjang itu hanya akan bergoyang-goyang saat gempa seakan ular yang menari mengikuti irama musik.

"Semestinya masyarakat modern saat ini, khususnya bagi masyarakat Kerinci bisa memahami dan mampu meneruskan mengaplikasikan nilai-nilai kearifan budaya yang telah diwariskan nenek moyang mereka yang telah sangat berpengalaman hidup bersahabat dan menyatu dengan alam," tandasnya.

Sumber : http://wallarch.blogspot.com/search/label/07.%20Jambi

Monday, 3 December 2012

Tari Cokek Betawi

Dalam sejarah kesenian Betawi, Cokek merupakan salah satu hiburan unggulan. Selain luas penyebarannya juga dengan cepat banyak digemari masyarakat Betawi kota sampai warga Betawi pinggiran. Pada kurun waktu itu hampir tiap diselenggarakan pesta hiburan, baik perayaan perjamuan hajatan perkawinan hingga pesta pengantin sunat. Dan ragam acara yang bersifat pesta rakyat. Disanalah para penari Cokek mempertunjukan kepiawaiannya menari sambil menyanyi. Barangkali memang kurang afdol jika penari cokek sekadar menari. Karenanya dalam perkembangannya selain menari juga harus pintar olah vokal alias menyanyi dengan suara merdu diiringi alunan musik Gambang Kromong. Jadi temu antara lagu dan musik benar-benar tampil semarak alias ngejreng beeng.

Sayang sekali dalam buku �Ikhtisar Kesenian Betawi� edisi Nopember 2003 terbitan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta, yang ditulis oleh H. Rachmat Ruchiyat, Drs. Singgih Wibisono dan Drs. H. Rachmat Syamsudin, tidak menyebutkan sejak kapan jenis tarian Cokek itu muncul ke permukaan. Tidak disebutkan pula secara jelas siapa tokoh atau pelaku pertama yang memperkenalkan tarian egal-egol sembari menggoyang-goyangkan pinggulnya yang kenes. Tentulah ada kegenitan lain yang dimunculkan oleh para penari tersebut untuk menarik lawan jenisnya, Ditambah kerlingan mata sang penari yang indah memikat para tamu lelaki untuk ikutan ngibing berpasangan di panggung atau pelataran rumah warga. Orang Betawi menyebut Tari Ngibing Cokek. Selama ngibing mereka disodori minuman tuak agar bersemangat. Mirip dengan Tari Tayub dari Jawa Tengah.

Tamu terhormat

Begitu indah dan familiarnya jenis tarian ini. Para penari wanita yang berdandan dan bersolek menor, wajahnya diolesi bedak dan bibir bergincu, ditambah aroma wewangin minyak cap ikan duyung. Pada tarian pembukaan para penari berjoget dalam posisi berjajar ke samping, mirip posisi jejer panggung kesenian Ketoprak Jawa. Mereka merentangkan tangan setinggi bahu, sambil melangkahkan gerak kaki maju-mundur diiringi lagu-lagu khas Gambang Kromong. Kemudian mereka mengajak menari kepada para tamu yang hadir dengan mengalungkan selendang. Penyerahan selendang biasanya diberikan kepada tamu yang dianggap paling terhormat. Bila sang tamu bersedia menari maka mereka pun mulai menari berpasang-pasangan. Tiap pasang berhadapan pada jarak dekat tetapi tidak saling bersentuhan. Dalam beberapa lagu ada pasangan yang menari saling membelakangi. Kalau kebetulan tempatnya luas, ada beberapa penari berputar-putar membentuk lingkaran. Selesai menari, para tamu pengibing memberikan imbalan berupa uang kepada penari cokek yang melayani. Lumayan, dalam semalam tiap penari cokek bisa mengumpulkan uang yang cukup banyak jumlahnya. Bisa dibelanjakan barang-barang kebutuhan pribadi seperti pakaian, sepatu, sandal atau apa saja menurut kesenangan mereka.

Fungsi ekonomi

Dari sisi ini bisa ditafsirkan bahwa jenis tarian Cokek menyandang fungsi ekonomi. Para Wayang Cokek selain mendapat imbalan berupa uang dari penanggap juga mendapat tip dari para lelaki yang berhasil digaet ngibing bersama. Dulu boleh dibilang para seniwati Cokek mendapat penghasilan ajeg karena seringnya ditanggap. Beda dengan masa kini dimana jenis kesenian Cokek kurang mendapat pasaran. Di zaman teknologi modern, generasi baru Betawi di kota mau pun pinggiran merasa lebih senang menanggap musik Orgen tunggal yang menampilkan penyanyi dangdut berbusana seronok. Kemajuan dan pergeseran zaman memang sulit dicegah. Sekarang orang lebih suka memilih hiburan yang serba instan di depan layar televisi. Barangkali agar jenis kesenian Cokek tidak punah, hendaknya lembaga pemerintah daerah yang menangani jenis kesenian Betawi melakukan tindakan preventif pembinaan yang cukup gencar dan terus menerus.

Barangkali bisa menjadi contoh soal, sejak dahulu kala atau mungkin hingga sekarang penari Cokek tampil santun mengenakan busana yang menutup seluruh badan. Biasanya penari cokek memakai baju kurung dan celana panjang serta selendang melingkar dililitkan dibagian pinggang. Kedua ujung selendang yang panjang menjulur ke bawah. Fungsi selendang selain untuk menari juga bisa untuk menggaet tamu laki-laki untuk menari bersama. Keindahan busana itu pun tampak gemerlap terbuat dari kain sutera atau saten berwarna ngejreng banget, merah menyala, hijau, kuning dan ungu, temaram mengkilap berkilauan jika tertimpa cahaya lampu patromaks

Unsur hias pun terdapat di bagian kepala Wayang Cokek (sebutan bagi penari cokek). Dimaksud agar tampak lebih cantik dan indah jika kepala digoyang-goyangkan kekiri dan kekanan. Rambutnya tersisir rapi ke belakang. Ada lagi yang dikepang disanggulkan dengan tusuk konde jaran goyang seperti rias pengantin Jawa. Ditambah hiasan dari benang wol dikepang atau dirajut yang menurut istilah setempat disebut burung hong.

Hidup enggan-mati ogah

Dari berbagai sumber yang dapat dipercaya, tari Cokek pada zaman dahulu dibina dan dikembangkan oleh tuan-tuan tanah Cina yang kaya rata. Jauh sebelum Perang Dunia ke II meletus tari Cokek dan musik Gambang Kromong dimiliki cukong-cukong golongan Cina peranakan. Bisa dilihat dari lagu yang iramanya mirip lagu dari negerinya konglomerat Liem Swi Liong. Cukong-cukong peranakan Cina itulah yang membiayai kehidupan para seniman penari Cokek dan Gambang Kromong. Bahkan ada pula yang menyediakan perumahan untuk tempat tinggal khusus mereka. Di zaman merdeka seperti sekarang ini, tidak ada lagi yang secara tetap menjamin kehidupan dan kesejahteraan mereka. Ibaratnya seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Walau pun sejak kurun waktu belakangan ini telah berdiri kantor Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta, namun cara pembinaannya masih belum maksimal. Sehingga kesenian Cokek sekarang sepertinya berada di ujung tanduk, hidup enggan mati pun ogah. (Tjok Hendro) www.tamanismailmarzuki.com

Sumber : http://gambang.wordpress.com/2008/02/21/tari-cokek-betawi-dulu-dibina-oleh-para-cukong-peranakan-cina/

Friday, 30 November 2012

Filosofi Rumah Adat Bali

Rumah Bali yang sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali (bagian Weda yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan, layaknya Feng Shui dalam Budaya China)

Menurut filosofi masyarakat Bali, kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya hubungan yang harmonis antara aspek pawongan, palemahan, dan parahyangan. Untuk itu, pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspek-aspek tersebut atau yang biasa disebut ��Tri Hita Karana��. Pawongan merupakan para penghuni rumah. Palemahan berarti harus ada hubungan yang baik antara penghuni rumah dan lingkungannya.

Pada umumnya,bangunan atau arsitektur tradisional daerah Bali selalu dipenuhi hiasan, berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbolsimbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias dari jenis fauna juga berfungsi sebagai simbol-simbol ritual yang ditampilkan dalam patung.

Berjalan-jalan di seputar Bali tak perlu heran jika di setiap persimpangan jalan, Anda melihat sesajen di atas wadah dari janur dan ada kembang rupa rupi dan dupa yang menyala. Pura (baca: pure) pun bertebaran di segala tempat. Rumah, pertokoan, perkantoran, punya pura. Lalu, apakah Anda pernah melihat keunikan rumah adat Bali di sana?

Rumah adat Bali ternyata dibangun sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali (bagian Weda yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan, layaknya Feng Shui dalam Budaya China). Menurut filosofi masyarakat Bali, kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya hubungan yang harmonis antara aspek pawongan, palemahan, dan parahyangan.

Untuk itu, pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspek-aspek tersebut atau yang biasa disebut ��Tri Hita Karana��. Pawongan merupakan para penghuni rumah. Palemahan berarti harus ada hubungan yang baik antara penghuni rumah dan lingkungannya.

Pada umumnya, bangunan atau arsitektur tradisional daerah Bali selalu dipenuhi hiasan, berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbolsimbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias dari jenis fauna juga berfungsi sebagai simbol-simbol ritual yang ditampilkan dalam patung.

Dalam membangun rumah adat, orang Bali sangat mementingkan arah kemana akan menghadap, karena arah sangat penting artinya dalam kepercayaan dan kehidupan suku Bali. Hal-hal yang dianggap keramat atau suci lainnya diletakkan pada arah ke gunung, karena gunung dianggap suci dan keramat, arah-arah ini disebut kaja. Sebaliknya hal-hal yang bisa dan tidak dianggap keramat atau suci diletakkan ke arah laut yang disebut kelod.

Dengan demikian pura desa yang diangggap suci diletakkan pada arah gunung (kaja), sedang pura dalem atau kuil yang ada hubungannya dengan kuburan dan kematian diletakkan ke arah laut atau kelod. Demikianlah dalam soal susunan perumahan orang-orang Bali tidak dapat melepaskan diri dari kehidupan keagamaan dan kehidupan adatnya.

Pada umumnya bangunan atau arsitektur tradisional daerah Bali selalu dipenuhi dengan hiasan, berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ukiran maupun pahatan yang ditempatkan pada bangunan tersebut mengambil tiga kehidupan di bumi, manusia, binatang dan tumbuhan.

