Latest News

Friday, 25 February 2011

Mengenal Gereja Katolik

Pengertian Gereja Katolik
Istilah �gereja� dalam Kitab Suci adalah �ekklesia� (dari kata kerja Yunani, ekkalein, memanggil keluar, bahasa Perancisnya ��glise� yang berarti �pertemuan rakyat�, terutama yang bersifat religius.

Dewasa ini pengertian �gereja� dalam masyarakat Katolik (Katolik = umum, lintas suku dan bangsa) bisa mengacu pada dua pemahaman. Pemahaman pertama gereja dimana �g� huruf kecil mengacu pada rumah ibadah. Pemahaman kedua dengan Gereja dimana �G� huruf besar mengacu pada umat yang Allah himpun dari seluruh dunia. Gereja adalah seluruh anggota umat Allah yang sudah dibabtis dalam nama Bapa Putera dan Roh Kudus.

Dalam leaflet ini, Gereja yang dimaksudkan adalah umat yang dikumpulkan Allah dari segala ujung bumi. Kerapkali juga Gereja digambarkan sebagai bangunan Allah (1Kor 3:9). Lebih eksplisit lagi, Gereja digambarkan sebagai kandang domba, dan satu-satunya pintu yang harus dilalui ialah Kristus (Yoh 10:1-10). Gereja juga merupakan kawanan, yang seperti dulu telah difirmankan (Yes 40:11), akan digembalakan oleh Allah sendiri. Gereja itu tiada hentinya dibimbing dan dipelihara oleh Kristus sendiri. Itulah sebabnya Gereja disebut juga perhimpunan para pengikut Kristus.

Asal, Pembentukan dan Perutusan Gereja
Gereja dapat dipahami secara lebih mendalam dengan mencoba merenungkan asalnya dalam keputusan Tritunggal Mahakudus dan pelaksanaannya secara bertahap dalam sejarah keselamatan umat manusia.

Gereja ada sebagai hasil keputusan kebijasanaan serta kebaikan hati Bapa. Bapa menetapkan untuk menghimpun mereka yang beriman kepada Kristus dalam Gereja kudus. Himpunan umat Allah tersebut dibentuk dan direalisasikan sesuai dengan pertimbangan Bapa langkah demi langkah dalam peredaran sejarah umat manusia. Gereja didirikan pada jaman terakhir, ditampilkan berkat pencurahan Roh dan akan disempurnakan pada akhir jaman (Bdk. LG 2).

Persiapan pembentukan Gereja dimulai dari pemilihan umat Israel sebagai umat Allah (Bdk. Kel 19:5-6; Ul 7:6). Selanjutnya, Allah Bapa mengutus PuteraNya Yesus Kris-tus untuk melaksanakan rencana keselamatan Bapa dalam kepenuhan waktu (Bdk. LG 3; AG 3). Untuk memenuhi kehendak Bapa, Kristus mendirikan Kerajaan surga di dunia. Gereja adalah �Kerajaan Kristus yang sudah hadir dalam misteri� (LG 3). Pembentukan Gereja oleh Kristus muncul terutama karena penyerahan diri Kristus secara menyeluruh untuk keselamatan kita, yang didahului dalam penciptaan Ekaristi dan direalisasikan pada kayu salib. �Permulaan dan pertumbuhan itulah yang ditandakan dengan darah dan air, yang mengalir dari lambung Yesus yang terluka di kayu salib� (LG 3). Seperti Hawa dibentuk rusuk Adam yang sedang tidur, demikian Gereja dilahirkan dari hati tertembus Kristus yang mati di salib (Bdk. Santo Ambrosius, Luc.II, 85-89).

Akhirnya, �sesuai tugas, yang diberikan Bapa kepada Putera untuk ditunaikan di dunia, diutuslah Roh Kudus pada hari Pentekosta, agar ia senantiasa menyucikan Gereja� (LG 4). Ketika itu �Gereja ditampilkan secara terbuka di depan khalayak ramai dan dimulailah penyebaran Injil di antara bangsa-bangsa melalui pewartaan� (AG 4).

Melihat asalnya, Gereja dipersiapkan oleh Allah Bapa, didirikan oleh Yesus Kristus, dinyatakan oleh Roh Kudus, maka Gereja membawa misi yaitu menghadirkan dan mewartakan Kerajaan Allah, Kerajaan Cinta Kasih di tengah semua bangsa.

Gereja Semesta (Universal)
�Gereja semesta� terdiri dari dua kata. Kata �Gereja� adalah himpunan umat Allah. �Semesta� berasal dari bahasa Sansekerta, artinya �seluruh�. Dalam bahasa Latin, universun, Bahasa Inggeris, universal keduanya berarti semesta atau atau keseluruhan. Jadi �Gereja semesta� adalah himpunan umat Allah secara keseluruhan yang ada di penjuru dunia.

Secara nyata, pengertian Gereja semesta/ universal adalah seluruh Gereja Katolik yang mengakui Sri Paus, Uskup Gereja Roma dan pengganti Petrus, Wakil Kristus, sebagai Gembala Universal di dunia. Sri Paus bersama Dewannya diakui sebagai pemegang kuasa jabatan, tertinggi, penuh, langsung dan universal (Bdk Kan. 331). Maka dari itu, karena selaku gembala semua orang beriman ia diutus, untuk mengusahakan kesejahteraan bersama Gereja semesta/ universal maupun kesejahteraan Gereja masing-masing, ia memperoleh primat kuasa atas semua Gereja.

Gereja Partikular
�Gereja partikular� maksudnya ialah Gereja-gereja keuskupan yang tersebar di seluruh dunia. Keuskupan merupakan bagian dari umat Allah, yang dipercayakan kepada seorang Uskup untuk digembalakan dalam kerja sama dengan para imam (pastor) (Bdk. Kan 126).

Gereja-gereja partikular/keuskupan hanya bisa berdiri secara legitim, menurut hukum sendiri mempunyai badan hukum dan atas kuasa pemegang otoritas tertinggi Gereja yaitu Sri Paus di Roma.

Gereja partikular/keuskupan masih memiliki bagian-bagian yang terpisah yaitu paroki-paroki. Semuanya tetap berada dalam kesatuan Gereja Kristus yang satu, kudus, katolik dan aportolik. Suatu Gereja keuskupan dikepalai oleh seorang uskup, yang berdasarkan penetapan ilahi adalah pengganti-pengganti para Rasul lewat Roh Kudus yang dianugerahkan kepadanya. Para uskup di setiap keuskupan diangkat menjadi gembala-gembala dalam Gereja agar mereka sendiri menjadi gembala-gembala dalam Gereja agar mereka sendiri menjadi guru dalam ajaran, imam dalam Ibadat suci dan pelayan dalam kepemimpinan (Bdk Kan. 375).

Susunan Hirarkis Gereja
Secara harafiah �susunan� berasal dari kata kerja �menyusun� berarti meletakkan satu di atas yang lain. Sebagai kata benda yaitu �susunan� berarti satu terletak di atas yang lain. �Hirarkis� pada kata bendanya hirarki berasal dari bahasa Yunani yaitu hieros = su-ci ; arche = peraturan, kuasa, jabatan. Hirarki berarti orang yang mempunyai kuasa/ jabatan suci untuk mengatur atau memimpin, dalam hal ini, jabatan pemimpin/ dalam Gereja Katolik.

Secara konkrit di lapangan, susunan hirarkis Gereja adalah struktur kepemimpinan, kuasa, jabatan Gereja mulai dari tingkat paling tinggi hingga pada tingkat paling rendah di seantero dunia.

Susunan hirarkis Gereja Katolik tertata secara kokoh dan rapi mulai dari otoritas tertinggi hingga paling rendah yaitu Sri Paus, Uskup Roma � Dewan Para Uskup, Kardinal � Kuria Romawi � Duta Paus � Uskup (Gereja Partikular) � Imam/ Pastor (Gereja Paroki).

Peranan Gereja dalam Dunia Jaman Sekarang
Gereja berasal dari cinta kasih Bapa yang kekal, didirikan oleh Kristus Penebus dalam kurun waktu, dan dihimpun dalam Roh Kudus. Gereja mempunyai tujuan penyelamatan dan eskatologis, yang hanya dapat tercapai sepenuhnya di jaman yang akan datang. Adapun Gereja sudah hadir di dunia ini, para anggotanya adalah orang-orang yang termasuk warga masyarakat dunia. Semua anggotanya dipanggil supaya sejak sejarah manusia sudah membentuk keluarga putera-puteri Allah, yang terus menerus harus berkembang hingga kedatangan Tuhan (Bdk. GS. 40).

Dengan tujuan penyelamatan umat manusia, Gereja sangat menghargai martabat pribadi manusia, masyarakat manusia dan makna kegiatan manusia sendiri. Sikap tersebut menjadi dasar hubungan Gereja dengan dunia dan landasan bagi dialog timbal-balik antara keduanya.

Pada era globalisasi sekarang, manusia sedang berusaha mengembangkan kepribadiannya secara lebih penuh dan semakin mengenal serta menegakkan hak-haknya demi kebahagiaannya. Pada era yang sama pula, berbagai kemajuan hasil karya manusia, misalnya ilmu dan teknologi, teknologi informasi khususnya membantu manusia dalam menggapai kebahagiaannya. Meskipun demikian, tidak sedikit manusia menjadi korban marjinalisasi, penindasan dan eksploitasi karena ulah manusia mengakibatkan kebahagiaan sejati semakin sulit dicapai. Belum lagi bencana gempa dan Tsunami terdahsyat pada 26 Desember 2004, berbagai bencana banjir, bahaya bom terorisme, aneka penyakit berbahaya, dan merajalelanya obat-obat terlarang di tengah masyarakat dunia, ikut membawa manusia ke dalam ruang hampa, ketakutan, kegetiran, penderitaan dan trauma hidup yang mendalam.

Adapun Gereja, yang hadir di dunia, turut serta merasakan dan mengalami sukacita dan duka cita dunia. Gereja hadir untuk menyiarkan misteri Allah. Gereja hadir untuk menyingkapkan kepada manusia makna keberadaannya sendiri yaitu kebenaran yang paling mendalam tentang jati diri manusia. Sesungguhnya Gereja menyadari, bahwa hanya Allah yang diabdinyalah yang dapat memenuhi keinginan-keinginan hati manusia yang mendalam, dan tidak pernah akan mencapai kebahagiaan sepenuhnya dengan apa saja yang disajikan oleh dunia.

Hubungan Gereja Katolik dengan Gereja Terpisah
Sejak awal mula Gereja Allah itu adalah satu kesatuan utuh. Namun dalam perjalanan sejarah, dalam satu dan satu-satunya Gereja Allah itu telah timbul perpecahan (1Kor 11:18-19), yang oleh Rasul dikecam dengan tajam sebagai hal yang telah dihukum (1Kor 1:11; 11:22). Dalam abad-abad sesudahnya timbullah pertentangan-pertentangan yang lebih luas lingkupnya, dan jemaat-jemaat yang cukup besar terpisahkan dari persekutuan sepenuhnya dengan Gereja Katolik, kadang-kadang bukannya tanpa kesalahan kedua belah pihak (Bdk. UR 3).

Tetapi mereka yang memisahkan diri dan dibesarkan dalam iman akan Kristus tidak dapat dipersalahkan dan dianggap berdosa karena membentuk jemaat sendiri. Gereja Katolik merangkul mereka dengan sikap penuh hormat dan cinta kasih (Bdk UR. 3).

Memang karena bermacam-macam perbedaan antara mereka dengan Gereja Katolik misalnya, perihal ajaran, tata tertib dan tata-susunan hirarkis Gereja. Gerekan ekumenis (gerakan melakukan kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha untuk mendukung kesatuan Kristen) dibentuk untuk mengatasi hambata-hambatan yang ada. Meskipun banyak perbedaan, namun ada satu hal yang mempersatukan yaitu keduanya menyandang gelar nama pengikut Kristus.

Hubungan Gereja Katolik dengan Agama-agama Bukan Kristen
Dalam tugasnya mengembangkan kesatuan dan cinta kasih antar manusia, bahkan antar bangsa, Gereja mendorong semua untuk bekerja bersama-sama menghadapi aneka tantangan kehidupan manusia.
Sebab semua bangsa dan umat manusia terdiri dari aneka agama dan keyakinan seperti agama Hindu, Budha, Yahudi, Islam Konghucu, Sinto dan aneka aliran kepercayaan merupakan satu sebagai masyarakat dunia. Yang mengejar kesempurnaan dan kebahagiaan sejati pada Satu Ada tertinggi. Menurut keyakinan Gereja Katolik, Allah meng-hendaki segenap umat manusia selamat dan bahagia. Semua juga mempunyai satu tujuan terakhir takni Allah, Ada tertinggi, yang penyelenggaraanNya, bukti-bukti kebaikanNya dan rencanaNya meliputi semua orang (Keb 8:1; Kis 14:17; Rom 2:6-7); (Bdk pula NA. 1).
Jadi hubungan Gereja Katolik dengan agama-agama bukan Kristiani adalah hubungan dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama untuk mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai sosio-budaya yang terdapat pada masing-masing agama (Bdk NA. 2).

Penutup
Gereja merupakan himpunan umat Allah di dunia untuk menghadirkan Kerajaan Cinta Kasih. Gereja dengan penuh hormat dan cinta kasih mengajak semua orang, bangsa, agama yang berkehendak baik untuk mengejar kebahagiaan sejati manusia dan bekerja bersama-sama memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi manusia pula.

Buku acuan:
1. Kitab Suci , Lembaga Aikitab Indonesia, Jakarta 2002
2. Kitab Hukum Kanonik, Sekretariat KWI, Obor : Jakarta, 1991
3. Dokumen Konsili Vatikan II, Dokpen KWI, Obor : Jakarta, 1993
4. Katekismus Gereja Katolik, Arnoldus, Ende: 1995
5. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Badudu-Jain, Sinar Harapan: Jakarta 2001

Wednesday, 23 February 2011

Pesan Bapa Suci Paus Benedictus XVI Untuk Hari Orang Sakit Sedunia Ke-19 (11 Februari 2011)

�OLEH BILUR-BILURNYA KAMU TELAH SEMBUH� (1 Pet 2:24)

Saudara saudari terkasih,
Setiap tahun, Gereja memperingati Hari Orang Sakit Sedunia pada Peringatan Santa Perawan Maria dari Lourdes, yang biasanya dirayakan pada setiap tanggal 11 Februari. Hal ini, sebagaimana diharapkan oleh Venerabilis Paus Yohanes Paulus II, merupakan kesempatan yang baik dan tepat untuk merenungkan misteri penderitaan, terutama untuk mengajak komunitas-komunitas gerejani dan masyarakat sipil lainnya lebih peka terhadap saudara-saudari kita yang sakit. Jika setiap orang adalah saudara, terlebih lagi orang yang lemah, yang menderita dan yang membutuhkan perhatian, maka mereka harus menjadi pusat perhatian kita, sehingga tak seorangpun dari mereka merasa dilupakan atau dipinggirkan. Karena sesungguhnya: "Tolok ukur kemanusiaan pada dasomya ditentukan oleh kaitan antara penderitaan dengan si penderita. Hal ini berlaku baik bagi individu maupun masyarakat. Suatu masyarakat yang tak mampu menerima para penderita dan tak mampu berbagi derita dengan mereka dan berbelas-kasih terhadap mereka, adalah masyarakat yang bengis dan tidak manusiawi" (Ensiklik "Spe Salvi", No. 38).