Ragam hias/ukiran yang dikenakan pada bagian-bagian bangunan dari jenis tumbuhan antara lain:

keketusan yakni motif tumbuhan yang dibuat dengan lengkungan-lengkungan serta bunga-bunga besar dan daun-daun yang lebar, biasanya ditempatkan pada bidang-bidang yang luas. Keketusan ini ada bermacam-macam seperti keketusan wangsa, keketusan bunga tuwung, keketusan bun-bun dan lain-lain.

kekarangan, suatu pahatan dengan motif suatu karangan yang memyerupai tumbuhan lebat dengan daun terurai ke bawah atau menyerupai serumpun perdu. Hiasan ini biasanya dipahatkan pada sudut kebatasan sebelah atas, disebut karang simbar, dan ditempatkan pada sendi tiang tugek disebut karang suring.

pepatran, merupakan hiasan bermotif bunga-bungaan. Misalnya Patra Sari ditempatkan pada bidang yang sempit seperti tiang-tiang dan blandar, patra lainnya adalah patra pid-pid, patra samblung, patra pal, patra ganggong, patra sulur dan lain-lain, semuanya dalam bentuk berulang atau berderet memanjang

Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbol-simbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias dari jenis fauna juga berfungsi sebagai simbol-simbol ritual yang ditampilkan dalam patung yang disebut Pratima, patung sebagai bagian dari bangunan berbentuk Bedawang nala.

Kadang-kadang sebagai corak magis lengkap dengan huruf simbol mantra-mantra. Misalnya hiasan karang bona berbentuk kepala raksasa yang dilukiskan dari leher ke atas lobang pintu kori Agung atau pada Bade wadah. Hiasan karang sal berbentuk kepala kelelawar bertanduk dengan gigi runcing ditempatkan di atas pintu kori atau pintu rumah tinggal dan beberapa tempat lainnya.

Sumber : http://wallarch.blogspot.com/2009/12/filosofi-rumah-adat-bali.html

Tuesday, 27 November 2012

Mengenal Tari Cokek

Tari Cokek merupakan tarian yang berasal dari budaya Betawi tempo dulu. Dewasa ini orkes gambang kromong biasa digunakan untuk mengiringi tari pertunjukan kreasi baru, pertunjukan kreasi baru, seperti tari Sembah Nyai, Sirih Kuning dan sebagainya, disamping sebagai pengiring tari pergaulan yang disebut tari cokek.

Tari cokek ditarikan berpasangan antara laki-laki dan perempuan. Tarian khas Tangerang ini diwarnai budaya etnik China. Penarinya mengenakan kebaya yang disebut cokek. Tarian cokek mirip sintren dari Cirebon atau sejenis ronggeng di Jawa Tengah. Tarian ini kerap identik dengan keerotisan penarinya, yang dianggap tabu oleh sebagian masyarakat.

Sebagai pembukaan pada tari cokek ialah wawayangan. Penari cokek berjejer memanjang sambil melangkah maju mundur mengikuti irama gambang kromong. Rentangan tangannya setinggi bahu meningkah gerakan kaki.

Setelah itu mereka mengajak tamu untuk menari bersama,dengan mengalungkan selendang. pertama-tama kepada tamu yang dianggap paling terhormat. Bila yang diserahi selendang itu bersedia ikut menari maka mulailah mereka ngibing, menari berpasang-pasangan. Tiap pasang berhadapan pada jarak yang dekat tetapi tidak saling bersentuhan. Ada kalanya pula pasangan-pasangan itu saling membelakangi. Kalau tempatnya cukup leluasa biasa pula ada gerakan memutar dalam lingkaran yang cukup luas.

Pakaian penari cokek biasanya terdiri atas baju kurung dan celana panjang dari bahan semacam sutera berwarna. Ada yang berwarna merah menyala, hijau, ungu, kuning dan sebagainya, polos dan menyolok. Di ujung sebelah bawah celana biasa diberi hiasan dengan kain berwarna yang serasi. Selembar selendang panjang terikat pada pinggang dengan kedua ujungnya terurai ke bawah Rambutnya tersisir rapih licin ke belakang. Ada pula yang dikepang kemudian disanggulkan yang bentuknya tidak begitu besar, dihias dengan tusuk konde bergoyang-goyang.

Sumber : http://www.liburania.org/tari-cokek/

Thursday, 22 November 2012

Hukum Perkawinan Adat Lio

Secara umum UU NO.1 Tahun 1974, menyebutkan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang laki�laki dan seorang wanita sebagai suami istri yang bertujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Hukum perkawinan adat, merupakan suatu aturan, norma atau kaida pengikatan janji sehidup semati yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang, yang berlaku dan ditetapkan oleh adat. Hukum perkawinan adat memiliki banyak ragam dan variasi antar bangsa, suku satu dan yang lain pada satu bangsa, budaya, maupun kelas sosial.

Dari sekian banyak suku-suku yang tersebar di Nusantara, terselip salah satu suku yaitu suku Lio yang mempunyai kesugihan budaya luar biasa, memiliki kekhasan, dan ciri tersendiri dalam menerapkan konsep-konsep hukum perkawinan. Konsep-konsep hukum tersebut, merupakan suatu hasil daya cipta nenek moyang suku Lio yang sudah terwariskan sejak berabad-abad silam. Oleh karena itu, penulis mencoba mengajak para semua pembaca untuk menelisik lebih jauh, dan memahami lebih dalam betapa kayanya budaya Lio.

Dahulu, dalam pergaulan hidup sehari-hari, masyarakat Lio umumnya antara pria dan wanita, selalu ada kebebasan berinteraksi namun selalu juga saling memperhatikan harga diri, baik tua maupun muda. Pada hakikatnya, dalam menjaga harga diri tersebut, ketentuan-ketentuan atau peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan oleh adat, selalu menjadi titik central dan pedoman untuk mengontrol, yang sudah terangkum dalam bentuk larangan-larangan.

Larangan-laangan itu sebagai berikut:
1) Dilarang menjamah tubuh, atau anggota tubuh seorang wanita yang bukan ibu atau isteri, yang bukan juga keluarga dekat, sedarah.
2) Menjamah pakaian yang sementara dipakai oleh seorang wanita, karena hal ini akan disamakan menjamah tubuh wanita itu.

Pelanggaran terhadap kedua ketentuan ini, seorang lelaki akan dikenakan denda (ndate wale) oleh pengadilan adat, bila orang yang dijamah melaporkan kepada ketua adat. Maka hukumnya berbunyi: �Te tebo tau fe�a, Sai lo tau mea�. (Fe�a-mea = merendahkan atau menghinakan). Sanksi yang akan dikenakan adalah: �Lombu lua = menutup malu� dengan emas atau hewan, seliwu seeko� sama dengan dua pasang emas dan seekor hewan ditambah sepasang pakaian wanita (Lawo lambu). Setelah itu, untuk resminya diadakan �Mi mina� artinya Pelanggar harus menanggung beban untuk makan bersama seisi kampung, (Kampung pria dan wanita) dan harus memotong hewan sesuai keputusan pengadilan adat.

Tujuan dari larangan-larangan itu ialah, menjaga tercapainya maksud dan tujuan perkawinan, yaitu perkawinan yang berharga, yang menjaga dan mempertahankan kemurnian darah keturunan.

Seorang wanita atau seorang pria yang tidak murni, akan dipandang rendah, tidak disukai oleh masyarakat dan acap kali diasingkan serta mendapat olokan, sindiran atau ejekan.

Pada orang yang berkuasa, berwibawa dan yang berharta atau kaya, selain dari mempertahankan kemurnian darah keturunan, ada juga maksud dan tujuan lain sebagai berikut:
a) Mempertahankan hak, memperluas kekuasaan atau wilayah kekuasaan.
b) Mempertahankan dan meningkatkan wibawa serta memperluas pengaruh.
c) Memperluas hubungan keluarga.

Dalam menjamin kemurnian perkawinan serta menjamin tercapainya maksud tujuan perkawinan yang sentosa dan bahagia, dalam adat Lio dikenal tiga tatacara atau proses menuju ikatan perkawinan, ialah:

a) Perkawinan �Dhuku tu � lengge lima�. Tujuan utama dari perkawinan ini ialah untuk menjaga kemurnian darah, sebab perkawinan ini berlaku antara anak pria saudari dan anak wanita saudara (Ana eda doa), diutamakan yang sedarah (kandung). Lalu yang satu turunan, dengan mas kawin atau belisnya dikaitkan dengan mas kawin atau belis dari calon ibu mantunya. (NB: Perkawinan jenis ini sekarang sudah dilarang oleh gereja).

b) Perkawinan Pa�a Tu�a. Tujuan utama dari perkawinan ini ialah untuk mempertahankan harta kekayaan, disamping mempertahankan keturunan secara murni, juga tujuan-tujuan lain seperti wibawa dan kekuasaan dan lain sebagainya. Ikatan perkawinan dalam acara ini, ada juga antara anak pria saudari dan anak wanita saudara namun tidak dinamakan �Dhuku tu lengge lima�, sebab bukan (ana eda doa) dan mas kawin atau belisnya tidak dikaitkan dengan mas kawin atau belis dari ibu mantunya. Dalam hal ini, bila perkawinan ini tidak jadi dilaksanakan, pihak yang bersalah harus mengembalikan harta benda kepada pihak yang tidak bersalah dengan jumlah dua kali lipat dengan yang diterimanya, atau yang disebut �Walo Ngawu�, itu jika pihak wanita yang bersalah. Aka tetapi jika pihak pria yang bersalah disebut, �Walo Regu Pata�. Dengan segala kerugiannya menjadi keuntungan pihak yang tidak bersalah.

c) Perkawinan �Tana ale�. Tujuan utama dari perkawinan ini adalah untuk memperluas hubungan kekeluargaan dan kekerabatan (beda kampung, suku dll), dengan maksud memperluas simpati dan kewibawaan serta kekuasaan dan sebagainya. Dalam perkawinan macam ini, bila pinangan sudah diterima tapi urusan selanjutnya tidak dilaksanakan, sehingga perkawinan tidak dilangsungkan, maka pihak pria dikenakan denda dengan sanksinya yang dinamakan �Tana ale, Pa�a welu�. Maka akan dikenakan denda �Seliwu seeko�, sama dengan dua pasang emas dan satu ekor hewan (Kambing dan anjing yang tidak terpakai).

Dari semua uraian ringkas hukum perkawinan adat Lio diatas, kini hukum-hukum perkawinan itu mengalami pergeseran dan terus berevolusi seiring perkembangan yang begitu dasyat, sehingga muncul pula tatacara perkawinan baru yang dapat dikatakan sudah menjadi tradisi adat masyarakat Lio, yaitu perkawinan suka sama suka, yang dikemukakan dengan alasan jodoh atau yang sering dikenal dengan wanita lari ikut pria, dengan tidak meminta pertimbangan orang tua.