Semoga aneka inisiatif yang dirancang oleh masing-masing keuskupan pada peringatan ini menjadi suatu pendorong dan semakin efektif dalam memberi perhatian kepada mereka yang menderita, termasuk dalam konteks peringatan akbar yang akan dilangsungkan di tempat peziarahan gua Maria di Altotting, Jerman pada tahun 2013 nanti.

1. Saya masih ingat ketika dalam serangkaian kunjungan pastoral ke Turin, saya dapat berhenti sejenak dalam refleksi dan doa saya di depan kain Kafan Suci, di hadapan Wajah yang menderita, yang mengundang kita untuk merenungkan Diri-Nya, yang mau menerima beban derita manusia dari setiap jaman dan tempat, bahkan penderitaan kita, kesulitan-kesulitan kita, dosa�dosa kita. Betapa banyak orang beriman sepanjang sejarah telah mengunjungi kain kafan, yang digunakan untuk membungkus tubuh seorang yang disalibkan, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Injil yang telah disampaikan kepada kita tentang penderitaan dan wafat Yesus! Merenungkan hal ini adalah suatu undangan untuk merefleksikan apa yang ditulis oleh St. Petrus : "Oleh bilur-bilurNya kamu telah sembuh" (1 Petrus 2:24).

Putera Allah telah menderita, la telah wafat, tetapi la telah bangkit kembali. Memang benarlah demikian karena melalui peristiwa-peristiwa tersebut luka-lukaNya menjadi tanda penebusan, pengampunan dan perdamaian kembali kita dengan Bapa. Namun demikian peristiwa derita, wafat clan kebangkitan tersebut sekaligus juga menjadi ujian iman bagi para Murid dan iman kita. Setiap kali Tuhan berbicara tentang penderitaan dan wafat-Nya, para murid tidak dapat mengerti, mereka menolaknya dan menyangkalnya. Bagi mereka, sama dengan bagi kita, penderitaan itu selalu penuh dengan misteri, sulit untuk kita terima dan kita tanggung. Sebab peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di Yerusalem dalam hari-hari itu, membuat dua orang Murid dari Emaus berjalan dengan hati sedih, dan hanya ketika Dia yang bangkit berjalan bersama dengan mereka, maka terbukalah mereka terhadap pemahaman yang baru (bdk. Lukas 24:13-31). Bahkan Rasul Thomas sendiri menunjukkan kesulitannya untuk meyakini jalan penebusan melalui penderitaan : "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya don sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya" (Yoh.20:25). Namun sebelum Yesus menunjukkan luka�luka-Nya, jawaban-nya (rasul Thomas) telah berubah menjadi sebuah pernyataan iman yang mengharukan: "Ya Tuhanku dan Allahku!" (Yoh. 20:28). Apa yang pada awalnya merupakan halangan besar, sebab hal ini merupakan tanda kegagalan Yesus yang nyata, menjadi bukti cinta yang begitu kuat, berkat perjumpaan dengan Dia yang telah bangkit: "Hanya Allah yang mengasihi kita sampai berani menanggung bagi diri-Nya luka-luka don penderitaan kita, khususnya penderitaan yang bukan karena kesalahan-Nya sendiri, Allah semacam itulah yang pantas diimani" (Pesan Urbi et Orbi, Paskah 2007).

2. Saudara-saudari yang sedang sakit dan menderita, alangkah baik sekali bahwa melalui penderitaan Kristus kita dapat melihat, dengan mata pengharapan, semua kejahatan yang menimpa umat manusia. Berkat kebangkitan-Nya, Tuhan tidak menyingkirkan penderitaan dan kejahatan dari dunia, melainkan Dia telah menaklukan derita dan kejahatan itu dari akarnya. Keangkuhan kejahatan Dia lawan dengan keagungan kasih-Nya. Oleh karena itu, la menunjukkan kepada kita bahwa jalan menuju kedamaian dan sukacita adalah Kasih: "Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi" (Yoh.13:34). Kristus, sang Pemenang atas maut, hidup dan tinggal di tengah-tengah kita. Dan bersama St. Thomas kita berkata : "Ya Tuhanku don Allahku!" Marilah kita mengikuti Tuhan yang selalu siap untuk mempersembahkan hidup kita bagi saudara�-saudara kita (1Yoh.3:16), menjadi pembawa kabar sukacita tanpa takut akan penderitaan. Inilah sukacita Kebangkitan.

St. Bernardus pernah mengatakan: �Allah tidak dapat menderita, tetapi la dapat menderita bersama." Allah, yang adalah Kebenaran dan Kasih dalam diri manusia, berkenan menderita bagi clan bersama dengan kita. la menjadi manusia supaya dapat menderita bersama dengan manusia dalam arti yang sebenarnya, dalam darah dan daging. Oleh karena itu, Dia telah masuk dalam diri seorang Manusia untuk berbagi dan menanggung derita bagi setiap penderitaan manusia. la menawarkan pengiburan terhadap semua penderitaan, suatu penghiburan karena keterlibatan kasih Allah, yang membuat bintang pengharapan bersinar (bdk. Ensiklik "Spe Solvi" 39).

Saya ulangi sekali lagi pesan ini kepada kamu, Saudara dan Saudari, supaya kamu menjadi saksi akan hal ini melalui derita, hidup dan imanmu.

3. Sambil menanti pertemuan di Madrid, Agustus 2011, pada perayaan Hari Kaum Muda Sedunia, saya juga akan menyampaikan suatu refleksi khusus bagi kaum muda, terutama mereka yang pernah mengalami penderitaan penyakit. Seringkali, Penderitaan dan Salib Yesus menyebabkan ketakutan, karena seolah-olah menjadi penyangkalan terhadap kehidupan. Kenyataannya justru sangat berlawanan! Salib adalah Jawaban "ya" dari Allah bagi umat manusia, suatu ungkapan tertinggi clan terdalam kasih Allah, cumber yang mengalir untuk kehidupan kekal. Dari hati Yesus yang terluka, hidup ilahi mengalir. la sendiri sanggup membebaskan dunia dari kejahatan dan menjadikan Kerajaan-Nya: kerajaan keadilan, perdamaian dan kasih tumbuh, kerajaan yang kita semua cita-citakan. (bdk. Pesan untuk Hari Kaum Muda Sedunia 2011, no. 3).

Kaum muda yang terkasih, belajarlah "melihat" dan "menjumpai" Yesus di dalam Ekaristi, di mana la hadir bagi kita secara nyata, yang menjadikan diri�Nya makanan untuk perjalanan kita, tetapi ketahuilah bagaimana mengenal dan melayani Dia, yaitu di dalam diri saudara-saudara yang miskin, sakit, menderita dan dalam kesulitan, juga yang membutuhkan bantuanmu (bdk. Ibid, no. 4). Bagi kamu semua hai kaum muda, baik yang sakit maupun yang sehat, saya ulangi lagi undangan untuk membangun jembatan kasih dan solidaritas, supaya tidak seorangpun merasa sendirian, melainkan dekat dengan Allah dan menjadi bagian dari keluarga besar anak-anak-Nya (bdk. Audiensi Umum, 15 November 2006)

4. Ketika merenungkan bilur-bilur Yesus, kita arahkan pandangan kita kepada Hati-Nya yang Mahakudus di mana kasih Allah dinyatakan dengan cara yang paling agung. Hati Tersuci adalah Kristus yang tersalib, dengan lambung-Nya tertembus oleh tikaman tombak, dari sanalah darah dan air mengalir (bdk. Yoh. 19:34): "simbol Sakramen-sakramen Gereja, sehingga semua orang yang ditarik kepada hati Sang Juru Selarnat, boleh minum dari sumber air keselamatan abadi" (Missa Romawi, Prefasi Hari Raya Hati Kudus Yesus). Khususnya kamu semua yang sedang menderita sakit, hendaknya merasakan betapa dekatnya dengan Hati Kudus Yesus yang penuh kasih dan ambilah air dari mata air ini dengan iman dan sukacita, sambil bercloa : �Air lambung Kristus, bersihkanlah aku. Sengsara Kristus, kuatkanlah aku. 0 Yesus yang baik, dengarkanlah aku. Dalam luka-luka-Mu, sembunyikanlah aku" (doa St. Ignatius Loyola).

5. Mengakhiri pesan saya untuk Hari Orang Sakit Sedunia ini, saya ingin mengungkapkan kasih saya bagi setiap orang, sambil merasakan keterlibatan saya di dalam penderitaan dan pengharapanmu sehari-hari dalam persekutuan dengan Kristus yang tersalib dan bangkit, hingga la memberimu damai dan kesembuhan batin. Semoga bersama Kristus yang telah wafat dan bangkit, Santa Perawan Maria yang kepadanya kita mohon dengan penuh iman, selalu menjagamu karena gelarnya adalah Pelindung orang sakit dan Penghibur orang yang menderita. Di bawah kaki salib, terpenuhilah di sana nubuat Simeon: hatinya sebagai Ibu tertembus pedang (bdk. Luk. 2:35). Dari jurang penderitaannya, karena partisipasinya dalam penderitaan Puteranya, Maria dimampukan menerima misi barunya: menjadi ibu Kristus di dalam anggota-anggota (Gereja-Nya). Pada saat penyaliban, Yesus menyerahkan kepada Maria setiap murid-Nya: "Inilah anakmu" (bdk. Yoh. 19:26-27). Kasih keibuan Maria bagi Putera-nya menjadi kasih keibuan bagi setiap orang di antara kita dalam penderitaan kita sehari�hari (bdk. Khotbah di Lourdes, 15 September 2008).

Saudara-saudari terkasih, pada Hari Orang Sakit Sedunia ini, saya juga mengundang para penguasa untuk lebih menginventasikan lagi sistem-sistem kesehatan yang dapat menyediakan bantuan dan dukungan bagi yang menderita, terlebih mereka yang paling miskin dan yang paling membutuhkan. Dan bagi semua keuskupan, saya menyampaikan salam kasih kepada para uskup, para imam, kaum religius, para seminaris, para petugas kesehatan, para sukarelawan dan semua orang yang membaktikan dirinya dengan kasih untuk merawat dan meringankan luka-luka setiap saudara-saudari yang sakit, di rumah-rumah sakit atau di panti-panti perawatan, maupun dalam keluarga. Dalam wajah-wajah orang-orang yang sakit itu, ketahuilah bagaimana agar dapat melihat Wajah di antara wajah-wajah itu: Wajah Kristus sendiri.

Saya kenangkan kamu semua dalam doa saya, seraya memberikan berkat khusus apostolik kepada kamu masing-�masing.

Dari Vatikan, 21 November 2010
Pada Pesta Kristus Raja Semesta Alam
Benediktus XVI

Tuesday, 22 February 2011

Orang Muda Katolik (OMK) di tengah arus hubungan antar agama dan kepercayaan (HAK)

1. Meluas Sejak �Zaman Kita�
Arus dialog antar-agama makin kuat sejak 1960-an. Seperti teologi pembebasan, teologi pluralisme agama-agama memiliki akar resminya dari Konsili Vatikan II (1962-1965), dan benihnya diperkenalkan kepada Gereja oleh Paus Paulus VI dalam ensikliknya Ecclesiam Suam (6 Agustus 1964). Teologi pluralisme agama-agama ini merupakan buah dari panggilan Konsili bagi Gereja agar berada dalam dialog dengan agama-agama lain. Jika teologi pembebasan mengambil titik pijak pada dokumen Gaudium et Spes (�Kegembiraan dan Harapan�), maka teologi pluralisme agama-agama berpijak pada dokumen Nostra Aetate (�Zaman Kita�), deklarasi hubungan Gereja terhadap agama-agama non-Kristen. Walaupun dokumen yang ditetapkan tahun 1965 ini singkat saja, hanya 5 artikel, namun telah secara signifikan mengubah sikap Gereja Katolik dalam membangun hubungan dengan masyarakat dan agama-agama lain. Khususnya, artikel di bawah ini sangat revolusioner, paling tidak menurut standard Gereja tahun 1960-an:

�Gereja Katolik tidak menolak apapun yang benar dan suci dalam agama-agama [The Catholic Church rejects nothing which is true and holy in these religions]. Dengan sikap hormat dan tulus, Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran yang menerangi semua orang�(NA,2). Sampai di sini kita teringat pula akan Lumen Gentium: �Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta GerejaNya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendakNya yg mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal�(LG,16).

Catatan berikutnya dalam NA artikel 2 itu mengingatkan, bahwa Gereja tidak mau terjebak dalam indiferentisme:
�Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diriNya (2Kor 5:18-19). Di sini ingatan melayang ke LG 14 yang berseru untuk orang Katolik sendiri: �Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah pengantara dan jalan keselamatan yakni Kristus. Ia hadir dalam TubuhNya yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis (Mrk 16:16; Yoh 3:5), Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja� Maka andaikata ada orang yang benar-benar tahu bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan�.

Alinea terakhir NA 2: �Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta peri hidup Kristiani, mengakui, memelihara, dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya yang terdapat pada mereka.

Setelah itu, menguatlah arus dialog antar-agama dalam kepala dan anggota-anggota tubuh Gereja Katolik, dibandingkan era sebelumnya. Federation of Asian Bishops� Conferences (FABC) dalam sidang-sidangnya sejak tahun 1990�1995 bergembira dengan arus teologi pluralisme. Tidak heran karena konteks Asia menuntut Gereja berdialog dengan agama-agama lain di samping dengan budaya-budaya dan realitas kemiskinan. Memang, agama-agama besar terlahir di Asia. Bahkan penerbitan dokumen Dominus Iesus 5 September 2000 oleh Kongregasi Ajaran Iman, yang menekankan karya penyelamatan Allah melalui Kristus dalam Gereja Katolik Roma, yang sebenarnya mirip LG 14, tidak mematahkan semangat dialog, selain malahan menegaskan bahwa alasan dialog memang diakui muncul karena adanya perbedaan dalam hidup bersama. Isu-isu teologis yang timbul sejak Dominus Iesus tetap menunjukkan bahwa sikap positif atas dialog tetap menempati 95%, sedangkan penolakan atas dialog pasca terbitnya dokumen itu hanya 1% (Edmund Chia, Towards a Theology of Dialogue: Schillebeeckx�s Method as Bridge between Vatican�s Dominus Iesus and Asia�s FABC Theology. Bangkok: 2003).

Komisi Dialog atau Hubungan Antar Kepercayaan di FABC, KWI serta Keuskupan dan Paroki pun dibentuk untuk mengembangkan dialog dengan agama-agama lain, memantapkan hubungan ekumenis, dan relasi dengan penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dialog kemudian berkembang dalam tujuh (7) bentuk: (1) dialog kehidupan, (2) dialog dalam hidup sehari-hari, (3) dialog karya, (4) kerja sama antar lembaga, (5) dialog pakar, (6) pemahaman dalam persahabatan, (7) dialog pengalaman religius. Dengan demikian sebenarnya bisa ditegaskan kebenaran iman kita ini: Allah sendiri-lah yang menghendaki �keluar dari dirinya sendiri�, mendatangi manusia untuk berdialog dengan manusia untuk menyelamatkan manusia.

2. Realitas Orang Muda Katolik (OMK) Dalam Arus Dialog
Rapat Pengurus Komisi Kepemudaan KWI 12 Februari 2009, menegaskan agar klausul �mengembangkan wawasan dan pengalaman dialog dengan agama-agama lain� dimasukkan dalam rancangan Pedoman Pastoral OMK. Usulan atas kalimat itu dalam Pedoman Pastoral OMK itu bukannya tanpa alasan. Arus zaman menuntut kita berdialog antar agama, dan Komisi Kepemudaan semestinya mengajak OMK berlatih berdialog. Maka, dialog antar-agama mesti menjadi perhatian Komisi Kepemudaan pula. Kita tahu dari pengalaman, betapa urusan Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) selama ini terkesan menjadi urusan orang tua. Padahal di lapangan, banyak ajakan berdialog kepada OMK di tingkat paroki, kevikepan/dekenat, maupun keuskupan, dan nasional baik oleh pemerintah maupun majelis agama-agama dan forum-forum lintas agama. Kebutuhan untuk menampilkan OMK dalam panggung dialog ini hendaknya bukan hanya karena desakan rasa malu karena selama ini kita sukar memenuhi undangan dari saudara-saudara kita karena minimnya OMK yang mau dan mampu terlibat, namun hendaknya didorong dari dalam oleh ketulusan hati yang penuh syukur atas kasih Allah yang menggapai semua orang. Kesungguhan untuk melibatkan OMK dalam HAK sebenarnyalah bukan karena OMK kita selama ini �mengkawatirkan� jika harus menjelaskan pengetahuan iman Katolik mereka di antara teman-teman agama-agama lain yang begitu percaya diri, namun lebih-lebih karena perutusan oleh Tuhan sendiri untuk menaburkan cinta kasihNya demi terwujudnya Kerajaan Allah di dunia.

3. Harapan atas OMK di Tengah Arus Dialog Agama-Agama
Pastoral OMK mesti menganut blue ocean management. Karya kepemudaan tak bisa mengincar satu bentuk saja. Fokus Karya KomKep memang hanya satu yakni pengembangan OMK secara holistik pada katolisitas/spiritualitas, kepribadian, kemasyarakatan, kepemimpinan/organisasi dan profesionalitas. OMK Indonesia dengan segala dimensinya harus berkembang, dengan program, bentuk dan cara kegiatan yang beraneka ragam dan banyak pilihan, termasuk pengembangan diri OMK dalam hal dialog antaragama dan kepercayaan.
Oleh karena itu, pastoral OMK dalam konteks HAK semestinya:
1. Menetapkan tujuan pelibatan OMK dalam HAK, berdasar needs analysis, tentu saja bisa dipakai berbagai alat analisis, seperti SWOT, dll, namun juga alat pikir tiga poros keadaban publik (NotaPastoral KWI 2004).
2. Menetapkan desain program yang nyata dalam kerja sama dengan Komisi HAK. Pembinaan Orang Muda Katolik yang holistik, bersama Komisi HAK semoga berani membidik keberanian OMK agar menghayati iman dengan praktek hidup, aktif terlibat dalam hidup kemasyarakatan, berjiwa pejuang wirausaha, menjalani studi dengan baik, mudah berefleksi, mudah mengayunkan hati dalam doa, dan ringan hati menjalin persahabatan dengan teman-teman agama-agama dan kepercayaan lain. Pendek kata, menghasilkan OMK yang siap berdialog dalam ketujuh bentuknya di atas dengan teman-teman agama-agama lain.
3. Menumbuhkan minat OMK akan pengetahuan imannya. Kenyataan ini berbanding lurus dengan kemalasan membaca kekayaan iman dan intelektual, suatu depositum fidei yang dalam dan luas dari Gereja Katolik. Kemalasan dan minimnya pengetahuan iman yang menjadi suatu batu sandungan jika ingin suatu dialog yang lebih mendalam dengan teman-teman agama-agama lain. Apa yang mau didialogkan jika tak tahu persis mengenai aspek-aspek pengetahuan imannya sendiri? Apa bisa berdialog jika tidak terjun langsung dan segera bergaul dengan teman-teman muda dari agama-agama lain?
4. Peluang
Zaman kita memberi peluang baru yakni minat OMK akan teknologi informasi terkini. Jika orang muda Katolik mulai membangun jejaring dalam berbagai minat dengan aneka milist, facebook, twitter, blog, website, tentu saja alat ini akan berguna pula bagi pengembangan jejaring muda Katolik penggerak HAK. Yang saya maksud bukanlah media kontak-kontak romantisme belaka, namun terlebih bagaimana memakai media internet untuk menambah pengetahuan iman Katolik bagi OMK, dan berdialog dengan agama-agama lain dalam 7 bentuknya di atas. Beberapa website Katolik yang dikelola dengan baik oleh umat bisa ditautkan dengan website OMK dalam rangka membina HAK. Orang muda agama lain bisa diundang agar berinteraksi di dalamnya untuk berdialog. Semoga.
Yohanes Dwi Harsanto Pr, Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI. Tulisan ini pernah dipaparkan dalam diskusi Komisi HAK Regio Jawa, Februari 2009.

Sumber : http://katolisitas.org/

Saturday, 19 February 2011

Koordinator OMK Wilayah II

Koordinator Orang Muda Katolik (OMK) Wilayah II adalah
- Bernadetta Intan Kristanti
- Christophora Intan Himawan Putri

Orang Muda Katolik: Tajam ke Dalam, Tumpul ke Luar?

OMK: Apa dan Siapa Mereka?

Seperti apa potret Orang Muda Katolik Indonesia saat ini? Pertanyaan yang sedemikian kompleksnya, hingga kita pun sulit memberi jawab atasnya. Apa varian-varian yang bisa kita angkat menjawab �potret� darinya kita bisa mendapat gambaran tentang Orang Muda katolik? Kuantitasnya? Kualitasnya? Atau apa?

Adalah setiap orang muda yang sudah dibaptis dalam gereja katolik, dengan rentang usia 13-35 tahun, dan belum menikah menunjuk siapa yang disebut sebagai Orang Muda katolik. Demikian luas jangkauannya, menunjuk pula pada beraneka ragamnya wadah yang menaungi mereka. Tanpa pula lupa, mereka yang justru tidak berada dalam wadah apa pun yang menjadi komunitas berkumpulnya orang-orang muda katolik ini. Mereka justru berada dalam jumlah besar yang �menjadi pekerjaan rumah� tersendiri, bagaimana mereka bisa dirangkul.

Wadah OMK itu memang banyak. Mereka ada di tingkat teritorial paroki, yang sekarang biasa disebut OMK Paroki. Di paroki pun, mereka berkumpul pada komunitas OMK wilayah dan lingkungan. Selain lingkup teritorial, mereka berada di dalam wadah yang kita sebut lingkup kategorial, yang berkumpul berdasarkan kesamaan bakat, devosi dan minatnya. Kita mengenal kelompok seperti Choice, KKMK (Kelompok Karyawan Muda Katolik), Komunitas Lajang Katolik, New Heart Community (Komunitas Single Katolik Yang Mendalami Spiritualitas Hati Kudus Yesus), Corpus Cordis, dan masih banyak lainnya. Namun ada juga kelompok orang muda katolik yang tidak berada di dua lingkup ini. Kita bisa menyebut kelompok seperti KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik), PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa katolik Republik Indonesia) dan Pemuda Katolik. Jika dibagi dalam dua kategori besar, maka komunitas Orang Muda Katolik bisa kita pilah jadi dua: yaitu yang parokial dan ekstra parokial. Yang parokial, mencakup teritorial dan kelompok kategorial, sementara yang ekstra parokial menunjuk pada PMKRI, Keluarga Mahasiswa katolik, dan Pemuda katolik.

Menyadari ini saja, kita sudah membayangkan betapa �modal� Orang Muda Katolik Indonesia sangat besar. Silahkan diartikan sendiri, jika modal yang besar ini sungguh-sungguh dikelola dengan baik, maka bukan tidak mungkin gaung dan gema mereka pun akan besar. Misi besar Gereja mewartakan Kerajaan Allah di dunia, bukan tidak mungkin menjadi kian terasa dengan gerak orang muda katolik seperti ini.

Namun kenyataanya, tidaklah sesederhana itu. Modal kita memang besar, tetapi apakah sudah benar-benar efektif? Apakah modal besar ini, juga didukung oleh kualitas yang mumpuni untuk gerak dan misi bersama mewartakan kabar gembira Kristus di tengah-tengah dunia? Ini pertanyaan yang semestinya kita jawab.

Ke dalam: Spiritualitas Orang Muda

Ada satu hal yang menjadi pengikat semua wadah OMK dalam bentuk apa pun itu, yaitu kesamaan iman mereka, karena sudah dibaptis dalam Gereja Katolik. Apa pun bentuknya, apa pun wadahnya, tapi semua dan serentak mengakar pada dasar yang sama yaitu iman pada Yesus Kristus. Apakah pengalaman berdinamika dalam komunitas-komunitas ini membawa orang muda pada pengalaman perjumpaan dengan Yesus? Apakah proses pada komunitas-komunitas ini mengantar orang muda pada jatidiri kristiani, yaitu jatidiri Yesus sendiri? Ini yang kita sebut sebagai gerak ke dalam, ketika kita berproses bersama orang muda, kapan dan di mana pun itu. Itulah spritualitas yang dimensinya tidak bisa dianggap remeh oleh orang muda zaman ini.

Paus Benediktus XVI, ketika menyapa orang muda pada Hari Kaum Muda Sedunia 2007 menekankan hal ini secara sangat kuat. �Kita masing-masing telah dikaruniai kemungkinan untuk mencapai tahap mencintai yang sama, tetapi hanya jika dengan memiliki sumber dari dukungan yang diperlukan bagi anugerah yang kudus. Hubungan dengan Tuhan dalam doa membawa kita pada kerendahan hati, dan mengingatkan kita bahwa kita adalah �hamba yang tidak berguna. Di atas segala-galanya, ekaristi adalah sekolah yang baik untuk cinta,� ujar Paus dalam surat edarannya.

Hal yang sama ditekankan oleh Mgr. Ignatius Suharyo, ketika pertama kali menyapa pengurus Siekep se-KAJ di Gedung Karya Pastoral beberapa waktu yang lalu, agar orang muda katolik jangan sampai melupakan ekaristi di dalam hidupnya. Beliau juga menyentuh ini dalam bukunya The Catholic Way, agar orang muda katolik, pantas memberi tempat yang istimewa pada pengalaman akan Allah.

Demikian pula pada perayaan World Youth Day 2008 di Sydney, Paus menyerukan, bahwa masa kini, seiring dengan kemakmuran materi, telah terjadi kekeringan rohani: kekosongan jiwa, ketakutan yang tidak jelas penyebabnya dan keputusasaan. �Hidup yang sungguh berarti barulah ditemukan dalam mengasihi. Anugerah terbesar kabar sukacita yaitu panggilan untuk meemukan kepenuhan dalam cinta. �Dan Gereja membutuhkan iman, idealisme dan kemurahan hati kaum muda. Dengan demikian Gereja akan selalu muda dalam Roh. Gereja bertumbuh dengan kuas Roh Kudus yang memberikan kabar sukacita dan inpirasi untuk melayani dengan sukacita. Bukalah hati kalian bagi kuasa Roh Kudus,� ujar Paus Benediktus XVI di hadapan ribuan orang muda yang datang dari 93 negara ketika itu.

Inilah gerak ke dalam yang dupayakan dalam pendampingan orang-orang muda. Mgr. Suharyo mengungkapkan sebuah pertanyaan ini: �Bagaimana orang-orang muda dapat didampingi agar sampai pada pengalaman akan Allah yang mengubah dan membarui kehidupan? Saya yakin, semakin pribadi dan mendalam pengalaman seseorang-terutama orang muda- akan Allah, semakin luas pula medan hidup yang akan ia masuki sebagai perwujudan imannya: kerasulan di bidang media, politik, budaya dan juga agama.�

Keluar: Sebagai Perwujudan Iman

Basis yang kuat pada spiritualitas, tentu tidak menjadikan segala-galanya selesai. Ia harus berbuah dalam kesaksian melalui tindak nyata di tengah-tengah masyarakat, dalam medan kehidupan yang kompleks. Di Indonesia khususnya, panggilan OMK itu kian terasa.

Orang Muda katolik hadir di tengah situasi sosial yang beranekaragam, baik suku, agama, bahasa maupun budaya. OMK tumbuh dan berkembang di tengah komunitas bangsa yang sedemikian pluralnya. Apalagi menyadari dirnya sebagai kelompok minoritas di tengah keberagaman yang ada. Apakah OMK adalah kelompok yang hanyut terlarut dalam dinamika kehidupan sosial yang demikian kompleks? Apakah OMK adalah kelompok yang merasa �minder� lantaran jumlahnya yang kecil itu? Apakah OMK adalah komunitas yang apatis dengan sitausi sosial disekitarnya? Apakah OMK adalah kelompok yang eksklusif di mana ia mengurung diri dan asyik dengan kelompoknya sendiri? Apakah OMK adalah kelompok yang merasa puas diri dengan segala dinamika religius dan spiritual yang dilakoninya setiap hari?