Dalam perkawinan macam ini dalam sudut pandang tetua adat Lio, kurang menjamin kemurnian dan tidak dapat dipertanggung jawabkan kesejahteraannya, sebab tidak memiliki dukungan dari pihak keluarga wanita. (Wanita bisa ditelantarkan dikemudian hari). Namun kini, pandangan itu lambat laun mulai sirna.

Dari ketiga macam perkawinan dalam adat Lio sebagai yang diuraikan diatas, dapat disingkat sebagai berikut:
1. Perkawinan �Dhuku tu-lengge lima�, tujuannya kemurnian darah.
2. Perkawinan �Pa�a tu�a�, tujuannya mempertahankan harta.
3. Perkawinan �Tana ale�, tujuannya memperluas hubungan kekeluargaan.

Perluh diketahui, dari semua jenis perkawinan diatas, perkawinan �tana ale� merupakan salah satu bentuk perkawinan yang benar-benar menguras harta kedua pihak keluarga, karena orang tua kedua bela pihak berusaha mempertahankan wibawa dalam menerima lalu memberi, sehingga timbul suatu perlombaan dimana pihak yang memberi menunjukan kemampuannya, membalas penerimaannya dengan sandang dan pangan yang seimbang atau hampir seimbang nilainya dengan mas kawin atau belis yang diterimanya.

Menurut persepsi masyarakat suku Lio, penerimaan belis yang tinggi, sangat mempengaruhi status keluarga dimata masyarakat, dan dipandang sebagai keluarga terhormat dan bermartabat, sehingga acap kali orang tua wanita meminta mas kawin (Belis) yang cukup tinggi, tetapi mereka juga tentu memperhatikan pembalasaannya dengan sandang dan pangan yang memadai, akibatnya pemberian mas kawin atau belis kadang tersendat atau tidak diberi sama sekali bilah pihak keluarga pria tidak mampu. Itulah yang terjadi saat ini. Akan tetapi, akibat dari perkawinan jenis ini, kebanyakan masyarakat setempat sudah tidak memperhatikan tujuan kemurnian perkawinan itu sendiri, sebab kedua belah pihak selalu memusatkan perhatian pada mas kawin atau belis. Inilah kepincangan nyata yang ada sekarang dalam masyarakat Lio.

Selain dari ketentuan-ketentuan tersebut, ada pula ketentuan-ketentuan yang melarang untuk kawin mawin antara:
*) Saudara sepupu yang pihak ayah beradik kakak.
*) Saudara sepupu yang pihak ibu beradik kakak.

Disamping itu, dilarang pula kawin dengan ayah atau ibu, ayah tiri atau ibu tiri, saudari ayah atau saudari ibu, saudara ayah atau saudara ibu, ayah mantu atau ibu mantu atau juga anak mantu.

Pelanggaran dalam hal ini, dikenakan hukum adat yang berbunyi: �Nia mila, mata ke�o / Bela kela ia sissa�, yang berarti: mata gelap, mengundang malapetaka disambar petir. Sanksinya adalah: �Pini pipi lapi nia / lombu lua� dan ditutup dengan �Mea bela�, (Tutup muka, tutup badan dengan disertai upacara tolak bala supaya tidak disambar petir. Pelanggaran-pelanggarannya? yang dipandang hina, pada orang yang berpengaruh atau berwibawa hilang, atau kuranglah pengaruh wibawanya, maka masyarakat akan memandangnya rendah sebab mengundang malapetaka dan bencana seperti; bela kela (Disambar petir), kora bere (Banjir dan tanah longsor) dan lainnya menurut kehendak yang dewata.

Sumber: http://watuneso.blogspot.com/2011/08/hukum-perkawinan-adat-lio.html

Tuesday, 20 November 2012

Mengenal Tari Maengket Dari Minahasa

Maengket adalah tarian tradisional orang Minahasa. Tarian ini telah ada sejak zaman dahulu kala. Sampai saat ini tarian ini masih terus berkembang dan dilestarikan. Tarian Maengket ini sudah ada di tanah Minahasa sejak orang Minahasa mengenal pertanian terutama menanam padi di ladang.

Pada zaman nenek moyang Minahasa dahulu, tarian Maengket hanya dimainkan pada waktu panen padi dengan gerakan-gerakan yang hanya sederhana. Pada saat ini tarian Maengket telah berkembang teristemewa bentuk tarinya tanpa meninggalkan keasliannya terutama syair atau sastra lagunya.

Tarian maengket ini terdiri dari tiga babak, yaitu :
- Maowey Kamberu,
- Marambak, dan
- Lalayaan.

Maowey Kamberu adalah suatu tarian yang dibawakan sebagai bentuk pengucapan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, karena hasil panen padi diladang / di kebun yang berlimpah.

Marambak adalah tarian dengan semangat mapalus (gotong-royong), dalam hal ini orang Minahasa jika akan membangun rumah selalu bekeraja-sama. Rakyat Minahasa bantu membantu membuat rumah yang baru. Selesai rumah dibangun maka diadakan pesta naik rumah baru atau dalam bahasa daerah disebut �rumambak� atau menguji kekuatan rumah baru dan semua masyarakat kampung diundang dalam pengucapan syukur.

Lalayaan adalah tari yang dilakukan saat bulan purnama Mahatambulelenen, para muda-mudi melangsungkan acara Makaria�an � mencari teman hidup.

Maengket adalah paduan dari sekaligus seni tari, musik dan nyanyi, serta seni sastra yang terukir dalam lirik lagu yang dilantunkan. Sejumlah pengamat kesenian bahkan melihat Maengket sebagai satu bentuk khas sendratari berpadu opera. Apapun, Maengket memang merupakan sebuah adikarya kebudayaan puncak yang tercipta melalui proses panjang penyempurnaan demi penyempurnaan.

Sumber :
http://www.liburania.org/mengenal-tari-maengket-dari-manado/
http://maengket.blogspot.com/2012/03/tari-maengket.html

Wednesday, 14 November 2012

Joged Dadua Bali

Joged Dadua.
Joged adalah adalah sebutan/ nama untuk merujuk pada tarian joged yang tedapat di Banjar Suda Kanginan seperti:

Joged Duwe
Tarian ini berkait langsung dengan ritual keagamaan, dominan pada ritual sakral upacara piodalan yang dilaksanakan di banjar Suda Kanginan, dan pura-pura yang memiliki paiketan/kaitan dengan Ida Bhatara/i yang malingga di Sudha Kanginan.

Joged Pingitan
Tarian joged ini tidak seperti joged lain pada umumnya yang dipentaskan secar profan untuk hiburan dan bisa di ibingi oleh khalayak umum. Joged jenis ini memang dipingit, dan hanya dipentaskan pada acara-acar ritual magis tertentu saja dan pengibingnyapun adalah para sutri yang telah memiliki ayahan untuk hal tersebut.

Joged Klasik
Joged klasik adalah sebutan yang diberkan oleh orang-orang �modern�, seperti kalangan seniman/akademisi, yang menurutnya bisa diklasifikasikan/ dikategorikan sebagai seni atau tarian klasik.

Riwayat Singkat

Menurut penuturan para tetua banjar Suda Kanginan, bahwa joged Duwe telah diketahui ada sejak tahun 1920-an, atau bahkan lebih sebelum tahun tersebut, dan mempunyai kaitan erat dengan keberadaan Gong Kebyar Puspa Nadi yang ada sekarang. Ketika itu, keberadaannya hanya baru beberapa tungguh gamelan saja (seperti gangsa 4 tungguh, reong, jublah dua tungguh, kemong, celuluk, dan gong), atau lebih dikenal dengan sebutan gong sibak, yang memang khusus diperuntukkan untuk mengiringi tarian joged tersebut.

Penari pertama sebagai penari joged tersebut pada saat dilatih di puri Kediri, konon penari tersebut berasal dari keluarga Nang Cekeg warga banjar Suda Kanginan dan selanjutnya penari tersebut terus membina generasi berikutnya. Sejak itu, keberadaan joged duwe tetap eksis, artinya bisa di upah yang selalu ditemani oleh pemangku. Kemudian, siring berjalannya waktu, joged tersebut kalinggihan dan menjadi joged pingitan, dengan pengertian joged ini tidak boleh ditarikan di tempat/wilayah sebel/cuntaka, dan hanya boleh ditarikan pada upacara dewa yadnya dan manusa yadnya. Kemudian sekitar tahun 1940-an dan ytahun 1950-an, gong pengiring tari joged tersebut dilengkapi dan menjadi satu kelengkapan gong.

Pada masa tahun 1970-an, joged ini pernah diminta pentas secara khusus oleh Ida Cokorda Lingsir Puri Tabanan untuk sengaja dipentaskan dihapan beliau sebagai pembuktian bahwa tari joged pingit ini masih tetap eksis dan tetap lestari. Pada saat tersebut, Ida Cokorda Lingsir menyarankan agar kesenian ini jangan samapi punah, dan agar tetap dipentaskan pada waktu kegiatan dewa yadnya dan manusa yadnya.

Hal ini juga dikuatkan secara niskala, yang meminta agar keberadaan joged ini jangan sampai tidak aktif.

Tentang tarian

Penari joged ini terdiri atas dua orang penari perempuan dari usia anak-anak sebalum haid/usia dewasa. Direkrut dari warga masyarakat Suda Kanginan yang memiliki persyaratan anatar lain; mau dan bisa belajar menari, mempunyai paras yang cukup, dengan batas usia menjadi penari adalah masa haid pertama/dewasa. Artinya, ketika para penari telah menadapatkan haid pertamanya, maka sang penari akan segera mepamit/undur diri dari kegiatan joged ini, dan kelompok joged akan segera mencarikan penggantinya untuk kemudian dilatih dan dipelaspas secara sekala dan niskala.

Penari joged duwe memakai kostum penari legong keraton lengkap dengan kipasnya, dengan struktur gamelan pengiring yang mengiringi tarian joged ini terdiri atas tiga palet/babak yaitu:

1. Palet pepeson-lelegongan: mirip dengan tarian awal legong kraton dengan fersi yang agak berbeda dengan durasi kurang lebih lima menit.
2. Palet pelayon: mirip dengan legong keraton dengan versi agak berbeda. Untuk koreografi tarian waktu sekarang agak berbeda dengan dahulu. Koreografi tarian untuk waktu sekarang lebih disederhanakan dengan pertimbangan; daya hafal penari, kebutuhan waktu agar lebih efisien, dll.
3. Palet ibing-ibingan: pengibing tarian ini berjumlah satu-dua pengibing yang telah ditentukan orang-orangnya dan biasanya dari kalangan sutri. Tarian akan berakhir bila penabuh telah mendapat isyarat berhenti dari para sutri.