Berkali-kali, terdengar di telinga OMK, seruan Mgr. Soegijapranata puluhaln tahun silam yang termassyur itu, tentang menjadi Seratus Persen Indonesia, Seratus Presen katolik. Jargon yang keluar dari dari kader Pemuda Katolik, menyangkut Pro Ecclesia et Patria; Bagi Gereja dan Negara. Seratus persen menunjukkan totalitas; bukan setengah-setengah, suam-suam kuku, apalagi tidak ada sama sekali. Jika ke dalam, OMK membangun imannya penuh seratus persen, ke luar pun OMK membangun dirinya sebagai sungguh-sungguh warga negara Indonesia. OMK yang hidup, makan dan tumbuh dari rahim ibu bumi bernama Indonesia adalah OMK yang ikut bertanggungjawab terhadap derap langkah perjalanan bangsa ini. Demikian halnya kesadaran yang melakat pada diri OMK sebagai warga bangsa, tidak pernah terpisah dengan identitas kekatolikkan. Justru kekatolikkan, atau iman pada Yesus itu melakat dengan sendirinya pada tugas dan tanggungjawab sebagai warga negara, yang hidup bersaudara dengan kelompok agama lain, ikut membangun bangsa, membangun keadaban publik, demi kebaikan bersama. Tidak pernah menjadi Katolik, membuat kita terpisah dari kehidupan sosial kemasyarakatan. Justru tempat iman itu diwujunyatakan adalah tempat di mana kita berada, unutk kita saat ini adalah tanah air Indonesia. Gereja adalah komunitas umat beriman yang berada di tengah-tengah dunia, demikian juga OMK-nya, adalah komunitas yang ada dan hadir di dunia; tempat di mana OMK menghayati imannya secara penuh.

Sudah bukan saatnya lagi kita mengotak-otakkan komunitas Orang Muda pada peran yang juga terpisah-pisah. Cara tentu boleh berbeda, tetapi peran sosial kemasyarakatan bukan sebuah pilihan lagi, tetapi sesuatu panggilan yang melekat dengan sendirinya. Peran sosial kemasyarkatan, tidak bisa dibatasi lagi pada teman-teman muda PMKRI atau Pemuda katolik. Itu bisa dilakukan oleh OMK di paroki-paroki, kelompok kategorial apa pun itu. Demikian halnya PMRKI dan Pemuda Katolik, saking sibuknya dengan peran sosial politik kemasyarakatan, lalu lupa dimensi iman atau spiritualitas. Jika stereotip yang berkembang, kalau OMK di paroki-paroki itu adalah �para jago kandang� karena sibuk melayani Gereja yang ada di seputar altar itu, maka saatnya untuk bertobat dan membangun langkah yang real pada peran sosial kemasyarakatannya. OMK adalah juga orang muda yang dengan kapasaitas manusiawi dan spiritualnya adalah para jago tandang. Dialog antar agama hanya contoh saja dari sekian banyak peran yang bisa dimainkan. Bisa bidang budaya, politik praktis, atau apa pun itu.

Sebagaimana ditemukan oleh kader muda dari 25 Keuskupan yang ikut dalam pendidikan politik di Klender - Jakarta TImur dua tahun lalu bahwa OMK merupakan kekuatan amat penting dalam Gereja dan masyarakat. Dari hari ke hari peran OMK di bidang sosial kemasyarakatan makin tampak. Dasar dari seluruh peran itu adalah OMK merupakan bagian utuh dari kehidupan berbangsa dan bernegara, dan ia dipanggil untuk mewujudkan keselamatan melalui keterlibatan dakam setiap aspek kehidupan bangsa. Peran sosial kemasyarakatan adalah panggilan. Secara lebih real, OMK Indonesia saat ini, apa pun bentuknya, dipanggil dalam konteks Indonesia yang sedang bergerak maju dalam sistem demokrasinya.

Kemudian menjadi nyata seruan Gereja universal Konsili Vatikan II, bahwa �Kaum muda merupakan kekuatan amat penting dalam masyarakat zaman sekarang. Situasi hidup, sikap-sikap batin serta hubungan-hubungan mereka dengan keluarga mereka sendiri telah amat banyak berubah. Seringkali mereka terlalu cepat beralih kepada kondisi sosial ekonomis yang baru. Dari hari ke hari peran mereka di bidang sosial dan juga politik semakin penting.� (AA 12). �Hendaknya secara intensif diusahakan pembinaan kewarganegaraan dan politik, yang sekarang ini perlu sekali bagi masyarakat dan terutama bagi generasi muda, supaya semua warga negara mampu memainkan peranannya dalam hidup bernegara. Hendaknya mereka secara jujur dan wajar, malahan dengan cinta kasih dan ketegasan politik, membaktikan diri bagi kesejahteraan semua orang� (GS 75). Jika, OMK tajam ke dalam dengan segala laku spiritualnya, maka hendaknya ia pun tajam ke luar pada peran sosial kemasyarakatannya. OMK bukan lagi kelompok minoritas yang hanyut dan terlarut, tetapi mereka adalah kelompok minoritas, yang hanyut, tetapi tidak terlarut.

Sebab, hidup dengan panggilan itu spiritual, karena aku membuka diri bagi Bapa yang menyapa hatiku. Hidup dengan panggilan itu solider, karena aku membagi-bagi diriku bagi sesamaku. Hidup dengan panggilan itu transformatif bagi diriku sendiri, karena mengajak aku merubah sikap batin dan mengembangkan ketrampilan yang perlu untuk menjalani panggilan itu. Hidup dengan panggilan itu partisipatif, karena aku bergerak keluar, berjumpa, dan melakoni perbincangan kemanusiaan dengan dunia sekitarku. Hidup dengan panggilan itu visioner sekaligus misioner, karena aku menumpukan karya hidupku demi dunia yang lebih baik. Thomas Suwarta

Dikutip dari : http://agama.kompasiana.com/

Pesan Bapa Suci Benedictus XVI Untuk Hari Orang Muda Sedunia Ke-26, Tahun 2011 Di Madrid

"Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus, berteguh dalam iman" (bdk. Kol 2:7)

Sahabat muda terkasih,

Saya sering mengingat kembali Hari Orang Muda Sedunia di Sidney pada tahun 2008 silam. Di sana, kita merayakan pesta iman, saat Roh Allah secara giat bekerja di tengah-tengah kita semua, dan membangun komunitas rohani yang secara sungguh-sungguh dapat saling berbagi dalam satu iman, di antara para peserta yang datang dari berbagai belahan dunia. Pertemuan tersebut, seperti perjumpaan-perjumpaan sebelumnya, berbuah lebat dalam hidup banyak orang muda dan hidup Gereja. Sekarang kita menuju Hari Orang Muda Sedunia berikutnya, yang akan terselenggara di Madrid pada bulan Agustus 2011. Mengingat kembali masa pada tahun 1989, beberapa bulan sebelum hari bersejarah keruntuhan tembok Berlin, peziarahan orang muda seperti ini pernah dilakukan di Spanyol pula, waktu itu di Santiago de Compostela. Sekarang, saat masyarakat Eropa sedang dalam kebutuhan besar untuk menemukan kembali akar Kekristenan mereka, pertemuan kita akan mengambil tempat di Madrid, dengan tema : "Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus, berteguh dalam iman" (bdk. Kol 2:7). Saya menyemangati Anda untuk mengambil bagian dalam peristiwa ini, yang merupakan peristiwa penting bagi Gereja di Eropa dan bagi Gereja sedunia. Saya mengajak kalian semua orang muda, baik yang saling berbagi iman dalam Yesus Kristus, maupun kalian yang ragu dalam ketidakpastian, atau kalian yang tidak percaya akan Dia, untuk berbagi pengalaman ini, yang akan membuktikan kepastian hidup kalian. Inilah pengalaman akan Tuhan Yesus yang bangkit dan hidup, dan pengalaman akan kasihNya bagi kita masing-masing.

1. Pada sumber Keinginanmu yang terdalam

Dalam setiap periode sejarah kehidupan, termasuk periode kita, banyak orang muda memiliki kerinduan yang mendalam akan relasi pribadi, yang ditandai oleh kebenaran dan solidaritas. Banyak dari mereka membangun hubungan persahabatan yang tulus, untuk mengenal cinta sejati, untuk memulai hidup berkeluarga yang diharapkan manunggal bersatu, untuk mencapai kepenuhan pribadi dan kemapanan hidup yang nyata, serta semua hal yang menjamin masa depan yang bahagia dan tenang. Ketika mengenangkan masa muda saya sendiri, saya tersadar bahwa kemapanan dan perasaan aman nyaman bukanlah pertanyaan yang memenuhi pemikiran generasi muda. Memang cukup benar, bahwa pentinglah memiliki pekerjaan agar dengan itu memiliki pijakan yang kokoh. Namun selain itu, tahun-tahun masa muda merupakan juga waktu, saat kita mencari yang terbaik dari hidup kita. Ketika saya membayangkan kembali masa muda itu, saya ingat semua bahwa kita tidak ingin hidup nyaman demi kehidupan dalam kelas menengah yang mapan. Kita menginginkan sesuatu yang besar, sesuatu yang baru. Kita ingin menjelajahi kehidupan itu sendiri, dalam semua keagungan dan keindahannya. Secara alamiah, tahap itu merupakan bagian dari kehidupan yang kita alami. Selama kediktatoran Nazi dan peperangan, dapat dikatakan pada masa itu, semua orang terkungkung oleh segala peraturan dan batasan yang diciptakan oleh struktur yang sedang berkuasa. Maka, semua orang saat itu ingin mendobrak segala batasan: menginginkan adanya kebebasan, keterbukaan yang memungkinkan kita meraih peluang sebagai manusia. Saya berpikir, bahwa dorongan untuk mendobrak segala batasan yang ada, pada jangkauan tertentu, selalu menandai jiwa orang muda dari masa ke masa. Bagian dari menjadi muda, ialah hasrat akan sesuatu di balik hidup harian dan pekerjaan yang mapan, suatu kerinduan untuk sesuatu yang sungguh-sungguh lebih besar.

Apakah ini hanya mimpi yang akan memudar dan akhirnya menghilang jika kita menua? Tidak! Pria maupun perempuan, diciptakan untuk sesuatu yang besar, untuk sebuah keabadian. Tiada pernah cukup. Santo Agustinus benar ketika ia mengatakan: "Hati kami belum tenang, sampai menemukan istirahat di dalam Engkau".

Hasrat untuk mencari kehidupan yang lebih bermakna merupakan tanda bahwa Tuhan menciptakan kita, agar mengemban citra diri-Nya. Tuhan adalah Sang Kehidupan, dan itulah sebabnya kita ciptaanNya selalu berusaha untuk menggapai dan menggenggam kehidupan. Karena manusia diciptakan dengan citra Allah, maka kita menggapai kehidupan dengan cara yang unik dan istimewa. Kita selalu berusaha untuk menggapai cinta, suka cita, dan damai. Jadi dapatlah kita lihat, betapa mustahil apabila kita berpikir bahwa kita dapat sungguh-sungguh hidup dengan menyingkirkan Allah dari gambar hidup kita! Tuhan adalah sumber kehidupan. Mengenyampingkan Allah berarti kita telah memisahkan diri kita dari sumber kehidupan, dan berarti kita telah memisahkan diri dari sumber sejati kebahagiaan, suka cita, dan damai. "Tanpa Sang Pencipta, makhluk ciptaan hilang melenyap" (Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, 36). Di beberapa belahan dunia, terutama kehidupan di belahan dunia Barat, budaya mereka saat ini cenderung menyingkirkan Tuhan dari segala aspek dan segi kehidupan, dan memandang bahwa iman kepercayaan adalah urusan pribadi, tanpa memiliki hubungan dan relevansi apapun dengan kehidupan. Sekalipun segugus nilai-nilai yang mendasari kehidupan masyarakat berasal dari Injil, seperti nilai martabat pribadi, nilai solidaritas, nilai kerja, dan nilai berkeluarga, namun kita menyaksikan suatu "gerhana Tuhan" yang pasti, semacam amnesia (penyakit lupa) akan sejarah, sebuah penolakan Kristianitas, pengingkaran khasanah iman Kristen, sebuah pengingkaran yang bisa membawa kita pada hilangnya jati diri kita yang paling dalam.

Untuk alasan inilah, para sahabat, saya mendorong kalian untuk memperkuat iman kalian akan Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Kalian adalah masa depan masyarakat dan Gereja. Seperti Rasul Paulus telah menulis untuk umat di Kolose : Pentinglah memiliki akar, dasar yang kokoh. Perkara ini secara sebagian, benar untuk zaman kita sekarang. Banyak orang tidak memiliki titik acuan yang kokoh, tempat mereka membangun hidup, dan karena nya mereka sungguh merasa tidak aman. Saat ini ada mentalitas relativisme yang berpaham bahwa alasan adanya setiap hal cukup kuat dari dirinya sendiri, serta bahwa suatu kebenaran dan titik acuan yang mutlak, tidak pernah ada. Namun, jalan pikiran seperti ini tidak akan pernah mengarahkan kita kepada kebebasan sejati, tetapi lebih mengacu kepada ketidakstabilan, kebingungan, kompromi buta terhadap keisengan zaman ini. Sebagai orang muda, kalian berhak untuk mewarisi dari generasi pendahulu, titik acuan yang kokoh bagi kalian untuk menolong kalian membuat pilihan, dan membangun hidup di atasnya, bagaikan tunas muda yang membutuhkan dorongan yang mantap hingga bisa membenamkan akar tunggangnya dalam-dalam, tumbuh menjadi pohon kuat yang mampu menghasilkan buah lebat.

2. Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus

Untuk menekankan betapa pentingnya iman bagi hidup umat Allah, kepada kalian saya ingin menyampaikan renungan saya, perihal tiga kata yang digunakan oleh St. Paulus dalam ungkapan : "Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus, berteguh dalam iman" (bdk. Kol 2:7). Kita dapat membedakan tiga buah gambaran berikut ini: "Berakar" mengingatkan kita pada pohon dan akar yang memberi makan pohon itu. "Dibangun" mengacu pada susunan sebuah rumah; "Berteguh" menunjukkan pertumbuhan fisik dan susila. Ketiga gambaran ini sangat tepat. Sebelum memberi ulasan mengenai ketiga kata tersebut, saya tunjukkan bahwa menurut tata bahasa, ketiga kata itu dalam teks aslinya berbentuk kata kerja pasif. Berarti, Kristus sendirilah yang berkehendak untuk menanam, membangun, dan menguatkan kaum beriman.