Fungsi tarian:

Fungsi tarian secara niskala; sebagai pelengkap upacara dewa yadnya, persembahan suci untuk para bhatara dan bhatari yang melingga di khayangan banjar Suda Kanginan.

Fungsi secara sekala; sebagai hiburan bagi masyarakat, sebagai penanda bahwa acara puncak persembahyangan akan segera dilaksanakan, serta sebagai media pelestarian budaya leluhur.

*Artikel ini dibuat berdasarkan sinopsis yang diterbitkan oleh banjar adat suda kanginan. Segala isi artikel ini telah di edit oleh penulis, tanpa mengurangi isi dan makna sebenarnya.

Alamat joged: Br. Suda kanginan, Desa Nyitdah, Kec. Kediri, Kab. Tabanan

Sumber :
http://tabanankab.go.id/artikel/budaya-dan-agama/138-joged-dadua
http://www.pesonapulaubali.com/sejarahbudaya/bali/81-jogeddaduabali.html

Friday, 9 November 2012

Rumah Tradisional Sunda

Selain sandang dan pangan, manusia juga membutuhkan papan atau rumah tempat untuk berlindung dari bahaya yang mengancam keberadaannya. Fungsi dan bentuk rumah pun berubah-rubah sesuai dengan kecenderungan dan kebutuhan pada masa yang sedang berlangsung. Pada masa yang lalu orang melindungi dirinya dengan membuat sebuah rumah dari bahan-bahan alam yang tersedia, serta pemaknaan fungsi setiap ruang yang sesuai dengan adat yang dianut. Kesederhanaan bentuk, imajinasi seni, pemaknaan dan nilai ruang pada masa lalu merupakan suatu hal yang bermanfaat untuk kita pahami sebagai pijakan dalam memaknai setiap unsur dan ruang sebuah rumah pada saat ini. Berikut ini paparan mengenai rumah tradisional sunda yang dirujuk dari Ensiklopedi Sunda: alam, manusia dan budaya.

Rumah tradisional sunda seperti nampak di Kanekes, Kampung Naga dan Kampung Pulo (Garut), adalah rumah panggung dengan ketinggian sekitar 50 cm dari atas tanah. Meskipun di daerah pesisir dan dataran rendah, rumah umumnya ngupuk (bukan panggung), tapi ada bukti yang menunjukkan bahwa di situ pun dahulu rumah berbentuk panggung. Rumah Panggung, selain untuk mencegah bahaya (binatang, banjir, dll), juga memberi kehangatan pada penghuninya. Tiang rumah terbuat dari kayu, tetapi diletakkan diatas batu yang disebut umpak (di Kanekes) atau tatapakan.

Rumah tradisional sunda terbagi menjadi tiga bagian yaitu :

Hareup (depan)
Bagian depan disebut tepas atau emper, digunakan sebagai tempat menerima tamu laki-laki. Tepas di Baduy disebut juga sosoro dan ada yang diberi tambahan yang disebut sosompang (Khusus di rumah Jaro). Sejajar dengan tepas, biasanya ada kamar yang disediakan untuk tamu.

Tengah
Bagian tengah disebut tengah imah, terdiri dari pangkeng (bilik) yang kadang-kadang memakai batas dengan dinding bilik, tapi ada juga yang tidak. Pangkeng atau enggon adalah tempat untuk tidur. Dalam rumah yang agak besar, di bagian tengah ini biasanya ada ruangan untuk berkumpul seisi rumah.

Tukang (belakang)
Bagian belakang rumah terdiri dari dapur dan goah. Laki-laki kalau tidak terpaksa sekali tidak boleh masuk ke dapur, apalagi masuk goah. Pamali (tabu), laki-laki yang masuk dapur dianggap tidak baik, cupar. Dapur selain berfungsi sebagai tempat memasak, juga sering dipakai untuk menerima tamu perempuan.

Dengan demikian jelas bahwa hareup dalah dunia laki-laki, sedangkan tukang adalah tempat perempuan. Hal ini juga nampak pada fungsi halaman. Halaman depan menjadi tempat kegiatan laki-laki, biasanya ditanami berbagai pohon buah-buahan, atau dipakai untuk menjemur padi, dll. Sedang di halaman belakang terdapat sumur atau pancuran, kolam ikan dan ditanami tanaman untuk lalab atau yang mengandung obat-obatan.

Kerangka rumah tradisional sunda disebut rangkay. Rangkay terdiri dari tiga bagian. Bagian atas disebut hateup (atap) dan suhunan(bubungan), bagian tengah disebut rangka atau badan, dan bagian bawah disebut salasar (lantai). Atap rumah tradisional terbuat dari ijuk, atau daun enau, tapi belakang lebih banyak mempergunakan genting, kecuali yang di Kanekes dan Kampung Naga.

Ada tiga jenis suhunan, yaitu suhunan panjang, suhunan pendek (suhunan jure) dan lisung nangkub (lesung tertelungkup). Sedangkan bentuknya ada yang disebut limasan, tagog anjing, dll. Bahan-bahan rumah terbuat dari kayu, walaupun mungkin dahulu ada juga rumah yang tiangnya terbuat dari bambu, karena ada peribahasa hejo tihang, yaitu sebutan buat orang yang selalu pindah-pindah rumah, sehingga tiangnya tak sempat kering. Dinding rumah terbuat dari bilik, yaitu anyaman bambu, ada yang dianyam miring (anyaman kepang), ada yang lurus (anyaman sasag). Ada juga yang mempergunakan papan. Lantai rumah terbuat dari talupuh atau palupuh, yaitu batang-batang bambu yang dibelah dan dicacah, tapi tak sampai terpisah, lalu diratakan dengan panggungnya (yang bersembilu) di atas. Bekas cacahannya memungkinkan udara leluasa masuk dari kolong rumah. Dengan demikian, baik melalui dinding bilik yang juga punya celah-celah, maupun melalui lantai palupuh, pertukaran udara dalam rumah berlangsung dengan baik, walaupun pada umumnya rumah tradisional tidak mempunyai jendela atau lubang angin.

Tangga untuk naik rumah disebut golodog atau babancik (pada rumah tembok). Rumah panggung dengan tatapakan batu ini, secara teknis dapat bertahan dari guncangan gempa bumi, sehingga cocok dengan alam priangan yang banyak gunung apinya yang masih aktif. Tapi rumah-rumah di pesisir atau di dataran rendah, banyak ngupuk, bukan rumah panggung. Di daerah Cirebon bentuk rumah Jawa dan Cina yang Nampak pada bentuk suhunan, misalnya ada bentuk limasan dan suhunannya berbentuk ular naga. Namun pembagian rumah menjadi tiga: depan, tangah dan belakang, masih dipertahankan. Rumah tradisional masih nampak di perkampungan, tetapi kian lama kian banyak orang yang membuat rumah tembok dengan lantai tegel, karena hal itu dianggap menaikkan gengsinya dalam masyarakat. Hanya orang kanekes, penduduk kampung naga dan kampung pulo yang masih mempertahankan tradisi mereka. (santi2ka)

Sumber : http://perpustakaan.upi.edu/index.php?option=com_content&view=article&id=110:rumah-tradisional-sunda&catid=41:umum

Thursday, 8 November 2012

Tari Baksa Kembang

Tari Baksa Kembang merupakan jenis tari klasik Banjar sebagai tari penyambutan tamu agung yang datang ke Kalimantan Selatan, penarinya adalah wanita. Tari ini merupakan tari tunggal dan dapat dimainkan oleh beberapa penari wanita.

Tari Baksa Kembang termasuk jenis tari klasik, yang hidup dan berkembang di keraton Banjar, yang ditarikan oleh putri-putri keraton dengan gerakanya halus, diiringi irama gamelan, busana gemerlapan.

Tari ini memvisualisasikan seorang puteri yang sedang memetik bunga di taman. Lambat laun tarian ini menyebar ke rakyat Banjar dengan penarinya galuh-galuh Banjar.

Tarian ini dipertunjukkan untuk menghibur keluarga keraton dan menyambut tamu agung seperti raja atau pangeran. Setelah tarian ini memasyarakat di Tanah Banjar, berfungsi untuk menyambut tamu pejabat-pejabat negara dalam perayaan hari-hari besar daerah atau nasional.

Tari Baksa Kambang sering ditampilkan oleh remaja putri, dalam perayaan tertentu untuk menyambut tamu. Tapi sejauh mana para penari mengenal dan tahu dengan tarian yang dibawakannya.

Hal ini diungkapkan oleh Arsyad Indradi salah satu tokoh sastra Kalsel yang juga dikenal sebagai seorang tokoh tari tradisional Banjar, pada Kamis (5/1). Menurutnya, bila penari mengenal dengan baik setiap tari yang dibawakan, maka penjiwaan (roh) dari tarian akan benar-benar hidup dalam gerakan tarian.

Tari Baksa Kambang merupakan jenis tari klasik Banjar sebagai tari penyambutan tamu agung yang datang ke Kalsel dan ditarikan oleh wanita. Pada awalnya tari Baksa Kembang, berkembang di keraton Banjar, yang ditarikan oleh putri-putri keraton. Lambat laun tarian ini menyebar ke rakyat Banjar, dan ditarikan pula pada perayaan pengantin Banjar atau hajatan.

Tari Baksa Kambang menggunakan sepasang kembang Bogam, yaitu rangkaian kembang mawar, melati, kantil dan kenanga. Dan dihadiahkan kepada tamu pejabat, setelah tarian ini selesai.

Tarian ini bercerita tentang putri-putri remaja yang cantik sedang bermain di taman bunga. Kemudian memetik beberapa bunga dan dirangkai menjadi kembang bogam. Lalu kembang bogam ini dibawa bergembira ria sambil menari dengan gemulai.

Tari Baksa Kembang memakai mahkota bernama Gajah Gemuling yang ditatah oleh kembang goyang, sepasang kembang bogam ukuran kecil yang diletakkan pada mahkota dan seuntai anyaman dari daun kelapa muda bernama Halilipan.

Tari Baksa Kembang biasanya ditarikan oleh sejumlah hitungan ganjil misalnya satu orang, tiga orang, lima orang dan seterusnya. Dan tarian ini diiringi seperangkat tetabuhan atau gamelan dengan irama lagu yang sudah baku yaitu lagu Ayakan dan Janklong atau Kambang Muni.

Tarian Baksa Kembang ini di dalam masyarakat Banjar ada beberapa versi, ini terjadi setiap keturunan mempunyai gaya tersendiri namun masih satu ciri khas sebagai tarian Baksa Kembang, seperti Lagureh, Tapung Tali, Kijik, Jumanang.

Pada 1990-an, Taman Budaya Kalsel mengumpul pelatih-pelatih tari Baksa Kembang dari segala versi untuk dijadikan satu Tari Baksa Kembang yang baku. Setelah ada kesepakatan, maka diadakanlah workshoup Tari Baksa Kembanag dengan pesertanya perwakilan dari daerah Kabupaten dan Kota se Kalsel.

Biarpun bentuk baku dari tari Baksa Kembang sudah ditentukan, beberapa penari masih ada yang menarikan Tari Baksa Kembang versi yang ada. Tapi hanya berkisar pada keluarga atau lokal. Sedang dalam lomba, festival atau misi kesenian keluar dari Kalsel harus menarikan tarian yang sudah dibakukan.

�Terlepas dari versi tari Baksa Kembang masing-masing daerah dan yang sudah dibakukan, cerita dan sejarah dari tari ini menjadi roh tari Baksa Kembang� ujarnya.

Sumber : http://artpartner-news.blogspot.com/2012/02/060112-jumatsabtu-sejarah-tari-baksa.html

Wednesday, 7 November 2012

Jenis_jenis Tari Banjar

Bagandut
Jenis tari tradisional berpasangan yang di masa lampau merupakan tari yang menonjolkan erotisme penarinya mirip dengan tari tayub di Jawa dan ronggeng di Sumatera. Gandut artinya ledek (Jawa).

Tari Gandut ini pada mulanya hanya dimainkan di lingkungan istana kerajaan, baru pada kurang lebih tahun 1860-an tari ini berkembang ke pelosok kerajaan dan menjadi jenis kesenian yang disukai oleh golongan rakyat biasa. Tari ini dimainkan setiap ada keramaian, misalnya acara malam perkawinan, hajad, pengumpulan dana kampung dan sebagainya.

Gandut merupakan profesi yang unik dalam masyarakat dan tidak sembarangan wanita mampu menjadi Gandut. Selain syarat harus cantik dan pandai menari, seorang Gandut juga wajib menguasai seni bela diri dan mantera-mantera tertentu. Ilmu tambahan ini sangat penting untuk melindungi dirinya sendiri dari tangan-tangan usil penonton yang tidak sedikit ingin memikatnya memakai ilmu hitam. Dahulu banyak Gandut yang diperistri oleh para bangsawan dan pejabat pemerintahan, disamping paras cantik mereka juga diyakini memiliki ilmu pemikat hati penonton yang dikehendakinya. Nyai Ratu Komalasari, permaisuri Sultan Adam adalah bekas seorang penari Gandut yang terkenal.

Pada masa kejayaannya, arena tari Gandut sering pula menjadi arena persaingan adu gengsi para lelaki yang ikut menari. Persaingan ini bisa dilihat melalui cara para lelaki tersebut mempertontonkan keahlian menari dan besarnya jumlah uang yang diserahkan kepada para Gandut.

Tari Gandut sebagai hiburan terus berkembang di wilayah pertanian di seluruh Kerajaan Banjar, dengan pusatnya di daerah Pandahan, Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin.

Tari Gandut sejak tahun 1960-an sudah tidak berkembang lagi. Faktor agama Islam merupakan penyebab utama hilangnya jenis kesenian ini ditambah lagi dengan gempuran jenis kesenian modern lainnya. Sekarang Gandut masih bisa dimainkan tetapi tidak lagi sebagai tarian aslinya hanya sebagai pengingat dalam pelestarian kesenian tradisional Banjar.

Baksa Dadap
Merupakan salah satu jenis tari klasik Banjar yang disebutkan dalam Hikayat Banjar. Dalam mempersembahkan tarian ini para penari memegang busur dan anak panah yang dipanggil dadap. Mereak melompat dengan senjata ini, sambil mengankat sebelah kaki, bergerak dengan amat cepat, seolah-olah mereka terpaksa mempertahankan diri dari serangan yang datang dari semua sudut.

Baksa Hupak
Merupakan salah satu jenis tari klasik Banjar yang disebutkan dalam Hikayat Banjar.

Baksa Kambang
Merupakan jenis tari klasik Banjar sebagai tari penyambutan tamu agung yang datang ke Kalimantan Selatan, penarinya adalah wanita. Tari ini merupakan tari tunggal dan dapat dimainkan oleh beberapa penari wanita.

Tarian ini bercerita tentang seorang gadis remaja yang sedang merangkai bunga. Sering dimainkan di lingkungan istana. Dalam perkembangannya tari ini beralih fungsi sebagai tari penyambutan tamu.

Tari Baksa Kembang termasuk jenis tari klasik, yang hidup dan berkembang di keraton Banjar, yang ditarikan oleh putri-putri keraton. Lambat laun tarian ini menyebar ke rakyat Banjar dengan penarinya galuh-galuh Banjar. Tarian ini dipertunjukkan untuk menghibur keluarga keraton dan menyambut tamu agung seperti raja atau pangeran . Setelah tarian ini memasyarakat di Tanah Banjar, berfungsi untuk menyambut tamu pejabat-pejabat negara dalam perayaan hari-hari besar daerah atau nasional. Disamping itu pula tarian Baksa Kembang dipertunjukkan pada perayaan pengantin Banjar atau hajatan misalnya tuan rumah mengadakan selamatan.

Tarian ini memakai hand propertis sepasang kembang Bogam yaitu rangkaian kembang mawar, melati, kantil dan kenanga. Kembang bogan ini akan dihadiahkan kepada tamu pejabat dan isteri, setelah taraian ini selesai ditarikan. Sebagai gambaran ringkas, tarian ini menggambarkan putri-putri remaja yang cantik sedang bermain-main di taman bunga. Mereka memetik beberapa bunga kemudian dirangkai menjadi kembang bogam kemudian kembang bogam ini mereka bawa bergembira ria sambil menari dengan gemulai. Tari Baksa Kembang memakai Mahkota bernama Gajah Gemuling yang ditatah oleh kembang goyang, sepasang kembang bogam ukuran kecil yang diletakkan pada mahkota dan seuntai anyaman dari daun kelapa muda bernama halilipan.

Tari Baksa Kembang biasanya ditarikan oleh sejumlah hitungan ganjil misalnya satu orang, tiga orang, lima orang dan seterusnya. Dan tarian ini diiringi seperangkat tetabuhan atau gamelan dengan irama lagu yang sudah baku yaitu lagu Ayakan dan Janklong atau Kambang Muni. Tarian Baksa Kembang ini di dalam masyarakat Banjar ada beberapa versi , ini terjadi setiap keturunan mempunya gaya tersendiri namun masih satu ciri khas sebagai tarian Baksa Kembang, seperti Lagureh, Tapung Tali, Kijik, Jumanang. Pada tahun 1990-an, Taman Budaya Kalimantan Selatan berinisiaf mengumpul pelatih-pelatih tari Baksa Kembang dari segala versi untuk menjadikan satu Tari Baksa Kembang yang baku.

Setelah ada kesepakatan, maka diadakanlah workshoup Tari Baksa Kembanag dengan pesertanya perwakilan dari daerah Kabupaten dan Kota se Kalimantan Selatan. Walau pun masih ada yang menarikan Tari Baksa Kembang versi yang ada namun hanya berkisar pada keluarga atau lokal, tetapi dalam lomba, festival atau misi kesenian keluar dari Kalimantan Selatan harus menarikan tarian yang sudah dibakukan.

Baksa Kantar
Merupakan salah satu jenis tari klasik Banjar yang disebutkan dalam Hikayat Banjar.

Baksa Kupu-Kupu Atarung
Merupakan salah satu jenis tari klasik Banjar yang disebutkan dalam Hikayat Banjar.

Baksa Lilin
Merupakan jenis tari klasik Banjar dengan gerakan membawa lilin.

Baksa Panah
Merupakan jenis tari klasik Banjar dengan gerakan memanah yang disebutkan dalam Hikayat Banjar.

Baksa Tameng
Merupakan jenis tari klasik Banjar dengan menggunakan taming/tameng (perisai) yang disebutkan dalam Hikayat Banjar. Dalam tarian ini sebuah perisai kecil yang dinamakan taming, dan sebilah keris terhunus dipegang. Tarian ini dimulai dengan perlahan-lahan dan dengan penuh hormat dan kemudian sedikit demi sedikit menjadi lebih cepat dan lebih liar, seolah-olah menggambarkan suatu pertarungan.

Baksa Tumbak
Merupakan salah satu jenis tari klasik Banjar yang disebutkan dalam Hikayat Banjar.

Balatik
Latik artinya tunas, balatik artinya bertunas. Tarian ini menggambarkan tumbuhnya tunas-tunas muda seniman tari Banjar.

Baleha
Merupakan jenis tari berpasangan

Batarasulan
Merupakan jenis tari berpasangan

Bogam
Bogam adalah rangkaian bunga mawar dan melati. Tarian ini merupakan tari selamat datang dengan mempersembahkan kembang bogam kepada para tamu.

Dara Manginang
Tarian ini menggambarkan anak dara yang sedang menginang.

Garah Rahwana
Tarian yang menggambarkan sifat antagonis tokoh Rahwana dalam wayang Banjar.

Hantak Sisit
Merupakan jenis tari berpasangan

Hanoman
Tarian yang bakul getuk

Japin Batuah
Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam dan Melayu, semua penari adalah wanita.

Japin Bujang Marindu
Merupakan jenis tari berpasangan yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam dan Melayu. Tari mengambarkan kerinduan seorang kekasih setelah lama pergi merantau kemudian kembali ke kampung halaman.

Japin Dua Saudara
Tarian yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam dan budaya Melayu.

Japin Hadrah
Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam yang mengangkat kesenian Hadrah ke dalam gerak tari yang dinamis, semua penari adalah wanita.

Japin Kuala
Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam yang bergaya daerah Banjar Kuala. Penarinya pria dan wanita berpasangan.

Japin Pasanggrahan
Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam dengan semua penarinya adalah wanita.

Japin Rantauan
Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam

Japin Sisit
Merupakan tari yang diambil dari gerak tari zafin yang bernafaskan Islam. Penarinya adalah wanita dengan mengenakan busana baju kurung sisit.

Kuda Kepang
Tari prajurit berkuda (kavaleri), merupakan pengaruh budaya Jawa.

Ladon
Ladon merupakan nama pasukan kerajaan Banjar. Tarian ini menggambarkam tari keprajuritan dan semua penarinya laki-laki. Tari ini sering dibawakan sebagai tari pembuka pada kesenian mamanda yaitu teater tradisonal Banjar, yang pertama kali berkembang dari daerah Margasari, Kabupaten Tapin.