Gambaran pertama ialah mengenai sebuah pohon yang dengan kokoh ditanam, yang berterima kasih kepada akar yang telah menopang dan memberi makanan kepadanya. Tanpa akar-akar itu, pohon akan roboh ditiup angin dan mati. Apakah akar kita? Secara alamiah, orangtua, keluarga dan kebudayaan negara kita merupakan unsur-unsur penting dari jati diri pribadi kita. Namun Kitab Suci mewahyukan unsur yang lebih lagi. Nabi Yeremia menuliskan: "Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah" (Yer 17:7-8). Bagi Nabi Yeremia, berakar dalam Tuhan berarti menyerahkan kepercayaan kepada Tuhan. Dari Dia, kita melukis hidup kita. Tanpa Dia, kita tidak bisa benar-benar hidup. "Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam anak-Nya" (1 Yoh 5:11). Yesus sendiri menyatakan kepada kita, bahwa Dia sendirilah kehidupan kita (bdk. Yoh 14:6). Sebagai akibatnya, iman Kristen bukanlah hanya suatu kepercayaan bahwa suatu hal tertentu merupakan kebenaran, melainkan lebih dari itu, iman Kristen merupakan suatu hubungan pribadi dengan Yesus Kristus. Iman kita ialah suatu perjumpaan dengan Sang Putra Allah yang memberikan tenaga pada seluruh keberadaan kita. Ketika kita memasuki hubungan pribadi dengan Dia, Kristus menyingkapkan jati diri kita yang asli, dan dalam persahabatan denganNya, hidup kita bertumbuh menuju kepenuhan yang lengkap. Ada saatnya ketika kita mengalami masa muda, ketika bertanya: Apa makna hidup saya? Manakah tujuan dan arah yang harus kuberikan pada hidup saya? Saat itu merupakan saat penting, dan pertanyaan-pertanyaan itu mungkin bisa membuat kita cemas untuk beberapa lama. Kita mulai mempertanyakan mengenai jenis pekerjaan yang harus kita pilih, pola hubungan-hubungan yang harus kita bangun, persahabatan yang harus kita pelihara.

Di sinilah, suatu saat, saya melihat kembali masa muda saya. Saya agak cukup dini menyadari, mengenai kenyataan bahwa Tuhan menghendaki saya menjadi imam. Kemudian setelah masa peperangan berakhir, saat saya di seminari dan universitas dalam jalur menuju tujuan imamat itu, saya harus melihat kembali kepastian cita-cita saya itu. Saya harus bertanya diri: sungguhkan ini jalur yang harus saya jalani? Apakah benar jalan ini merupakan kehendak Tuhan bagi saya? Apakah saya akan mampu bertahan setia bagiNya dan sepenuhnya melayani Dia? Keputusan seperti ini menuntut perjuangan tertentu. Hal ini tidak bisa tidak, harus dilakukan. Namun kemudian tibalah kepastian itu: inilah keputusan yang tepat! Ya, Tuhan menginginkan saya, dan ia akan memberi saya kekuatan. Jika saya mendengarkan Dia dan berjalan bersamaNya, maka saya pasti menjadi diri saya yang asli. Yang diperhitungkan bukanlah pemenuhan hasrat hati saya sendiri, namun kehendak Dia. Dengan cara ini, hidup menjadi sejati.

Serupa dengan akar yang menopang kuat pohon untuk tetap berada dalam tanah dan kehidupannya, maka pondasi sebuah rumah memberikan jaminan kekokohan jangka panjang. Melalui iman, kita telah dibangun dalam Yesus Kristus (bdk. Kol 2:7), seperti rumah dibangun di atas pondasinya. Sejarah Kekudusan telah menyediakan bagi kita banyak contoh Santo-Santa yang membangun hidupnya pada Sabda Tuhan itu. Yang pertama ialah Abraham, bapa iman kita, yang taat pada Tuhan, ketika Tuhan memerintahkan dia meninggalkan tanah leluhurnya untuk menuju tanah yang tidak ia kenal. "Percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Karena itu Abraham disebut "Sahabat Allah" (Yak 2:23). Dibangun dalam Yesus Kristus berarti menanggapi secara positif panggilan Tuhan, mempercayaiNya, dan menaruh SabdaNya dalam tindakan. Yesus sendiri mengingatkan para murid, "Mengapa engkau berseru kepadaku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?" (Luk 6:46). Dia lalu memakai gambaran pembangunan sebuah rumah: "Setiap orang yang datang kepadaKu dan mendengarkan serta melakukannya - aku akan menyatakan kepadamu - dengan siapa ia dapat disamakan. Ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah. Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun" (Luk 6:47-48).

Para Sahabat terkasih.

Bangunlah rumah kalian sendiri di atas batu karang seperti orang yang menggali dalam-dalam untuk membuat pondasi. Cobalah setiap hari untuk mengikuti sabda Kristus. Dengan keberadaan-Nya disamping kalian, kalian akan menemukan keberanian dan pengharapan untuk menghadapi berbagai kesulitan dan masalah, bahkan untuk mengatasi kekecewaan dan kemunduran. Kepada kalian, secara terus menerus ditawarkan pilihan-pilihan yang lebih mudah, namun kalian sendiri tahu, bahwa segala tawaran itu bersifat menipu dan tidak akan pernah mampu memberikan damai dan suka cita. Hanya Sabda Allah saja yang mampu memperlihatkan kepada kita jalan yang sejati dan hanya iman yang kita terima-lah yang menjadi cahaya dalam jalan kehidupan kita. Dengan penuh syukur, terimalah hadiah rohani ini yang telah kalian warisi dari keluarga kalian; Berusahalah untuk menanggapi panggilan Tuhan dengan penuh kesadaran, dan bertumbuhlah dalam iman. Janganlah percaya para mereka yang memberitahu kalian bahwa kalian tidak memerlukan orang lain untuk membangun hidup kalian! Temukanlah dukungan dalam iman, pada orang-orang yang mengasihi kalian, temukanlah dukungan dari iman Gereja, dan bersyukurlah pada Tuhan bahwa kalian telah menerima iman itu dan telah membuatnya menjadi milik kalian sendiri!

3. Berteguhlah dalam iman

Hendalah kamu "berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus, berteguh dalam iman." (Kol 2:7). Surat dari mana kata-kata tersebut dikutip, ditulis oleh Santo Paulus untuk menanggapi kebutuhan khusus umat Kristen di kota Kolose. Waktu itu, komunitas umat di Kolose terancam oleh pengaruh kecenderungan budaya tertentu yang memalingkan kaum beriman dari Injil. Ruang lingkup budaya kita sekarang, para sahabat, bukanlah seperti keadaan umat kuno di Kolose. Namun saat ini, terdapat arus kuat pikiran kaum sekular serupa, yang bertujuan untuk meminggirkan Tuhan dari kehidupan masyarakat dengan menekankan dan menciptakan "surga" tanpa kehadiran-Nya. Sebenarnyalah, pengalaman memberikan bukti nyata kepada kita semua, bahwa dunia tanpa Tuhan selalu menjadi "neraka" : dipenuhi oleh keakuan, keluarga berantakan, kebencian antar-pribadi dan antar-bangsa, dan kekurangan yang besar akan kasih, suka cita, dan harapan. Di lain pihak, di manap ada pribadi dan bangsa menerima kehadiran Allah di tengah-tengah mereka, memujiNya dalam kebenaran serta mendengarkan suara-Nya, maka peradaban cinta kasih sedang dibangun, yaitu sebuah peradaban di mana martabat semua orang dihormati, dan persekutuan paguyuban meningkat, dengan segala kebaikannya. Namun demikian tetap saja, beberapa umat Kristen tergoda oleh sekularisme dan arus kepercayaan yang menjauhkan mereka dari iman akan Yesus Kristus. Ada pula beberapa orang Kristen, sekalipun tidak terpengaruh oleh godaan itu, namun telah dengan sembrono membiarkan iman mereka tumbuh seadanya, yang berakibat buruk pada hidup kesusilaan mereka.

Kepada orang-orang Kristen yang dipengaruhi oleh gagasan-gagasan yang jauhb dari nilai Injil, Rasul Paulus memberitakan mengenai kekuatan wafat dan kebangkitan Kristus. Misteri wafat dan kebangkitan Kristus merupakan dasar hidup kita serta pusat iman Kristen. Dengan tetap menghormati pertanyaan-pertanyaan besar yang terbenam dalam-dalam di hati manusia, menurut saya semua filsafat yang mengabaikan misteri salib serta menganggapnya "kebodohan" (1Kor 1:23), justru menyingkapkan keterbatasan mereka sendiri. Sebagai penerus Rasul Petrus, saya juga ingin menguatkan kalian dalam iman (bdk. Luk 22:32). Kita dengan teguh percaya bahwa Yesus Kristus menyerahkan diriNya sendiri di kayu salib untuk memberikan kasih-Nya kepada kita. Dalam penderitaanNya, Dia memikul penderitaan kita, menanggung dalam diri-Nya dosa -dosa kita, memberikan pengampunan bagi kita dan mendamaikan kita dengan Allah Bapa, membukakan bagi kita jalan menuju hidup abadi. Jadi, kita dibebaskan dari hal yang paling membelenggu hidup kita yaitu perbudakan dosa. Kita bisa mengasihi setiap orang, bahkan musuh kita, dan kita bisa membagikan kasih ini untuk yang termiskin dari saudara-saudari kita, dan bagi semua orang yang sedang dalam dalam kesukaran hidup.

Para Sahabat terkasih;

Salib sering menggentarkan kita karena salib tampak sebagai penolakan hidup. Pada kenyataannya, sebaliknyalah yang benar. Salib adalah pernyataan �Ya' dari Allah kepada umat manusia, yang merupakan ungkapan tertinggi dari cinta-Nya dan sumber dari mana kehidupan kekal mengalir. Sesungguhnyalah, pernyataan ini berasal dari hati Yesus, yang dihancurkan di salib, yang justru dari hati yang hancur itu hidup ilahi mengalir, yang bisa ditampung oleh semua yang mengangkat mata mereka kepada Sang Tersalib.

Saya hanya dapat mendesak kalian untuk memeluk Salib Yesus Kristus, tanda cinta kasih Tuhan, sebagai sumber hidup baru.

4. Mengimani Yesus Kristus tanpa melihat langsung

Dalam Injil kita menemukan paparan mengenai pengalaman iman Rasul Thomas ketika ia menerima misteri Salib dan kebangkitan Kristus. Thomas merupakan salah satu dari kedua belas rasul. Dia mengikuti Yesus, dan menjadi saksi mata dari penyembuhan dan mukjizat yang dibuat Yesus. Thomas mendengarkan sabda-Nya, dan dia mengalami ketakutan pada saat wafat Yesus. Malam pada hari Paskah itu, ketika Tuhan menampakkan diri pada para murid, Thomas tidak hadir. Ketika ia diberitahu bahwa Yesus hidup dan memperlihatkan diriNya, Thomas menjawab: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangannya, dan mencucukkan jariku pada bekas paku itu dan mencucukkan tanganku pada lambungNya, sekali-kali aku tidak akan percaya" (Yoh 20:25).

Kita juga, ingin mampu melihat Yesus, berbicara denganNya dan merasakan kehadiranNya bahkan secara lebih penuh kuasa. Bagi banyak orang dewasa ini, menjadi sukar untuk mendekati Yesus. Ada terlalu banyak gambaran mengenai Yesus yang beredar, yang dinyatakan sebagai ilmiah, yang malahan membuat kabur keagungan dan keunikan pribadiNya. Itulah sebabnya, setelah bertahun-tahun belajar dan merenung, saya memikirkan untuk membagikan sesuatu dari perjumpaan pribadi saya bersama Yesus dengan menuliskannya menjadi sebuah buku. Ini merupakan sebuah cara untuk membantu orang lain melihat, mendengar, dan menyentuh Tuhan kepada siapa Ia datang supaya diri-Nya dikenal. Yesus sendiri ketika seminggu kemudian menampakkan diri lagi kepada para murid berkata kepada Thomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan cucukkanlah ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi melainkan percayalah." (Yoh 20:27). Kita juga, bisa memiliki kontak yang tampak dengan Yesus dan menaruh tangan kita, juga berbicara padaNya, atas tanda-tanda penderitaan-Nya, tanda-tanda cinta kasih-Nya. Dalam sakramen-sakramen, Dia secara khusus dekat dengan kita, dan memberikan diriNya untuk kita. Orang muda terkasih, belajarlah untuk "melihat" dan "menjumpai" Yesus dalam Ekaristi, di mana Dia hadir dan dekat dengan kita, dan bahkan menjadi santapan bagi perjalanan kita. Dalam Sakramen Tobat, Tuhan memperlihatkan kerahimanNya dan selalu memberikan pengampunanNya untuk kita. Kenalilah, dan layanilah Yesus dalam diri orang miskin, orang sakit, dan dalam diri saudara-saudari yang sedang dalam kesulitan dan membutuhkan pertolongan.

Masuklah dalam percakapan pribadi dengan Yesus Kristus dan peliharalah hal itu dalam iman. Kenalilah Dia lebih baik lagi dengan membaca Kitab Suci dan buku Katekismus Gereja Katolik (KGK). Berbincanglah dengan-Nya dalam doa kalian, dan letakkan kepercayaan kalian dalam Dia. Dia tidak pernah mengkhianati kepercayaan kalian itu! "Iman pertama-tama ialah ikatan pribadi manusia dengan Allah. Sekaligus tak terpisahkan dari itu, ialah persetujuan bebas terhadap seluruh kebenaran yang diwahyukan Tuhan" (KGK, 150). Dengan demikian, kalian akan menuai iman yang matang dan mantap, yaitu iman yang tak hanya didasarkan kepada rasa-perasaan keagamaan, atau hanya mengandalkan ingatan samar-samar akan katekismus pelajaran agama Katolik yang kamu terima dulu saat kanak-kanak. Kalian mau datang untuk mengenal Allah, dan hidup secara sejati dalam kesatuan dengan Dia, sebagaimana Rasul Thomas yang memperlihatkan imannya yang teguh dalam Yesus, dengan berkata: "Tuhanku dan Allahku!".

5. Ditopang oleh iman Gereja untuk menjadi saksi.

Yesus berkata kepada Thomas: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya." (Yoh 20:29). Yesus saat itu sedang memikirkan jalur iman Gereja yang harus diikuti yang didasarkan pada para saksi mata wafat dan kebangkitan Kristus yaitu para Rasul. Dengan demikian, kita melihat, bahwa iman pribadi kita pada Kristus, yang menjumpai kita dalam percakapan pribadi denganNya, diikat dalam iman Gereja. Kita tidak beriman sebagai individu yang terpisah dari yang lain, namun melalui Baptis, kita ialah anggota keluarga besar Gereja. Iman yang diakui oleh Gereja selalu menguatkan kembali iman pribadi kita masing-masing. Kredo "Aku Percaya" yang kita doakan setiap misa hari Minggu melindungi kita dari bahaya kepercayaan terhadap "allah lain" yang tidak diwahyukan oleh Yesus Kristus: "Setiap orang beriman adalah anggota dalam jalinan rantai besar orang-orang beriman. Saya tidak dapat menjadi orang beriman kalau saya tidak didukung oleh iman orang lain. Dan oleh iman saya, saya pun mendukung iman orang lain" (KGK 166). Marilah selalu bersyukur kepada Tuhan atas anugerah Gereja, karena Gereja menolong kita untuk maju dengan aman, dalam iman yang memberi kita hidup sejati (bdk. Yoh 20:31).

Dalam sejarah Gereja, para orang kudus dan para martir selalu bergerak dari kemuliaan Salib Kristus - daya kesetiaan kepada Tuhan - menuju Allah, hingga pada titik mereka harus menyerahkan nyawa. Dalam iman, mereka menemukan kekuatan untuk mengatasi kelemahan, dan menang atas setiap kesulitan. Benarlah Rasul Yohanes mengatakan: "Siapakah yang mengalahkan dunia selain dari pada dia yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah?" (1Yoh 5:5). Kemenangan yang lahir dari iman adalah cinta kasih. Masih ada dan tetap ada, banyak umat Kristen yang menghayati kesaksian nyata dari daya iman yang diwujudkan dengan pelayanan karya amal kasih. Merekalah para juru perdamaian, promotor keadilan dan pekerja-pekerja demi dunia yang lebih manusiawi, dunia yang sesuai dengan rencana Tuhan. Dengan kompetensi dan sikap profesional, mereka bekerja penuh tanggung jawab dalam sektor-sektor hidup masyarakat yang beraneka ragam, menyumbangkan secara tepat guna, kesejahteraan bagi semua. Karya amal kasih yang berasal dari iman membawa mereka kepada kesaksian nyata dengan kata dan perbuatan. Kristus bukanlah harta milik yang ditujukan untuk diri kita saja. Dia, harta paling berharga yang kita miliki, ialah Dia yang ditujukan dan dibagikan untuk sesama yang lain. Pada masa globalisasi ini, jadilah saksi harapan Kristiani di seluruh dunia. Betapa banyaknya orang yang telah menanti untuk menerima harapan ini! Ketika berdiri di depan batu makam sahabat-Nya Lazarus, yang mati empat hari sebelumnya, sebelum Ia menghidupkan kembali si mati itu, Yesus berkata kepada saudari Lazarus, Martha: "Jika engkau percaya, engkau akan melihat kemuliaan Allah" (bdk Yoh 11:40). Dengan cara yang sama, jika kalian percaya, dan jika kalian mampu menghayati iman dan menjadi saksi atas iman setiap hari, kalian akan menjadi sumber yang membantu orang muda lainnya seperti diri kalian, untuk menemukan makna dan kegembiraan hidup, yang terlahir dari perjumpaan dengan Kristus!

6. Menuju Hari Orang Muda Sedunia di Madrid

Para Sahabat terkasih,

Sekali lagi, saya mengundang kalian semua untuk menghadiri Hari Orang Muda Sedunia di Madrid. Saya menunggu kalian masing-masing dengan sukacita yang besar. Yesus Kristus ingin menguatkan iman kalian melalui Gereja. Keputusan untuk percaya kepada Yesus dan mengikuti-Nya bukanlah perkara yang mudah. Iman padaNya sering terhalangi oleh kegagalan pribadi, dan oleh banyak keriuhan yang menawarkan jalur-jalur perjalanan yang lebih mudah. Jangan lemah semangat. Namun, temukanlah dukungan dari komunitas seiman, temukanlah dukungan dari Gereja! Selama tahun ini, persiapkanlah secara cermat untuk pertemuan di Madrid, bersama uskup-uskup, para imam, para pembimbing orang muda di keuskupan, komunitas-komunitas paroki, dan berbagai serikat serta perkumpulan kalian.

Mutu pertemuan kita mendatang akan seluruhnya bergantung pada : Persiapan rohani kita, doa-doa kita, kebersamaan kita dalam mendengarkan sabda Allah, dan dukungan satu sama lain.

Para muda terkasih, Gereja bergantung kepada kalian! Dia membutuhkan iman kalian yang bersemangat, amal kasih kalian yang kreatif, dan energi dari pengharapan kalian. Kehadiran kalian memperbaharui, meremajakan,dan memberikan energi baru bagi Gereja. Karena itulah, maka Hari Orang Muda Sedunia adalah rahmat, bukan saja untuk kalian orang muda, tapi juga untuk keseluruhan umat Allah.

Gereja Spanyol sedang bersiap diri secara aktif untuk menyambut kedatangan kalian sekaligus untuk berbagi pengalaman iman yang menggembirakan ini bersama kalian. Saya mengucapkan terima kasih kepada keuskupan-keuskupan, paroki-paroki, tempat-tempat ziarah, komunitas-komunitas religius, asosiasi-asosiasi dan perkumpulan-perkumpulan gerejawi, serta semua yang bekerja keras untuk mempersiapkan peristiwa ini. Allah menganugerahkan berkat-Nya untuk mereka semua. Semoga Bunda Perawan Maria menyertai kalian selama persiapan ini. Ketika menerima kabar gembira, Bunda Maria menerima Sang Sabda dengan imannya. Dalam iman, ia menyetujui rencana kepenuhan janji Allah yang terlaksana dalam dan melalui dirinya. Dengan menyerukan "fiat", "terjadilah padaku menurut perkataanMu", Bunda Maria menerima anugerah cinta kasih yang sedalam-dalamnya, yang membuat dia memberikan diri seutuhnya kepada Allah. Semoga doanya campur tangan dalam diri kalian, sehingga pada Hari Orang Muda Sedunia mendatang ini, kalian bertumbuh dalam iman dan kasih. Saya meyakinkan kalian bahwa saya dengan kasih kebapaan, mengingat kalian dalam doa-doa saya, dan saya memberikan kepada kalian berkat dari lubuk hati saya yang paling dalam.

Dari Vatikan, 6 Agustus 2010
pada Pesta Penampakan Kemuliaan Tuhan
Benedictus PP. XVI

Friday, 18 February 2011

Komunitas-Basis Yang Berdaya Bagi Indonesia Baru

Oleh J. Sunarka, SJ

A. MENDALAMI PEMAHAMAN KOMUNITAS BASIS

Komunitas, paguyuban, kelompok pepanthan, kumpulan, jemaat, umat, menunjuk pada beberapa pribadi orang, yang secara tetap bertemu, saling berhubungan atau berkomunikasi. Suatu Komunitas yang konstitutif bagi komunitas-komunitas lainnya, artinya: yang mau tak mau harus ada. Itulah komunitas-basis.

Komunitas-basis adalah komunitas yang paling bawah, yang menjadi penyangga bagi komunitas-komunitas yang lain. Komunitas yang lain adalah komunitas menengah. Dan masih ada lagi komunitas puncak. Masing-masing komunitas ini sifatnya majemuk. Maka:
� Komunitas-basis masih dapat dirinci lagi: ada komunitas-basis bawah, ada komunitas-basis menengah dan ada komunitas-basis atas.
� Demikian pula komunitas-basis-menengah masih dapat dirinci lagi menjadi komunitas-basis-menengah bawah, komunitas-basis-menengah menengah dan komunitas-basis-menengah atas.
� Begitu juga lalu ada komunitas-basis-atas yang juga dapat dibeda-bedakan sebagai komunitas-basis-atas yang bawah, yang menengah dan yang atas.

Yang paling menentukan adalah komunitas-basis bawah. Kalau tidak ada komunitas-basis bawah, maka komunitas menengah dan komunitas puncak roboh semua. Adanya pribadi-pribadi jelaslah tidak termasuk pada pengertian komunitas-basis. Kedekatan dan kekerapan hubungan pribadi-pribadi dihayati oleh suami dan isteri serta anak. Inilah keluarga. Sedangkan paguyuban yang disebut rukun tetangga, rukun warga dan kelurahan, kecamatan dst. adalah komunitas-basis yang sifatnya sudah merupakan olahan komunitas-basis. Demikian pula dalam kalangan umat katolik: apa yang disebut lingkungan, wilayah, stasi, paroki, sudah merupakan lingkup cakupan dari komunitas-basis paling bawah yaitu keluarga-keluarga. Perlu kita sadari, bahwa issue komunitas-basis pada umumnya, seperti diangankan oleh Komisi Teologi KWI, sudah berkonotasi pada komunitas-basis yang tidak lagi paling dasar.

Komunitas-basis yang digambarkan adalah stasi, lingkungan, dan ini sudah menyangkut komunitas-basis yang sebetulnya sudah tidak basis lagi. Ini sudah merupakan komunitas-basis cakupan. Maka unsur komunitas-basis cakupan adalah pribadi-pribadi yang berasal dari keluarga sebagai "komunitas basis paling basis" dan mau berkumpul. Komunitas-basis yang paling dasar dan yang purna waktu adalah keluarga. Sedangkan kelompok-kelompok gerakan keagamaan atau kemasyarakatan di luar keluarga adalah kelompok basis "penggal waktu". Komunitas-basis yang merangkul orang tanpa menilai dan menerima secara terbuka, sudah merupakan komunitas-basis cakupan. Dalam olah pikir Komisi Teologi KWI muncul pengertian wujud Komunitas-basis. Ada tiga macam Komunitas-basis, yakni: pertama, Komunitas-basis Gerejani (KBG); kedua, Komunitas-basis Antar Iman (KBAI); dan ketiga, Komunitas-basis Manusiawi (KBM). Ciri yang membuat sebutan-sebutan itu adalah warga dan kesamaan keyakinan mereka dalam persekutuan. Warga KBG dalam perkembangannya harus mengalami keterbukaan terjadap KBAI dan KBM. De-ngan demikian pendalaman iman dan penyatuannya dengan hidup sehari-hari makin hari makin berkembang ke sikap kebersamaan yang meluas.

1. Komunitas-Basis Gerejani (KBG)
- 1. KBG adalah persekutuan yang relatif kecil, katakanlah di antara 15 sampai 20 keluarga yang mudah berkumpul secara berkala untuk mendengarkan Firman Allah, membahas berbagi masalah-masalah harian bersama dan mencari pemecahannya dalam ilham alkitabiah. Sebagai satuan kristiani, KBG terdiri dari anggota yang saling mengenal. Mereka tidak hanya mengenal nama semua anggota lain, tetapi juga riwayat hidup dan harapan masing-maing rekan.
- 2. KBG bukan suatu gerakan di dalam Gereja, tetapi adalah Gereja itu sendiri, yang sedang bergerak maju. KBG bukan untuk orang-orang tertentu (kaum bapa atau ibu, kaum profesional, atau malah hanya bagi orang yang rajin dan saleh saja), melainkan untuk semua orang, yang mau ambil bagian, entah dia anggota Gereja, entah dia berada dalam pinggiran Gereja, atau malah di luar Gereja sama sekalipun. KBG merupakan paguyuban terapan mendasar gerejani, merupakan satuan basis gerejani itu sendiri.
- 3. KBG memperjuangkan keadilan, membela kaum tertindas dan bermediasi di tengah kerusuhan yang direkayasa oleh kaum elite. Di dalam KBG iman dan kehidupan harian disa-tupadukan. KBG merayakan, memperdalam imannya, mendengarkan firman Tuhan yang mendorong dan menjernihkan, sambil mempertebal pilihan untuk hidup, bertindak dan bersikap sebagi saudara dan saudari semua orang. Visi alkitabiah bertumbuh melalui sharing pemahaman Kitab Suci, doa biblis, dan ibadat. Sifat KBG menghantar anggota-nya kepada sikap social dan sekaligus melampaui batas karya sosial.

2. Komunitas-Basis Antar Iman (KBAI)
- 1. KBAI adalah persekutuan yang relatif kecil antar orang-orang yang mempunyai berbagai keyakinan. Kekhususan masing-masing tradisi religius dalam komunitas dapat bertemu dan saling memperkaya dalam sesuatu, entah secara territorial, entah secara fungsional kategorial. Dalam KBAI penghayat iman yang berbeda-beda dapat bersama-sama mencari dan menemukan Yang Maha-Menghendaki-dan-Menetukan-hidup, serta mengikuti-Nya. Pada tingkat ini masing-masing mengalami wawan intrareligius atau religius inter-nal. Di antara satu sama lain ada proses saling pendalaman iman, yang membuahkan suatu proses transformatif kehidupan dari warga KBAI. Dalam keterbatasan masing-masing tradisi, penghayatan iman kristiani dan penghayatan iman lain itu akan saling mengisi saling memperkaya. Terjadilah proses synergi iman.
- 2. KBAI memperjuangkan kerukunan dan kesejahteraan hidup antar umat beriman. Keja-makan agama merupakan kekayaan yang dapat saling menolong, dan bukan untuk saling memusuhi, membenci, atau bahkan untuk saling membunuh dan membinasakan.

3. Komunitas-Basis Manusiawi (KBM)
- 1. KBM adalah persekutuan dan persaudaraan yang tidak terbatasi oleh iman dan agama tertentu, melainkan oleh pengalaman hidup bersama sebagai manusia, dengan kepedulian manusiawi bersama pula. Itulah komunitas kecil (umumnya terdiri dari orang-orang kecil juga) yang terlibat dalam tindakan-tindakan sosial.
- 2. KBM terbentuk untuk perjuangan mengurangi atau menghapus penderitaan, sehingga masyarakat dan lingkungan hidup menjadi lebih adil dan lestari.
- 3. Dalam KBM, masing-masing anggota membawa serta hidupnya yang sering tercecer, terpisah-pisah, malah mungkin kocar-kacir. Hidup kocar-kacir itu disatukan di dalam kehangatan persaudaraan. KBM merupakan medan, di mana usaha berbagai pengalaman dan berbagai rasa, dapat berkembang subur menuju transformasi kehidupan bersama.

Pertanyaan Refleksif
Nah, pertanyaannya sekarang adalah:
o Di mana tempat Persekutuan Doa Karismatik, Marriage Encounter, Christian Life Community, Legio Mariae, Choice, Putri Maria, Persaudaraan Lanjut Usia, Muda Mudi Paroki, Pemuda Katolik, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia (PMKRI), Wanita Katolik Republik Inndonesia (WKRI), Kegiatan Karyawan Muda Katolik (KKMK)?
o Apa mereka itu dapat dikategorikan Komunitas-basis? Mengapa tidak? Mengapa termasuk?