Maayam Tikar
Merupakan jenis tari khas dari Kabupaten Tapin yang menggambarkan remaja putri dari daerah Margasari, Kabupaten Tapin yang sedang menganyam tikar dan anyaman. Tari berdurasi sekitar 6 menit ini biasanya dibawakan oleh 10 orang penari putri. Tari ini diciptakan oleh Muhammad Yusuf, Ketua Sanggar Tari Buana Buluh Merindu, dari kota Rantau, ibukota Kabupaten Tapin.

Ning Tak Ning Gung
Merupakan tari dolanan anak-anak yang menggambarkan anak-anak yang sedang bermain.

Paris Tangkawang
Merupakan jenis tari berpasangan

Radap Rahayu
Merupakan tari semi klasik Banjar yang sering dalam menyambut tamu agung dan ditarikan dalam upacara perkawinan, para penarinya adalah wanita.

Tari ini menceritakan tentang kapal prabayaksa yang kandas di muara Lokbaitan . Tari ini mengambarkan upacara puja Bantan(tapung tawar)Tujuan tari ini adalah sebagai ucapan rasa bersyukur dan doa agar kapal

Rudat
Kesenian yang bernafaskan Islam dengan dominasi gerakan tari dalam posisi duduk.

Sinoman Hadrah
Kesenian yang bernafaskan Islam dengan dominasi gerakan tari dalam posisi berdiri.

Tantayungan
Tarian ini mempresentasikan kisah dalam tokoh pewayangan. Sehingga tarian ini terkesan hidup lantaran diselingi dengan dialog kelompok penari. Tarian ini sendiri diiringi dengan musik karawitan melalui instrument babun, gong, sarunai, dan kurung-kurung. Paduan karawitan ini sangat harmoni dengan kelompok tari yang diperankan.

Seni Tantayungan, awalnya kerap ditampilkan di sebuah desa, yakni Desa Ayuang, Barabai. Lalu dikembangkan di Desa Mu�ui Kecamatan Haruyan oleh salah satu damang bernama Amat. Seni khas ini kemudian dikalim oleh pelaku seni HST, Sarbaini, di Desa Barikin sebagai seni khas Hulu Sungai Tengah

Tanggui
Tari yang menggambarkan para wanita yang memakai tanggui yaitu sejenis topi lebar).

Tameng Cakrawati
Tari yang menggambarkan seorang isteri (Cakrawati) yang melanjutkan perjuangan suaminya melawan penjajah Belanda.

Tirik Kuala
Merupakan jenis tari tradisional yang bergaya tirik, yaitu jenis tari dan lagu yang bergaya daerah Hulu Sungai. Dengan diiringi lagu Tirik Japin.

Tirik Lalan
Merupakan jenis tari tradisional berpasangan (pergaulan) yaitu penari putera dan puteri yang bergaya tirik yaitu jenis tari yang berasal dari daerah Hulu Sungai.

Topeng Kelana
Merupakan jenis tari topeng dengan tokoh Kelana, tari ini merupakan pengaruh budaya Jawa.

Topeng Wayang
Merupakan jenis tari berpasangan

Topeng
Merupakan jenis tari klasik yang berasal dari Tapin yang biasanya dibawakan oleh tiga orang yang masing-masing memainkan sebuah karakter yaitu Gunung Sari, Patih dan Tumenggung dengan diiringi gamelan Banjar. Sebelum melakukan tarian topeng dilakukan suatu ritual dengan menyediakan sesajian terlebih dahulu yaitu sebiji telur ayam kampung, ketan, dan kopi pahit, yang diletakkan di dekat area pertunjukkan, maksudnya agar saat menari, roh dari topeng ini tidak mengganggu si penari. Tarian ini umumnya dilakukan oleh penari pria.

Sumber : http://hasna.student.umm.ac.id/2010/07/29/tarian-banjar/#more-104

Monday, 5 November 2012

Upacara Resepsi Pernikahan Adat Banjar

Urutan proses upacara resepsi pernikahan adat Banjar :

1. Basasuluh
Ini adalah proses pencarian informasi mengenai latar belakang keluarga, biasanya dilakukan oleh keluarga pihak lelaki. Setelah proses basasuluh biasanya dilanjutkan dengan proses �batatakunan� yang lebih terbuka antar keluarga mengenai perihal kesanggupan ekonomi dll.

2. Badatang
Proses ini disebut juga meminang mempelai wanita secara resmi. Biasanya dalam proses ini terjadi perbincangan dalam bahasa banjar dan juga disertai pantun-pantun banjar. Apabila pinangan diterima maka perbincangan akan dilanjutkan dengan membicarakan �jujuran� (mas kawin), hari mengantarkan mas kawin serta hari pernikahan.

3. Baantaran
Dalam bahasa Indonesia baantaran disebut juga bertunangan. Prosesi ini calon mempelai pria memberikan jujuran yang berupa seperangkat alat sholat, perhiasan, perlengkapan make up, perlengkapan kamar tidur, dan sejumlah uang. Biasanya ibu-ibu yang hadir dalam prosesi ini.

Kesempatan ini digunakan untuk mengumumkan kepada masyarakat mengenai perihal hubungan kedua mempelai yang bertunangan.

4. Bapingit
Dalam prosesi bapingit mempelai wanita harus mempersiapkan diri lahir dan batin untuk menempuh mahligai rumah tangga. Di dalam proses ini wanita tidak boleh keluar rumah untuk menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan. Wanita juga tidak boleh dikunjungi oleh mempelai pria maupun pemuda lain. Prosesi ini biasanya berlangsung selama 7 hari. Selama 7 hari tersebut ada beberapa hal yang harus dilakukan mempelai wanita yaitu : betamat Al-qur�an, batimung, dan bepacar.

5. Badudus
Badudus disebut juga mandi-mandi untuk menyucikan diri calon pengantin. Mandi badudus menggunakan air yang dicampur dengan bunga-bungaan serta air jeruk, dilengkapi dengan mayang dan air kelapa gading

Dekorasi untuk upacara badudus biasanya berwarna kuning, karena bagi masyarakat banjar warna kuning menandakan kebesaran dan keluhuran selain itu masyarakat banjar percaya kain kuning dapat menghindarkan segala pengaruh jahat. Sehingga pakaian yang dikenakan calon pengantin sewaktu badudus juga terbuat dari kain kuning.

6. Akad Nikah
Prosesi perkawinan adat Banjar secara garis besar meliputi tiga bagian, yakni : Manurunkan pengantin laki-laki, Maarak pengantin laki-laki, dan Mempelai Batatai Bapalimbaian.

7. Maarak Pengantin
Merupakan upacara di rumah pihak keluarga pengantin laki-laki untuk dipersiapkan dibawa ke rumah mempelai wanita. Diawali dengan doa dan selamat kecil, kemudian mempelai pria turun keluar rumah sambil mengucap doa keselamatan diiringi Shalawat Nabi oleh para sesepuh serta taburan beras kuning sebagai penangkal bala dan bahaya. Meski acara tampak sederhana dan sangat mudah namun acara ini harus dilakukan, mengingat pada masa-masa lalu tak jarang menjelang keberangkatan mempelai pria mendadak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang berakibat gagalnya upacara pernikahan.

Doa dan harapan keselamatan telah ditadahkan oleh kedua tangan, kemudian rombongan pengantin menuju kediaman mempelai wanita. Beberapa puluh meter di depan rumah mempelai wanita, berbagai macam kesenian akan ditampilkan menyambut kehadiran rombongan pihak pengantin pria. Diantaranya, Sinoman Hadrah (seni tari masal sambil mempermainkan bendera-bendera diiringi pukulan rebana), Kuda Gepang(hampir sama dengan kuda lumping), juga musik Bamban (sejenis Tanjidor Betawi). Mempelai pria melewati barisan Sinoman Hadrah, dilindungi oleh Payung Ubur-Ubur yang akan terus berputar-putar melindungi pengantin sambil rombongan bergerak menuju rumah mempelai wanita.

8. Pengantin Betatai

Ada beberapa versi sebelum pengantin duduk berdampingan di pelaminan.

a. Versi Banjar Kuala

Mempelai pria menjemput mempelai wanita dikamar lalu keluar bersama-sama menuju pelaminan.

* Bahurup Palimbaian ; sewaktu masih dalam posisi berdiri kedua mempelai bertukat bunga tangan.
Maknanya : kedua mempelai optimis terhadap hari-hari mendatang yang akan mereka jalani dengan penuh keceriaan, bagai harumnya bunga tangan mereka.

* Bahurup Sasuap ; kedua mempelai duduk bersanding lalu saling menyuapkan sekapur sirih (terdiri dari sirih, pinang, kapur, gambir).
Maknanya : mereka sudah saling membulatkan tekad untuk menempuh pahit, getir, manis dan perihnya kehidupan dan mengatasinya dengan seia sekata.

* Bakakumur ; setelah mengunyah sekapur sirih, kedua mempelai berkumur dengan air putih, lalu air bekas kumur dibuang ke dalam tempolong.
Maknanya : segala hal yang kurang baik segera di buang, sehingga dalam memasuki perkawinan kedua mempelai dalam kondisi bersih dan ikhlas.

* Batimbai Lakatan ; mempelai wanita melemparkan segenggan nasi ketan ke pangkuan mempelai pria, lalu oleh mempelai pria dilemparkan kembali ke pangkuan mempelai wanita.

* Batapung atau batutungkal ; para tertua dari kedua keluarga memberikan sentuhan dengan memercikan ramuan (air bunga, minyak likat baboreh dan minyak wangi) pada ubun-ubun , bahu kiri dan kanan, dan pangkuan mempelai.
Maknanya : agar perjalanan perkawinan mempelai selalu mendapat dukungan , bimbingan dan berkah dari pihak keluarga serta pinisepuh.

b. Versi Banjar Pahuluan (1)
Mempelai pria memasuki rumah mempelai wanita disambut dengan Shalawat Nabi dan taburan beras kuning, mempelai wanita telah diambang pintu, kemudian mereka bersama-sama dibawa untuk duduk bersanding di atas Geta Kencana, sejenis tempat peraduan (tempat tidur).

c. Versi Banjar Pahuluan (2)
Mempelai pria memasuki rumah mempelai wanita disambut dengan Shalawat Nabi dan taburan beras kuning. Di depan pintu telah menanti mempelai wanita, dan kemudian kedua mempelai dibawa menuju Balai Laki dengan berjalan kaki maupun dengan cara Usung Ginggong. Selama bersanding di Balai Laki, kedua mempelai menyaksikan atraksi kesenian, dan harus menerima godaan atau olok-olok dari undangan yang hadir dengan senyum. Setelah selesai pasangan dibawa kembali ke rumah mempelai wanita diiringi tetabuhan kesenian tradisional.