Rasanya akan menjadi suatu pandangan yang naif untuk mengatakan, bahwa mereka itu semua bukan terkategorikan ke dalam yang disebut Komunitas-Basis. Padahal di situ ada persekutuan dan persaudaraan, ada petemuan yang teratur untuk mendengarakan Sabda Allah, ada pembahasan berbagai masalah hidup pribadi dan sosial keseharian, ada usaha mencari berdasarkan kejernihan alkitbiah pemecahan masalah-masalah sosial, dlsb. Itulah komunitas yang merupa-kan perwujudan Gereja. Apa lagi dalam situasi apapun komunitas itu tetap bertahan dan hidup. Mau apa lagi? Bagaimanapun juga mereka tetap adalah komunitas-basis. Entah komunitas-basis itu akan disebut apa: mungkin komunitas-basis kategorial?

B. KOMUNITAS BASIS YANG BERDAYA BAGI INDONESIA BARU

1. Apa arti "Yang berdaya"
Istilah "berdaya bagi atau mendayakan" dapat berarti sesuatu yang mempunyai daya, keku-atan, atau energi yang dapat mempengaruhi sesuatu yang lain. Dalam tema di atas dibayang-kan, bahwa Indonesia Baru (rakyat, kebersamaan, tata kebersamaan, pelaksana penata ke-bersamaan, pengawas dan penjaga tata kebersamaan) dapat diberi energi atau malahan: sedang memerlukan daya. Dan Komunitas Basis diangankan sebagai yang dapat, bahkan harus menjadi daya atau mendayakan Indonesia Baru itu. Maka "berdaya bagi" lalu berarti: tindakan partisipasif dalam informasi, animasi, motivasi sampai juga pada koordinasi.

2. Apa Bayangan Kita tentang Indonesia Baru?
Pengertian kita tentang Indonesia Baru masa ini sudah tidak jelas. Mana Indonesia Lama? Mana Indonesia Baru? Indonesia sekarang ini lama atau baru? Pengertian Indonesia sekarang ini secara ideologi sudah tidak lagi jelas, secara politis kacau dengan adanya tingkah para elite politik yang sungguh memuakkan, secara ekonomis memprihatinkan, secara sosial remuk berkeping-keping, secara tata-nilai-kehidupan rusak, secara keamanan rusuh dan menakutkan. Mgr. Ig. Suharyo, Sekjen KWI dan Uskup Agung Semarang, dalam pertemuannya dengan Presiden dan Ketua DPR mengungkapkan, bahwa situasi Indonesia sekarang ini berkondisi kekiamatan Indonesia. Yang namanya Indonesia akan hilang dari muka bumi. Dengan demikian Indonesia Baru berarti pembubaran Indonesia sekarang ini. Apakah setiap daerah menjadi negara merdeka sepenuhnya, atau setiap daerah menjadi negara mandiri yang berfederasi, atau Indonesia tetap menjadi negara kesatuan dengan jaminan otonomi daerah,walahualam.

Lalu umat katolik bersikap bagaimana? Apakah umat katolik dalam kondisi yang tidak jelas ini perlu menentukan sikapnya tentang Indonesia Baru secara konseptual? Perlukah mencapai pengertian secara visoner? Dan juga memikirkan misi serta strateginya? Mampukah kita? Massa umat katolik tidak banyak. Lalu dengan kekuatan apa komunitas-basis umat katolik akan bergerak? Bukankah hanya suatu utopi saja, bahwa umat katolik mau berkomunitas basis yang berdaya untuk Indonesia Baru? Bukan utopi, kalau umat katolik mengetahui kekuatannya, tahu kelemahan masyarakat dan tahu memainkan kekuatan itu secara tepat-guna dan tepat-sasaran. Bermain dengan "otot" massa bukanlah caranya. Bermain otak dan komunikasi canggih adalah cara yang sangat relevan.Entah Inonesia akan menjadi negara yang bagaimana, Umat Katolik haruslah semakin me-nyadari perutusannya, ialah menumbuh-kembangan nilai luhur martabat manusia dalam per-saudaraan, kedamaian, kesejahteraan. Itulah cita-cita dasar. Nilai-nilai ideologis Pancasila, yang mendapatkan reputasi baik secara global, tetap harus dipertahankan.

C. TANTANGAN DAN PELUANG SAAT INI

1. Secara politis
- Tantangan: Situasinya begitu kacau. Lembaga Negara (legislatif, eksekutif dan legislatif) tidak harmonis, cakar-cakaran. Masing-masing seakan-akan main sendiri-sendiri demi kekuasaan. Masyarakat yang menderita tidak mendapatkan perhatian. Orang memper-gunakan model menggerakkan massa, yang mempunyai berbagai pengaruh negatif dalam banyak hal: keamanan, ekonomi, kekerasan. Cita-cita "democracy" pemerintahan di tangan rakyat mewujud-nyata dalam "democrazy", yaitu "rakyat yang bertingkah edan-edanan". Kecenderungan pecahnya Negara Kesatuan bisa mewujud pada negara merdeka yang satu terpisah dari yang lain.
- Peluangnya: pemberdayaan umat basis yang sadar ketata-negaraan dan peka akan ketidak adilan, berani berjuang melawan korupsi, kolusi dan nepotisme lembaga ketatanegaraan daerah.

2. Secara ekonomis
- Tantangan: Jam kerja produktif menurun, karena jutaan orang dimanipulasi dengan demontrasi-demontrasi. Banyak perusahaan yang berandalkan barang-barang import menjadi tidak berdaya, karena merosotnya nilai rupiah. Faktor kerusuhan dan peram-pokan, yang terjadi di mana-mana, tidak memungkinkan penanam modal asing masuk ke Indonesia. Ketidak-percayaan lembaga internasional (IMF, ADB) terhadap kemampuan pemerintah Indonesia untuk menggulirkan dana-dana pengentasan masyarakat dari kemiskinan. Defisit APBN yang berjumlah sekitar Rp 83 trilyun. Kewajiban membayar hutang negara jatuh tempo 2001 sejumlah $ 2,5 milyard yang tidak tersangga oleh kemampuan bayar. Kurang tergarapnya ekonomi pedesaan, karena banyak remaja desa lari ke kota mencari pekerjaan, pada hal kota mengalami krisis di bidang usaha.
2. Peluang: pemberdayaan masyarakat ekonomi lemah dan ekonomi pedesaan untuk mampu mandiri dalam kebutuhan pokok.

3. Secara etis
- Tantangan: Hilangnya rasa kemanusiaan, dengan makin meluasnya kegiatan pembunuhan, pengrusakan, perampokan dan penodongan, pencurian, perkosaan. Menipisnya rasa persaudaraan. Melemahnya tanggung-jawab tugas pejabat pemerintah. Rusaknya kehidupan moral remaja, karena makin banyak remaja terkena narkoba dan seksmaniak.
- Peluangnya: pendidikan yang peka akan kebutuhan penyadaran, penanaman dan pengembangan nilai-nilai kemanusiaan. Penyadaran remaja akan bahaya-bahaya yang lahir dari kerusakan moral.

4. Segi religiositas
- tantangan: Maraknya nilai-nilai ketuhanan yang dihayati dalam penghayatan agama yang berwawasan sektarian, primordial, komunalisme sempit. Agama dipakai untuk alat-alat perebutan kekuasaan dan harta. Akibatnya: umat begitu mudah dikorbankan dengan slogan perang suci. Penghayatan agama dikembangkan pada fanatisme dengan akibat: rasa membenci dan mau membinasakan orang yang bukan dari kelompknya. Agama menjadi sumber permusuhan. Adanya acara-acara liturgis sebagai pelarian dan legitimasi kebejatan moral. Juga penghayatan agama yang kyaiisme, ulamaisme, imamisme, uskupisme, yang membuat umat merasa, bahwa segala-galanya tergantung pada kyai, ulama, imam dan uskup.
- Peluangnya: penanaman dan pengembangan kedalaman hidup religius universal yang berdaya mempersatukan umat dalam persaudaraan sejati dan melahirkan kedamaian dan keadilan. Penanaman dan pengembangan hidup iman umat yang berani mengambil kepu-tusan sesuai dengan panggilannya masing-masing sebagai awam dan sebagai rohaniwan.

5. Adanya budaya bias "Gender" secara politis, ekonomi, pendidikan, dan sosio-budaya
- Tantangan: Ketercekaman budaya paternalisme. Muatan kerja perempuan lebih berat dari laki-laki. Diskriminasi terhadap perempuan dalam jabatan-jabatan tertentu. Gaji pekerja perempuan lebih rendah daripada laki-laki.
- Peluangnya ialah penyadaran dan pengembangan hak-hak perempuan yang dalam kebersamannya dengan laki-laki sebagai gambaran Allah.

6. Lingkungan yang tidak bersahabat lagi dengan manusia
- Tantangan: Bencana banjir, tanah longsor, angin topan, gelombang laut mengamuk, ba-nyak hama tanam-tanaman, tanah gundul, pupuk kimia non-organik yang merusak kesuburan tanah.
- Peluangnya menanamkan kesadaran akan keserasian antara manusia dengan alam sekitar.

D. KOMUNITAS-BASIS SEBAGAI STRATEGI

Pengertian strategi ialah: suatu langkah yang dipandang paling tepat-guna dan kena-sasaran. Indonesia Baru yang dicita-citakan adalah Indonesia dalam bentuk negara demokrasi, dalam arti rakyat mengambil bagian dalam keputusan ketatanegaraan yang adil dan sejahtera.

1. Negara Demokrasi.
Bentuk negara demokrasi hanya dimungkinan, apabila warga-negara menyadari perannya dan mampu melaksanakan peran itu. Komunitas-basis merupakan wahana strategis untuk menggulirkan peran itu. Terjadinya anarki "democrazy = rakyat edan-edanan ", antara lain disebabkan karena rakyat belum siap dan belum mampu hidup dalam demokrasi. Terlalu diandaikan, bahwa kalau rakyat diberi kebebasan, lantas demokrasi bisa berjalan dengan baik. Bangsa Indonesia ini sejak mengalami kemerdekaan belum pernah mengalami demokrasi yang sehat. Yang pernah terjadi adalah "demokrasi feudalisme" pada jaman kepemimpinan Soekarno dan kemudian "demokrasi diktator militerisme" dalam kepemimpinan Soeharto. Jangan dilupakan, bahwa bentuk negara demokrasi memerlukan disiplin mental tertentu dari rakyatnya. Kenyataan sekarang adalah: rakyat yang belum biasa mengalami demokrasi secara sehat, seolah-olah sekarang ini langsung dilepas begitu saja Apa yang terjadi? Yaitu: "Democrazy, edan-edanan, hukum rimba". Cara hidup bebas dan tertib-hukum rasanya belum pernah menjadi mekanisme hidup bangsa. Padahal menanamkan mental disiplin tidak bisa terjadi begitu saja secara instant, "seketika". Kalau mau secara instant, diperlukan cara represif.
Komunitas-basis begitu strategis menjadi wahana pelatihan orang untuk bisa berpikir secara bebas, mengungkapkan pendapat, memutuskan bersama dan berdisiplin melaksanakan keputusan bersama. Itulah cara komunitas-basis berdaya bagi Indonesia baru yang demokratis. Juga diperlukan komunitas-basis yang bergerak sebagai pemantau kiprah instansi kenegaraan, misalnya dengan "pantauan parlemen, pantauan kepemerintahan, pantauan penegak keadilan".

2. Indonesia Baru dengan tatanan ekonomi yang adil dan sejahtera.
Masalah dasar yang dihadapi sekarang ialah "sistim kapitalisme liberal", bahwa sebagian besar kekayaan negara dikuasai oleh hanya sekelompok kecil bangsa ini. Ada sentralisasi kelola kekayaan dan pendapatan negara. Sekelompok kecil mempermainkan, memojokkan dan menekan sebagian besar bangsa ini.
Pertanyaannya: bagaimana menyempitkan kesenjangan ekonomis dan mendayakan kelompok lemah mayoritas, untuk mendapatkan kesempatan kerja dan bagian hasil yang layak untuk menyangga keperluan hidup mereka: makanan/minuman, pakaian, rumah, kesehatan, kendaraan, keamanan dan pendidikan. Pembinaan kelompok-kelompok basis mengarah pada kesadaran situasi nyata. Mereka mendapatkan pelatihan untuk membaca situasi ekonomi setempat dengan penguasaan ketrampilan cara analisa sosial dan membuat jaringan-jaringan perjuangan keadilan. Bukan hanya itu. Dalam kelompok-kelompok basis perlu dilatihkan ketrampilan-ketrampilan usaha ekonomis. Karena ketrampilan sosial dan semangat perjuangan tanpa didampingi ketrampilan usaha ekonomis, membuat rakyat menjadi perampok. Dalam komunitas-basis juga para pengusaha besar sepantasnya selalu memelihara kesadaran untuk melibatkan rakyat lemah sebagai peserta usaha. Dengan keterlibatan komunitas-basis seperti itu masalah ekonomis secara personal dan struktural mendapatkan perhatian dan pengolahan dalam kiprah komunitas-basis. Gencarnya pelaksanaan undang-undang otonomi daerah sangat mendukung peran Komunitas-basis mewujudkan Indonesia Baru dalam tatanan ekonomi yang adil dan sejahtera.

3. Masalah etika, moral, tata nilai yang kita rasakan sekarang kacau, rusak.
Nampaknya masalah dasar adalah cekaman paham materialisme. Sementara rakyat keba-nyakan berada dalam situasi kekurangan, ada segelintir orang terbanjiri cara-cara hidup modern dan menggiurkan. Segi negatif arah pembangunan yang lebih menekankan ekonomi, yang berkaitan dengan memiliki barang dan uang. Dan kalau orang sudah terperangkap dalam barang, uang dan kenikmatan, apa saja di luar itu akan menjadi relatif. Kebendaan dan kenikmatan menjadi puncak kehidupan. Maka apapun untuk memenuhi kebutuhan itu dapat dilakukan, entah dengan membakar, merampok, menodong, membunuh. Rasa kemanusiaan hilang. Kalau yang menjadi ukuran nilai hidup adalah benda dan nikmat, manusiapun hanya dirasakan sebagai barang. Selanjutnya, juga tidak mustahil bahwa menipisnya kehidupan moral itu akibat sistim pemerintahan militerisme selama sekitar 32 tahun. Di sini orang menjadi "barang" yang geraknya mengikuti komando. Hidupnya adalah berperang. Semboyannya adalah "atau saya mati, atau engkau mati".