Dikutip dari : http://mantenparty.multiply.com/journal/item/71/PERNIKAHAN_ADAT_BANJAR

Wednesday, 31 October 2012

Sekilas perkawinan adat Bali

Umat Hindu mempunyai tujuan hidup yang disebut Catur Purusa Artha yaitu Dharma, Artha, Kama dan Moksa. Hal ini tidak bisa diwujudkan sekaligus tetapi secara bertahap.

Tahapan untuk mewujudkan empat tujuan hidup itu disebut dengan Catur Asrama. Pada tahap Brahmacari asrama tujuan hidup diprioritaskan untuk mendapatkan Dharma. Grhasta Asrama memprioritaskan mewujudkan artha dan kama. Sedangkan pada Wanaprasta Asrama dan Sanyasa Asrama tujuan hidup diprioritaskan untuk mencapai moksa.

Perkawinan atau wiwaha adalah suatu upaya untuk mewujudkan tujuan hidup Grhasta Asrama. Tugas pokok dari Grhasta Asrama menurut lontar Agastya Parwa adalah mewujudkan suatu kehidupan yang disebut "Yatha sakti Kayika Dharma" yang artinya dengan kemampuan sendiri melaksanakan Dharma. Jadi seorang Grhasta harus benar-benar mampu mandiri mewujudkan Dharma dalam kehidupan ini. Kemandirian dan profesionalisme inilah yang harus benar-benar disiapkan oleh seorang Hindu yang ingin menempuh jenjang perkawinan.

Dalam perkawinan ada dua tujuan hidup yang harus dapat diselesaikan dengan tuntas yaitu mewujudkan artha dan kama yang berdasarkan Dharma.

Pada tahap persiapan, seseorang yang akan memasuki jenjang perkawinan amat membutuhkan bimbingan, khususnya agar dapat melakukannya dengan sukses atau memperkecil rintangan-rintangan yang mungkin timbul. Bimbingan tersebut akan amat baik kalau diberikan oleh seorang yang ahli dalam bidang agama Hindu, terutama mengenai tugas dan kewajiban seorang grhastha, untuk bisa mandiri di dalam mewujudkan tujuan hidup mendapatkan artha dan kama berdasarkan Dharma.

Menyucikan Diri

Perkawinan pada hakikatnya adalah suatu yadnya guna memberikan kesempatan kepada leluhur untuk menjelma kembali dalam rangka memperbaiki karmanya. Dalam kitab suci Sarasamuscaya sloka 2 disebutkan "Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wang juga wenang gumaweakenikang subha asubha karma, kunang panentasakena ring subha karma juga ikang asubha karma pahalaning dadi wang" artinya: dari demikian banyaknya semua mahluk yang hidup, yang dilahirkan sebagai manusia itu saja yang dapat berbuat baik atau buruk. Adapun untuk peleburan perbuatan buruk ke dalam perbuatan yang baik, itu adalah manfaat jadi manusia.

Berkait dengan sloka di tas, karma hanya dengan menjelma sebagai manusia, karma dapat diperbaiki menuju subha karma secara sempurna. Melahirkan anak melalui perkawinan dan memeliharanya dengan penuh kasih sayang sesungguhnya suatu yadnya kepada leluhur. Lebih-lebih lagi kalau anak itu dapat dipelihara dan dididik menjadi manusia suputra, akan merupakan suatu perbuatan melebihi seratus yadnya, demikian disebutkan dalam Slokantara.

Perkawinan umat Hindu merupakan suatu yang suci dan sakral, oleh sebab itu pada jaman Weda, perkawinan ditentukan oleh seorang Resi, yang mampu melihat secara jelas, melebihi penglihatan rohani, pasangan yang akan dikawinkan. Dengan pandangan seorang Resi ahli atau Brahmana Sista, cocok atau tidak cocoknya suatu pasangan pengantin akan dapat dilihat dengan jelas.

Pasangan yang tidak cocok (secara rohani) dianjurkan untuk membatalkan rencana perkawinannya, karena dapat dipastikan akan berakibat fatal bagi kedua mempelai bersangkutan. Setelah jaman Dharma Sastra, pasangan pengantin tidak lagi dipertemukan oleh Resi, namun oleh raja atau orang tua mempelai, dengan mempertimbangkan duniawi, seperti menjaga martabat keluarga, pertimbangan kekayaan, kecantikan, kegantengan dan lain-lain. Saat inilah mulai merosotnya nilai-nilai rohani sebagai dasar pertimbangan.

Pada jaman modern dan era globalisasi seperti sekarang ini, peran orang tua barangkali sudah tidak begitu dominan dalam menentukan jodoh putra-putranya. Anak-anak muda sekarang ini lebih banyak menentukan jodohnya sendiri. Penentuan jodoh oleh diri sendiri itu amat tergantuang pada kadar kemampuan mereka yang melakukan perkawinan. Tapi nampaknya lebih banyak ditentukan oleh pertimbangan duniawi, seperti kecantikan fisik, derajat keluarga dan ukuran sosial ekonomi dan bukan derajat rohani.

Makna dan Lambang

UU Perkawinan no 1 th 1974, sahnya suatu perkawinan adalah sesuai hukum agama masing-masing. Jadi bagi umat Hindu, melalui proses upacara agama yang disebut "Mekala-kalaan" (natab banten), biasanya dipuput oleh seorang pinandita. Upacara ini dilaksanakan di halaman rumah (tengah natah) karena merupakan titik sentral kekuatan "Kala Bhucari" sebagai penguasa wilayah madyaning mandala perumahan. Makala-kalaan berasal dari kata "kala" yang berarti energi. Kala merupakan manifestasi kekuatan kama yang memiliki mutu keraksasaan (asuri sampad), sehingga dapat memberi pengaruh kepada pasangan pengantin yang biasa disebut dalam "sebel kandel".

Dengan upacara mekala-kalaan sebagai sarana penetralisir (nyomia) kekuatan kala yang bersifat negatif agar menjadi kala hita atau untuk merubah menjadi mutu kedewataan (Daiwi Sampad). Jadi dengan mohon panugrahan dari Sang Hyang Kala Bhucari, nyomia Sang Hyang Kala Nareswari menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih.

Jadi makna upacara mekala-kalaan sebagai pengesahan perkawinan kedua mempelai melalui proses penyucian, sekaligus menyucikan benih yang dikandung kedua mempelai, berupa sukla (spermatozoa) dari pengantin laki dan wanita (ovum) dari pengantin wanita.

Peralatan Upacara Mekala-kalaan

1. Sanggah Surya
Di sebelah kanan digantungkan biyu lalung dan di sebelah kiri sanggah digantungkan sebuah kulkul berisi berem. Sanggah Surya merupakan niyasa (simbol) stana Sang Hyang Widhi Wasa, dalam hal ini merupakan stananya Dewa Surya dan Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih.

Biyu lalung adalah simbol kekuatan purusa dari Sang Hyang Widhi dan Sang Hyang Purusa ini bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Jaya, sebagai dewa kebajikan, ketampanan, kebijaksanaan simbol pengantin pria.

Kulkul berisi berem simbol kekuatan prakertinya Sang Hyang Widhi dan bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Ratih, dewa kecantikan serta kebijaksanaan simbol pengantin wanita.

2. Kelabang Kala Nareswari (Kala Badeg)
Simbol calon pengantin, yang diletakkan sebagai alas upakara mekala-kalaan serta diduduki oleh kedua calon pengantin.

3. Tikeh Dadakan (tikar kecil)
Tikeh dadakan diduduki oleh pengantin wanita sebagai simbol selaput dara (hymen) dari wanita. Kalau dipandang dari sudut spiritual, tikeh dadakan adalah sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Prakerti (kekuatan yoni).

4. Keris
Keris sebagai kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga) calon pengantin pria. Biasanya nyungklit keris, dipandang dari sisi spritualnya sebagai lambang kepurusan dari pengantin pria.

5. Benang Putih
Dalam mekala-kalaan dibuatkan benang putih sepanjang setengah meter, terdiri dari 12 bilahan benang menjadi satu, serta pada kedua ujung benang masing-masing dikaitkan pada cabang pohon dapdap setinggi 30 cm.

Angka 12 berarti simbol dari sebel 12 hari, yang diambil dari cerita dihukumnya Pandawa oleh Kurawa selama 12 tahun. Dengan upacara mekala-kalaan otomatis sebel pengantin yang disebut sebel kandalan menjadi sirna dengan upacara penyucian tersebut.

Dari segi spiritual benang ini sebagai simbol dari lapisan kehidupan, berarti sang pengantin telah siap untuk meningkatkan alam kehidupannya dari Brahmacari Asrama menuju alam Grhasta Asrama.

6. Tegen - tegenan
Makna tegen-tegenan merupakan simbol dari pengambil alihan tanggung jawab sekala dan niskala. Perangkat tegen-tegenan : - batang tebu berarti hidup pengantin artinya bisa hidup bertahap seperti hal tebu ruas demi ruas, secara manis. - Cangkul sebagai simbol Ardha Candra. Cangkul sebagai alat bekerja, berkarma berdasarkan Dharma - Periuk simbol windhu - Buah kelapa simbol brahman (Sang Hyang Widhi) - Seekor yuyu simbol bahasa isyarat memohon keturunan dan kerahayuan.

7. Suwun-suwunan (sarana jinjingan)
Berupa bakul yang dijinjing mempelai wanita, yang berisi talas, kunir, beras dan bumbu-bumbuan melambangkan tugas wanita atau istri mengmbangkan benih yang diberikan suami, diharapkan seperti pohon kunir dan talas berasal dari bibit yang kecil berkembang menjadi besar.

8. Dagang-dagangan
Melambangkan kesepakatan dari suami istri untuk membangun rumah tangga dan siap menanggung segala Resiko yang timbul akibat perkawinan tersebut seperti kesepakatan antar penjual dan pembeli dalam transaksi dagang.

9. Sapu lidi (3 lebih)
Simbol Tri Kaya Parisudha. Pengantin pria dan wanita saling mencermati satu sama lain, isyarat saling memperingatkan serta saling memacu agar selalu ingat dengan kewajiban melaksanakan Tri Rna, berdasarkan ucapan baik, prilaku yang baik dan pikiran yang baik, disamping itu memperingatkan agar tabah menghadapi cobaan dan kehidupan rumah tangga.

10. Sambuk Kupakan (serabut kelapa)
Serabut kelapa dibelah tiga, di dalamnya diisi sebutir telor bebek, kemudian dicakup kembali di luarnya diikat dengan benang berwarna tiga (tri datu). Serabut kelapa berbelah tiga simbol dari Triguna (satwam, rajas, tamas). Benang Tridatu simbol dari Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) mengisyaratkan kesucian.

Telor bebek simbol manik. Mempelai saling tendang serabut kelapa (metanjung sambuk) sebanyak tiga kali, setelah itu secara simbolis diduduki oleh pengantin wanita. Apabila mengalami perselisihan agar bisa saling mengalah, serta secara cepat di masing-masing individu menyadari langsung. Selalu ingat dengan penyucian diri, agar kekuatan triguna dapat terkendali. Selesai upacara serabut kalapa ini diletakkan di bawah tempat tidur mempelai.

11. Tetimpug
Bambu tiga batang yang dibakar dengan api dayuh yang bertujuan memohon penyupatan dari Sang Hyang Brahma.

Setelah upacara mekala-kalaan selesai dilanjutkan dengan cara membersihkan diri (mandi) hal itu disebut dengan "angelus wimoha" yang berarti melaksanakan perubahan nyomia kekuatan asuri sampad menjadi daiwi sampad atau nyomia bhuta kala Nareswari agar menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih agar harapan dari perkawinan ini bisa lahir anak yang suputra.

Setelah mandi pengantin dihias busana agung karena akan natab di bale yang berarti bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Selanjutnya pada hari baik yang selanjutnya akan dilaksanakan upacara Widhi Widana (aturan serta bersyukur kepada Hyang Widhi). Terakhir diadakan upacara pepamitan ke rumah mempelai wanita.

Sumber :
http://www.undanganku.info/sekilas-perkawinan-adat-bali.html
Gambar :
http://www.wayantulus.com/tips-persiapan-pernikahan/prewedding-adat-bali

Monday, 29 October 2012

Mengenal Arsitektur Rumah Adat Baduy

Mempelajari kehidupan Suku Baduy di Banten, pastinya sangat menarik. Sulit dibayangkan, di jaman semodern ini mereka masih berpegang teguh pada adat istiadat yang sudah diturunkan oleh nenek moyang mereka dengan menolak segala macam kemajuan teknologi yang dinilai dapat mengusik kelestarian budaya mereka. Berbagai tulisan yang mengangkat kehidupan masyarakat adat Baduy, banyak kita jumpai di media Online saat ini. Saat kita masukan kata Kunci (keyword) Baduy di mesin pencari kita, maka akan muncul ratusan tulisan dengan mengangkat tema yang sama. Sebuah Catatan dengan tajuk Bentuk arsitektur rumah adat Baduy Dalam, dibuat oleh Henry H Loupias dalam forum budaya, menarik untuk kita cermati.

�IMAH� DALAM ARSITEKTUR BADUY DALAM

Pada umumnya kehidupan sehari-hari suku-suku di pedalaman mengandalkan naluri, termasuk dalam upaya menyesuaikan serta menyelaraskan diri dengan lingkungan alam sekitarnya. Banyak teknik atau cara yang digunakannya tergolong berteknologi cukup �tinggi� dan mampu memprediksi kebutuhan hidupnya hingga masa depan.

Kecenderungan tersebut diperlihatkan secara jelas pada arsitektur vernakular suku Baduy Dalam di Kampung Cibeo. Bentuk dan gaya bangunan rumah tinggalnya sangat sederhana, dibangun berdasarkan naluri sebagai manusia yang membutuhkan tempat berlindung dari gangguan alam dan binatang buas. Kesan sederhana tersebut tersirat dalam penataan eksterior dan interiornya.

Seluruh bangunan rumah tinggal suku Baduy menghadap ke utara-selatan dan saling berhadapan. Menghadap ke arah barat dan timur tidak diperkenankan berdasarkan adat. Di samping itu, ada hal yang cukup menarik dan penting di kalangan suku Baduy, yaitu cara mereka memperlakukan alam atau bumi. Mereka tidak pernah berusaha mengubah atau mengolah keadaan lahannya-misalna ngalelemah taneuh, disaeuran, atawa diratakeun untuk kepentingan bangunan yang akan didirikan di atasnya.

Sebaliknya, mereka berusaha memanfaatkan dan menyesuaikan dengan keadaan dan kondisi lahan yang ada. Hasilnya memperlihatkan permukiman yang alami. Bangunan-bangunan tersebut bagaikan sebuah kesatuan dari alam itu sendiri, berdiri berumpak-umpak mengikuti kontur atau kemiringan tanahnya.

Rumah tinggal suku Baduy Dalam termasuk jenis bangunan knock down dan siap pakai, yang terdiri dari beberapa rangkaian komponen. Selanjutnya, komponen-komponen tersebut dirakit atau dirangkai dengan cara diikat menggunakan tali awi temen ataupun dengan cara dipaseuk.

Konstruksi utamanya yang berfungsi untuk menahan beban berat, seperti tihang-tihang, panglari, pananggeuy, dan lincar, dipasang dengan cara dipaseuk karena alat paku dilarang digunakan. Justru teknik tersebut bisa memperkuat karena kedua kayu yang disambungkan lebih menyatu, terutama ketika kedua kayunya sudah mengering.

Sementara komponen seperti bilik (dinding), rarangkit (atap), dan palupuh (lantai) hanya sekadar diikat atau dijepit pada bambu atau kayu konstruksi. Oleh karena itu, bangunan rumah tinggal suku Baduy termasuk jenis bangunan tahan gempa karena konstruksinya bersifat fleksibel dan elastis.

Rumah panggung
Bangunan rumah tinggalnya berbentuk rumah panggung. Karena konsep rancangannya mengikuti kontur lahan, tiang penyangga masing-masing bangunan memiliki ketinggian berbeda-beda. Pada bagian tanah yang datar atau tinggi, tiang penyangganya relatif rendah. Adapun pada bagian yang miring, tiangnya lebih tinggi. Tiang-tiang penyangga tersebut bertumpu pada batu kali agar kedudukannya stabil.

Batu kali merupakan komponen yang cukup penting pula di lingkungan kampung suku Baduy. Selain digunakan untuk tumpuan tiang penyangga, batu kali juga digunakan sebagi penahan tanah agar tidak longsor. Caranya dengan ditumpuk membentuk benteng, atau dipakai untuk membuat anak tangga, selokan, ataupun tempat berjalan yang sangat berguna terutama jika musim hujan tiba.

Jenis atapnya disebut sulah nyanda. Pengertian dari nyanda adalah posisi atau sikap bersandar wanita yang baru melahirkan. Sikap menyandarnya tidak tegak lurus, tetapi agak merebah ke belakang. Jenis atap sulah nyanda tidak berbeda jauh dengan jenis atap julang ngapak. Jika jenis atap yang disebutkan terakhir memiliki dua atap tambahan di kedua sisinya, atap jenis sulah nyanda hanya memiliki satu atap tambahan yang disebut curugan. Salah satu atap pada sulah nyanda lebih panjang dan memiliki kemiringan yang rendah.

Rumah tinggal suku Baduy hanya memiliki satu pintu masuk yang ditutup dengan panto, yaitu sejenis daun pintu yang dibuat dari anyaman bilah-bilah bambu berukuran sebesar ibu jari dan dianyam secara vertikal. Teknik anyaman tersebut disebut sarigsig. Orang Baduy tidak mengenal ukuran seperti halnya masyarakat modern. Karena itu, mereka pun tidak pernah tahu ukuran luas maupun ketinggian rumah tinggal mereka sendiri.

Semuanya dibuat dengan perkiraan dan kebiasaan semata. Dalam menentukan ukuran lebar pintu masuk, mereka cukup menyebutnya dengan istilah sanyiru asup. Lebar pintu diukur selebar ukuran alat untuk menampi beras. Sebagian besar pintu tidak dikunci ketika ditinggalkan penghuninya. Akan tetapi, beberapa orang membuat tulak untuk mengunci pintu dengan cara memalangkan dua kayu yang didorong atau ditarik dari samping luar bangunan. Ruangan Inti

Pembagian interiornya terdiri dari tiga ruangan, yaitu sosoro, tepas, dan imah. Sosoro dipergunakan untuk menerima kunjungan tamu. Letaknya memanjang ke arah bagian lebar rumah. Selanjutnya, ruang tepas yang membujur ke arah bagian panjang atau ke belakang digunakan untuk acara makan atau tidur anak-anak. Antara ruangan sosoro dan tepas tidak terdapat pembatas. Keduanya menyatu membentuk huruf L terbalik atau siku.

Tampaknya bagian inti dari rumah suku Baduy terletak pada ruangan yang disebut imah karena ruang tersebut memiliki fungsi khusus dan penting. Selain berfungsi sebagai dapur (pawon), imah juga berfungsi sebagai ruang tidur kepala keluarga beserta istrinya.

Mereka tidak memiliki tempat tidur khusus, tetapi hanya menggunakan tikar. Alas tersebut digunakan hanya sewaktu tidur, setelah itu dilipat kembali dan disimpan di atas rak. Cara tersebut menunjukkan bahwa kegunaan imah sangat fleksibel dan multifungsi. Di sekeliling ruangan imah terdapat rak-rak untuk menyimpan peralatan dapur dan tikar untuk tidur.

Secara garis besar, yang dinamakan imah adalah sebuah ruangan atau bagian inti dari tata ruang dalam rumah tinggal suku Baduy. Hampir seluruh kegiatan berpusat pada ruangan tersebut, baik hal-hal yang bersifat lahiriah, seperti menyediakan makanan dan minuman, maupun hal-hal yang batiniah, termasuk menjalankan peran sebagai pasangan suami-istri dan kepala keluarga.

Melalui kegiatan bergotong royong seluruh kampung, dalam sehari mereka dapat menyelesaikan sekitar sepuluh bangunan rumah tinggal yang luasnya lebih kurang 100-120 meter persegi. Hal ini dapat terlaksana karena mereka tinggal memasang seluruh komponennya.

Di Desa Cibeo terdapat 80 rumah tinggal dengan 100 kepala keluarga. Saat pelaksanaan program, seluruh warga turun bergotong royong, bahu-membahu membantu tanpa pamrih. Mereka menyumbangkan bahan bangunan, komponen rumah, atau tenaganya. Hal itu merupakan bentuk kebersamaan kolektif yang masih kuat dan dipelihara di kalangan suku Baduy Dalam hingga kini.

http://humaspdg.wordpress.com/2010/05/02/mengenal-arsitektur-rumah-adat-baduy/