Komunitas-basis mempunyai peluang untuk menggarap nilai-nilai perikemanusiaan. Dalam pertemuan yang sering, apa lagi dengan acara mengenal keagungan Hati Yesus yang Maha-kudus, orang akan terbina mendalami dan merasukkan rahasia perasaan kemanusiaan; rasa menderita, kecewa, tertindas, tersingkir, terhina, senang penuh harapan, bangga, percaya diri, kejujuran, dihargai dan menghargai, setia-kawan, sependeritaan, bela-rasa, saling menolong, sayang, cinta-kasih, pengampunan, kerendahan hati. Dalam suasana gerak Komuni-tas-basis, nilai kemanusiaan itu diharapkan dapat berkembang. Dengan demikian jiwa ma-sing-masing anggota Komunitas-basis akan terangkat oleh kurnia Roh Kudus. Manusia adalah ciptaan rohani. Sebagai ciptaan rohani manusia diberi kurnia mampu membedakan roh. Ada roh jahat dan roh baik. Bagaimana orang dilatih untuk terampil pembedaan roh secara intelektual, secara rasa perasaan dan secara nurani.

4. Pengambangan religiusitas.
Ramainya perayaan liturgis keagamaan dan upacara-upacara liturgis adat serta kenegaraan ternyata tidak begitu berpengaruh pada dalamnya religiositas bangsa Indonesia. Tidak jarang semuanya itu untuk menjadi cara legitimasi tingkah-laku atau menutupi kejahatan hidup seseorang. Hidup sekular menyeret dan mendangkalkan kedalaman hidup manusia: politisasi upacara keagamaan, liturgi-liturgi untuk mencari uang. Kehidupan religiusitas yang sebetul-nya berwawasan universal "inklusif" dan mempersatukan cenderung menjadi "penghayatan agama" yang sektarian eksklusif. Orang atau kelompok merasa diri sebagai wakil Allah dan dengan sikap tanpa merasa bersalah mencap orang atau kelompok lain "kafir", maka mereka harus dimusnahkan.
Indonesia Baru memerlukan Komunitas-basis yang prihatin pada terwujudnya Kerajaan Allah. Komunitas-basis ini diharapkan mendarah-dagingkan kehadiran Allah dalam diri setiap anggota Komunitas-basis. Di samping itu, juga perlunya penanaman pengalaman kehadiran kuasa Allah pada kelompok secara kolektif. Kuasa Allah yang hadir dalam kebersamaan. Dengan demikian perlu adanya bekal gerakan lebih luas untuk menghayati dan mem-perjuangkan kesadaran masyrakat luas akan kehadiran Allah dalam setiap orang di dunia ini. Kesadaran ini hendaknya menjadi dasar gerak kerasulan mewujudkan persaudaraan sejati antar umat beriman dan umat lainnya.

E. KATA AKHIR

Pemberdayaan Komunitas-basis merupakan arah strategis kehidupan menggereja dan membangsa serta menegara umat katolik Indonesia dalam memasuki jaman bangsa Indonesia berolah kehidupan bersama yang adil dan sejahtera. Pola hidup berkomunitas basis sekarang ini masih dalam situasi "trial and error" untuk sampai pada pola hidup bersama yang paling baik. Umat Katolik harus berani menempuh proses "trial and error" tersebut dengan setiap kali bersedia memawasnya lagi dalam terang Roh. Karena pola hidup berkomunitas basis meru-pakan salah satu pola, maka kita perlu menyadari bahwa pada suatu saat kita dituntut untuk berpola yang lain sesuai dengan tuntutan jaman.
Purwokerto, 13 Mei 2001

Dikutip dari : http://www.bukumisa.co.cc/public_html/uskup/Mgr.%20Sunarka/komunitas-basis.html

Wednesday, 16 February 2011

Gereja Diaspora: Cara Penyesuaian Diri

Mendekati konsep Gereja diaspora ala Y. B. Mangunwijaya meminta kita pertama-tama untuk mengelaborasi Gereja diaspora itu sendiri untuk menarik implikasinya pada misi Gereja Katolik di bumi Kalimantan.

A. Perkembangan Gereja Kalimantan dari masuknya para misionaris

Misi di Kalimantan telah dimulai sejak 1885. Daerah yang pertama-tama didatangi oleh para misionaris adalah Singkawang dengan umat Katolik pertama berjumlah 100 orang yang adah petani dan pedagang bangsa Cina. Berawal dari Singkawang, para misionaris mulai menuju wilayah orang Daya.

Di tengah suku Daya, hal pertama yang dilakukan sebagai sarana pendekatan adalah memperbaiki ekonomi masyarakat setempat, antara lain dengan mempropagandakan peternakan dan juga pengolahan hutan menjadi perkebunan dan persawahan. Usaha ini dilakukan supaya orang Daya bisa tinggal menetap sehingga bisa maju. Sampai pada tahun 1898 orang Katolik berjumlah 429 orang. Sampai pada akhirnya Misionaris Capusin datang pada tahun 1905.

Sampai pada saat ini, Gereja Katolik telah berkembang di Kalimantan dengan 8 keuskupan (Pontianak, Sanggau, Sintang, Ketapang, Banjarmasin, Palangkaraya, Samarinda, Tanjung Selor). Sebagian besar umat Katolik Kalimantan adalah penduduk pedalaman. Mereka tersebar di pelosok-pelosok pulau Kalimantan yang luas. Paroki-paroki dengan demikian memiliki wilayah teritorial yang amat luas pula dengan jumlah stasi yang bisa hampir mencapai ratusan, tersebar di wilayah teritorial yang amat luas.

Keterbatasan sarana jalan dan beratnya medan alam mengakibatkan pelayanan yang kurang maksimal pada stasi-stasi terutama yang jauh dengan pusat paroki. Jumlah tenaga pastoral yang tak sebanding dengan luasnya wilayah adalah kendala lain lagi yang kian membuat umat di stasi pedalaman jarang menerima pelayanan pastoral.

Beberapa tantangan itu adalah sebagian saja di antara tantangan-tantangan lain yang mengemuka yang sering dihadapi oleh pelayan pastoral saat ini. Tantangan itu antara lain pertama, masih kuatnya umat Katolik pedalaman berpegang pada sistem kepercayaan asli yang sarat dengan mitos. Nilai-nilai kebijaksanaan Kristiani memang terdapat pula dalam kebijaksanaan lokal mereka. Persoalannya adalah bagaimana kebijaksanaan-kebijaksanaan lokal itu ditransformasikan untuk mendapatkan pendasaran pada paham-paham kebenaran di dalam Gereja Katolik. Jadi bukan lagi didasarkan pada paham-paham atau kepercayaan yang sarat dengan mitos.

Kedua, mentalitas umat yang cenderung mau �menerima� daripada �memberi�. Mentalitas seperti ini terbangun dari cara pendekatan misionaris awal yang lebih cenderung memberi �ikan� daripada �kail�.

Ketiga, efek mentalitas yang telah mewarnai budaya kota merembes pula ke pedalaman. Sayangnya, efek modernitas yang merasuk ini tak selalu positif, melainkan negatif. Ini tampak dalam mentalitas hedonis dan konsumeris yang cukup berpengaruh bagi kehidupan moral umat pedalaman.

B. Motivasi Para Misionaris Dulu

Misionaris pertama yang datang ke Indonesia berasal dari Barat, khususnya Belanda. Harus diakui bahwa kedatangan mereka seiring dengan kedatangan serdadu tentara yang hadir di Indonesia dengan motivasi menjajah. Meski demikian, tentu berbedalah maksud kedatangan para misionaris dibanding dengan para serdadu. Realitas penjajahan justru mendorong mereka untuk mengentaskan manusia Indonesia dari keterbelakangan yang menyebabkan mereka mudah dijajah dan dibodohi. Jadi, realitas sejarah, yaitu penjajahan yang memiliki wajah mengerikan adalah salah satu hal yang membuat mereka memiliki semangat dan motivasi kuat dalam berkarya mengentaskan penduduk pribumi dari kebodohan dan kemiskinan. Semangat Pra Konsili Vatikan II yang berpegang pada pandangan bahwa di luar Gereja Katolik tidak ada keselamatan, adalah kemungkinan lain lagi yang mendorong dan menyemangati mereka untuk berkarya dan membabtis orang sebanyak mungkin (bdk. Mat 28:19-20). Asalkan orang dibaptis, maka ia akan selamat.

C. Gereja Diaspora dalam Situasi Konkret Kalimantan

Gereja adalah persekutuan orang yang dipersatukan dalam Kristus, dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa dan telah menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang (GS 1). Setiap anggota Gereja dipanggil untuk menjadi pewarta dan saksi tentang Yesus Kristus dan injil-Nya sesuai dengan kemampuan dan kedudukannya masing-masing. Bagi Gereja Kalimantan itu berarti diutus untuk mengikuti Kristus mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah ke seluruh pelosok Kalimantan.

Namun, hal pewartaan ini tidak akan berjalan tanpa melihat situasi Kalimantan secara menyeluruh. Seperti yang ditegaskan oleh Mangunwijaya bahwa zaman berubah pesat, masyarakat pun berubah. Begitu pun dengan masyarakat Kalimantan. Terbawa arus budaya luar, terutama lewat program transmigrasi di beberapa daerah di Kalimantan telah terjadi pergeseran pola hidup masyarakat. Dfari hidup berkelompok menjadi terpencar-pencar. Rasa kekeluargaan yang dulu amat kental telah berubah menjadi individualis.

Berhadapan dengan situasi ini tampaklah bahwa benih sabda Allah mendapat tantangan yang besar. Untuk keluar dari tantangan itu tidak salahnya bila Gereja Kalimantan menuju Gereja diaspora. Hal-hal yang memungkinkan terbentuknya Gereja Kalimantan sebagai Gereja diaspora adalah sebagai berikut:

1. Kemajuan di bidang transportasi
Kemajuan di bidang transportasi mempengaruhi efektivitas pelayanan pada umat. Sekarang tidak banyak stasi atau kampung yang tidak dapat dicapai dengan sepeda motor. Apalagi dengan banyaknya proyek perusahaan dan dibukanya jalan-jalan baru memungkinkan prasarana yang memadai, seperti jalan, listrik sudah mulai menjangkau pedesaan. Hal ini mengurangi sedikit beban petugas pastoral karena hubungan antara paroki dan stasi-stasi semakin lancar dan pelayanannya lebih intensif.

2. Ada usaha memberdayakan kaum awam
Melalui pengembangan Gereja diaspora dimungkinkan mengecilnya mentalitas pastor-sentris. Gereja diaspora membuka kemungkinan meningkatnya keterlibatan umat dalam hidup menggereja. Wajah Gereja setempat akan tampak dalam partisipasi umat. Yang menjadi aktornya adalah katekis, guru agama, dan pemimpin umat yang terlibat langsung dalam karya pastoral, khususnya pendalaman iman umat setempat. Untuk itu perlu diadakan kursus pembinaan atau pendalaman sebagai bekal pelayanan mereka.

3. Ada usaha membangun jaringan kerja sama dengan lembaga lain
Misi Gereja tidak akan berjalan dengan baik tanpa kerja sama dengan pihak lain. Pelayan pastoral dilihat sebagai pemberi vitamin rohani kepada umat. Untuk menjawab kebutuhan rohani umat sehari-hari, maka Gereja dapat bekerja sama dengan lembaga-lembaga lain. Misalnya, kerja sama dengan instansi pemerintah setempat untuk mengusahakan kesejahteraan masyarakat setempat, melalui Credit Union kita dapat memberi masukan kepada umat bagaimana mengatur ekonomi rumah tangga mereka, melalui media massa, radio, Gereja dapat mengembangkan wawasan pemikiran umat sekaligus sebagai sarana dan pewartaan iman.

D. Gereja Kalimantan di Masa Depan dan Tantangannya

Bila Gereja diaspora benar-benar dikembangkan di bumi Kalimatan, maka wajah Gerejanya menjadi lain. Gereja Kalimatan akan menjadi Gereja yang kuat karena gerak pelayanannya dimulai dari akar rumput. Gereja terdorong untuk trus menerus membekali umat agar melibatkan diri dan berperan serta dlaam masyarakat atas dsar panggilannya sebagai saksi cinta kasih ilahi. Gereja diutus untuk mewartakan dan menjadi saksi kabar gembira dengan cara dan dalam bentuk yang sesuai dengan lingkungan setempat.

Terdorong oleh sifat misioner dan sifat mengakarnya Gereja pada masyarakat Kalimantan, Gereja Kalimantan akan menjadi pengabdi; Gereja yang terpanggil untuk melayani baik kepentingan Allah maupun kepentingan manusia. Dengan kata lain Gereja berpihak pada kaum miskin dan tersingkir. Hanya dengan demikian Gereja meninggalkan egosentrisnya dan terbuka dunia dalam semangat pengabdian. Namun, Gereja yang diidam-idamkan itu bukanlah tanpa tantangan. Ke depan Gereja Diaspora Kalimantan akan mengahadapi beberapa tantangan:

1. Perkembangan sarana audiovisual yang sulit dibendung.
Tantangan ini dirasakan paling mempengaruhi kehidupan masyarakat, termasuk hidup umat beiman sendiri. Perkembangannya mengakibatkan pergeseran nilai-nilai moral di kalangan umat, terutama kaum muda. Penghayatan iman dan moral mengalami kemerosotan. Kaum muda terbawa arus modernisasi tanpa mampu memilah-milah mana yang positif atau negatif. Misalnya, maraknya CD porno menaikan tingkat kriminalitas seperti pemerkosaan. Ditambah lagi minuman keras dan perjudian yang lebih menimbulkan pengaruh negatif daripada pengaruh positifnya.

Di perkebunan sawit (transmigrasi) umat sulit menghadiri ibadat atau ekaristi pada hari Minggu karena kerja lembur mendapatkan upah tambahan. Godaan-godaan di atas benar-benar mengancam kehidupan beriman yang akhirnya menimbulkan mentalitas materialistis dan konsumeristis.

2. Pluralitas suku, agama, dan budaya.
Belajar dari beberapa konflik di Kalimantan, tampak bahwa benturan antara satu kelompok dan kelompok lainnya antara lain timbul karena perbedaan budaya antara komunitas etnis satu dan yang lain, seperti Daya-Madura. Dampak konflik ini berimbas pada bidang kehidupan suku dan agama.

3. Tempat tinggal umat yang terpencar-pencar
Perkembangan, peleburan suatu stasi atau kampung menyebabkan banyak peta paroki berubah. Akibatnya, tidak jelas lagi wilayah-wilayah mana yang harus dilayani oleh tenga pastoral paroki. Hal ini menjadi kesulitan bagi petugas pastoral untuk melayani daerah tersebut. Dengan adanya peleburan dan pengembangan suatu stasi ditambah lagi program transmigrasi menyebabkan pemukiman umat terpencar-pencar. Umat sulit berkumpul bersama dan berdoa.